Share

Candu Dekapan Kakak Ipar
Candu Dekapan Kakak Ipar
Penulis: Langit Parama

BAB 01

Penulis: Langit Parama
last update Terakhir Diperbarui: 2025-11-27 16:14:57

“Cari laki-laki lain untuk menghamili kamu, Wa.”

Ucapan Kaisar pagi itu, bagaikan palu godam yang menghantam dada Djiwa. Perempuan yang masih gadis itu seketika membeliakan bola matanya.

Bagaimana bisa, suaminya sendiri dengan begitu tenang memintanya untuk hamil bersama pria lain?

“Ka-kamu ... serius, Mas?” bisik Djiwa tak percaya, suaranya tercekat. “Kamu gak lagi bercanda, kan? Kenapa Djiwa harus hamil sama pria lain?”

Kaisar mendesah berat. “Aku sudah muak! Mami terus mendesak lagi soal ahli waris. Aku sudah muak dengan tekanan itu. Dan dia terus menanyakan kapan kamu hamil.”

Djiwa menelan ludahnya susah payah. “Kalau begitu ... kenapa gak sama kamu aja, Mas? Djiwa punya suami, kenapa Djiwa harus hamil sama pria lain?” tanyanya bingung.

“Kamu? Jangan bercanda! Aku gak akan mempertaruhkan malam-malamku dengan kamu!”

Ucapan Kaisar kali ini benar-benar menyayat hati Djiwa. Mulut Dijwa terbuka, tapi tak ada kata-kata yang keluar dari sana.

“Cari pria terhormat kalau bisa. Kalau tidak bisa, aku yang akan mencarikannya untukmu,” ucap Kaisar, suaranya tetap dingin, seakan apa pun yang ia katakan sudah final. “Aku tidak sedang bernegosiasi.”

Dada Djiwa terasa menyesak—seolah diremas dari salam. Kedua tangannya terkepal erat di samping tubuh, sampai buku-buku jarinya memutih.

Mulutnya sudah terbuka, hendak memprotes. Namun Kaisar lebih cepat, suaranya menampar udara lebih dulu.

“Kamu harus hamil, aku gak mau tahu! Menikahi kamu aja udah bikin aku malu di depan kedua saudaraku, dan sekarang kamu masih mau mempermalukan aku dengan tidak bisa memberikan keturunan?”

Kaisar menautkan tangan di depan dada, tatapan datar namun menekan. “Jadi, lakukan saja—atau biaya rumah sakit kakekmu aku cabut!”

Djiwa dengan cepat menggeleng, tak terima dengan ancaman itu. “Nggak, Mas. Jangan lakuin itu ke kakek, aku mohon! Kakek butuh biaya besar untuk rumah sakit sampai sembuh, Mas.”

Hembusan napas Kaisar terdengar berat, tapi bukan karena ragu. “Kalau begitu, hari ini juga kamu putuskan. Supaya aku tidak cabut biaya rumah sakit kakek kamu.”

Iya atau tidak. Itu pilihan tersulit untuk Djiwa. Apalagi ini menyangkut nyawa sang kakek.

Padahal pernikahan mereka baru berusia satu tahun. Dan selama itu, Djiwa baru tahu kalau suaminya selama ini tidak mencintainya.

Terpaksa. Ya, Kaisar terpaksa menikahinya karena wasiat sang kakek. Karena kakeknya dulu berteman sangat dekat dengan kakek Djiwa, dan memutuskan untuk saling menjodohkan cucu mereka.

Jika Djiwa tahu ini sejak awal. Sumpah demi apapun, Djiwa tidak akan pernah mau menikah dengan Kaisar. Padahal selama ini, dia mencoba mencintai sang suami.

Tapi pria itu tidak pernah sedikitpun membalas usahanya.

“Bagaimana?” Kaisar menaikkan satu alisnya, menunggu keputusan sang istri.

Djiwa menelan ludahnya berat. “Djiwa ... Djiwa akan pikir-pikir lagi, Mas.”

Tatapan Kaisar tetap dingin. “Baiklah, aku beri kamu waktu tiga hari dari sekarang,” setelah mengatakan itu, Kaisar meninggalkan kamar mereka.

Sementara Djiwa terpaku di tengah-tengah ruangan tersebut. Kakinya mendadak lemas setelah mengetahui fakta mengejutkan ini.

