Se connecter“Kenapa semuanya mau keluar dari rumah ini?” lanjut Kaisar, langkahnya maju satu langkah. “Dan kalian mau ninggalin aku di sini, tinggal berdua sama Mami?”
Tatapan Kaisar bergeser dari Sultan ke Fairish. Senyum miring terukir di bibirnya. “Licik sekali.” “Karena di rumah ini, kamu satu-satunya yang tidak punya keluarga,” jawab Sultan datar. Ucapan itu menusuk. “Itu bukan alasan,” bantah Kaisar keras. “Dari dulu, rumah ini selalu jadi tempat semua o“Pagi, Daddy,” sapa Narendra dengan suara paling nyaring di antara yang lain, wajahnya langsung berseri ketika melihat Radja ikut bergabung di meja makan. “Pagi, Nak,” balas Radja singkat, lalu menarik kursi dan duduk. Nada suaranya datar, tetapi itu sudah cukup membuat Narendra tersenyum bangga. Ia melirik Regantara yang duduk di sebelahnya. Sang kakak sama sekali tak bereaksi, tetap fokus menyuap sarapannya dengan sikap tenang khasnya. Ketiga bocah itu sudah rapi mengenakan seragam Lumina Kids Academy—biru langit, bersih, mahal. Seragam yang secara tak langsung menegaskan status keluarga mereka. “Oh iya, Mas,” Narendra menyenggol lengan kakaknya pelan. “Rana sekolah di mana, ya? Jangan-jangan diam-diam satu sekolah sama kita.” “Kenapa kemarin gak sekalian nanya ke orangnya?” Binar ikut menimpali, duduk manis di antara Sultan dan Fairish. “Rana itu siapa?” Sekar akhirnya bertanya, penasaran.
Radja berdiri seorang diri di balkon kamarnya. Angin malam menyapu wajahnya, dingin, namun tak mampu menenangkan gejolak di dadanya. Di sela jemari besarnya, sebatang rokok menyala, ujungnya merah membara. Sejak lima tahun lalu, sejak Djiwa pergi tanpa pamit—Radja mulai mengenal rokok dan alkohol. Bukan karena ingin, melainkan karena itulah satu-satunya cara yang ia tahu untuk meredam stres, menekan rasa kehilangan yang tak pernah benar-benar sembuh. Seperti malam ini. Ucapan polos kedua anaknya tentang gadis kecil itu kembali mengorek luka lama. Luka yang selama ini ia kubur rapi, ia timbun dengan kesibukan dan dinginnya sikap. “Tidak mungkin,” gumamnya pelan, lalu menghembuskan asap putih dari bibirnya. Ia menggeleng, berusaha meyakinkan diri sendiri. “Kalau memang benar seperti kata si kembar, Kaisar pasti sudah sadar lebih dulu.” Radja berdecak kesal. Dengan gerakan kasar, ia
“Mirip siapa?” tanya Radja, pandangannya tertuju pada putra sulungnya. “Mirip aku sama Naren, Dad,” jawab Regantara tenang. “Tapi lebih mirip Mommy,” sela Narendra cepat. “Yang fotonya ada di HP Daddy.” Rahang Radja mengeras seketika. Otot di pelipisnya menegang. “Usia berapa dia?” tanyanya, nada suaranya dibuat sedatar mungkin. Regantara tampak berpikir. Keningnya berkerut kecil, lalu ia menggeleng pelan. “Regan gak tahu. Regan gak nanya. Tapi dia kecil, lebih pendek dari Regan.” Radja menarik napas panjang, mencoba menenangkan pikirannya yang tiba-tiba berisik. Mustahil. Wajah mirip itu hal yang biasa. Banyak orang di dunia ini yang punya kemiripan tanpa hubungan apa pun. Lagipula, setahunya Djiwa hanya mengandung anak kembar laki-laki. Tidak pernah ada anak perempuan. Tidak pernah. Kecuali— Tidak. Radja cepat-cepat me
“Kan harus gantian. Kenapa sih nggak mau gantian?” “Tadi kamu udah empat kali, aku baru dua kali.” “Nggak! Aku cuma tiga kali. Sekarang harusnya kamu, habis itu dia!” Empat bocah yang sejak tadi menguasai ayunan mulai saling bersuara keras, nada mereka meninggi. Dorong-dorongan kecil tak terelakkan. Regantara, Narendra, dan Binar yang berniat ikut bermain mendadak berhenti beberapa langkah dari sana, ragu untuk mendekat. “Kamu udah empat kali, jangan main lagi!” bentak seorang gadis berkepang dua. Tangannya mendorong temannya sendiri hingga gadis itu jatuh terduduk di tanah. “Aw …!” keluh bocah itu, matanya langsung berkaca. “Hei.” Suara Regantara terdengar kecil, tapi nadanya tegas. Ia melangkah maju, berdiri tepat di hadapan mereka berempat. Tatapannya datar, nyaris dingin—tak sepadan dengan wajah imutnya. “Ngapain dorong orang?” tanyanya, tatapannya lurus. Ia lalu berjongkok sedikit, mengulurkan tangan mungilnya pada gadis yang jatuh. “Ayo, berdiri.” Gadis keci
“Binal, tadi kamu di kelas belajal apa?” tanya Narendra santai pada sepupunya. “Hei,” Binar langsung menegur dengan wajah merengut. “Binar. B-I-N-A-R. Binarr,” ucapnya sambil menekankan tiap huruf, memastikan Narendra bisa memahaminya. “Kan aku belum bisa ngomong ‘R’, Binal,” balas Narendra sambil nyengir usil. Binar menghentakkan kakinya ke lantai, pipinya mengembung. “Nanti aku aduin ke Mama sama Papa,” ancamnya, matanya membulat kesal. “Whooo …,” Narendra mengacungkan jempol, suaranya dibuat mengejek. “Tukang ngadu, whooo ….” “Naren.” Suara itu membuat ejekan Narendra terhenti. Regantara berdiri di ambang pintu, kedua tangannya terlipat di dada. Wajahnya datar, nyaris tanpa ekspresi—terlalu dewasa untuk anak seusianya. Narendra melirik sang kakak, alisnya terangkat. “Apa? Aku cuma bercanda.” “Berisik,” kata Regantara singkat. “Kalau Om Sultan dengar, kamu bisa disuntik lagi.” Tubuh Narendra refleks menegang. Suntik. Trauma lama itu masih membekas jelas di in
Keputusan Radja untuk kembali menetap di Mansion Reinard bersama kedua putranya menjadi hadiah tak terucap bagi Sekar. Bukan hanya karena putra sulungnya pulang membawa dua bayi kembar, tetapi juga karena Sultan kembali bersama istri dan anaknya. Rumah besar itu kembali hidup. Total ada tiga bayi di mansion itu sekarang. Tangisan silih berganti, langkah para Mbok tak pernah berhenti, dan tawa kecil Sekar terdengar hampir setiap waktu. Fokusnya tercurah penuh pada ketiga cucunya. Bahkan fakta bahwa salah satunya perempuan, dan lahir dari menantu yang pernah membohonginya tak lagi penting. Sekar seolah sengaja melupakan Fairish, juga segala kebohongan yang pernah terjadi. “Kan begini bagus,” puji Sekar sambil menatap ketiga bayi yang terbaring berjajar di boks khusus ruang keluarga. “Ramai. Hidup. Mansion ini akhirnya punya pewaris yang jelas.” Tangannya bergantian mengelus pipi Regantara, lalu Narendra, lalu berhenti lebih lama pada Binar. Senyumnya mengembang, penuh keba







