Share

Bab 6

last update Last Updated: 2025-11-14 04:56:54

"Nashwa!"

Aku benar-benar terkejut melihatnya tergeletak di tengah-tengah pintu kamar mandi. Tubuhnya dingin sekali, sepertinya dia sudah lama tak sadarkan diri. Segera aku mengecek nadinya, takut terjadi apa-apa. Alhamdulillah masih ada detakan di pergelangan tangannya.

Ku baringkan tubuhnya di atas kasur. Rupanya makanan yang tadi malam kupesan masih dengan kondisi sama seperti saat aku pergi. Obat yang kusiapkan juga tidak diminum.

"Astaga, Nashwa."

Sedikit geram, tapi juga khawatir. Aku segera membawanya ke rumah sakit. Jangan sampai terjadi apa-apa dengannya. Bisa-bisa aku dikeluarkan dari garis keturunan Papa kalau sampai menantu kesayangan Mama ini kenapa-kenapa.

"Jaga mantu Mama baik-baik, jangan sampai ada lecet sedikitpun!" Mama memberi peringatan setelah aku dan dia sah.

Kata Mama dia itu lebih berharga dari berlian. Menantu idaman yang bisa jadi investasi di akhirat nanti. Aku nggak ngerti sama Mama.

"Mama ini udah tua, Sen. Udah saatnya mempersiapkan--"

"Mamaa ...." A
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Calon Janda   20.a

    "Nashwa!” Husain keluar kamar dengan tergesa. Tadi saat dia pulang, pintu rumah tidak dikunci. Dia lupa saat berangkat memang tidak mengunci pintu. “Nash—“Di dapur, dia melihat Nashwa yang sedang menenggak air putih. Laki-laki itu berlari dan memeluknya erat, membuat Nashwa terheran-heran. “Mas apaan, si?” Nashwa melepas pelukan suaminya yang terlalu erat sampai dia susah bernapas. “Nggak apa-apa,” jawab Husain kikuk. Laki-laki itu menggaruk tengkuknya. Merasa malu dengan dirinya sendiri. “Nggak jelas!” gumam Nashwa kesal. Wanita itu lalu berlalu ke kamar diikuti suaminya. Dia tidak bertanya kemana perginya Husain tadi, karena sudah tahu bahwa laki-laki itu berbicara dengan Anggita. Sudah pasti menemui dia. “Disini aja, ya jangan kemana-mana!” perintah Husain saat istrinya sudah naik ke atas kasur. Laki-laki itu bersiap lembur di ruang kerjanya. “Nggak bisa lah!” “Lah kenapa?”“Ya kalo aku disini aja nanti kalo pipis juga disini, emang Mas mau makein aku popok?” “Yaudah sini

  • Calon Janda   19.b

    Dia merasa kesal mendengar suaminya memerintah. Padahal dulu Nashwa selalu nurut perkataan Husain, tapi sekarang dia seperti remaja labil yang sedang mencari jati diri dengan memberontak. "Otoriter?" Husian terkekeh. Laki-laki itu mendekati istrinya, duduk di sebelahnya dan membelai lembut kepalanya. Dia merasa gemas dengan sikap istrinya. Sekarang Nashwa suka menjawab setiap ucapannya dengan kalimat sarkas. Tapi bukannya menjadikannya seperti wanita pembangkang, malah baginya jadi lucu. "Kamu itu lagi ngandung anak aku--""Yakin anak Mas?" sindir Nashwa. Dia memutar bola mata sambil membuang muka. "Emang anak siapa?" tanyanya sambil tersenyum jail."Anakonda," celetuk Nashwa membuat Husian tertawa sampai bahunya bergetar. Laki-laki bercambang tipis itu mengacak kepala sang istri sebelum beranjak ke meja kerjanya. .Ponselnya bergetar sebelum Husain meraih laptop. Dia membuka benda pipih itu. Matanya menyipit, melihat panggilan dari nomor baru. Dia lalu menggeser tombol hijau ke a

  • Calon Janda   19.

