Share

BAB 02

Penulis: Langit Parama
last update Tanggal publikasi: 2025-11-27 16:15:01

Setelah sarapan pagi itu berakhir dengan suasana menegangkan, kini Djiwa beralih mencuci piring bekas semua anggota keluarga tersebut.

Djiwa menekan spons ke piring dengan tenaga berlebihan, seolah menghilangkan noda dari piring itu seperti menghilangkan cemoohan mertuanya dari telinganya.

Air matanya yang jatuh menetes bercampur dengan buih sabun. Ia terisak pelan, bahunya bergetar seiring desakan dan ultimatum tenggat waktu tiga bulan untuk hamil.

Tiba-tiba, sebuah sentuhan lembut mendarat di punggungnya. Djiwa tersentak dan buru-buru menghapus air matanya dengan lengannya.

“Non Djiwa ....” suara Mbok Iyam—pembantu rumah tangga di keluarga itu terdengar penuh kehangatan dan rasa iba, sambil mengusap lengan Djiwa lembut.

“Sudah, Non. Jangan menangis. Air mata Non Djiwa terlalu mahal untuk menangisi ucapan mereka semua, termasuk Kanjeng Nyonya,” bisik Mbok Iyam, menarik piring dari tangan Djiwa.

“Sini, biar Mbok saja yang lanjutkan,” pinta si Mbok mengambil alih.

Namun Djiwa kembali menarik piring itu, “Gak usah Mbok, biar Djiwa yang selesain.”

“Udah, Non. Biar Mbok saja,” timpal Mbok Iyam, “Simpen dulu saja ini, nanti saya yang lanjutkan, Non. Mending Non istirahat saja dulu, pasti capek,” ucapnya lirih.

Akhirnya Djiwa meletakkan cucian piring itu ke tempatnya, kemudian membasuh kedua tangannya sampai bersih di kran air wastafel.

Mbok Iyam mendekat, membantu mengelap tangan Djiwa dengan serbet bersih. Kemudian merangkul gadis itu ke dalam pelukan, seolah anaknya sendiri.

Djiwa tetap tersenyum manis seperti biasa, seolah tidak terjadi apa-apa. Padahal Mbok Iyam tahu apa yang sudah terjadi di meja makan tadi.

“Yang sabar ya, Non? Jangan dimasukkan ke dalam hati ucapan mereka,” ucap Mbok Iyam memulai percakapan lebih dulu.

Gadis itu tetap berusaha tegar, dengan senyum manis yang merekah di wajah cantiknya. “Iya, Mbok. Jangan khawatir, Djiwa baik-baik aja, kok.”

Ini bukan pertama kalinya Mbok Iyam menyaksikan Djiwa dihina, disudutkan, bahkan diperlakukan layaknya pembantu di rumah megah ini.

Padahal, bagaimanapun juga, Djiwa tetaplah menantu keluarga Reinard—meski kastanya tak pernah dianggap setara dengan dua menantu yang lainnya.

“Kanjeng Nyonya itu lidahnya memang tajam, Non. Nanti juga kualat sendiri,” bisik Mbok Iyam. “Non Djiwa jangan pernah merasa sendirian, ya? Di sini ada Mbok.”

Djiwa mengangguk kecil, sementara Mbok Iyam menggenggam tangannya erat seolah memberikan kekuatan untuk tetap sabar menjalani kehidupan di rumah ini.

“Non Djiwa yang sabar ya,” lanjutnya pelan. “Mbok percaya, kalau suatu saat Non bisa melahirkan anak laki-laki keturunan keluarga ini, Kanjeng Nyonya bakal melihat Non Djiwa sebagai menantu yang lebih layak.”

Ditenangkan oleh pembantu yang tak punya apa-apa selain kebaikan itu, senyum Djiwa semakin merekah.

Tapi entah kenapa, ucapan Mbok Iyam soal keturunan laki-laki itu tidak membuat Djiwa sedikit pun bersemangat.

