LOGINRuangan intensif itu dipenuhi cahaya putih yang redup namun dingin. Suara mesin medis berdenting pelan—ritmis, konstan, seolah menjadi satu-satunya tanda bahwa kehidupan masih bertahan di sana. Radja terbaring di atas ranjang. Tubuhnya nyaris tak bergerak. Selang nasal kanul terpasang di hidungnya, membantu pernapasan yang masih lemah. Beberapa kabel monitor menempel di tubuhnya, menampilkan garis-garis kehidupan yang naik turun di layar. Wajahnya pucat. Tenang. Terlalu tenang untuk seseorang yang biasanya penuh kendali. Di sisi ruangan, Djiwa duduk di kursi, tak jauh dari ranjang. Tatapannya tak lepas dari wajah suaminya. Matanya sembab, namun kini tak ada lagi tangis yang pecah—yang tersisa hanya kesedihan yang diam, dalam, dan menyesakkan. Regan berdiri di sampingnya. Diam. Anak itu tak banyak bicara, hanya sesekali menatap layar monitor, lalu kembali ke wajah ayahnya. Sementara di ruangan lain, di ruang rawat inap Djiwa sebelumnya—Ratu terlelap di atas sofa, tubuh
Kelopak mata Djiwa bergerak pelan. Ia mengerjap beberapa kali, pandangannya masih buram—hingga perlahan fokus. Hal pertama yang ia lihat Regan dan Naren. “Mommy udah bangun,” ucap Regan cepat, langsung berdiri dari kursinya. Naren yang sejak tadi duduk di samping ranjang, langsung menggenggam tangan ibunya erat. “Mommy ….” Djiwa langsung tersentak, refleks ingin bangun. “Ratu …? Ratu di mana?” suaranya panik, tubuhnya berusaha terangkat dari baringannya. “Mommy, jangan banyak gerak,” cegah Regan cepat, menahan bahu ibunya dengan hati-hati. “Nanti infusnya lepas.” “Ratu dibawa Om Sultan ke ruang operasi, Mom,” tambah Naren, mencoba menenangkan. Djiwa terdiam sejenak. Lalu menghela napas panjang, bahunya sedikit turun. “Syukurlah ….” Ia melirik punggung tangan kanannya—jarum infus tertancap di sana. Namun pikirannya tidak berhenti di situ. “Daddy …,” gumamnya lirih. “Gimana keadaan Daddy, Nak?” Regan dan Naren saling melirik, lalu menggeleng pelan. “Kita belum ke sana, Mom,
Sultan akhirnya tiba di rumah sakit. Ia datang seorang diri. Fairish tidak ikut—bukan karena tidak peduli, melainkan karena Binar sudah terlelap. Mereka tidak tega meninggalkan anak itu sendirian, takut terbangun dan tidak menemukan kedua orang tuanya. Langkah Sultan cepat, nyaris berlari menyusuri lorong menuju UGD. “Di mana kakak saya?” tanyanya pada salah satu perawat yang melintas. Perawat itu langsung berhenti. “Sudah dipindahkan ke ruang operasi, Dok. Bagian kepala pasien mengalami benturan cukup keras. Dokter bedah saraf sudah standby, dan operasi akan segera dimulai.” Sultan menelan ludah. “Dan … keluarganya?” “Sudah datang. Istri dan anak-anaknya juga ada di sini.” “Di mana mereka sekarang?” “Istri Tuan Radja sempat pingsan. Saat ini sedang di ruang VIP, bersama ketiga anaknya.” Napas Sultan tercekat. “Baik, terima kasih,” ucapnya singkat, lalu segera melangkah cepat menuju ruang VIP. Begitu pintu terbuka, suasana di dalam terasa sunyi namun berat. Ratu duduk di s
Sekar baru saja memejamkan mata, mencoba menenangkan pikirannya, ketika ketukan keras di pintu kamarnya memecah keheningan. Tok! Tok! Tok! Ia tersentak, refleks langsung bangkit duduk. “Mi, buka pintunya!” suara Kaisar terdengar tergesa dari luar. Sekar menghela napas berat, lalu turun dari ranjang dengan langkah hati-hati. Jantungnya berdegup sedikit lebih cepat dari biasanya. Pintu dibuka. “Ada apa, Kai?” tanyanya. “Kita ke rumah sakit sekarang,” jawab Kaisar tanpa basa-basi. Sekar mengernyit. “Ngapain ke rumah sakit?” Namun tatapannya teralihkan. Ke arah Karin yang berdiri di samping Kaisar, menggenggam sesuatu di tangannya. “Loh, itu apa?” Sekar melangkah mendekat, lalu mengambil benda tersebut. Matanya menyipit, membaca hasilnya. Detik berikutnya. “Kamu … hamil, Rin?” Karin tersenyum kecil. “Iya, Mi. Aku hamil.” Wajah Sekar langsung berubah. Kaget, lalu bahagia. “Ya Tuhan …,” ia langsung menarik Karin ke dalam pelukan hangat. “Akhirnya kamu hamil anak Kai juga. Kai
