LOGIN“Selamat sore, Bu,” sapa Bagas sopan ketika melihat Djiwa sedang berjalan santai di halaman mansion. Wanita itu tampak menikmati sore hari sambil memperhatikan tanaman yang berjajar rapi di sepanjang jalan setapak. “Sore,” balas Djiwa dengan senyum kecil. “Saya sebaiknya memanggil Anda apa, ya? Pak Bagas? Tapi sepertinya Anda masih cukup muda.” Bagas tersenyum tipis. “Ibu bisa langsung memanggil saya Bagas saja.” Djiwa mengangguk pelan. “Kalau boleh tahu, usia Anda berapa?” “Saya … baru dua puluh tujuh tahun,” jawab Bagas dengan nada sopan. Djiwa tampak sedikit terkejut. “Kalau begitu saya panggil Bagas aja, ya. Soalnya kamu lebih muda tiga tahun dari saya.” Bagas spontan membulatkan matanya. “Ibu sekarang tiga puluh tahun?” “Iya,” jawab Djiwa singkat. Bagas tersenyum kecil. “Jujur saja, saya kira usia Ibu sekitar dua puluh lima.” Djiwa langsung membelalakkan matanya. “Ya Tuhan, lima tahun lebih muda?” Bagas terkekeh pelan. “Memang tidak terlihat seperti usia tiga puluh. Ta
Kafe – 10.00 Jam sepuluh tepat, Djiwa sudah tiba lebih dulu di kafe tempat ia membuat janji dengan Karin. Ia memilih meja di dekat jendela, tempat cahaya pagi masuk lembut melalui kaca besar. Cangkir kopi di depannya masih utuh, hampir tidak tersentuh. Sesekali Djiwa menatap jam di pergelangan tangannya. Setelah dari sini, ia berencana langsung menjemput anak-anaknya pulang sekolah. Tak lama kemudian Karin datang. Wanita itu berjalan cepat menuju mejanya, lalu duduk di kursi seberang dengan napas sedikit terengah. “Maaf nunggu lama, Wa,” ucapnya sambil tersenyum kecil. Djiwa menggeleng pelan. “Gak lama, kok.” Namun begitu percakapan dimulai, senyum itu perlahan menghilang dari wajah Djiwa. Dengan suara pelan, ia mulai menceritakan semuanya—tentang kondisi kehamilannya yang berisiko, tentang penjelasan dokter kandungan, dan tentang bagaimana hatinya terasa hancur ketika mendengar semua itu, terlebih lagi dari suaminya sendiri. “Aku gak tahu harus gimana, Rin,” bisik Djiwa liri
Fairish berdiri diam di depan cermin wastafel kamar mandi rumahnya setelah tamu mereka pulang. Pantulan wajahnya di cermin tampak pucat, jauh dari tenang. Baru saja beberapa menit yang lalu ia bertemu dengan seseorang dari masa lalunya. Kaisar. Mantan kekasihnya, sekaligus pria yang dulu pernah menjadi kesalahannya. Kini pria itu datang dengan seorang istri baru di sisinya. Dan yang paling menyakitkan, Fairish bisa melihatnya dengan jelas—cara Kaisar menatap wanita itu tidak lagi sama seperti dulu. Ada sesuatu yang tulus di sana. Seolah-olah kali ini, Kaisar benar-benar mencintai istrinya. Fairish memejamkan matanya pelan. “Aku udah punya suami, dan aku juga udah punya anak,” bisiknya lirih pada dirinya sendiri. Tangannya perlahan mencengkeram pinggiran wastafel. “Jin dasim, tolong … berhenti ganggu hidup aku.” Napasnya terasa berat. “Aku udah bahagia sama Mas Sultan,” lanjutnya pelan. “Dia segalanya buat aku sekarang.” Kelopak matanya kembali terpejam kuat. “Tapi kenapa kamu
“Om Kai!” seru Naren heboh. Sementara itu, Regan hanya tersenyum kecil melihat pamannya datang bersama bibi baru mereka. “Tante Bidan.” Naren langsung berlari menghampiri mereka, lalu memeluk Karin dengan erat. “Yeay! Tante baru datang ke rumah baru Naren.” Karin tersenyum lembut sambil membalas pelukan bocah itu. “Iya, nih. Tante penasaran seperti apa rumah baru kalian. Ternyata mewah banget, ya.” “Iya dong, Tante. Soalnya Daddy yang bikin,” sahut Naren dengan wajah penuh kebanggaan. Kaisar menyipitkan matanya sambil menahan senyum. “Daddy kamu, atau tukang, ya?” Regan terkekeh pelan. “Tukang, Om … tapi Daddy yang bayar.” Djiwa ikut tersenyum kecil mendengar percakapan mereka. “Silakan duduk,” ucapnya ramah, mempersilakan Kaisar dan Karin duduk di sofa ruang keluarga. Ia sempat melirik para pembantu yang berdiri tak jauh dari sana. Tanpa perlu diperintah, mereka langsung mengerti dan bergegas ke dapur untuk menyiapkan minuman bagi tamu. Kaisar kemudian meletakkan beberapa
