Mag-log in“Selamat ya, Regan. Kamu mendapatkan juara satu.” Miss Delima tersenyum hangat sambil menyerahkan map rapot berwarna biru tua pada murid kesayangannya itu. Regan berdiri tegak di depan meja guru dengan senyum rapi di wajah tampannya yang sangat mirip sang ayah. “Terima kasih, Miss,” ucapnya sopan. “Sama-sama.” Miss Delima mengusap pelan puncak kepala bocah itu. “Pertahankan terus nilainya, ya.” Regan mengangguk mantap sebelum kembali ke tempat duduknya. Di sana, Djiwa sudah menunggu bersama Naren dan Ratu yang lebih dulu menerima rapot mereka. Begitu Regan mendekat, Djiwa langsung tersenyum bangga. “Selamat, Nak.” Ia menarik putra sulungnya mendekat, lalu mengecup singkat kening Regan penuh sayang. “Terima kasih, Mom,” balas Regan dengan senyum kecil. “Mas Regan hebat banget,” puji Naren tulus. Ratu ikut mengangguk cepat
Karin baru saja menarik selimut hingga menutupi tubuhnya ketika suara pin apartemen tempat tinggalnya terdengar dari arah luar. Matanya langsung terbuka lebar. Tubuhnya spontan bangkit dari posisi berbaring dengan napas tertahan. Jantungnya berdetak cepat. Tatapannya lurus mengarah ke pintu kamar yang sedikit terbuka, sementara kedua tangannya refleks memegangi perutnya. Suara langkah kaki terdengar memasuki apartemen, pelan. Namun cukup membuat tubuh Karin menegang. Pikirannya langsung dipenuhi berbagai kemungkinan buruk. Polisi? Orang suruhan Radja? Klek. Pintu kamar terbuka perlahan. Dan sosok Kaisar muncul di sana. Karin langsung menghembuskan napas lega panjang. “Mas ….” Namun kelegaan itu hanya bertahan beberapa detik. Karena wajah Kaisar terlihat jauh lebih serius dari biasanya. Pria itu masuk ke dalam kamar, lalu menutup pintu
“Jadi, Mas … sebenernya Karin ada di rumah Bundanya atau ke mana?” Begitu mereka tiba di rumah dan menaiki tangga menuju kamar utama di lantai dua, Djiwa akhirnya memberanikan diri bertanya. Sejak keluar dari mansion Reinard tadi, pertanyaan itu terus berputar di kepalanya. Radja yang sedang berjalan di depannya menghentikan langkah tepat di depan pintu kamar mereka. Lalu, dengan gerakan tenang dan terukur, pria itu berbalik menatap sang istri. Tatapannya lurus dan datar. “Dia kabur.” Dua kata singkat itu langsung membuat napas Djiwa tertahan. “Ka … kabur?” gumamnya lirih, nyaris tak percaya. Radja mengangguk singkat. Tanpa menjelaskan lebih jauh, ia memutar kenop pintu lalu melangkah masuk ke kamar. Djiwa mengikuti dari belakang dengan jantung berdebar. “Kepergiannya justru semakin menunjukkan bahwa dia memang bersalah,” ujar Radja te
Djiwa yang baru masuk langsung menahan napas. Kaisar yang berdiri di ambang pintu perlahan menegakkan tubuhnya. Sementara Radja tetap diam. Tatapannya lurus menatap sang ibu tanpa ekspresi. Sekar menggenggam seprai ranjang erat-erat. “Dia … ha-mil,” suaranya bergetar. “Ja-ngan … sa-kit-i … a-nak … itu ….” Rahang Radja perlahan mengeras. “Tolong ...,” lanjut Sekar terbata susah payah, “Ja-ngan, tu ... duh Ka-rin la ... gi.” Air matanya mulai menggenang. “Ja-ngan … sam-pai … a-nak … itu … la-hir ... ran, di … pen-ja-ra.” Tatapan Radja perlahan berubah sulit dibaca saat menatap ibunya yang memohon seperti itu di hadapan semua orang. Di hadapan sang istri, ketiga anaknya, dan Kaisar yang berdiri di ambang pintu dengan sudut bibir terangkat samar. Radja mengembuskan napas pelan. Lalu tanpa terburu-buru, ia menghampiri ranjang ibunya. Pria i
