Se connecterSuasana Timezone di dalam mall begitu ramai. Suara mesin permainan bercampur dengan tawa anak-anak memenuhi ruangan luas penuh cahaya warna-warni. Ratu yang sejak tadi murung perlahan kembali ceria saat berdiri di depan mesin capit boneka. “Om Kai, yang itu! Alpaca yang pink! Ratu mau ...!” serunya heboh sambil menunjuk boneka besar di dalam mesin kaca. Kaisar berdiri di belakang ketiga ponakannya dengan kedua tangan dimasukkan dalam saku celana, memperhatikan mereka satu per satu. “Yang pink?” tanyanya santai. Ratu mengangguk cepat sampai rambutnya bergoyang. “Iya! Yang itu lucu banget.” Kaisar tersenyum tipis, lalu menyerahkan kartu permainan pada Regan. “Geser.” Ucapnya singkat. Regan menurut, sementara Kaisar mulai memainkan tuas mesin capit. Naren sampai menahan napas melihat capit itu bergerak pelan menuju boneka alpaca pink incaran Ratu.
“Lama banget kalau harus nunggu besok pagi ….” Ratu menghembuskan napas kesal sambil melipat kedua tangan mungilnya di dada. Wajahnya cemberut sejak tadi. Makan malam yang sudah disiapkan Djiwa di meja pun nyaris tak disentuh. Padahal seharusnya malam itu mereka sedang berada di restoran mewah bersama Radja untuk merayakan pembagian rapot. Namun semuanya mendadak berubah karena pekerjaan sang ayah ke luar kota. Djiwa yang duduk di samping putrinya tersenyum kecil, meski hatinya ikut tak enak melihat wajah kecewa anak-anaknya. “Sabar ya, sayang …,” ucapnya lembut sambil mengusap rambut Ratu. “Habis makan malam nanti langsung tidur, biar besok cepet pagi.” Namun Ratu langsung menggeleng pelan. “Lama, Mom ….” “Nggak lama kok kalau sambil main,” timpal Regan bijak dari sebelah kanan adiknya. “Habis makan malam kita main, terus tidur dan besok pagi Daddy pulang.”
“Mommy?” Ratu memiringkan kepalanya kecil, menatap sang ibu yang baru saja selesai menerima panggilan telepon. Djiwa tersenyum tipis, meski senyum itu terlihat dipaksakan. Ia memasukkan kembali ponselnya ke dalam tas sebelum melirik ketiga anaknya satu persatu. “Daddy bilang apa, Mom?” tanya Naren penasaran. Namun Djiwa tak langsung menjawab. Ada jeda beberapa detik. Cukup membuat Regan mulai memahami sesuatu. Bocah itu menghela napas kecil sebelum bersandar di kursinya. “Daddy gak jadi, ya?” tebaknya pelan. “Ada kerjaan?” Deg. Djiwa membulatkan matanya, jantungnya berdetak cepat. Lalu perlahan mengangguk. “Iya, sayang …,” nada suaranya terdengar lembut, namun penuh rasa bersalah. “Daddy mendadak ada urusan penting.” Wajah Ratu langsung berubah sendu. “Tapi …,” gadis kecil itu menunduk, “Daddy kan udah janji malem ini, Mom.”