Ia tahu betul, Mbok Iyam hanya bermaksud menenangkannya—bukan benar-benar menuntutnya melahirkan anak laki-laki pewaris keluarga.

Namun tetap saja, dada Djiwa terasa sesak. Karena hingga detik ini, ia sendiri masih bingung, bagaimana cara mendapatkan keturunan itu?

Sedangkan sang suami tak pernah mau menyentuhnya.

“Ya udah, Non. Sekarang Mbok yang lanjutkan cuci piringnya, Non Djiwa istirahat saja. Yang Non butuhkan saat ini istirahat dan menenangkan diri,” kata Mbok Iyam.

Djiwa menunduk sedikit, suaranya mengecil. “Maaf ya … kalau Djiwa malah ngerepotin.”

“Loh, ngapain minta maaf?” Mbok Iyam menatapnya lembut. “Ini memang kerjaan Mbok, Non. Sudah sana, istirahat. Kalau ngobrol terus, kapan Non Djiwa istirahatnya?”

Djiwa tersenyum—senyum yang benar-benar tulus setelah seharian dadanya sesak.

“Kalau begitu, Djiwa tinggal dulu ya, Mbok? Makasih banyak atas bantuannya.”

“Iya, Non. Sama-sama. Istirahat yang nyenyak, ya.”

Gadis itu hanya mengangguk kecil. Perlahan meninggalkan dapur kotor menuju ke kamarnya, melewati ruang tengah.

Di sana, Djiwa melihat keberadaan Inggrit dan anak sulungnya.

“Mama ...,” seruan itu berasal dari Anggita yang tengah berlari sambil membawa kaos kaki dan sepatu menuju sang ibu—Inggrit. “Pasangin kaos kaki, Ma.”

Inggrit yang duduk di sofa ruang tengah sambil menatap layar tabletnya yang menampilkan gambar rancangan busana miliknya, melirik sekilas pada Anggita.

“Pasang sendiri, Gi!” nada bicaranya terdengar dingin.

“Nggak bisa, Mama ....” keluh bocah berusia lima tahun tersebut.

Tch.

Inggrit berdecak kasar, menatap putrinya dingin. Lalu matanya menangkap sosok Djiwa yang baru saja muncul dari arah dapur.

“Djiwa,” panggilnya dengan nada keras, membuat Djiwa menghentikan langkah dan menoleh. “Sini,” tangannya melambai.

“Ada apa, Mbak?” tanya Djiwa saat berada di hadapan Inggrit.

Wanita itu melirik sekilas ke arah sang anak. “Pakein kaos kaki sama sepatunya Anggita,” ucapnya dingin, seolah memberi perintah pada pembantu.

Djiwa tercengang. Setelah tadi di meja makan saat sarapan menuduhnya mandul, sekarang wanita itu dengan santainya menyuruhnya untuk membantu sang anak.

Apa wanita itu tidak punya rasa malu?

Tak ingin berdebat, lebih tepatnya Djiwa memang begitu penakut pada semua anggota keluarga tersebut mengingat akan kastanya—akhirnya tak protes ataupun menolak.

“Iya, Mbak,” jawabnya akhirnya, sementara Inggrit tetap fokus pada layar tabletnya. “Sini, sayang. Biar Tante bantu kamu pasang kaos kaki sama sepatunya.”

Djiwa tersenyum manis, mengulurkan tangan kanannya menarik lengan Anggita menuju sofa. Ia mendudukan gadis itu di sana, lalu berjongkok di hadapan Anggita.

Pemandangan itu membuat Inggrit yang diam-diam memperhatikan sekilas tersenyum miring, merasa senang karena gadis itu mudah dijadikan babu.

Inggrit berdeham, tatapannya sinis pada Djiwa. “Jangan lama-lama dong, Wa. Kamu kok kerjanya lelet banget, sih!” ucapnya ketus.

“Udah selesai, sayang,” ucap Djiwa pada Anggita selesai memakaikan sepatunya, kemudian berdiri.

