로그인“Mas ...,” lirih Djiwa sembari bangkit dari duduknya, tangannya yang gemetar meraih kartu nama itu. “Kenapa harus bahas ini lagi, sih, Mas?”
“Kenapa?” tatapan Kaisar semakin tajam. “Oh ... jadi kamu pikir ucapan aku tadi pagi itu cuma main-main? Kamu pikir aku cuma gertak kamu soal biaya rumah sakit kakek kamu, huh?” Djiwa menunduk, jemarinya meremas kuat kartu nama itu sampai hampir kusut. “Mas, tapi … Djiwa gak sanggup,” suaranya pecah, hampir tak terdengar. “Djiwa gak bisa ngelakuin hal kayak gitu.” Kaisar mendekat, langkahnya tenang namun mengancam hingga tak ada jarak di antara mereka. “Kamu harus sanggup,” ujarnya dingin. “Karena kamu gak punya pilihan.” Djiwa mengangkat wajah, matanya berkaca-kaca. “Mas … tolong. Jangan paksa Djiwa kayak gini. Kalau soal biaya rumah sakit, Djiwa—” “Berhenti.” Satu kata, namun cukup untuk membungkamnya. Kaisar menatapnya lama, tajam, seolah menembus ke dalam dada Djiwa yang sudah sesak sejak tadi. “Kamu mau tahu kenapa aku terus bahas ini?” suaranya merendah, lebih dingin daripada sebelumnya. “Menurut kamu, salah siapa Mami selalu merendahkan aku di depan Mas Sultan ataupun Mas Radja?” lanjutnya. Kaisar menunjuk dadanya sendiri dengan ujung jari, napasnya memburu. “Aku yang dipermalukan, Wa. Aku yang selalu dikritik Mami. Setiap kali kita duduk di meja makan, cuma aku yang dibedah habis-habisan.” Nada suaranya merendah, bukan lembut—melainkan getir. Tangan Kaisar terangkat lagi, menunjuk istrinya sendiri. “Lalu, bisa-bisanya kamu nggak hadir di meja makan malam ini? Kamu sengaja mempermalukan aku, Wa.” Tatapannya turun perlahan, lalu menusuk tepat ke wajah Djiwa. “Jadi, gak usah protes. Lakuin perintah aku,” gumamnya penuh tekanan. Telunjuknya bergerak maju, menempel di dada Djiwa dengan keras. “Hamil segera. Itu satu-satunya cara untuk menebus semua rasa malu yang ditanggung suami kamu selama ini.” _____ “Bener ya, kata Mbak Inggrit, kamu tuh multifungsi,” ujar Fairish sambil terkekeh, matanya mengunci pada Djiwa yang tengah fokus menyetrika blazer miliknya. “Gak perlu rekrut banyak-banyak pembantu. Cukup kamu aja di rumah ini, semua sudut pasti rapi dan bersih.” Nada suaranya terdengar seperti pujian, tapi isi kalimatnya justru menghina. Djiwa, yang sudah terbiasa menjadi sasaran hinaan dan cemohan itu, tidak menanggapi. Begitu selesai, ia mematikan setrikaan dan merapikan kabelnya. “Sudah selesai, Mbak,” ucapnya datar—netral tanpa sisa perasaan, bahkan tak menoleh sedikit pun pada Fairish. “Oh ya? Sini coba lihat.” Fairish meraih blazer-nya, memeriksanya seolah mencari kesalahan. Detik berikutnya, sudut bibirnya terangkat sinis. “Tuh, kan. Masih ada yang gak rapi, Djiwa. Aku tuh gak suka ada yang minus. Ini, setrikanya yang bener, dong! Gimana sih kamu.” Blazer itu kembali ia lemparkan ke meja. Djiwa tak bergerak, hanya menatap—bukan membantah, bukan pula takut, lebih seperti tidak bisa lagi merasakan apapun. Tatapan itu justru membuat Fairish tersinggung. “Kenapa lihat aku kayak gitu, hah?” matanya melotot tajam. Kedua tangannya terlipat di dada, tubuhnya condong ke depan. “Gak