Masuk"Banyak staf perawat bertanya ke saya, apa hubungan Dokter dengan pasien K.E.T itu," sebut Suster Tiwi mengiringi langkah Rai menuju parkiran di hari lain seusai praktik di poli.
"Terus Mbak Tiwi jawab apa?" balas Rai tak acuh. "Rumor tersebar, mereka pikir Dokter Christ adalah salah satu pelanggannya di rumah bordil," kata Tiwi hati-hati. "Ya biar aja mereka nganggap begitu." "Tapi banyak yang nggak rela, Dokter kan maskot ketampanan rumah sakit kita, masa jajan di rumah bordil. Nggak mungkin kan Dok?" Rai tersenyum, "Menurut Mbak Tiwi, saya begitu nggak?" tanyanya. "Enggak," tegas Suster Tiwi. "Dok, jangan ya," pintanya sudah seperti kakak bagi Rai. "Iya," sahut Rai geli. "Gendhis, hari ini dia bisa pulang. Mbak sudah buatkan surat kontrolnya untuk dua minggu ke depan?" tanyanya. "Siap, sudah Dokter!" balas Suster Tiwi. Rai mengangguk, lantas melambai ringan pada Tiwi sebelum akhirnya keduanya berpisah di simpang antara lobi dan arah IGD. Seolah takdir memberi kesempatan yang sangat banyak padanya dan Gendhis, Rai berpapasan dengan cinta pertamanya itu di lorong menuju ruang farmasi. Padahal, selama 3 hari belakangan ini, Rai selalu mengirim residen untuk memeriksa kondisi Gendhis, satu tindakan tidak profesional yang dilakukannya demi menghindar. "Dokter Christ!" kali ini Wida yang menyapa, membuat Rai mengangguk ringan, sekenanya. "Terima kasih sudah bantu merawat Gendhis," tambahnya. "Sudah kewajiban saya," balas Rai 'template' sekali. Gendhis nampak bungkam, ia hanya menatap Rai tanpa suara, tatapan yang begitu random dan menghakimi. Sebaliknya, Rai terlihat tak acuh, terjebak dan tak bisa pergi begitu saja karena terhalang kursi roda Gendhis yang didorong Wida. "Bilang makasih sama Dokter Christ, Sugar!" perintah Wida. "Gue tebus obat lo dulu," pamitnya buru-buru berlalu. Hening lagi. Rai memilih membasahi bibirnya sejenak, ingin langsung beranjak ia juga tak tega meninggalkan Gendhis sendirian di atas kursi roda. Ya, meski kondisinya sudah dinyatakan stabil, Gendhis memerlukan istirahat lebih banyak demi recovery kesehatannya. "Saya sudah minta Suster Tiwi untuk membuatkan surat kontrol, Mbak bisa datang untuk kembali diperiksa di jadwal yang sudah ada," ucap Rai mengikis kecanggungan. "Ya, sudah diterima," balas Gendhis sekenanya. "Semoga lekas sembuh," gumam Rai mengangguk sopan, untuk kemudian melanjutkan langkah. "Maaf untuk udah bikin Dokter Christ terjebak rumor jelek karena saya yang sok kenal sama Dokter, seharusnya saya bisa menjaga sikap," ucap Gendhis membuat langkah Rai seketika terhenti. "Nggak masalah, nggak mengganggu kinerja saya," tukas Rai santai. "Dan terima kasih sudah mau merawat, mendonorkan darah untuk pelacur seperti saya tanpa bertanya-tanya.” "Seharusnya saya bertanya," sebut Rai membuat Gendhis seketika menaikkan pandangan dan beradu tatap dengannya. "Karena Mbak butuh wali untuk persetujuan operasi. Tapi kata dokter IGD, Mbak ini sebatang kara, jadi saya langsung ambil tindakan untuk menjadi wali," jelasnya. "Alasannya apa?" gumam Gendhis. "Apa karena kita pernah terlibat cukup banyak di masa lalu?" "Kemanusiaan," sambar Rai. "Mbak butuh