Anggita melirik kakinya sekilas, “Terima kasih banyak Tante Djiwa,” ucapnya sopan.

Djiwa tersenyum kecil, dan mengulurkan tangannya untuk mengusap puncak kepala bocah itu. “Sama-sama, Sayang.”

“Kamu punya banyak sekali skill, Djiwa,” ucap Inggrit, mencemooh. “Jadi pembantu cocok, babysitter cocok. Apa sih, yang gak kamu bisa?”

Djiwa cuma diam saat Inggrit melanjutkan. “Oh iya. Kalau gitu, nanti sekalian ya, Wa, bantu Mbok Iyam jagain April.”

Wanita itu kemudian memasukkan tabletnya ke dalam tas mahalnya sambil tersenyum miring. “Kamu kan suka bayi. Lumayan sekalian belajar ngerawat anak dari sekarang.”

Belum sempat Djiwa merespons, Inggrit menambahkan dengan nada lebih tajam, “Ya ... kalau kamu gak positif mandul, sih. Tapi kalau ternyata beneran mandul, ya ... sampai kapanpun kamu cuma bisa ngurus anak orang. Anak aku, anak Fairish.”

Djiwa terdiam. Sama sekali tidak menjawab. Wajahnya tetap menunduk, menatap kaki mungil Anggita—cara kecilnya menahan diri agar tak hancur di depan mereka.

Inggrit meliriknya sekilas, puas melihat Djiwa tak membalas. “Nanti siang bikinin April susu, suapin makan, sekalian gantiin pampers-nya, ya,” lanjutnya enteng.

Aprilia merupakan anak kedua Inggrit dan Radja, berusia enam bulan, yang mana kelahirannya sangat ditunggu-tunggu oleh keluarga Reinard.

Saat itu mereka mengira Inggrit akan melahirkan anak berjenis kelamin laki-laki untuk pewaris keluarga. Tapi ternyata, anak kedua perempuan lagi.

Itulah yang membuat Sekar mendesak Djiwa untuk hamil, dan berharap dia bisa melahirkan anak laki-laki. Karena tidak mungkin dia mendesak Inggrit hamil lagi kalau pada akhirnya perempuan lagi.

“Kamu kan cepat belajar kalau soal kerja kayak gitu. Aku paling gak suka, loh … sebenernya. Kalau anak aku dijaga orang lain. Tapi khusus kamu aku bolehin,” tambahnya.

Djiwa mengangguk kecil. “Iya, Mbak.”

Inggrit tersenyum lebar. “Nah, gitu dong! Aku tuh suka banget sama jawaban kamu, bener-bener penurut mirip kayak anak anjing—”

“Inggrit.”

Sebuah suara berat, dalam, dan tegas memotong ucapan Inggrit. Suara maskulin itu berasal dari Radja yang melangkah mendekat menghampiri sang istri.

Sekilas, tatapan pria itu melirik ke Djiwa dan sang anak Anggita—lalu kembali menatap Inggrit dengan tajam. “Bicara apa kamu barusan?” katanya dengan nada tegas.

Inggrit menelan ludahnya susah payah, saat mendapatkan lirikan tajam dari sang suami.

“Bi-bicara apa, Mas?” tanyanya terbata, kedua tangannya meremas erat tali tasnya.

“Tidak usah pura-pura bodoh,” balas Radja dingin, nada bicaranya menusuk. “Jelas-jelas barusan kamu berkata kasar, kan?” rahang kokoh pria itu mengeras.

“Nggak, Mas!” Inggrit berkilah, berusaha membela diri. “Aku gak berniat ngomong kasar. Kamu tuh sensitif banget, sih.”

“Sensitif?” kedua alis tebal Radja menyatu. “Jangan berfikir kalau saya tidak tahu seperti apa sifat kamu, Grit. Tahu diri sedikit. Kamu meminta bantuan Djiwa, tapi kamu malah merendahkannya dengan kata-kata kamu yang tidak sopan itu.”