“Daddy …!” Suara Ratu menggema di depan kamar utama sambil kedua tangan mungilnya terus menggedor pintu. Tok. Tok. Tok. “Daddy bangun!” Klek. Pintu kamar akhirnya terbuka. Dan Radja muncul di sana dengan rambut yang masih setengah basah sehabis mandi. Kaos hitam polos melekat pas di tubuh tegapnya, sementara wajah pria itu masih menyisakan kantuk tipis. “Kenapa, hm?” tanyanya tenang. Ratu langsung memasang wajah cemberut sambil melipat kedua tangan di dada. “Ratu udah nungguin Daddy dari tadi,” protesnya. “Tapi Daddy gak bangun-bangun.” Sudut bibir Radja terangkat tipis. Ia lalu berjongkok hingga wajahnya sejajar dengan sang putri. “Memangnya ada keperluan apa sampai nyari Daddy pagi-pagi begini?” Belum sempat Ratu menjawab, Radja sudah lebih dulu menarik tubuh kecil putrinya ke dalam pelukan.
“Daddy sama Mommy belum bangun, Mas?” Ratu berjalan memasuki ruang keluarga lantai dua sambil memeluk boneka kecilnya. Rambutnya masih sedikit berantakan karena baru bangun tidur. Regan yang sudah duduk rapi di sofa sambil memainkan tablet langsung mengangkat kepala. “Belum, Dek.” Ia melirik jam dinding sekilas. “Naren juga masih tidur.” “Karena hari ini libur, ya?” “Iya.” Regan mengangguk santai. “Kamu sendiri baru bangun bukannya langsung mandi, malah cari Daddy sama Mommy.” Ratu tersenyum kecil malu-malu. “Soalnya minggu depan bagi rapot.” Matanya berbinar antusias. “Ratu mau minta hadiah alpaca sama Daddy.” Regan langsung terkekeh kecil. “Iya, tapi mandi dulu. Daddy capek kerja kemarin, jadi masih istirahat.” “Dan Mommy?” tanya Ratu penasaran. “Mommy pasti lagi nemenin Daddy di kamar.” Nada Regan terdengar sok dewasa. “Jadi jangan diganggu dulu.”
“Terima kasih banyak ya, dok?” ucap Fairish sembari mengulas senyum manis yang dipaksakan. Ia merapikan pakaiannya sebelum turun dari ranjang pasien. “Sama-sama, Bu. Kalau begitu, tunggu sebentar, ya. Saya cetak dulu foto hasil USG-nya,” ucap dokter obgyn tersebut sambil melangkah ke meja kerjanya
“Non Djiwa, istirahat, ya?” Mbok Inem segera membantu Djiwa berbaring di atas ranjang. “Non pasti kaget,” ucapnya lirih, mata wanita paruh baya itu berkaca-kaca. Djiwa menyandarkan punggung ke sandaran ranjang, memejamkan mata sejenak sambil berusaha menstabilkan napasnya yang masih memburu. Mbok
“Aku sebenernya hamil apa gak sih, Kai?” tanya Fairish pada Kaisar yang tengah mengemudi mobilnya, meninggalkan restoran yang beberapa saat lalu mereka singgahi untuk makan siang. Kaisar meliriknya dari kaca spion tengah, sebelum kembali fokus pada jalan raya. “Kamu sendiri kan yang dateng ke d
“Kamu yang masak?” tanya Radja sembari menyuapkan makanan ke mulutnya. Tatapannya tertuju pada Djiwa, penuh selidik sekaligus perhatian. “Iya, Mas,” jawab Djiwa lembut. “Selama gak capek, aku pengen masakin sarapan sama makan malam buat kamu dan anak-anak.”







