Share

BAB 619

Penulis: Langit Parama
last update Tanggal publikasi: 2026-06-19 00:01:36

“Dji ... Wa, a-da a-pa?” tanya Sekar terbata-bata saat keluar dari kamar menggunakan kursi roda yang didorong perawat menuju ruang tengah.

Wanita paruh baya itu langsung menemukan menantunya berdiri di sana dengan wajah pucat penuh kecemasan.

Djiwa buru-buru menghapus sisa air mata di pipinya dan memaksakan senyum kecil.

“Gak apa-apa, Mi,” balasnya pelan. “Aku cuma mau jemput anak-anak.”

Kening Sekar berkerut. “A-nak ... a-nak?”

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci
Komen (1)
goodnovel comment avatar
Anty Hamzah
jiwa ini penghianat. orang lain di percaya sementara suaminya sendiri di curigai. benar2 tidak mencerminkan seorang istri baik. makin ke sini sifat dan sikap jiwa bikin emosi saja.
LIHAT SEMUA KOMENTAR

Bab terbaru

  • Candu Dekapan Kakak Ipar   BAB 621

    “Halo, Kai?” desis Radja dengan suara rendah begitu panggilan tersambung. Mobil yang melaju kencang itu mendadak berhenti di tepi jalan, membuat tubuh Djiwa sedikit terdorong ke depan. Wanita itu menahan napas saat melihat raut wajah suaminya berubah semakin dingin. Ponsel di tangan Radja menempel erat di telinganya. Namun suara yang terdengar di seberang sana bukan Kaisar. “Halo, Daddy ... ini Regan.” Seketika sorot mata Radja berubah. “Regan?” ulangnya pelan. “Kamu di mana sekarang, Nak? Adik-adik kamu di mana?” tanyanya setenang mungkin. “We’re okay, Dad,” jawab Regan polos. “Kita lagi di rumah Om Kai sama Tante Karin.” Dada Djiwa yang sejak tadi terasa sesak sedikit mengendur mendengar suara putranya. “Daddy sekarang udah di mana?” lanjut Regan. “Katanya mau nyamperin kita.” Belum sempat Radja menjawab, suara Ratu langsung menyela

  • Candu Dekapan Kakak Ipar   BAB 620

    Mendengar pertanyaan kakak laki-lakinya, Ratu yang sejak tadi sibuk memeluk boneka alpaca langsung menoleh cepat. Bocah itu buru-buru mendekati Kaisar tanpa melepaskan boneka dari pelukannya. “Iya, Om ... kapan kita ketemu Daddy?” tanyanya polos. “Ratu udah kangen banget.” Tatapan Kaisar sempat berubah samar sesaat. Namun pria itu segera menyamarkannya dengan senyum tipis. Ia meletakkan remote control mobil di tangannya ke atas meja, lalu mengusap pelan puncak kepala Ratu. “Sebentar lagi, ya,” ucapnya tenang. “Om mau mandi dulu.” Setelah mengatakan itu, Kaisar langsung bangkit dan berjalan meninggalkan ruang tengah tanpa memberi penjelasan lain. Ketiga bocah itu tak bertanya lagi. Mereka mempercayai pamannya sepenuhnya. Bahwa cepat atau lambat, Kaisar pasti akan membawa mereka bertemu kembali dengan sang ayah. Dan untuk sekarang, yang bisa mereka lakukan hanyalah m

  • Candu Dekapan Kakak Ipar   BAB 619

    “Dji ... Wa, a-da a-pa?” tanya Sekar terbata-bata saat keluar dari kamar menggunakan kursi roda yang didorong perawat menuju ruang tengah. Wanita paruh baya itu langsung menemukan menantunya berdiri di sana dengan wajah pucat penuh kecemasan. Djiwa buru-buru menghapus sisa air mata di pipinya dan memaksakan senyum kecil. “Gak apa-apa, Mi,” balasnya pelan. “Aku cuma mau jemput anak-anak.” Kening Sekar berkerut. “A-nak ... a-nak?” Djiwa mengangguk cepat. “Iya, Mi. Regan, Naren, sama Ratu.” Ia menarik napas panjang sebelum melanjutkan. “Tadi mereka pergi sama Mas Kai. Katanya jalan-jalan ke mall, terus sekalian mau diajak ketemu Mami di sini.” Suara Djiwa perlahan melemah. “Tapi ... ternyata Mas Kai sama anak-anak gak ada ke sini.” Sorot mata Sekar langsung berubah bingung. “Ke ... ma-na me ... re-ka?” Djiwa menggeleng pelan, bibirnya bergetar. “Aku gak

