LOGIN“Daddy …!” Suara Ratu menggema di depan kamar utama sambil kedua tangan mungilnya terus menggedor pintu. Tok. Tok. Tok. “Daddy bangun!” Klek. Pintu kamar akhirnya terbuka. Dan Radja muncul di sana dengan rambut yang masih setengah basah sehabis mandi. Kaos hitam polos melekat pas di tubuh tegapnya, sementara wajah pria itu masih menyisakan kantuk tipis. “Kenapa, hm?” tanyanya tenang. Ratu langsung memasang wajah cemberut sambil melipat kedua tangan di dada. “Ratu udah nungguin Daddy dari tadi,” protesnya. “Tapi Daddy gak bangun-bangun.” Sudut bibir Radja terangkat tipis. Ia lalu berjongkok hingga wajahnya sejajar dengan sang putri. “Memangnya ada keperluan apa sampai nyari Daddy pagi-pagi begini?” Belum sempat Ratu menjawab, Radja sudah lebih dulu menarik tubuh kecil putrinya ke dalam pelukan.
“Daddy sama Mommy belum bangun, Mas?” Ratu berjalan memasuki ruang keluarga lantai dua sambil memeluk boneka kecilnya. Rambutnya masih sedikit berantakan karena baru bangun tidur. Regan yang sudah duduk rapi di sofa sambil memainkan tablet langsung mengangkat kepala. “Belum, Dek.” Ia melirik jam dinding sekilas. “Naren juga masih tidur.” “Karena hari ini libur, ya?” “Iya.” Regan mengangguk santai. “Kamu sendiri baru bangun bukannya langsung mandi, malah cari Daddy sama Mommy.” Ratu tersenyum kecil malu-malu. “Soalnya minggu depan bagi rapot.” Matanya berbinar antusias. “Ratu mau minta hadiah alpaca sama Daddy.” Regan langsung terkekeh kecil. “Iya, tapi mandi dulu. Daddy capek kerja kemarin, jadi masih istirahat.” “Dan Mommy?” tanya Ratu penasaran. “Mommy pasti lagi nemenin Daddy di kamar.” Nada Regan terdengar sok dewasa. “Jadi jangan diganggu dulu.”
Lidah Djiwa mendadak terasa kelu. Semua kalimat yang sejak tadi ia susun di kepalanya seakan hilang begitu saja saat berhadapan langsung dengan tatapan suaminya. “Kamu ingin saya melakukan apa terhadap pelaku pembunuhan itu?” Suara Radja terdengar rendah saat ia berjalan mendekati Djiwa perlahan. Hingga akhirnya berdiri tepat di hadapannya. Membuat Djiwa harus sedikit mendongak untuk menatap wajah pria itu. Napasnya tercekat. “Aku …,” jemarinya saling meremas gugup. “Aku cuma berharap, Mas bisa buka pintu maaf buat Karin.” Tatapan Radja tak berubah sedikit pun. Djiwa menelan ludah susah payah sebelum melanjutkan, “Aku tahu kesalahan Karin besar.” Suaranya mulai bergetar. “Aku tahu Mas hampir kehilangan nyawa karena kecelakaan itu.” Matanya mulai memanas. “Mas hampir ninggalin aku, ninggalin anak-anak, Mami … Mas Sultan, Mas Kai, dan se
“Mas … apa kamu percaya sama Kaisar?” Sultan membuka suara saat ia dan Radja berjalan keluar dari gedung kantor polisi. Langkah keduanya sama-sama tenang, namun suasana di antara mereka terasa berat. Radja tak langsung menjawab. Tatapannya lurus ke depan, wajahnya tetap sulit ditebak seperti biasa. Sampai akhirnya ia membuka suara pelan, “Apa yang ada di pikiranmu, itu juga yang ada di pikiran saya.” Sultan terdiam beberapa detik. Lalu menghembuskan napas ringan. “Saya juga merasa Kaisar tahu sesuatu.” Tatapannya kembali mengarah ke pintu kantor polisi di belakang mereka. “Tapi karena Karin istrinya, dia memilih menutupinya.” Radja menghentikan langkahnya. Ia menoleh perlahan ke arah sang adik, sorot matanya tenang. Terlalu tenang. “Kalau memang begitu,” ujarnya rendah, “Biar saya yang mengurus sisanya.” Setelah mengatakan itu, Radja kembali melangka
