Share

BAB 41

Author: Langit Parama
last update Petsa ng paglalathala: 2025-12-10 00:12:51

Mbah Kinasih tak menyudahi ocehannya. Di usia kepala tujuh, sulit baginya untuk diam—dan hampir mustahil bagi siapa pun menghentikan aliran kata-katanya.

“Radja itu sikapnya terlalu kaku, dingin, dan ... tidak romantis,” gumamnya sambil geleng-geleng.

“Dari kecil dia memang begitu karena didikan menantu kakak saya yang terlalu keras, sebab dia anak pertama. Sejak kecil dia tidak boleh bersikap lempeng, harus kuat dan tahan banting.”

“Jadi kalau ketemu orang baru, apalagi perempuan, ekspresin
Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App
Locked Chapter
Mga Comments (13)
goodnovel comment avatar
Widodo
kelamaan mau BCA cerita aja susag
goodnovel comment avatar
Yati Muzakkir
lebih banyak waktu habis utk nonton iklan drpd baca bukunya, capek deh......
goodnovel comment avatar
Salsabila Mukhtar
udah lah banyak iklan, nunggu waktu kebuka nya sampe 22 jam, itu pun cuma bisa 8 X...
Tignan lahat ng Komento

Pinakabagong kabanata

  • Candu Dekapan Kakak Ipar   S2 - 735

    Ratu menundukkan wajah dalam-dalam. “Bukan cuma aku … Mas Regan sama Mas Naren juga. Kalau itu benar, aku …,” tangisnya pecah. “Aku anak yang lahir di luar pernikahan, Mas.”Tangannya gemetar hebat. “Aku malu … aku benar-benar malu. Aku gak pernah membayangkan kalau ternyata asal-usulku seperti itu.”Sankara masih diam. Bukan karena terkejut berlebihan, melainkan karena sedang mencerna setiap kalimat yang baru saja didengarnya.Sementara Ratu justru salah mengartikan keheningan itu.Ia tersenyum pahit. “Kan … aku tahu, Mas pasti kaget.” Ia mengusap air matanya kasar. “Sekarang terserah sama Mas. Mau tetep lanjut sama hubungan ini, atau berhenti sampai di sini.”Ratu menggeleng pelan. “Aku gak akan nyalahin keputusan Mas. Karena …,” uaranya kembali pecah. “Aku sadar, aku gak pantes buat Mas.”“Aku juga gak pantas buat keluarga Mas. Om Mahatma pasti bakal malu kalau punya menantu kayak aku.”“Aku bahkan takut, kalau nanti orang-orang bilang keluarga Mas menerima perempuan yang statusnya

  • Candu Dekapan Kakak Ipar   S2 - 734

    Malam semakin larut ketika Radja dan Djiwa akhirnya kembali ke kamar mereka. Pintu ditutup perlahan, menyisakan keheningan yang sejak tadi mengikuti keduanya.Radja berjalan lebih dulu menuju ranjang.Langkahnya terasa berat. Ia kemudian duduk di tepi kasur sambil mengembuskan napas panjang, sebelum mendongakkan kepala menatap sang istri yang masih berdiri tak jauh darinya.Djiwa mendekat perlahan. Sorot matanya lembut, tetapi menyimpan kegelisahan yang sama.“Mas …,” suaranya memecah keheningan. “Aku rasa ... Regan ada benarnya.”Radja mengernyit tipis. “Yang mana?”“Yang tadi, soal lamaran.” Djiwa menarik kursi kecil di dekat meja rias, lalu duduk menghadap suaminya.“Menurutku …,” ia menghela napas pelan. “Tidak ada salahnya kalau kita segera melamar Sankara untuk Ratu.”Tatapan Radja berubah. “Djiwa ....”“Aku serius.” Wanita itu menggenggam kedua tangan suaminya. “Kita sudah melihat sendiri seperti apa Sankara. Dia sopan, tahu batas, bertanggung jawab. Dan ... dia benar-benar men

  • Candu Dekapan Kakak Ipar   S2 - 733

    Ratu berdiri di balkon apartemen, membiarkan angin sore menerpa wajahnya. Hamparan gedung-gedung pencakar langit membentang di hadapannya, diselimuti cahaya jingga senja yang perlahan tenggelam di balik cakrawala.Pemandangan itu indah, namun pikirannya sama sekali tak berada di sana.“Aku udah lebih dari seminggu di sini, tapi ...,” gumamnya lirih.Jemarinya saling menggenggam erat, seolah berusaha menenangkan kegelisahan yang tak kunjung reda.“Aku belum siap pulang,” matanya mulai berkaca. “Belum siap ketemu Daddy, Mommy, Mas Regan dan Mas Naren.”Ia menarik napas panjang, tetapi dadanya justru terasa semakin sesak. “Dan ... aku juga belum siap jujur sama Mas Sankara.”Bayangan wajah pria itu seketika memenuhi benaknya.Bagaimana jika setelah mengetahui kenyataan tentang dirinya, tatapan hangat itu berubah? Bagaimana jika rasa sayang yang selama ini ia rasakan perlahan menghilang?“Gimana kalau Mas Sankara jadi benci sama aku?” bisiknya pelan. “Gimana kalau dia gak mau nerima aku l