Tak hanya itu, tapi permintaan sang suami yang tak masuk akal.

Djiwa menghembuskan napas pelan.

“Ke mana aku harus mencari pria terhormat? Apalagi … anak itu bakal jadi pewaris keluarga Reinard,” gumamnya, terdengar bingung dan putus asa.

Djiwa tersentak ketika pandangannya jatuh pada jam dinding. Sudah pukul setengah tujuh pagi—sebentar lagi waktu sarapan.

“Ya Tuhan!”

Panik kecil menyengat dadanya. Djiwa langsung meninggalkan kamar, hampir setengah berlari menuju dapur.

Rutinitasnya sudah menunggu, menyiapkan sarapan untuk keluarga besar Reinard—yang terdiri dari ibu mertuanya, para kakak ipar, serta keponakannya.

Keluarga Reinard adalah keluarga konglomerat yang keras memegang adat patrilineal. Semua tinggal dalam satu atap, mertua, anak, menantu—hierarki yang tak pernah benar-benar terlihat, tapi selalu terasa menekan.

Dan Djiwa, sebagai menantu bungsu yang tak bekerja seperti dua menantu lainnya, otomatis menjadi tangan utama rumah itu. Memasak, beres-beres, memastikan semua berjalan sempurna.

Ia memang tidak sendirian, ada pembantu lain membantunya. Mudah mengurus rumah semewah dan seluas ini dengan para pembantu. Tapi tak mudah bagi Djiwa yang dituntut untuk melakukan semuanya tanpa kesalahan.

Ruang demi ruang seperti tak ada habisnya, dan tiap sudut menuntut kesempurnaan.

Sekitar setengah jam kemudian, Djiwa bersama dua pembantu lainnya akhirnya selesai menyiapkan sarapan. Dan kini tugas Djiwa melayani ibu mertuanya dan sang suami, Kaisar.

“Ini teh hijaunya, Mi,” Djiwa menyerahkan teh hangat milik sang ibu mertua ke hadapannya.

“Terima kasih,” ucap Sekar datar, tanpa menoleh.

Kini Djiwa giliran melayani sang suami. Tapi ketika dia hendak meletakkan roti panggang untuk Kaisar, pria itu segera menarik piringnya.

“Aku bisa sendiri, kamu langsung duduk saja,” kata pria itu dengan nada dingin.

Djiwa tersenyum kecil, lalu duduk di kursi sebelah kiri sang suami.

Baru saja tangannya hendak meraih roti panggang, suara ibu mertuanya yang tajam memecah keheningan meja makan.

“Satu tahun. Sudah genap satu tahun Djiwa menjadi menantu keluarga Reinard.” Sekar menoleh, tatapannya langsung mengarah pada menantu bungsunya. “Tapi kamu belum juga hamil.”

Pelan, tangan Djiwa yang tadi terulur menggantung di udara turun kembali ke pangkuan.

Ia menunduk dalam-dalam, jemarinya saling menggenggam erat. Tidak berani menatap siapapun—terutama ibu mertuanya.

Bahkan ia bisa merasakan tatapan para kakak iparnya yang mencemooh dari kedua sisi meja makan, membuat dadanya sesak.

Malu? Tentu saja. Keluarga suaminya benar-benar keluarga terhormat dari kalangan elit— memiliki garis keturunan Jawa dan Belanda murni.

Sekar Ayunda Reinard yang berdarah Jawa, dan suaminya mendiang Diederick Von Reinard yang merupakan konglomerat Belanda.

Pemilik perusahaan Grand Reinard Corporation, yang beroperasi di dalam dan luar negeri. Serta memiliki banyak anak cabang—mulai dari perusahaan industri, hotel, dan juga rumah sakit.

Kekayaan itu diwarisi anak-anak mereka, si tiga bersaudara. Radja si anak pertama, Sultan si anak kedua, dan Kaisar yang merupakan anak bungsu.

“Saya sudah membuat janji temu dengan dokter kandungan terbaik,” lanjut Sekar, mendorong kartu nama pada Kaisar yang duduk di sebelah kirinya—agar memberikan pada Djiwa.

Pria itu dengan malas meraihnya, lalu menyerahkannya pada sang istri tanpa menoleh. Gerakannya sangat malas, seolah tak tertarik sedikitpun.