ikhlas kamu nyetrikain blazer aku, iya?” Djiwa membuka mulut, hendak menjelaskan, tapi— “Fairish!” Suara Sultan memotong tegangnya udara. Dari ambang pintu, suaminya mengisyaratkan ketidaksabaran. “Buruan, nanti saya telat!” Djiwa ikut menoleh, melihat ke arah Sultan yang menatapnya dengan tajam. Sekilas saja, tapi cukup untuk membuat perempuan itu menunduk semakin dalam. “Iya!” sahut Fairish, kesalnya jelas. Tapi kemarahannya tidak diarahkan pada Sultan—justru untuk Djiwa yang membuat harinya buruk. Wanita itu menunduk meraih blazernya yang tadi dia lemparkan dan menjadi kusut lagi, lalu menyeringai dingin. “Awas ya kamu, Wa.” Ia pun pergi, meninggalkan ancaman menggantung di udara. Djiwa masih menunduk, sampai Fairish tak lagi terdengar. Baru setelahnya Djiwa bergerak untuk melakukan tugas selanjutnya. Hari masih pagi, tapi Djiwa sudah punya banyak pekerjaan yang harus dilakukan. Djiwa harus membantu ibu mertuanya bersiap-siap seperti biasa. Terutama untuk mengingatkan Sekar minum obat sebelum sarapan. Tok. Tok. Djiwa mengetuk pintu kamar Sekar dua kali, hati-hati agar tidak menimbulkan suara keras. Nampan berisi obat dan segelas air hangat ia pegang dengan kedua tangan. “Masuk.” Suara Sekar terdengar tegas dari dalam. Djiwa segera memutar kenop pintu dan membuka perlahan. Ibu mertuanya itu sudah rapi, duduk di depan meja rias sambil menatap pantulan wajahnya di cermin. “Minum obatnya dulu, Mi,” ucap Djiwa lembut, meletakkan nampan di atas nakas dengan sangat hati-hati. Sekar menoleh—tatapan dingin, menyapu Djiwa dari ujung kepala hingga kaki. Gadis itu mengulurkan segelas air hangat beserta obatnya. “Ke mana kamu semalam?” suara Sekar pelan tapi sarat tuduhan. “Kenapa tidak ada di meja makan?” Djiwa merasakan tenggorokannya mengering. Dia teringat amarah Kaisar semalam karena ketidakhadirannya di meja makan. “Maaf, Mi. Semalam Djiwa kurang enak badan, jadi gak ikut makan malam bersama.” Ia tidak menambahkan apa pun. Ia tahu percuma. Sekar tidak suka penjelasan panjang, dan tidak akan percaya apa pun yang keluar dari mulutnya. Sekar menyerahkan gelas kotornya setelah menelan obat tanpa menoleh. Djiwa segera mengambilnya dengan sigap, meletakkannya di atas nampan yang sejak tadi ia taruh di nakas samping ranjang. Djiwa tetap di sana. Tugasnya belum selesai. Ia berdiri di belakang Sekar, menyisir rambut panjang ibu mertuanya perlahan, membentuk sanggul rapi. “Sudah selesai, Mi,” ujar Djiwa lembut setelah menyelesaikan sanggul dan memasang konde. Ketika Djiwa hendak melangkah keluar, Sekar menahan. “Ambilkan tongkat saya.” Djiwa segera mengambil dan menyerahkan tongkat itu sebelum membantu ibu mertuanya berjalan keluar kamar menuju ruang makan. Gadis itu berjalan di sisi kiri, satu tangan membawa nampan berisi gelas kotor, satu tangan lagi menuntun lengan Sekar agar tidak terpeleset. Namun saat langkah mereka mendekati meja makan, Sekar menepis kasar tangannya. “Jangan sentuh saya. Nanti kamu sengaja mendorong saya supaya jatuh,” ucap Sekar sinis, nadanya cukup keras untuk membuat semua orang di meja menoleh. Semua tatapan