Inggrit tercengang karena sang suami menegurnya seperti itu di depan Djiwa, di depan gadis yang baru saja dia cemooh. Tapi sekarang, justru dirinya disambar sang suami.

“Papa … Mama ….” lirih Anggita yang sejak tadi diam melihat sang ayah memarahi ibunya dengan tatapan polos.

Radja melirik sang anak sekilas, lalu kembali menatap istrinya dingin.

“Minta maaf ke Djiwa,” perintah Radja tegas, nada bicaranya seakan tak ada ruang untuk bantahan.

Tapi Inggrit tetaplah Inggrit yang memiliki wajah tebal, tak akan mau melakukan itu.

Merasa kesal, Inggrit lantas menarik lengan Anggita keluar lebih dulu meninggalkan ruang tengah tanpa permintaan maaf seperti yang suaminya minta.

Begitu pintu utama tertutup dan suara langkah Inggrit serta Anggita menjauh, ruang tengah mendadak sunyi. Hanya suara napas Djiwa yang terdengar pelan.

Radja berdiri tidak jauh darinya, punggungnya tegak, sorot mata dingin yang biasanya sulit ditebak kini mengarah langsung padanya. Djiwa hampir tak berani bergerak.

Lalu suara itu terdengar—rendah, datar, tapi cukup untuk membuat jantungnya berhenti sepersekian detik.

“Kamu tidak seharusnya mengikuti ucapan orang lain terus.”

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Komen (13)
goodnovel comment avatar
Yana Irwan
lanjut min bikin penasaran
goodnovel comment avatar
Suryat
masih menyimak...
goodnovel comment avatar
Sofiah
lnjt kk.........
LIHAT SEMUA KOMENTAR

Bab terbaru

  • Candu Dekapan Kakak Ipar   BAB 540

    “Om Sultan!” seru Ratu penuh semangat begitu melihat Sultan, Fairish, dan Binar datang menjenguk. Sultan tersenyum, lalu berjongkok di hadapan keponakannya. “Ada apa, hm?” Ratu langsung berdiri tegap, wajahnya berbinar bangga. “Nanti kalau Ratu udah besar, Ratu mau jadi dokter kayak Om. Biar kalau Daddy, Mommy, Mas Regan, sama Mas Naren sakit, Ratu yang obatin!” Sultan terkekeh pelan, lalu mencubit gemas pipi chubby itu. “Nah, ini baru anak pintar.” Ia menarik Binar mendekat. “Kak Binar juga mau jadi dokter.” Mata Ratu langsung membulat tak percaya. “Hah? Kak Binar juga mau jadi dokter?” Binar mengangguk mantap, tak kalah semangat. “Iya, dong. Aku mau jadi dokter kayak Papa, biar bisa nyembuhin banyak orang.” “Yeay!” Ratu bertepuk tangan kecil. “Berarti Ratu punya temen! Ratu jadi makin semangat!” Fairish yang melihat interaksi itu tersenyum lembut, matanya hangat menatap kedua anak kecil tersebut. Di sisi lain, Djiwa ikut tersenyum. Namun senyum itu terasa dipaksakan, ia men

  • Candu Dekapan Kakak Ipar   BAB 539

    Karin baru saja tiba di mansion Reinard tepat pukul enam lewat lima belas menit. Langit sudah gelap, hanya lampu-lampu taman yang menyala redup menerangi halaman luas itu. Ia berdiri seorang diri di teras, diam terlalu lama, seolah kakinya enggan melangkah masuk. Pertemuannya yang mendadak dengan Radja tadi siang masih membekas di kepalanya. Tatapan pria itu dingin, tajam, dan seakan tahu segalanya. Membuat dadanya terasa sempit. Karin melamun, menatap kosong ke depan. “Kamu dari mana?” Suara berat yang tiba-tiba muncul dari belakang membuat tubuhnya tersentak. Jantungnya seolah berhenti sesaat. Ia segera menoleh. “Mas Kai?” suaranya nyaris tercekat saat mendapati Kaisar sudah berdiri di belakangnya, menatapnya lurus tanpa berkedip. “Kamu dari mana?” ulang Kaisar, kali ini dengan nada lebih rendah. Tatapannya menyelidik. Karin menelan ludahnya pelan. “Aku … aku dari rumah Bunda.” Kaisar mengernyit. “Rumah Bunda?” Langkah Kaisar mendekat perlahan, membuat Karin refleks mundur

