LOGIN"Aku mau cerai, Sen." Anggita berkata sambil menyusut air matanya. Ada lebam kebiruan di sekitar pipinya. Wanita yang dulu sangat kucintai itu terlihat rapuh. Demi tuhan, rasanya sakit sekali melihatnya seperti ini. Lebih menyakitkan daripada ditinggalkannya saat itu.
"Apa sudah nggak ada jalan lain?" Aku menggenggam tangannya, menyalurkan kekuatan. Dia menggeleng lemah. Entah aku harus sedih atau bahagia dengan rencana perceraiannya. Terus terang, aku masih sangat menginginkannya. Dan mungkin ini bisa jadi jalan untuk kami bisa bersatu lagi, tapi bagaimana dengan Nashwa. Mungkin dia akan setuju saja kami berpisah, karena memang tidak ada cinta di antara kami. Tapi bagaimana dengan orang tua kami, terutama mama yang sangat menyayangi Nashwa. "Aku tertekan, Sen." Ucapan Anggita membuyarkan lamunan. Dia terlihat begitu terluka. Membuatku turut merasakan perih. Aku benci melihat Anggita begini. Aku ingin Anggita--ku ceria seperti dulu. Menjadi wanita elegan yang selalu dikagumi banyak laki-laki, termasuk, aku. Dia adalah wanita anggun, dengan penampilan yang selalu perfect setiap kali keluar rumah. Aku selalu bangga saat memperkenalkan dia di depan teman dan rekan-rekan kerjaku. Karena kecantikannya, dia dipilih untuk menjadi pemeran di sinetron terbaru kami, sayangnya perjodohan dengan Bastian--suaminya menggagalkan semuanya. Dia menikah, sebelum casting dimulai. Dan aku gagal, menjadikannya seorang artis, juga menjadikannya istri. Sayangnya, setelah menikah, bukan kebahagiaan yang dia dapat, tapi malah kesengsaraan. Lihat saja, wanita yang dulu selalu berpenampilan sempurna, kini terlihat kusut. Bisa dibayangkan betapa suaminya zalim padanya. Kalau tahu akan seperti itu, dulu kubawa kabur saja dia, supaya bisa menikah denganku dan aku juga tidak akan terjebak dalam pernikahan hambar dengan Nashwa. "Makasih banyak ya, Sen, kamu meluangkan waktu buat ketemu, aku bersyukur banget masih punya kamu." Dia membalas genggaman tanganku. Menatapku penuh rasa terimakasih. Membuat desiran halus merambat ke dada. Rupanya tatapan manja itu masih begitu kupuja. "Oh iya, istri kamu nggak apa-apa, kamu ketemu aku?" Pertanyaan itu seketika mengingatkanku padanya. Perempuan sederhana yang selama satu tahun ini menjadi istriku. Aku sendiri kadang tidak percaya, seorang Husain Abraham, video editor di dunia pertelevisian yang namanya sering tercantum di beberapa film dan sinetron, menikah dengan wanita biasa sepertinya. Seharusnya orang sepertiku pasangannya artis, atau presenter, atau minimal wanita seperti Anggita yang cantik jelita. Bahkan sampai saat ini aku belum pernah memperkenalkan Nashwa dengan teman-teman kerjaku. Malu saja membawa dia ke acara kantor. Lain dengan Anggita yang pantas digandeng kemana-mana. Membuat orang-orang terpana dengan kecantikannya. "Dia nggak akan marah, Nggit. Dia sudah tahu tentang kamu." "Maksudnya?" Dia mengerutkan kening. Akhirnya kuceritakan semua padanya. Tentang alasanku menikah dengan Nashwa, juga tentang bagaimana kami menjalani rumah tangga selama satu tahun ini. Dan yang pasti, tentang perasaanku padanya yang masih menggelora. "Maafin aku, Sen." Dia kembali menitikkan air mata, antara merasa bersalah karena meninggalkanku, juga terharu, karena perasaanku padanya masih sama. . Hari ini, dengan hati-hati kuutarakan keinganku pada Nashwa. Bagaimanapun dia sudah jadi istri yang baik. Bahkan terlalu baik karena mau mendengar setiap keluh kesahku. Tidak pernah menuntut apapun dariku. Dia sangat penurut, bahkan terlalu penurut menurutku sehingga