tajam langsung mengarah pada Djiwa—membuatnya terpaku, wajahnya memucat. “Maaf, Mi,” lirihnya pelan, sebelum menarik kursi untuk ibu mertuanya duduk. Usai sarapan, meja makan mewah itu kembali hening. Anggota keluarga lain segera pergi, sebagian bersiap berangkat kerja. Hanya Djiwa yang tersisa. Gadis cantik yang berstatus Nyonya rumah itu harus melanjutkan rutinitas wajibnya. Tadi pagi memasak diserahkan pada pembantu, sekarang dia mengambil alih tugas cuci piring. Djiwa menyingsingkan lengan baju, membenamkan tangan ke air sabun. Membersihkan sisa santapan dari keluarga yang selalu merendahkannya. Saat semua pekerjaan dapur selesai, dan Djiwa hendak kembali ke kamarnya, ia baru teringat—hari ini hari Jumat. Hari di mana ia selalu membantu ibu mertuanya memotong kuku. Semua tugas yang berhubungan dengan Sekar memang membuatnya tertekan. Djiwa menarik napas, meyakinkan dirinya untuk bisa melakukan pekerjaan ini. Ia segera mengambil alat pemotong kuku dan melangkah menuju ruang tengah. Di sana, Sekar duduk di single sofa, membaca majalah fashion batik dan kebaya. Inggrit berada di sebelahnya, menggendong bayinya yang berusia enam bulan, sementara Anggita—putri sulung Inggrit, sedang bermain di karpet. “Mi, hari ini Mami potong kuku,” ucap Djiwa lirih, mendekat dengan hati-hati. Sekar hanya melirik sekilas, acuh, tapi mengulurkan tangan kanannya. Djiwa duduk bersimpuh di bawah, mulai memotong kuku itu perlahan, penuh kehati-hatian. Langkah sepatu mahal terdengar mendekat. Radja muncul dari arah belakang punggung Djiwa, aura tegasnya memenuhi ruangan. “Papa!” seru Anggita riang. Radja hanya mengangkat alis singkat pada putrinya, sebelum ikut bergabung di sofa. Duduk di sebelah sang istri yang tengah menyusui sang anak menggunakan botol. Tatapan pria itu tertuju pada anak sulungnya yang bermain di karpet sebelum beralih pada Djiwa yang duduk bersimpuh di lantai, seraya memotong kuku sang ibu. Klak. “AKH!” Sekar menjerit kecil. Kaget. Refleks tangannya mendorong dahi Djiwa. BRAK. Djiwa terjengkang ke belakang, terduduk dengan mata melebar. Pemotong kuku terlepas dari tangannya.Radja telah dipindahkan dari ruang intensif ke ruang rawat inap VIP. Kondisinya mulai stabil. Namun sudah lima hari telah berlalu sejak kecelakaan itu terjadi, dan pria itu belum juga membuka mata. Djiwa dan ketiga anaknya terus menunggu. Berharap. Namun berkali-kali harapan itu seakan digantung tanpa kepastian. “Ratu gak mau sekolah sampe Daddy bangun,” ucap Ratu, melipat kedua tangannya di dada. Matanya berkaca-kaca, menahan tangis yang siap pecah kapan saja. Regan langsung merangkul bahu adiknya, menariknya mendekat. “Daddy pasti bangun, percaya sama Mas, ya.” Bibir Ratu bergetar. Dan akhirnya satu tetes air mata jatuh. Djiwa yang melihat itu hanya bisa diam. Dadanya terasa sesak. Anak-anaknya masih terlalu kecil untuk memahami semua ini. Sementara dirinya yang juga rapuh harus tetap berdiri kuat di hadapan mereka. “Mommy keluar sebentar, ya,” ucap Djiwa pelan. “Kalian tunggu di sini.” “Mommy mau ke mana?” tanya Naren cepat, langsung bangkit dan mendekat. “Sebentar aja, N