“Kok Mommy sendirian yang jemput kita?” Ratu langsung bertanya begitu membuka pintu mobil dan mendapati hanya Djiwa yang berada di kursi depan. Djiwa tersenyum kecil. “Karena mulai hari ini Daddy masuk kantor lagi, sayang.” Ia membantu memakaikan sabuk pengaman putrinya. “Tadi Mommy udah hubungi Daddy buat jemput kalian, tapi Daddy lagi banyak kerjaan.” “Oh …,” Ratu mengangguk pelan. “Oke, deh.” Ia akhirnya duduk di samping ibunya. Tak lama kemudian Regan dan Naren ikut masuk ke kursi belakang. Mobil pun perlahan meninggalkan halaman sekolah Lumina. Suasana di dalam mobil cukup tenang sampai Djiwa membuka suara. “Gimana ulangan kenaikan kelasnya tadi?” “Gampang, Mom!” jawab Regan paling semangat. “Padahal tadi Matematika.” Djiwa tersenyum geli. “Hebat banget anak Mommy.” Regan langsung menyeringai bangga. Sementara Naren
“Baik, Pak. Terima kasih.” Arga mengakhiri panggilan itu dengan raut tegang. Ia menarik napas sebentar sebelum melangkah masuk ke ruangan utama sang atasan. Di balik meja kerjanya, Radja masih fokus menelusuri beberapa dokumen tanpa mengangkat kepala sedikit pun. “Pak,” panggil Arga hati-hati. Radja akhirnya mendongak. Tatapannya datar. “Ibu Karin tidak ada di lokasi.” Kening Radja langsung berkerut tipis. “Maksudnya?” Arga menelan ludah sebelum melanjutkan. “Polisi tidak berhasil membawa Ibu Karin, Pak.” Suaranya terdengar semakin pelan. “Saat mereka tiba di apartemen, hanya ada Pak Kaisar di sana.” Satu detik. Dua detik. Lalu perlahan rahang Radja mengeras. Tangannya yang berada di atas meja mengepal kuat sampai urat di punggung tangannya terlihat jelas. “Kaisar bilang apa?” “Beliau mengak
“Aku sebenernya hamil apa gak sih, Kai?” tanya Fairish pada Kaisar yang tengah mengemudi mobilnya, meninggalkan restoran yang beberapa saat lalu mereka singgahi untuk makan siang. Kaisar meliriknya dari kaca spion tengah, sebelum kembali fokus pada jalan raya. “Kamu sendiri kan yang dateng ke d
Kaisar menghela napas panjang begitu mobilnya masuk gerbang kantor. Langit siang yang terik tak mampu menghangatkan dinginnya pikiran yang menggulung di kepalanya sejak sesi konsultasi tadi. Jemarinya mengetuk-ngetuk setir, iramanya tak beraturan—tanda jelas bahwa hatinya sedang kacau karena renc
“Terima kasih banyak ya, dok?” ucap Fairish sembari mengulas senyum manis yang dipaksakan. Ia merapikan pakaiannya sebelum turun dari ranjang pasien. “Sama-sama, Bu. Kalau begitu, tunggu sebentar, ya. Saya cetak dulu foto hasil USG-nya,” ucap dokter obgyn tersebut sambil melangkah ke meja kerjanya
“Non Djiwa, istirahat, ya?” Mbok Inem segera membantu Djiwa berbaring di atas ranjang. “Non pasti kaget,” ucapnya lirih, mata wanita paruh baya itu berkaca-kaca. Djiwa menyandarkan punggung ke sandaran ranjang, memejamkan mata sejenak sambil berusaha menstabilkan napasnya yang masih memburu. Mbok