terasa membosankan. Tidak pernah ada cek Cok antara aku dan dia. Jika ada sedikit saja perselisihan, dia yang mengalah dan terlebih dulu meminta maaf. Membosankan bukan? "Aku akan menikahi Anggita." Ucapanku membuatnya mendongak, seperti kaget, tapi setelahnya bisa menguasai keadaan. "Jadi kita akan cerai?" tanyanya lirih, sampai hampir tak terdengar. "Nashwa, kamu wanita baik, sangat baik, kamu wanita shalihah, sudah sepantasnya bersanding dengan laki-laki shalih, bukan laki-laki sepertiku. Aku yakin setelah ini, kamu akan mendapatkan laki-laki yang jauh lebih baik dariku." Nashwa mengangguk, bersamaan dengan setetes air mata yang jatuh. Apa dia terluka? Tapi selama ini, saat aku menceritakan tentang Anggita, dia biasa saja. Malah mendoakan yang baik-baik untukku. Setelah mengucapkan kalimat itu, entah kenapa perasaanku tidak jelas. Sebelumnya aku sudah sangat yakin dengan keputusanku. Tapi mendadak aku jadi gamang. Apa ini keputusan yang benar. Apalagi melihatnya mengeluarkan air mata, ada sedikit rasa bersalah di hatiku. "Bagaimana dengan Mama?" Dia bertanya lagi. Aku juga sebenarnya masih bingung bagaimana akan menceritakan pada Mama, tapi .... "Nanti biar aku pikirkan." Nashwa mengangguk patuh, tanpa berkata apa-apa lagi. Sudah kuduga, dia pasti akan menurut. Seharusnya, aku merasa lega, tapi entah kenapa, ada perasaan yang mengganjal di dada. . Sepulang kerja, aku pergi bersama Anggita dan Lilly--putrinya. Usianya baru menginjak tiga tahun, masih sangat imut. Dia cepat akrab, aku jadi betah berlama-lama bersamanya. Kami menghabiskan waktu di mall terdekat. Bermain di play ground setelah itu ke food court untuk makan bersama. Sekilas kami terlihat seperti keluarga kecil bahagia. "Om aa'." Gadis kecil itu mengarahkan sendok eskrim ke arahku. Memberi kode agar aku membuka mulut. Aku segera mendekatkan wajah, tapi saking semangatnya eskrim itu menempel ke hidung. Kami tertawa bersama. "Papa mana?" Terhitung lebih dari tiga kali gadis itu menanyakan ayahnya. "Kan Papa masih kerja." Anggita berusaha memberi penjelasan. Gadis itu terlihat murung, tapi aku berusaha menghiburnya agar ceria lagi. Betapa malangnya, di usia yang masih balita, orang tuanya harus berpisah. Aku berjanji, jika jadi ayah sambungnya, akan selalu menyayangi seperti anak kandung. Perceraian memang akan menimbulkan anak sebagai korban. Beruntung aku dan Nashwa belum mempunyai anak, jadi tidak ada drama perebutan hak asuh. Jam sembilan malam, aku kembali rumah setelah mengantar Anggita dan Lilly ke apartemen. Sampai rumah, aku disambut keadaan yang gelap dan sunyi. Kemana Nashwa? Jangan-jangan .... Aku segera masuk. Setelah menyalakan lampu, aku mengecek lemari. Pakaiannya masih penuh di sana. Koper juga masih rapi di tempatnya. Jadi dia tidak kabur dari rumah. Tapi kemana dia? Kurogoh ponsel dan segera menghubungi nomornya. Sialnya, ponselnya ditinggal di rumah. Aku berjalan mondar-mandir. Bagaimana kalau dia pulang ke rumahnya. Padahal aku belum siap mengatakan pada orang tua kami tentang rencana perceraian kami. Aku masih memikirkan alasan yang masuk akal agar mereka mau menerima keputusan ini. Suara deru mesin terdengar masuk ke pekarangan rumah. Aku baru ingat tadi belum sempat menutup pagar. Sebelum keluar untuk melihat siapa yang datang, aku mengintip lewat jendela. Dari ruang tamu, kulihat Nashwa keluar dari mobil, dibantu seorang laki-laki yang membukakan pintu. Bagus. Rupanya dia pergi bersama laki-laki. Next?"Anggita, kamu pulang, Nak?" Arina--ibu Anggita menyambut kepulangan anak semata