Sultan berdiri di depan jendela besar yang langsung menampilkan keindahan panorama kota di siang hari, tepat di ruang kerjanya di rumah sakit. Ponsel di telinganya. Panggilan yang terhubung dengan salah satu anggota kepolisian yang sedang mencari tahu penyebab kecelakaan Radja. Rahangnya mengeras. “Bagaimana dengan kondisi mobilnya?” tanyanya tegas. Di seberang sana, suara tersebut terdengar ragu. “Mobilnya sudah kami bawa ke bengkel resmi untuk melakukan penyelidikan, Tuan. Awalnya kami kira memang murni kecelakaan.” Sultan menyipitkan mata. “Awalnya?” Ada jeda. Seolah orang di seberang sana sedang menimbang apakah harus melanjutkan atau tidak. “Setelah dicek lebih dalam, mekaniknya mengatakan ada yang aneh, Tuan.” Napas Sultan tertahan samar. “Aneh bagaimana?” “Remnya, Tuan.” suara itu menurun. “Bukan sekadar blong biasa. Bukan kesalahan mesin mobil. Karena mesin mobil masih bagus, dan baru-baru selesai diservis menurut keterangan sopir pribadi Tuan Radja.” Sultan mengepalk
“Makan yang banyak, ya. Jangan sampai kalian ikut sakit,” ucap Fairish lembut pada Regan, Naren, dan Ratu yang sedang sarapan dari makanan yang ia bawa. Regan, sebagai yang paling dewasa, mengangguk kecil. “Terima kasih, Tante.” “Sama-sama,” balas Fairish dengan senyum tipis. Sejak menjadi seorang ibu, ada sesuatu yang berubah dalam dirinya. Nalurinya meluas—tak hanya untuk Binar, tapi juga untuk anak-anak di sekitarnya. Termasuk ketiga keponakannya ini, yang ia sayangi seperti anaknya sendiri. Namun Ratu tampak berbeda. Sendok di tangannya bergerak lambat, nyaris tak menyentuh makanan. “Kenapa, Ratu?” tanya Fairish pelan. “Makanannya gak cocok?” Ratu menggeleng kecil. “Gak nafsu makan.” Fairish menghela napas, paham betul perasaan itu. “Dipaksa sedikit, ya, Nak,” bujuknya lembut. “Tante ngerti, tapi kalau kamu gak makan, nanti kamu sakit. Daddy sama Mommy kamu pasti sedih.” Bahu Ratu merosot. Namun perlahan, ia kembali menyuapkan makanan ke mulutnya—meski dengan terpaksa.
Ruangan intensif itu dipenuhi cahaya putih yang redup namun dingin. Suara mesin medis berdenting pelan—ritmis, konstan, seolah menjadi satu-satunya tanda bahwa kehidupan masih bertahan di sana. Radja terbaring di atas ranjang. Tubuhnya nyaris tak bergerak. Selang nasal kanul terpasang di hidungnya, membantu pernapasan yang masih lemah. Beberapa kabel monitor menempel di tubuhnya, menampilkan garis-garis kehidupan yang naik turun di layar. Wajahnya pucat. Tenang. Terlalu tenang untuk seseorang yang biasanya penuh kendali. Di sisi ruangan, Djiwa duduk di kursi, tak jauh dari ranjang. Tatapannya tak lepas dari wajah suaminya. Matanya sembab, namun kini tak ada lagi tangis yang pecah—yang tersisa hanya kesedihan yang diam, dalam, dan menyesakkan. Regan berdiri di sampingnya. Diam. Anak itu tak banyak bicara, hanya sesekali menatap layar monitor, lalu kembali ke wajah ayahnya. Sementara di ruangan lain, di ruang rawat inap Djiwa sebelumnya—Ratu terlelap di atas sofa, tubuh