penanganan cepat karena perdarahan yang mengancam nyawa," elaknya tak mau mengakui kisah masa lalu itu. "Saya nggak akan menuntut apapun ke Dokter soal masa lalu kita. Saya sadar diri. Sebagai perempuan penjaja jasa, saya seharusnya tidak berusaha menggali masa lalu seorang yang sangat agung dan luar biasa seperti Dokter Christopher!" ###"Rai, gimana anak-anak?" tanya Gendhis, suaranya lemah, kesadarannya baru saja pulih. "Mereka semua baik, adek rada lemah, tapi masih aman. Mereka masih di NICU ya, tunggu ijin dokter anak dulu sebelum dibawa ke sini," jawab Rai lembut, ia usap kening Gendhis penuh cinta. "Makasih ya Ndhis, udah berjuang sekuat tenaga buat anak kita, makasih udah bertahan dan baik-baik aja," tambahnya. "Makasih juga ke kamu, Rai. Kamu pasti juga berjuang buat bawa mereka selamat ke dunia," balas Gendhis. "Aku udah hubungi Ben sama Ann, mereka bakalan ambil penerbangan pertama buat ke Indo besok pagi. Kalau kakek sama neneknya yang di sini udah pada nggak sabar ketemu, mereka numpuk nunggu semua di depan NICU," jelas Rai. "Kamu nggak ikut juga liat anak kita?" tanya Gendhis. Rai menggeleng, "Anak-anak kita udah aman di tangan para profesional, aku mau nemenin istriku di sini. Kamu yang udah bertaruh nyawa buat mereka, nggak akan kuabaikan," ungkapnya. Senyum Gendhis terbit. Rai memang
"Dok, panggilan cito dari IGD," kata Suster Tiwi menjeda kegiatan Rai yang tengah memeriksa pasiennya. "Lagi?" gumam Rai menahan nafas. Pasalnya, ia baru saja menyelesaikan operasi caesar untuk kasus ketuban pecah dini dua jam yang lalu. "Pasien atas nama Gendhis Wisanggeni," ujar Suster Tiwi lagi. Rai menoleh cepat, matanya membulat sempurna. Untuk sepersekian detik keheningan merebak, Rai linglung. "Gendhis Wisanggeni? Gendhis Kemuning Btari? Istri saya?" tanya Rai memastikan lagi pendengarannya. "Betul Dok, Mbak Gendhis, Nyonya Dokter Christopher," ulang Suster Tiwi mantap. "Bunda, mohon maaf, saya harus ke ruang OK sekarang," ucap Rai pada pasiennya, tampak panik. "Saya resepkan vitamin dan obat anti mualnya. Ini dianter Suster Tiwi ke bagian poliklinik di samping ruangan, biar diarahkan," jelasnya runtut meski terlihat tergesa. Setelah mendapat anggukan paham dari pasiennya, Rai bergegas menuju unit IGD. Ia bertemu Danisha yang mengantar Gendhis, menyambutnya
Setelah membersihkan diri dan mengurus kekacauan yang terjadi di kediaman Adhyaksa, Rai dan Gendhis kembali dalam tampilan rapinya. Mereka memimpin prosesi pemakaman Eriska sampai pada proses kremasinya. Meski pernah begitu menderita karena perlakuan Eriska, Gendhis setia mendampingi suaminya. Kini, dua kekuatan bisnis besar di Indonesia ada dalam genggaman Rai, orang-orang tunduk dan hormat padanya, sekaligus pada Gendhis. "Kamu nggak capek? Habis ini kita langsung ke rumah besar ya, biar kamu bisa istirahat," kata Rai perhatian. "Kamu nggak ngelapor ke Ben sama Ann dulu soal Adhyaksa?" tanya Gendhis lembut. Rai menggeleng, "Danisha sama Benji pasti udah ngobrol sama Ben, mereka tau apa yang musti dilakuin," tukasnya. "Ya udah, aku juga rada laper, kita ke rumah ya," ucap Gendhis langsung setuju. Mengandung dua janin di dalam perutnya sekaligus memang cukup membuat Gendhis mudah lelah. Apalagi ia baru saja mengalami hal yang cukup traumatis bagi orang awam, Rai takut is