“Bagaimana menurut kalian guru les tadi?” tanya Djiwa pada ketiga anaknya yang baru saja selesai belajar selama lebih dari satu setengah jam. Ia menyandarkan tubuhnya santai di sofa sambil menatap mereka bergantian. “Rate pilihan Mommy, dong.” Regan mengangkat bahu kecil. “Hm … belum tahu, Mom,” jawabnya tenang. “Baru sehari juga.” Djiwa terkekeh pelan. “Bener juga.” Ia kemudian menepuk pelan paha anak-anaknya. “Kalau begitu sekarang kalian tidur siang dulu, ya.” Ketiganya mengangguk. Regan dan Naren langsung berjalan menuju tangga untuk naik ke lantai atas, di mana kamarnya berada. Namun Ratu masih berdiri di tempat, menatap ibunya. “Mommy tadi ditelepon Daddy, ya?” tanyanya pelan. Djiwa tersenyum kecil. “Iya, sayang. Kenapa?” Ratu menggigit bibirnya sebentar sebelum berkata lirih, “Ratu juga mau telepon Daddy, Ratu kangen.” Djiwa mengusap rambut putrinya dengan lembut. “Nanti malam aja, ya, Nak,” ujarnya pelan. “Di sana sekarang udah malam, dan Daddy baru aja pulang kerja.”
Djiwa mengulurkan tangan kanannya ke arah pria di hadapannya. “Saya Djiwa,” ucapnya dengan senyum ramah. “Ibu dari anak-anak yang nanti akan kamu ajari nanti.” Bagas menelan ludahnya pelan. Tatapannya sempat tertahan pada tangan halus yang terulur itu sebelum akhirnya ia segera membalasnya dengan sopan. “Senang berkenalan dengan Anda, Bu,” ujarnya berusaha tetap profesional. Djiwa mengangguk kecil lalu menarik kembali tangannya. “Anak-anak saya baik-baik, kok. Tidak nakal,” katanya santai. “Sepertinya tidak akan terlalu sulit mengajari mereka.” “Baik, Bu,” sahut Bagas. “Kalau begitu, bisa mulai sekarang saja?” lanjut Djiwa. “Kebetulan anak-anak sedang ada tugas dari sekolah.” Ia melirik jam dinding sebentar. “Tapi mulai besok kita atur dari sore hari saja. Hari ini karena mereka baru pulang sekolah, jadi dimulai siang ini.” “Tentu, Bu,” jawab Bagas segera. “Saya akan menyesuaikan jadwal dengan kegiatan anak-anak.” Djiwa kemudian menoleh ke arah ketiga anaknya yang sejak tadi
“Cemburu? Gimana rasanya? Sakit, hm?” Kaisar mendekat dengan senyum miring, tatapan dinginnya menusuk. Tubuhnya menutup seluruh ruang di antara mereka, Fairish sudah terkurung di antara dada Kaisar dan dinding. Napasnya tercekat. “K-Kaisar, jangan kayak gini … nanti ada yang lihat,” bisik Fairish
“Silakan duduk, Mi,” ucap Kaisar seraya menarik kursi untuk sang ibu, Sekar. Makan malam kali ini terdapat tiga kursi kosong. Milik Radja, Sultan, dan juga Djiwa. Hal itu menarik perhatian Sekar untuk bertanya. “Ke mana pemilik kursi itu?” Sekar menatap Inggrit, Fairish, dan juga Kaisar secara be
Djiwa terkejut, matanya membelalak, namun sesuatu dalam cara pria itu menciumnya membuat tubuhnya mendadak kehilangan kemampuan untuk menolak. Dan sebelum ia sempat memahami apa yang sebenarnya sedang terjadi, Radja menelusupkan tangan besarnya ke dalam roknya—membuat Djiwa membelalak. Djiwa meng
Pukul sebelas siang, Djiwa terbangun dari tidur nyenyaknya selama dua jam. Ketika dia mengangkat kepalanya, lehernya seketika ngilu karena posisi tidurnya yang sambil duduk. Tangannya juga kesemutan sampai dia tak bisa menggerakannya dengan benar. “Aduh!” rintihnya pelan, sambil terus membenarkan