  • Candu Dekapan Kakak Ipar   S2 - 732

    Tok. Tok. Tok.Ketukan pelan terdengar dari balik pintu ruang kerja.Sankara yang sejak tadi fokus menelaah berkas di hadapannya mengangkat pandangan. “Masuk.”Pintu terbuka perlahan. Sang sekretaris melangkah masuk sambil membawa tablet di tangannya.“Selamat siang, Pak. Tamu yang membuat janji dengan Bapak sudah datang. Saat ini beliau menunggu di ruang tamu VIP.”Sankara mengangguk singkat. “Baik. Saya akan ke sana.”Ia menutup map yang sedang dibacanya, merapikan jas yang melekat di tubuhnya, lalu bangkit dari kursi.Langkahnya tenang menyusuri koridor kantor hingga tiba di ruang tamu khusus untuk para tamu penting.Pintu terbuka.Begitu memasuki ruangan, pandangan Sankara langsung tertuju pada sosok pria yang berdiri membelakanginya sambil menikmati panorama kota dari balik dinding kaca.Pria itu perlahan berbalik. Setelan jas gelap yang dikenakannya tampak begitu pas membungkus tubuh atletisnya. Wajahnya tenang, nyaris tanpa ekspresi, tetapi sorot matanya menyimpan kewibawaan ya

  • Candu Dekapan Kakak Ipar   S2 - 731

    Langkah Sankara yang baru keluar dari kamarnya mendadak terhenti. Kemeja putih yang baru dikenakannya masih belum seluruhnya dikancing, sementara dasi hitam tergantung rapi di lehernya.Pandangannya bergantian menatap Mahatma dan Ratu yang berdiri beberapa meter darinya.“Papa?” sapanya, sedikit terkejut. “Pagi-pagi sudah ke sini?”Mahatma tak langsung menjawab. Tatapan tajamnya tetap tertuju pada Ratu sebelum akhirnya beralih kepada putranya.“Papa yang seharusnya bertanya.” Suaranya terdengar tenang, tetapi sarat tekanan. “Kenapa ada perempuan di apartemenmu?”Sankara menarik napas pelan. “Pa, saya bisa jelaskan.”“Kalian tinggal bersama?” tanya Mahatma lugas. “Sejak kapan?”Sankara menggeleng tegas. “Tidak. Sama sekali bukan seperti itu.”Ratu yang berdiri di dekat meja makan hanya mampu menundukkan kepala. Jemarinya saling bertaut erat hingga buku-buku jarinya memutih. Ada rasa bersalah yang perlahan menggerogoti dadanya.“Lalu apa penjelasannya?” Mahatma kembali bertanya. “Bukank

  • Candu Dekapan Kakak Ipar   S2 - 730

    Narendra mengusap wajahnya pelan begitu panggilan vidio dari Aluna tersambung. Wajahnya tampak lelah setelah beberapa hari memikirkan Ratu, ditambah pikirannya yang tak kunjung tenang. “Kamu udah gak punya waktu lagi buat aku, Ren,” keluh Aluna tanpa basa-basi. Bibirnya mengerucut kecewa. "Kamu lagi gak ada jadwal terbang, kan? Tapi beberapa hari ini kamu hampir gak pernah ngabarin aku. Chat dibalas lama, telepon juga susah.” Narendra menghembuskan napas panjang. “Maaf. Akhir-akhir ini keadaan di rumah memang lagi kacau. Ratu pergi dari rumah beberapa hari lalu. Sampai sekarang belum mau pulang.” Narendra menatap kosong ke luar jendela kamarnya. “Kami semua sempat mencarinya ke mana-mana. Mommy bahkan syok sampai harus dirawat di rumah sakit. Dan ... sampai sekarang masalahnya juga belum benar-benar selesai.” Aluna terdiam sesaat, tetapi ekspresi iba yang biasanya menghiasi wajahnya tak muncul. Sebaliknya, ia menghembuskan napas pelan. “Menurut aku ... adik kamu berlebihan, deh.

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status