Kelopak mata Djiwa bergerak pelan. Ia mengerjap beberapa kali, pandangannya masih buram—hingga perlahan fokus. Hal pertama yang ia lihat Regan dan Naren. “Mommy udah bangun,” ucap Regan cepat, langsung berdiri dari kursinya. Naren yang sejak tadi duduk di samping ranjang, langsung menggenggam tangan ibunya erat. “Mommy ….” Djiwa langsung tersentak, refleks ingin bangun. “Ratu …? Ratu di mana?” suaranya panik, tubuhnya berusaha terangkat dari baringannya. “Mommy, jangan banyak gerak,” cegah Regan cepat, menahan bahu ibunya dengan hati-hati. “Nanti infusnya lepas.” “Ratu dibawa Om Sultan ke ruang operasi, Mom,” tambah Naren, mencoba menenangkan. Djiwa terdiam sejenak. Lalu menghela napas panjang, bahunya sedikit turun. “Syukurlah ….” Ia melirik punggung tangan kanannya—jarum infus tertancap di sana. Namun pikirannya tidak berhenti di situ. “Daddy …,” gumamnya lirih. “Gimana keadaan Daddy, Nak?” Regan dan Naren saling melirik, lalu menggeleng pelan. “Kita belum ke sana, Mom,
Sultan akhirnya tiba di rumah sakit. Ia datang seorang diri. Fairish tidak ikut—bukan karena tidak peduli, melainkan karena Binar sudah terlelap. Mereka tidak tega meninggalkan anak itu sendirian, takut terbangun dan tidak menemukan kedua orang tuanya. Langkah Sultan cepat, nyaris berlari menyusuri lorong menuju UGD. “Di mana kakak saya?” tanyanya pada salah satu perawat yang melintas. Perawat itu langsung berhenti. “Sudah dipindahkan ke ruang operasi, Dok. Bagian kepala pasien mengalami benturan cukup keras. Dokter bedah saraf sudah standby, dan operasi akan segera dimulai.” Sultan menelan ludah. “Dan … keluarganya?” “Sudah datang. Istri dan anak-anaknya juga ada di sini.” “Di mana mereka sekarang?” “Istri Tuan Radja sempat pingsan. Saat ini sedang di ruang VIP, bersama ketiga anaknya.” Napas Sultan tercekat. “Baik, terima kasih,” ucapnya singkat, lalu segera melangkah cepat menuju ruang VIP. Begitu pintu terbuka, suasana di dalam terasa sunyi namun berat. Ratu duduk di s
Fairish menggigit bibirnya kuat-kuat. Tubuhnya menegang, sementara kedua telapak tangannya terasa dingin dan lembap. Sejak terakhir kali ia melihat Inggrit ditampar, pergi dari mansion, lalu perutnya mendadak kram hebat, Fairish seperti kehilangan suara. Tak satu kata pun mampu keluar dari mulutny
“Mengabulkan gugatan Penggugat untuk seluruhnya. Menyatakan perkawinan antara Rajendra Afnand Reinard sebagai Penggugat dan Inggrit Anindya Satya sebagai Tergugat yang dilangsungkan pada tanggal hari ini dinyatakan putus karena perceraian.” Palu hakim diketuk satu kali. Sunyi memenuhi ruang sidang
“Djiwa nggak mau, Mas.” Suara Djiwa terdengar pelan, namun tegas. Tatapannya lurus ke depan, menolak menoleh. Radja melirik singkat ke arahnya, lalu kembali fokus ke jalan. “Maksudnya?” “Djiwa gak mau ke dokter obgyn. Apalagi USG untuk tahu jenis kelamin anak ini.” Sudut bibir Radja terangka
“Terima kasih banyak ya, dok?” ucap Fairish sembari mengulas senyum manis yang dipaksakan. Ia merapikan pakaiannya sebelum turun dari ranjang pasien. “Sama-sama, Bu. Kalau begitu, tunggu sebentar, ya. Saya cetak dulu foto hasil USG-nya,” ucap dokter obgyn tersebut sambil melangkah ke meja kerjanya