wayangnya. Seperti apapun perilakunya, ibu tetaplah ibu. Tangannya akan selalu terbuka menyambut anaknya. Anggita pulang ke rumah orang tuanya dengan wajah murung. Hatinya begitu kacau. Kariernya meredup akibat ulahnya sendiri. Dia dihujat dimana-mana, setelah klarifikasi dari Husain dan Bastian. Tapi sebenarnya dia beruntung, karena Nahswa tidak membalasnya dengan menyebarkan fotonya yang sedang berdua dengan Dirga. Sekarang Dirga pergi entah kemana. Setelah menipunya. Uang hasil kerja kerasnya mengalir ke rekeningnya. Mau dilaporkan ke polisi juga tidak bisa, karena dia memberinya dengan suka rela. Atas dasar pertemanan. Tapi ternyata laki-laki itu hanya memanfaatkannya saja. Kali ini dia menyesal. ."Mas punya kabar, tapi janji nggak boleh sedih," ucap Husain saat pulang kerja. Dia mengelus perut buncit istrinya. Usia kehamilannya memasuki delapan bulan, membuat laki-laki itu tidak mau jauh dariny
Husain kembali ke dalam sebelum para wartawan menemuinya. Laki-laki itu bingung menghadapi mereka. Selama ini dia bekerja di dunia broadcasting, tapi dia selalu berada di balik layar. Laki-laki itu tidak pandai berkata-kata. Lalu ketika tiba-tiba harus berada di depan layar, pasti perasannya tidak nyaman. "Kayaknya bentar lagi wajah Lo yang diedit, nih," celetuk Rio, membuat Husain memicingkan mata. "Berisik, Lo!" Husain menonjok lirih lengan Rio. Laki-laki itu mengambil tempat duduk. Lalu mencari posisi nyaman untuk menelpon istrinya. Hatinya berdebar. Dia tidak mau ada kesalahpahaman lagi soal Anggita. "Kamu dimana?" Husain langsung melempar pertanyaan saat telepon sudah diangkat. "Assalamualaikum, Mas." "Emm ... Wa'alaikum salam." Husain mengusap rambutnya. Gara-gara pikiran kalut, dia sampai lupa mengucap salam. "Kenapa si, Mas?" Nahswa bertanya dengan lembut. Suara tenang sang istri membuat hatinya adem."Kamu udah lihat berita--""Udah." Nashwa memotong ucapan suami. "Sa
“Tapi, nikahnya sama kamu.” Husain mencubit pipi Nahswa gemas. Ekspresi istrinya yang cemberut membuat candu. Dia menyesal, kenapa dulu melewatkan wanita semanis Nashwa. Meski kecantikannya tidak mencolok seperti Anggita, tapi Nashwa manis dan tidak membosankan. Berbeda dengan Anggita yang berkulit putih bersih, seperti blasteran Eropa. Nashwa memiliki jenis kulit lebih gelap khas Indonesia. Dia memiliki senyum yang menawan. Ada lesung pipi di sebelah kanan. Ditambah matanya terpejam saat tersenyum. Membuat mata tidak merasa bosan melihatnya. Apalagi raut wajahnya selalu terlihat ramah. “Ish, kan kita udah nikah.” Wanita hitam manis itu membalikkan badan. Menyembunyikan pipinya yang merona. Salah tingkah diperlakukan semanis ini oleh sang suami. Husain memeluk Nahswa dari belakang. Tangan besarnya melingkar di perut Nashwa. Dia lalu menyandarkan dagunya pada pundak Nahswa, sehingga pipi mereka saling menempel. Ada debaran berbeda yang dirasakan mereka berdua. “Mau ya nikah sama
“Maaf, Mbak, saya nggak ijinin Mbak Anggita dekati suami saya.” Nahswa berdiri di depan Husain. Wanita itu mengangkat tangan sebagai kode agar Anggita berhenti. Husain terkejut dengan apa yang dilakukan Nashwa. Laki-laki itu sempat panik saat melihat kedatangan Anggita. Takut akan merusak hubungannya dengan Nashwa yang baru saja membaik. Tapi reaksi Nashwa di luar dugaan. “Suami? Kamu lupa ya kalo sebentar lagi kalian bakalan cerai, pake sok-sokan harus ijin segala sama kamu, apa perlu aku ingatin lagi kalo Husain itu cuma cinta sama aku? Dia udah janji mau nikahin aku setelah cerai sama kamu!” Anggita berkata dengan percaya diri. Tangannya berkacak pinggang. “Anggita!” Husain dan Mama membentak Anggita bersamaan. Mama sangat geram. Hampir saja wanita itu menjambak rambut Anggita kalau saja tidak ditahan Papa. Sementara bapak hanya diam memperhatikan. Dia bersiap-siap jika Husain menyakiti lagi, akan membawa pulang Nahswa lagi. Tapi sepertinya Nashwa sudah telanjur cinta dengan Hu