  • Candu Dekapan Kakak Ipar   BAB 618

    Radja baru saja tiba di mansion-nya menjelang sore. Mobil hitam yang membawanya berhenti tepat di halaman depan rumah megah itu. Sang sopir segera turun lebih dulu dan membukakan pintu untuknya. Tak lama kemudian, sebuah mobil lain menyusul dari belakang. Di dalamnya terdapat seekor alpaca berbulu putih kecoklatan dengan mata bulat dan bulu lembut, hadiah yang sejak semalam ingin dia berikan untuk putri kecilnya. Seorang pria paruh baya turun dari mobil tersebut dan menghampiri Radja dengan sopan. “Halaman belakang rumah saya cukup luas. Bisa langsung dibuat kandang sementara sebelum malam?” tanya Radja tenang. “Bisa, Tuan. Kami sudah membawa kayu dan perlengkapan lainnya,” jawab pria itu cepat. Radja mengangguk singkat. “Kerjakan sekarang.” “Baik, Tuan.” Tanpa mengatakan apa-apa lagi, Radja melangkah masuk ke dalam mansion dengan langkah tenang dan

  • Candu Dekapan Kakak Ipar   BAB 617

    Suasana Timezone di dalam mall begitu ramai. Suara mesin permainan bercampur dengan tawa anak-anak memenuhi ruangan luas penuh cahaya warna-warni. Ratu yang sejak tadi murung perlahan kembali ceria saat berdiri di depan mesin capit boneka. “Om Kai, yang itu! Alpaca yang pink! Ratu mau ...!” serunya heboh sambil menunjuk boneka besar di dalam mesin kaca. Kaisar berdiri di belakang ketiga ponakannya dengan kedua tangan dimasukkan dalam saku celana, memperhatikan mereka satu per satu. “Yang pink?” tanyanya santai. Ratu mengangguk cepat sampai rambutnya bergoyang. “Iya! Yang itu lucu banget.” Kaisar tersenyum tipis, lalu menyerahkan kartu permainan pada Regan. “Geser.” Ucapnya singkat. Regan menurut, sementara Kaisar mulai memainkan tuas mesin capit. Naren sampai menahan napas melihat capit itu bergerak pelan menuju boneka alpaca pink incaran Ratu.

  • Candu Dekapan Kakak Ipar   BAB 616

    “Lama banget kalau harus nunggu besok pagi ….” Ratu menghembuskan napas kesal sambil melipat kedua tangan mungilnya di dada. Wajahnya cemberut sejak tadi. Makan malam yang sudah disiapkan Djiwa di meja pun nyaris tak disentuh. Padahal seharusnya malam itu mereka sedang berada di restoran mewah bersama Radja untuk merayakan pembagian rapot. Namun semuanya mendadak berubah karena pekerjaan sang ayah ke luar kota. Djiwa yang duduk di samping putrinya tersenyum kecil, meski hatinya ikut tak enak melihat wajah kecewa anak-anaknya. “Sabar ya, sayang …,” ucapnya lembut sambil mengusap rambut Ratu. “Habis makan malam nanti langsung tidur, biar besok cepet pagi.” Namun Ratu langsung menggeleng pelan. “Lama, Mom ….” “Nggak lama kok kalau sambil main,” timpal Regan bijak dari sebelah kanan adiknya. “Habis makan malam kita main, terus tidur dan besok pagi Daddy pulang.”

  • Candu Dekapan Kakak Ipar   BAB 127

    “Terima kasih banyak ya, dok?” ucap Fairish sembari mengulas senyum manis yang dipaksakan. Ia merapikan pakaiannya sebelum turun dari ranjang pasien. “Sama-sama, Bu. Kalau begitu, tunggu sebentar, ya. Saya cetak dulu foto hasil USG-nya,” ucap dokter obgyn tersebut sambil melangkah ke meja kerjanya

    last updateTerakhir Diperbarui : 2026-03-23
  • Candu Dekapan Kakak Ipar   BAB 123

    “Non Djiwa, istirahat, ya?” Mbok Inem segera membantu Djiwa berbaring di atas ranjang. “Non pasti kaget,” ucapnya lirih, mata wanita paruh baya itu berkaca-kaca. Djiwa menyandarkan punggung ke sandaran ranjang, memejamkan mata sejenak sambil berusaha menstabilkan napasnya yang masih memburu. Mbok

    last updateTerakhir Diperbarui : 2026-03-23
  • Candu Dekapan Kakak Ipar   BAB 89

    “Aku sebenernya hamil apa gak sih, Kai?” tanya Fairish pada Kaisar yang tengah mengemudi mobilnya, meninggalkan restoran yang beberapa saat lalu mereka singgahi untuk makan siang. Kaisar meliriknya dari kaca spion tengah, sebelum kembali fokus pada jalan raya. “Kamu sendiri kan yang dateng ke d

    last updateTerakhir Diperbarui : 2026-03-21
  • Candu Dekapan Kakak Ipar   BAB 341

    “Kamu yang masak?” tanya Radja sembari menyuapkan makanan ke mulutnya. Tatapannya tertuju pada Djiwa, penuh selidik sekaligus perhatian. “Iya, Mas,” jawab Djiwa lembut. “Selama gak capek, aku pengen masakin sarapan sama makan malam buat kamu dan anak-anak.”

    last updateTerakhir Diperbarui : 2026-04-05
Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status