“Daddy … kecelakaan.” Kalimat itu jatuh pelan, tapi dampaknya seperti menghantam keras. “Hah?!” Ratu langsung menangis. “Mommy bohong, kan?! Daddy gak apa-apa, kan?!” Air matanya mengalir deras, tubuh kecilnya gemetar. Naren ikut panik. “Gimana maksudnya kecelakaan, Mom?! Daddy di mana sekarang?! Kita ke sana, kan?! Kita ke sana sekarang?!” Suasana langsung kacau. Hanya Regan yang tetap diam. Wajahnya tegang, tapi ia tidak menangis. Tatapannya langsung tertuju pada ibunya—mencari kepastian. Djiwa sendiri nyaris kehilangan keseimbangan. Kakinya terasa lemas, tangannya gemetar hebat. Namun ia menahan diri. Ia tidak boleh runtuh, tidak di depan anak-anaknya. “Iya, kita ke sana sekarang,” ucapnya pelan, berusaha menguatkan suara yang hampir pecah. Ia meraih tangan Ratu yang menangis, lalu menoleh pada Naren dan Regan. “Ayo … kita ke rumah sakit.” Regan langsung berdiri, sigap. Ia menggenggam tangan Ratu, mencoba menenangkan adiknya yang terus terisak. “Ratu … kita ke Daddy seka
Kamar Sankara kembali sunyi. Djiwa masih berdiri di sana, di tempat yang sama, seolah kakinya enggan melangkah pergi. Matanya menatap kosong ke arah jendela, namun pikirannya berputar ke mana-mana. Ucapan Radja sebelumnya terus terngiang. Tentang anak-anak. Tentang keluarga. Tentang bagaimana semuanya pernah baik-baik saja. Napasnya perlahan memburu. “Aku … keterlaluan,” gumamnya lirih, hampir tak terdengar. Tangannya terangkat, menutup mulutnya sendiri, seakan menahan sesal yang tiba-tiba datang tanpa permisi. “Tadi aku bilang cerai.” Kata itu terasa asing sekarang. “Aku marah, aku kecewa, aku sakit, tapi …,” suaranya bergetar, “Aku gak seharusnya bilang itu.” Ia menggeleng pelan, tubuhnya melemah. Dalam bayangannya, terlintas wajah anak-anaknya. Ratu yang selalu memeluknya tanpa alasan. Naren yang cerewet. Regan yang diam tapi selalu memperhatikan. Lalu Radja. Cara laki-laki itu menatapnya tadi. Cara dia menahan emosi. Cara dia tetap berdiri tanpa mundur. Djiwa mengusap wa
Kaisar menghela napas panjang begitu mobilnya masuk gerbang kantor. Langit siang yang terik tak mampu menghangatkan dinginnya pikiran yang menggulung di kepalanya sejak sesi konsultasi tadi. Jemarinya mengetuk-ngetuk setir, iramanya tak beraturan—tanda jelas bahwa hatinya sedang kacau karena renc
Inggrit baru saja tiba di mansion. Langkah kakinya menghentak keras, cepat, dan penuh amarah—seolah dia sengaja ingin seluruh penjuru rumah tahu bahwa saat ini dia sedang berada di titik paling emosional. Di belakangnya, Anggita menyusul dalam keadaan terisak halus. Arga mengantar bocah itu pu
“Simbiosis mutualisme?” Radja mengulang dua kata itu pelan, dengan senyum miring yang tidak sepenuhnya bisa dibaca. Ia menarik napas panjang, menghembuskannya perlahan seolah mencoba memahami isi kepala perempuan di hadapannya. Djiwa menunduk. Napasnya tercekat. “Biarin Djiwa sendiri dulu, Mas …
Sudah satu jam yang lalu Djiwa terlelap di pelukan Radja. Pria itu bahkan absen dari kantornya hari ini hanya untuk menemani wanita itu tidur di hotel. Entah apa yang membuatnya memilih menetap di sini. Jika bicara soal khawatir, harusnya dia tetap bisa meninggalkan Djiwa seorang diri setelah mema