"Kamu bahkan nyebut namanya tanpa embel-embel Ustadz." Husain menghela napas kasar. Raut wajahnya semakin menyiratkan kecemburuan."Ya, karena aku pernah satu sekolah sama dia, satu organisasi juga di OSIS," jawab Nashwa sambil menutup mulut. Lucu melihat ekspresi suaminya. "Oh, jadi lebih dekat sama Ilham, ya?" Husain menyimpulkan sambil menganggukkan kepala berulang. "Kok malah nanya gitu, si?" Nahswa mencubit perut Husain, membuatnya meringis. Wanita itu menggembungkan pipinya. Menatap Husain dengan sebal. "Kamu tu, kenalannya ustadz-ustadz, orang-orang sholeh, tapi kenapa malah nikahnya sama orang kaya Mas?" Husain mulai merendahkan dirinya sendiri."Berarti, jodohnya aku, Mas Husain." Nashwa menjawab dengan ringan. "Kamu nggak nyesel?" tanya Husain. Laki-laki berkemeja biru itu merasa minder. "Kalo aku nyesel, berarti aku nyesel sama takdir Allah, dong," jawab Nahswa, membuat Husain kehabisan kata-kata. Husain bingung mau bicara apa lagi. Dia menatap wajah Nashwa. Nahswa pu
Nahswa menundukkan wajah. Malu dengan perawat yang sedang mengatar makan dan obat. Dia merutuki diri sendiri. Bisa-bisanya sampai tidak mendengar orang mengetuk pintu dan membukanya.Sang perawat juga malu. Dia sudah mengetuk pintu tiga kali, lalu masuk dengan permisi. Tapi yang di dalam tidak mendengarnya. “Maaf, Pak, Bu, saya mau mengantar makanan dan obat.” Dia meletakkan mangkuk berisi makan dan juga obat-obatan ke atas nakas. Setelah itu segera keluar keburu malu. “Mas mikirin apa, si?” tanya Nahswa sambil menyuapi Husain. Laki-laki itu terlihat celingukan sambil mencari sesuatu. “Kamu lihat tas Mas nggak, Nash, apa ilang ya?” “Tas yang mana, Mas?” “Tas slempang yang aku bawa waktu itu.” Husain berhenti mengunyah, mengingat-ingat kejadian saat dia dikeroyok, apa mungkin tasnya terlepas atau dijarah orang-orang itu. “Kalo sampe ilang ....” Husain mengesah. “Ada barang penting disana.”“Barang penting apa, Mas, file atau ....”“Bukan urusan kerjaan.”“Ini bukan?” Nahswa meng
Aku segera keluar rumah. Bersiap memberi pelajaran pada dua orang itu. Terutama Nashwa. Begini rupanya sifat aslinya. Dibalik sifat lugu dan sok nurut itu, ternyata dia diam-diam pergi dengan laki-laki lain. "Maaf, Bapak suaminya mbak ini?" Laki-laki yang tadi membukakan pintu untuk Nashwa, tiba-t
Aku menatap nanar alat tes kehamilan yang kupegang. Alat panjang bergaris dua itu basah karena air mata.“Apa salahmu, Nak?” Aku mengelus perutku yang masih rata. Malang sekali masibumu, Nak, akan terlahir sebagai anak Broken Home. Bahkan baru saja janinnya bersemayam di rahim, kamu sudah menjadi a
Flashback“Apa alasan kamu mau nerima perjodohan ini?” tanya Mas Husain saat kami diberi waktu untuk ngobrol waktu itu.Sebelum hari pernikahan ditentukan, keluarganya dan keluargaku bertemu dalam acara makan malam. Sebagai sarana untuk saling mengenal antara aku dan Mas Husain.Raut wajahnya tidak
"Kamu ingat Anggita? Perempuan yang pernah kuceritakanpadamu waktu itu.” Laki-laki bergelar suamiku itu berkata dengan halus dan hati-hati. Kopi yang masih mengepulkan asap diseruputnya sedikit demi sedikit.“Ya?” Aku menjawab singkat. Aku pasti sangat ingat.Anggita—mantan kekasih Mas Husain yang m