“Selamat ya, Regan. Kamu mendapatkan juara satu.” Miss Delima tersenyum hangat sambil menyerahkan map rapot berwarna biru tua pada murid kesayangannya itu. Regan berdiri tegak di depan meja guru dengan senyum rapi di wajah tampannya yang sangat mirip sang ayah. “Terima kasih, Miss,” ucapnya sopan. “Sama-sama.” Miss Delima mengusap pelan puncak kepala bocah itu. “Pertahankan terus nilainya, ya.” Regan mengangguk mantap sebelum kembali ke tempat duduknya. Di sana, Djiwa sudah menunggu bersama Naren dan Ratu yang lebih dulu menerima rapot mereka. Begitu Regan mendekat, Djiwa langsung tersenyum bangga. “Selamat, Nak.” Ia menarik putra sulungnya mendekat, lalu mengecup singkat kening Regan penuh sayang. “Terima kasih, Mom,” balas Regan dengan senyum kecil. “Mas Regan hebat banget,” puji Naren tulus. Ratu ikut mengangguk cepat
Karin baru saja menarik selimut hingga menutupi tubuhnya ketika suara pin apartemen tempat tinggalnya terdengar dari arah luar. Matanya langsung terbuka lebar. Tubuhnya spontan bangkit dari posisi berbaring dengan napas tertahan. Jantungnya berdetak cepat. Tatapannya lurus mengarah ke pintu kamar yang sedikit terbuka, sementara kedua tangannya refleks memegangi perutnya. Suara langkah kaki terdengar memasuki apartemen, pelan. Namun cukup membuat tubuh Karin menegang. Pikirannya langsung dipenuhi berbagai kemungkinan buruk. Polisi? Orang suruhan Radja? Klek. Pintu kamar terbuka perlahan. Dan sosok Kaisar muncul di sana. Karin langsung menghembuskan napas lega panjang. “Mas ….” Namun kelegaan itu hanya bertahan beberapa detik. Karena wajah Kaisar terlihat jauh lebih serius dari biasanya. Pria itu masuk ke dalam kamar, lalu menutup pintu
“Jadi, Mas … sebenernya Karin ada di rumah Bundanya atau ke mana?” Begitu mereka tiba di rumah dan menaiki tangga menuju kamar utama di lantai dua, Djiwa akhirnya memberanikan diri bertanya. Sejak keluar dari mansion Reinard tadi, pertanyaan itu terus berputar di kepalanya. Radja yang sedang berjalan di depannya menghentikan langkah tepat di depan pintu kamar mereka. Lalu, dengan gerakan tenang dan terukur, pria itu berbalik menatap sang istri. Tatapannya lurus dan datar. “Dia kabur.” Dua kata singkat itu langsung membuat napas Djiwa tertahan. “Ka … kabur?” gumamnya lirih, nyaris tak percaya. Radja mengangguk singkat. Tanpa menjelaskan lebih jauh, ia memutar kenop pintu lalu melangkah masuk ke kamar. Djiwa mengikuti dari belakang dengan jantung berdebar. “Kepergiannya justru semakin menunjukkan bahwa dia memang bersalah,” ujar Radja te
“Aku sebenernya hamil apa gak sih, Kai?” tanya Fairish pada Kaisar yang tengah mengemudi mobilnya, meninggalkan restoran yang beberapa saat lalu mereka singgahi untuk makan siang. Kaisar meliriknya dari kaca spion tengah, sebelum kembali fokus pada jalan raya. “Kamu sendiri kan yang dateng ke d
“Terima kasih banyak ya, dok?” ucap Fairish sembari mengulas senyum manis yang dipaksakan. Ia merapikan pakaiannya sebelum turun dari ranjang pasien. “Sama-sama, Bu. Kalau begitu, tunggu sebentar, ya. Saya cetak dulu foto hasil USG-nya,” ucap dokter obgyn tersebut sambil melangkah ke meja kerjanya
“Non Djiwa, istirahat, ya?” Mbok Inem segera membantu Djiwa berbaring di atas ranjang. “Non pasti kaget,” ucapnya lirih, mata wanita paruh baya itu berkaca-kaca. Djiwa menyandarkan punggung ke sandaran ranjang, memejamkan mata sejenak sambil berusaha menstabilkan napasnya yang masih memburu. Mbok
“Kamu yang masak?” tanya Radja sembari menyuapkan makanan ke mulutnya. Tatapannya tertuju pada Djiwa, penuh selidik sekaligus perhatian. “Iya, Mas,” jawab Djiwa lembut. “Selama gak capek, aku pengen masakin sarapan sama makan malam buat kamu dan anak-anak.”