Lalu Sekar menambahkan. “Saya tidak mau tahu! Kamu harus segera periksa.”

“Mungkin Djiwa mandul, Mi!” Inggrit—istri Radja, si sulung—menimpali, membuat semua yang di meja makan menatap ke arahnya. Sementara Radja sendiri, sang suami, hanya meliriknya sekilas.

“Bisa jadi, Mbak Grit. Sebenarnya Djiwa ini mandul, tapi dia sengaja tidak mau memberitahu Mami dan Mas Kaisar. Supaya tidak diceraikan!” imbuh Fairish—istri Sultan, anak kedua, ikut memanasi keadaan.

Kedua istri kakak ipar Djiwa memang selalu merendahkannya karena perbedaan kasta mereka yang bagaikan langit dan bumi.

Inggrit, merupakan lulusan S2 jurusan designer kampus ternama di Amerika. Tak hanya itu, Inggrit juga putri dari pengusaha kaya raya, dan sekarang dia mengelola butik besar.

Dan istri Sultan—Fairish, merupakan lulusan S2 Hukum, dan sekarang bekerja sebagai pengacara sekaligus anak dari pemilik Firma Hukum terbesar.

Sedangkan Djiwa? Hanya perempuan yang kebetulan beruntung menjadi kandidat menantu dari keluarga tersebut. Karena kakeknya adalah teman lama dari ayah Sekar yang merupakan kakek Kaisar.

Pernikahan mereka terjadi karena sebuah wasiat dari tetua mereka yang sudah meninggal sekitar satu tahun yang lalu, sebelum Djiwa dan Kaisar resmi menikah.

Kata ‘mandul’ itu seperti tamparan keras yang menghantam pipi Djiwa. Tuduhan itu menusuk harga dirinya yang sudah rapuh karena Kaisar tidak pernah menyentuhnya.

Djiwa merasakan wajahnya memucat. Ia melirik Kaisar di sampingnya, tetapi pria itu menatap piringnya dengan ekspresi bosan—seolah mendengarkan pidato yang sudah dihafalnya.

Seperti biasa, Kaisar tidak akan membelanya di depan ibu mertuanya itu. Tak bicara apapun, membiarkan Djiwa dimaki dan dihina di depan keluarganya.

Djiwa mengangkat pandangannya, menatap ibu mertuanya. “Mi, Djiwa ... rahim Djiwa baik-baik saja,” ucapnya berusaha membela diri, suaranya bergetar.

BRAK!

Sekar menggebrak meja dengan ujung pisau selai di tangannya—membuat semua yang di meja makan terlonjak kaget, sedangkan tatapan Sekar dingin dan menusuk.

“Tidak ada kata ‘baik-baik saja’, Djiwa! Lakukan apa yang saya minta, dan kirimkan hasilnya. Saya ingin memastikan sendiri!”

“Lakukan saja, Wa … apa yang dikatakan Mami,” akhirnya Kaisar membuka suara, setelah sejak tadi terdiam cukup lama. Namun bukan membela, melainkan ikut intimidasi sang istri.

Djiwa menelan ludahnya berat. Matanya yang merah sejak tadi tampak berkaca-kaca setelah pria yang seharusnya melindungi, justru ikut menyudutkannya.

“Lagipula,” Kaisar kembali melanjutkan. “Aku yakin yang bermasalah di sini kamu. Apa salahnya untuk cek ke dokter, agar bisa tahu kamu negatif atau positif mandul.”

Tangan Djiwa di atas pangkuannya sudah mulai bergetar karena menahan emosi. Mengepal erat sampai buku-buku jarinya memutih pucat.

Bagaimana bisa suaminya sendiri mengucapkan itu di meja makan, di depan seluruh anggota keluarga?

“Dengar baik-baik,” Sekar kembali buka suara, nada bicaranya tegas penuh perintah. “Saya beri kamu tenggat waktu tiga bulan dari sekarang. Kamu harus hamil.”

Setiap katanya penuh tekanan dan menuntut, membuat Djiwa kesulitan bernapas dengan baik. Tapi tak sampai disitu saja, Sekar menambahkan dengan nada ketus.

“Jika tidak, saya sendiri yang akan meminta Kaisar menceraikan kamu.” Nada Sekar merendah tajam, menusuk tanpa ampun. “Setelah itu kamu bisa pulang ke rumah gubukmu, dan menghabiskan sisa hidupmu merawat kakekmu yang sakit-sakitan itu.”

