Share

BAB 247

Author: Langit Parama
last update Last Updated: 2026-02-14 07:00:49

“Menurut kamu, masih kurang apa lagi, Mas?” tanya Anggun sambil meluruskan sedikit dekorasi di meja penerima tamu. “Ini pernikahan kedua Radja. Dan kali ini, dengan perempuan yang benar-benar dia cintai. Harusnya semua terasa pas.”

Tio menatap sekeliling ballroom hotel itu, yang ditata sederhana namun elegan—tak berlebihan, tapi jelas bukan acara kecil.

“Kenapa tetap harus pakai acara begini?” tanyanya pelan. “Perut Djiwa sudah besar. Aku cuma khawatir dia kecape
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Candu Dekapan Kakak Ipar   BAB 285

    “Pagi, Daddy,” sapa Narendra dengan suara paling nyaring di antara yang lain, wajahnya langsung berseri ketika melihat Radja ikut bergabung di meja makan. “Pagi, Nak,” balas Radja singkat, lalu menarik kursi dan duduk. Nada suaranya datar, tetapi itu sudah cukup membuat Narendra tersenyum bangga. Ia melirik Regantara yang duduk di sebelahnya. Sang kakak sama sekali tak bereaksi, tetap fokus menyuap sarapannya dengan sikap tenang khasnya. Ketiga bocah itu sudah rapi mengenakan seragam Lumina Kids Academy—biru langit, bersih, mahal. Seragam yang secara tak langsung menegaskan status keluarga mereka. “Oh iya, Mas,” Narendra menyenggol lengan kakaknya pelan. “Rana sekolah di mana, ya? Jangan-jangan diam-diam satu sekolah sama kita.” “Kenapa kemarin gak sekalian nanya ke orangnya?” Binar ikut menimpali, duduk manis di antara Sultan dan Fairish. “Rana itu siapa?” Sekar akhirnya bertanya, penasaran.

  • Candu Dekapan Kakak Ipar   BAB 284

    Radja berdiri seorang diri di balkon kamarnya. Angin malam menyapu wajahnya, dingin, namun tak mampu menenangkan gejolak di dadanya. Di sela jemari besarnya, sebatang rokok menyala, ujungnya merah membara. Sejak lima tahun lalu, sejak Djiwa pergi tanpa pamit—Radja mulai mengenal rokok dan alkohol. Bukan karena ingin, melainkan karena itulah satu-satunya cara yang ia tahu untuk meredam stres, menekan rasa kehilangan yang tak pernah benar-benar sembuh. Seperti malam ini. Ucapan polos kedua anaknya tentang gadis kecil itu kembali mengorek luka lama. Luka yang selama ini ia kubur rapi, ia timbun dengan kesibukan dan dinginnya sikap. “Tidak mungkin,” gumamnya pelan, lalu menghembuskan asap putih dari bibirnya. Ia menggeleng, berusaha meyakinkan diri sendiri. “Kalau memang benar seperti kata si kembar, Kaisar pasti sudah sadar lebih dulu.” Radja berdecak kesal. Dengan gerakan kasar, ia

  • Candu Dekapan Kakak Ipar   BAB 283

    “Mirip siapa?” tanya Radja, pandangannya tertuju pada putra sulungnya. “Mirip aku sama Naren, Dad,” jawab Regantara tenang. “Tapi lebih mirip Mommy,” sela Narendra cepat. “Yang fotonya ada di HP Daddy.” Rahang Radja mengeras seketika. Otot di pelipisnya menegang. “Usia berapa dia?” tanyanya, nada suaranya dibuat sedatar mungkin. Regantara tampak berpikir. Keningnya berkerut kecil, lalu ia menggeleng pelan. “Regan gak tahu. Regan gak nanya. Tapi dia kecil, lebih pendek dari Regan.” Radja menarik napas panjang, mencoba menenangkan pikirannya yang tiba-tiba berisik. Mustahil. Wajah mirip itu hal yang biasa. Banyak orang di dunia ini yang punya kemiripan tanpa hubungan apa pun. Lagipula, setahunya Djiwa hanya mengandung anak kembar laki-laki. Tidak pernah ada anak perempuan. Tidak pernah. Kecuali— Tidak. Radja cepat-cepat me