  • Candu Dekapan Kakak Ipar   BAB 538

    “Kamu operasi, ya, Mas ….” bisik Djiwa lirih dalam dekapan suaminya. Kepalanya bersandar di dada bidang Radja, sementara kedua lengannya melingkar erat di pinggang pria itu, seolah takut kehilangan. Tak ada jawaban. Djiwa perlahan mendongak, menatap wajah Radja yang tetap tenang—terlalu tenang untuk situasi seperti ini. “Kamu harus operasi, Mas.” “Harus?” alis Radja terangkat tipis, suaranya datar namun menyimpan arti. “Iya,” jawab Djiwa tegas, meski suaranya bergetar. “Kalau gak, aku bakal kasih tahu anak-anak kalau Daddy-nya gak mau berjuang buat hidup. Kamu egois, kamu gak mikirin aku sama anak-anak.” Sudut bibir Radja terangkat, membentuk seringai tipis yang justru membuat dada Djiwa semakin sesak. “Jangan senyum kayak gitu,” lanjut Djiwa, napasnya memburu. “Aku tahu aku juga pernah keras kepala waktu milih antara aku sama Sankara. Tapi makasih, karena kamu akhirnya tetep milih aku buat hidup.” Matanya mulai berkaca-kaca. “Sekarang aku minta hal yang sama dari kamu,” ucap

  • Candu Dekapan Kakak Ipar   BAB 537

    Tubuh Karin seketika menegang. Napasnya tercekat saat bayangan itu benar-benar menjelma menjadi sosok nyata di hadapannya. Radja. Berdiri tegak beberapa meter di belakangnya, dengan tatapan lurus—dingin, tajam, dan penuh tekanan. Tak ada senyum. Tak ada basa-basi. Hanya diam yang terasa menyesakkan. Perlahan, Radja melangkah mendekat. Sepatu kulitnya beradu dengan kerikil halus di area pemakaman, menciptakan suara kecil yang justru terdengar begitu keras di telinga Karin. “Karin.” Suara itu rendah tenang tapi menusuk. Karin menelan ludahnya susah payah, berdiri perlahan dari posisi jongkoknya. “A-aku ... gak nyangka kamu ada di sini, Mas,” ucapnya, berusaha terdengar biasa. Meski suaranya sedikit bergetar. “Kamu ngapain di sini? Melayat kuburan siapa?” Radja berhenti tepat di depannya. Terlalu dekat. Tatapannya turun sebentar ke nisan di hadapan mereka, lalu kembali naik menatap wajah Karin. “Apa yang membuatmu melakukan hal sejauh ini?” Angin sore berhembus pelan, menggerak

  • Candu Dekapan Kakak Ipar   BAB 536

    “Daddy kapan pulang dari sini?” tanya Ratu malam itu, suaranya lembut namun penuh harap. Radja menghela napas pelan, jemarinya terulur mengusap puncak kepala putrinya dengan sayang. “Belum tahu, Nak. Nanti kalau dokter sudah izinkan, Daddy langsung pulang, ya.” “Tapi ... kenapa nanya begitu?” lanjutnya, sedikit memiringkan kepala. “Ratu tidak suka rumah sakit, hm?” Ratu menggeleng pelan. “Bukan … tapi Ratu gak suka lihat Daddy sakit.” Kalimat sederhana itu membuat dada Radja terasa sesak. “Padahal Daddy makan sayur sama buah, sama kayak Ratu, Mas Regan, Mas Naren,” lanjut Ratu polos. “Tapi kenapa Daddy sakit terus, kami nggak?” Radja terdiam sesaat, menahan sesuatu yang berusaha naik ke permukaan. “Sakit itu bisa datang dari banyak hal, Nak. Bukan cuma dari makanan.” “Terus Daddy sakit karena apa?” tanya Ratu lagi, matanya menatap lurus tanpa ragu. “Karena Daddy pernah kecelakaan. Kamu ingat, kan?” Bahu kecil itu langsung merosot. “Oh … iya.” “Iya,” Radja tersenyum tipis, me