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Komen (3)
goodnovel comment avatar
Sherly Monicamey
Kamu bukan babu, Djiwa. kasihan kamu
goodnovel comment avatar
Langit Parama
Pembaca baru, silakan tinggalkan komentar, ya. Terima kasih🫰🏻
goodnovel comment avatar
Qingcheng
Wah baru bab 1 aja udah bikin penasaran. Gak sabar nunggu bab selanjutnya, kira kira djiwa bakal sama siapa ya?
LIHAT SEMUA KOMENTAR

Bab terbaru

  • Candu Dekapan Kakak Ipar   BAB 158

    Fairish tersenyum kecil, sudut bibirnya terangkat samar. “Mas Radja baik banget sama Djiwa, sampai segala dianter ke dokter obgyn,” ucapnya, nada suaranya terdengar manis, tapi sarat sindiran. Radja tetap tenang. Wajahnya datar, seolah kalimat itu tak cukup penting untuk mengusiknya. “Kebetulan saya sedang menjenguk teman di rumah sakit,” jawabnya singkat. “Dan seperti yang kamu tahu, saya berangkat dan pulang memang selalu bersama Djiwa. Dia sekretaris saya, sekaligus adik ipar.” Fairish hendak membuka mulut, namun Radja melanjutkan lebih dulu, suaranya kini terdengar lebih dingin. “Soal kenapa saya ikut mengantar ke dokter obgyn, alasannya jelas. Semua orang tahu Djiwa punya suami, tapi tidak dengan peran suaminya.” Nada Radja rendah, tapi tegas. “Saya sebagai kakak kandungnya merasa malu. Anggap saja apa yang saya lakukan sebagai bentuk permintaan maaf atas kesembronoan adik saya sendiri.” Ia melangkah maju satu langkah. Tatapannya menusuk, membuat Fairish refleks menunduk,

  • Candu Dekapan Kakak Ipar   BAB 157

    Djiwa tertawa renyah, tawa yang ringan namun jujur, membuat suasana tegang di ruangan itu sedikit mencair. “Kenapa kamu ketawa?” Radja menyipitkan mata, nada suaranya dingin. Ia memasukkan kedua tangannya masuk ke saku celana, posturnya tetap tegap dan berjarak. Tatapannya lurus, menembus Djiwa yang berdiri di hadapannya. “Lucu,” jawab Djiwa santai. “Mas cemburu? Serius?” Radja tidak membalas. Diamnya justru semakin menegaskan pengakuan barusan. Djiwa tersenyum, lalu refleks mengusap perutnya yang terdapat darah daging mereka di dalam. Gerakannya lembut, penuh rasa sayang. “Sayang,” ucapnya pelan, seolah berbicara pada janin di dalam sana. “Daddy kamu lagi cemburu, Nak.” Ia mendongak, melirik Radja dengan sorot mata jahil namun hangat. “Padahal Mommy kamu gak ngelakuin apa-apa.” Tatapan Radja turun ke perut itu. Sekilas wajahnya mengendur, sebelum ia menghela napas panjang, kasar, seperti menahan sesuatu yang berkecamuk di dadanya. Djiwa melangkah mendekat. Sangat dekat. “G

  • Candu Dekapan Kakak Ipar   BAB 156

    “Sikap kamu berubah,” tuding Fairish dingin, matanya menusuk Kaisar yang duduk di hadapannya tanpa berkedip. Ia bahkan rela keluar rumah, izin pada Sekar untuk cek kandungan hanya untuk bisa bertemu dengan Kaisar di kantornya. Fairish ingin bicara empat mata dengan Kaisar, menyampaikan kekesalannya yang dia pendam sejak pagi tadi di meja makan. “Berubah gimana maksud kamu?” Kaisar mengernyit, kedua alis tebalnya bertaut bingung. Fairish melipat kedua tangan di dada. “Sejak kamu tahu aku hamil anak perempuan, Kai. Sejak itu sikap kamu ke aku berubah.” Ia mendengus keras. “Harusnya aku gak bilang ke kamu soal jenis kelamin anak ini.” Sudut bibir Kaisar terangkat tipis, nyaris tanpa emosi. “Gak ada yang berubah. Aku masih Kaisar yang sama. Kehamilan kamu, atau jenis kelamin anak kita gak ada hubungannya.” “Itu menurut kamu,” potong Fairish cepat. “Tapi buat aku, kamu beda.” “Beda di mana?” Kaisar bertanya tenang, terlalu tenang. “Atau ini cuma efek hormon kehamilan kamu yang lagi