    "Canda." Bastian terkekeh. Tangannya menepuk pundak Husain yang wajahnya sempat menegang. Kini laki-laki itu menggaruk tengkuknya. "Jangan dianggap serius!" lanjutnya. Husain meringis. "Istrimu wanita hebat." Bastian melanjutkan ucapannya."Memangnya kamu tahu istriku?" Bibir Husain mencebik. "Kebetulan keponakan sekolah di PAUD Guna Bangsa, dia suka sekali dengan Bu Nashwa." "Dari mana tahu kalau dia istriku?" "Pernah lihat kamu jemput dia waktu aku jemput ponakan," jawab Bastian apa adanya. Karena memang dia tahu istri Husain saat menjemput Nayla--keponakannya. Lalu sejak tahu Nashwa istrinya Husain, laki-laki itu berusaha menemuinya. Husain menganggukkan kepala. Mereka lalu saling diam. Hingga terdengar suara petugas bagian apotek memanggil nama Nashwa. Husain segera beranjak menuju loket untuk mengambil obat. Setelah itu, nama ayah mertua Bastian pun dipanggil. Setelah sama-sama selesai urusannya, mereka lalu saling berpamitan. "Maaf ya, kalo ganggu waktu kamu," ucap Basti

  • Calon Janda   18.b

    “Aku nggak akan bingung kalo Cuma Anggita yang pergi, tapi dia bawa anak kita, aku khawatir sama Lilly.” “Lilly sama ibunya sendiri, apa yang perlu dikhawatirkan?” “Kamu nggak tau Anggita.” Bastian berkata lirih. “Dia bukan ibu yang baik, Anggita sering bentak-bentak Lilly hanya karena masalah sepele. Dia seperti nganggep kalo Lilly itu membuat pergerakannya terbatas. Anggita sering marah-marah sejak ada Lilly.” Bastian menghembuskan napas panjang, seperti mengeluarkan beban yang berat. “Aku tahu ini salahku, mungkin aku yang terlalu mengekangnya, menuntut dia jadi ibu yang sempurna, tanpa memikirkan mentalnya setelah melahirkan. Aku membatasi kartu ATM dan lainnya supaya dia tidak sibuk dengan dunianya yang suka belanja. Aku ingin dia lebih memperhatikan Lilly, sayangnya di menangkapnya berbeda.Yah ... salahku juga dalam menyampaikannya dengan cara yang kurang tepat, sehingga dia merasa dikekang. Aku juga tidak memberinya ruang untuknya membela diri, sehingga saat emosinya me

  • Calon Janda   18.a

    Dokter muda itu tersenyum, seolah memberikan pesan tersirat pada sepasang suami-istri itu bahwa semua baik-baik saja. Padahal Nashwa dan Husain sudah sangat khawatir. “Perdarahannya banyak?” tanya dokter. “Dikti, Cuma kaya setetes gitu.” Nashwa berpikir sejenak, mengingat yang tadi dilihat hanya berupa bercak darah, tapi dia terlalu kaget sehingga panik. Sang dokter kembali tersenyum, lalu memeriksa Nashwa. Setelah melakukan USG, dokter bernama Teddy itu menjelaskan bahwa flek yang dialami Nashwa masih dalam kondisi normal. Tidak perlu dikhawatirkan. Dia lalu memberi resep obat dan tidak lupa memberi nasehat pada pasangan suami-isteri itu.“Istirahat yang cukup dan pola makan dijaga. Jangan sampai kelelahan dan hindari stres.” Kalimat dokter didengar dengan baik oleh Husain. Dia berjanji pada dirinya sendiri akan lebih perhatian pada Nashwa. .“Husain?” Saat antri di apotek, tidak sengaja dia bertemu dengan Bastian. Laki-laki itu menghampiri Husain terlebih dahulu. Husain merasa

  • Calon Janda   17.b

    Tanpa terasa air mata Nashwa menetes. Sebenarnya dia lelah. Dia ingin istirahat. Tapi dia sendiri yang memaksa kuat. Lebih tepatnya pura-pura kuat. “Maafin aku, Nash.” Husain menarik lengan Nashwa. Membawa tubuhnya ke dalam dekapan. Rasa bersalah menyelimuti hatinya. Laki-laki itu menyesal, sudah mengatakan tentang rencana pernikahan dengan Anggita padanya. Tanpa dia pikirkan perasaan istrinya. “Kamu mau berkarya seperti apapun, aku akan selalu dukung kamu, tapi tolong jangan sampai nyakiti diri sendiri.” Husain mengelus kepala istrinya.“Dan soal perpisahan ... Aku udah pernah bilang kan, kalo aku gak akan menceraikan kamu,” lanjutnya, membuat Nashwa mendongak. Wanita itu mengusap sisa air matanya lalu duduk dengan tegak. “Nggak akan menceraikan sampai anak ini lahir kan?” Nashwa menyimpulkan sendiri. “Nash—““Makanya sebelum anak ini lahir, aku harus sudah bisa hidup mandiri.” “Nashwa—““Karena kalo Mas mau nikahin Anggita dan tetap sama aku, aku keberatan, lebih baik pisah aja

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status