  • Candu Dekapan Kakak Ipar   BAB 282

    “Kan harus gantian. Kenapa sih nggak mau gantian?” “Tadi kamu udah empat kali, aku baru dua kali.” “Nggak! Aku cuma tiga kali. Sekarang harusnya kamu, habis itu dia!” Empat bocah yang sejak tadi menguasai ayunan mulai saling bersuara keras, nada mereka meninggi. Dorong-dorongan kecil tak terelakkan. Regantara, Narendra, dan Binar yang berniat ikut bermain mendadak berhenti beberapa langkah dari sana, ragu untuk mendekat. “Kamu udah empat kali, jangan main lagi!” bentak seorang gadis berkepang dua. Tangannya mendorong temannya sendiri hingga gadis itu jatuh terduduk di tanah. “Aw …!” keluh bocah itu, matanya langsung berkaca. “Hei.” Suara Regantara terdengar kecil, tapi nadanya tegas. Ia melangkah maju, berdiri tepat di hadapan mereka berempat. Tatapannya datar, nyaris dingin—tak sepadan dengan wajah imutnya. “Ngapain dorong orang?” tanyanya, tatapannya lurus. Ia lalu berjongkok sedikit, mengulurkan tangan mungilnya pada gadis yang jatuh. “Ayo, berdiri.” Gadis keci

  • Candu Dekapan Kakak Ipar   BAB 281

    “Binal, tadi kamu di kelas belajal apa?” tanya Narendra santai pada sepupunya. “Hei,” Binar langsung menegur dengan wajah merengut. “Binar. B-I-N-A-R. Binarr,” ucapnya sambil menekankan tiap huruf, memastikan Narendra bisa memahaminya. “Kan aku belum bisa ngomong ‘R’, Binal,” balas Narendra sambil nyengir usil. Binar menghentakkan kakinya ke lantai, pipinya mengembung. “Nanti aku aduin ke Mama sama Papa,” ancamnya, matanya membulat kesal. “Whooo …,” Narendra mengacungkan jempol, suaranya dibuat mengejek. “Tukang ngadu, whooo ….” “Naren.” Suara itu membuat ejekan Narendra terhenti. Regantara berdiri di ambang pintu, kedua tangannya terlipat di dada. Wajahnya datar, nyaris tanpa ekspresi—terlalu dewasa untuk anak seusianya. Narendra melirik sang kakak, alisnya terangkat. “Apa? Aku cuma bercanda.” “Berisik,” kata Regantara singkat. “Kalau Om Sultan dengar, kamu bisa disuntik lagi.” Tubuh Narendra refleks menegang. Suntik. Trauma lama itu masih membekas jelas di in

  • Candu Dekapan Kakak Ipar   BAB 280

    Keputusan Radja untuk kembali menetap di Mansion Reinard bersama kedua putranya menjadi hadiah tak terucap bagi Sekar. Bukan hanya karena putra sulungnya pulang membawa dua bayi kembar, tetapi juga karena Sultan kembali bersama istri dan anaknya. Rumah besar itu kembali hidup. Total ada tiga bayi di mansion itu sekarang. Tangisan silih berganti, langkah para Mbok tak pernah berhenti, dan tawa kecil Sekar terdengar hampir setiap waktu. Fokusnya tercurah penuh pada ketiga cucunya. Bahkan fakta bahwa salah satunya perempuan, dan lahir dari menantu yang pernah membohonginya tak lagi penting. Sekar seolah sengaja melupakan Fairish, juga segala kebohongan yang pernah terjadi. “Kan begini bagus,” puji Sekar sambil menatap ketiga bayi yang terbaring berjajar di boks khusus ruang keluarga. “Ramai. Hidup. Mansion ini akhirnya punya pewaris yang jelas.” Tangannya bergantian mengelus pipi Regantara, lalu Narendra, lalu berhenti lebih lama pada Binar. Senyumnya mengembang, penuh keba

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status