  • Candu Dekapan Kakak Ipar   BAB 155

    Djiwa membulatkan matanya, terkejut. “Ma-maksud Anda apa, Pak?” tanyanya terbata, refleks. Belum sempat Dante menjawab, pintu ruang tamu terbuka. Radja kembali masuk, langkahnya tenang namun auranya berubah. Masker langsung dikenakan kembali menutupi wajahnya. “Tidak ada maksud apa pun,” ujar Dante santai. “Saya hanya berpikir Mbak Djiwa terpesona pada saya.” Nada suaranya ringan, seperti bercanda. “Soalnya tadi, saat masker saya buka … Anda menatap saya tanpa berkedip.” Radja berhenti melangkah. Alisnya mengerut tipis. Djiwa tersenyum kaku. “Maaf, Pak, kalau reaksi saya terkesan tidak sopan,” ucapnya cepat, berusaha profesional. “Bukan karena hal lain. Saya hanya merasa wajah Bapak … tidak asing.” Ucapan itu membuat rahang Radja mengeras. Tanpa komentar, ia menjatuhkan diri di sofa, tepat di sisi Djiwa. Satu kakinya disilangkan di atas yang lain, posturnya rapi, wibawanya tak terbantahkan. Dominan dan penuh otoritas. Tatapan Radja beralih pada Dante. “Sepertinya ada hal yang

  • Candu Dekapan Kakak Ipar   BAB 154

    Tiga puluh menit sebelumnya. Saat jam istirahat di sekolah TK Lumina, Dante seperti biasa selalu datang ke sana hanya untuk melihat sang anak. Anggita. Di taman sekolah, anaknya itu duduk seorang diri, tampak merenung. Sementara teman-temannya yang lain pergi istirahat. “Anggita,” sapa Dante sambil berdiri tak jauh dari gadis kecil itu, kedua tangannya dimasukkan ke dalam saku celana. “Om?” Anggita tampak terkejut, namun matanya menyipit sinis seperti biasa. Dante tersenyum kecil. Sebelum menghampiri, dia melirik asistennya sejenak dan menerima sebuah kantong berisi es krim yang dia beli untuk gadis kecil itu. “Mau es krim?” tawarnya dengan nada hangat. Anggita melirik uluran kantong plastik itu sejenak, sebelum menggelengkan kepalanya singkat. “Om ngapain ke sini?” tanya Anggita beralih menatap Dante lagi. Pria itu tak menjawab, meletakkan es krim di tangannya tepat di sebelah Anggita. Ia kemudian duduk di samping gadis kecil itu, kedua tangannya terlipat di dada. “Kamu kel

  • Candu Dekapan Kakak Ipar   BAB 153

    Inggrit mengurung diri di dalam kamarnya. Tirai jendela ia biarkan tertutup rapat, seolah dunia di luar tak pantas menyaksikan kehancurannya. Bukan hanya karena duka atas kepergian anaknya, tetapi juga rasa malu yang menyesakkan dada. Ia tak sanggup menatap wajah anggota keluarga lain. Ia tahu, cepat atau lambat, semua ini akan menjadi bahan pembicaraan. Sekar pasti akan menyindirnya, halus tapi tajam di hadapan menantu yang lain. Dan itu, bagi Inggrit, lebih menyakitkan daripada makian terang-terangan. Terlebih jika sindiran itu dilontarkan di depan para pembantu. Ia akan dipandang sebagai ibu yang gagal. “Apa aku pulang ke rumah Papa aja?” gumam Inggrit lirih, jemarinya mencengkeram selimut erat. “Tapi kalau aku pulang …,” bibirnya bergetar. “Itu seperti mengakui kalau pernikahan aku udah berakhir.” Ia mendecak pelan, dada terasa sesak. “Aku gak sanggup tinggal di sini selama April belum genap empat puluh hari,” helanya berat. “Aku mau pergi dulu. Menjauh. Baru kembali saat

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status