Memaksa untuk menunggu Rai di depan kediaman Adhyaksa, ditemani Danisha, Gendhis menahan kecemasannya. Ia tahu, Rai bisa lepas dari kepungan orang-orang Adhyaksa, tapi belum tentu tanpa luka. "Dia bakalan baik-baik aja. Ada Bas yang jadi back up-nya," hibur Danisha, sengaja mengusap pundak Gendhis agar membuatnya tenang. "Aku udah curiga dari awal Kak, pasti bakalan aza tragedi di pemakaman Eriska," desah Gendhis menyadari ketajaman intuisinya. "Kalau aja aku beh ngelarang Rai buat jangan dateng," sesalnya. "Christ tetep bakalan dateng meskipun kamu ngelarang dia, Ane-san. Eriska adalah satu-satunya keluarga yang punya hubungan darah sama dia, sebagai laki-laki Takahashi, Christ tau banget aturannya."Gendhis menghela nafas panjang, mencerna kalimat Danisha mengenai karakter lelaki Takahashi yang begitu gentle dan penuh wibawa. Rai memang dididik keras oleh Ben, tapi juga ditanamkan rasa setia pada keluarga di dalam hatinya. "Minta maaf!" Axel tiba-tiba datang, ia mengiring Kiara
Gendhis berusaha mengatur nafasnya, bertahan mati-matian melawan, sekuat yang ia bisa. Namun, karena kehamilannya, energinya terbatas. Geo berhasil memukul mundur dan menepis pedang di tangan Gendhis, membuat perhatian Rai teralih hingga Nando memanfaatkan kesempatan itu untuk menyerangnya. Terhuyung karena tendangan Nando yang di luar prediksinya, Rai terjerembab. Beberapa bagian wajahnya sudah memar dan mengeluarkan darah, hasil berduel sengit dengan Nando. Meski begitu, Rai tidak menyerah, ia bangkit, memilih untuk mendatangi Geo yang berusaha untuk menekan istrinya. Ditendangnya punggung Geo sekuat tenaga, membuat Gendhis berhasil lepas dan melempar pedang pada Rai. "Orang Adhyaksa nggak pernah berubah, hobinya maen keroyokan," kata Rai mengeringai, sudah berdiri di depan Gendhis untuk melindunginya. "Lo udah terpojok Christ, menyerah dan kami bakalan melepaskan kalian," desis Nando, ia juga babak belur wajahnya karena serangan Rai. "Terpojok? Kalian make ibu hamil buat mengan
"Rai," Gendhis mengusap lengan suaminya lembut. Meski duel yang digagas Nando tak lagi bisa dikendalikan dan dibatalkan, Gendhis sebenarnya tak menginginkan situasi ini. Seandainya ia tak terlalu mencemaskan keselamatan sang suami, tentu saja saat ini ia tak menjadi beban bagi Rai. "Mereka ngutus orang buat menjemputku di kediaman, dan mereka bilang kamu yang nyuruh," lanjut Gendhis membuat Rai seketika menatapnya. "Kamu bukan ke sini atas inisiatifmu sendiri?" gumam Rai membulatkan matanya. Gendhis mengangguk, "Ada dua orang yang dateng, mereka bilang disuruh kamu buat jemput aku," ucapnya. "Ternyata mereka ngebohongin aku." "Nggak pa-pa, udah terlanjur, kamu udah di sini. Nggak akan ada yang bisa menyentuhmu selama aku masih hidup," kata Rai seraya melepas kemeja putih yang membalut tubuhnya. Kini, ia bertelanjang dada memamerkan tato yang menjadi identitas Takahashi itu. "Rai, apa sebaiknya nggak usah kamu ladenin si Nando itu? Kita masuk ke perangkap mereka, ini ha