  • Candu Dekapan Kakak Ipar   BAB 535

    “Kenapa Anda memberitahu istri saya?” tanya Radja dingin, begitu dokter selesai memeriksa kondisinya. Dokter itu tampak ragu sejenak. Ia menelan ludah, lalu menjawab hati-hati, “Saya terpaksa, Tuan. Ini demi keselamatan Anda. Saya berharap, dengan istri Anda mengetahui kondisi ini, Anda mau mempertimbangkan operasi.” Tatapan Radja mengeras. “Ini urusan saya,” ucapnya tegas. “Anda tidak perlu ikut campur.” “Justru saya harus ikut campur,” balas dokter itu, kali ini lebih mantap. “Karena ini menyangkut nyawa pasien saya.” Kedua tangan Radja mengepal di atas pangkuannya, rahangnya mengencang. Namun sebelum perdebatan itu berlanjut, pintu terbuka. Djiwa masuk. “Nyonya,” sapa dokter itu, langsung mengubah nadanya menjadi lebih ramah. “Kalau begitu, saya permisi.” Djiwa mengangguk singkat, memberi jalan. Tatapannya hanya sekilas mengikuti kepergian dokter itu, sebelum kembali beralih pada sosok di atas ranjang. Pintu tertutup. “Kamu gak seharusnya nyalahin dokter, Mas,” ucap Djiwa

  • Candu Dekapan Kakak Ipar   BAB 46

    “Mbak, seriusan Djiwa sampe pagi ini belum keluar juga?” bisik Fairish pada Inggrit pagi itu di ruang tengah saat semuanya berkumpul. Hanya para lelaki yang akan pergi bekerja hari ini. Radja, Sultan dan juga Kaisar. Inggrit dan Fairish akan mengambil cuti lagi, merasa lelah karena acara kemarin.

    last updateTerakhir Diperbarui : 2026-03-19
  • Candu Dekapan Kakak Ipar   BAB 60

    “Mami lihat, Mi? Mami sadar sekarang? Ini konsekuensinya kalau kita satu frame sama rakyat jelata. Kita kelihatan buruk di mata orang lain, di cap gak punya empati.” Inggrit berseru pada ibu mertuanya usai sarapan sebelumnya. Setelah dia mendapatkan ultimatum pagi dari Radja yang tak memandang ibu

    last updateTerakhir Diperbarui : 2026-03-19
  • Candu Dekapan Kakak Ipar   BAB 42

    “Cemburu? Gimana rasanya? Sakit, hm?” Kaisar mendekat dengan senyum miring, tatapan dinginnya menusuk. Tubuhnya menutup seluruh ruang di antara mereka, Fairish sudah terkurung di antara dada Kaisar dan dinding. Napasnya tercekat. “K-Kaisar, jangan kayak gini … nanti ada yang lihat,” bisik Fairish

    last updateTerakhir Diperbarui : 2026-03-18
  • Candu Dekapan Kakak Ipar   BAB 16

    Pukul sebelas siang, Djiwa terbangun dari tidur nyenyaknya selama dua jam. Ketika dia mengangkat kepalanya, lehernya seketika ngilu karena posisi tidurnya yang sambil duduk. Tangannya juga kesemutan sampai dia tak bisa menggerakannya dengan benar. “Aduh!” rintihnya pelan, sambil terus membenarkan

    last updateTerakhir Diperbarui : 2026-03-17
Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status