تسجيل الدخولSetelah membersihkan diri pasca-aktivitas intim di kamar mandi, mereka beristirahat di balkon kamar. Sore itu terasa hangat. Dinara menyandarkan kepalanya di dada Elang, sementara pria itu melingkarkan lengannya di perut Dinara.“Malam itu... aku merasa sudah kehilangan segalanya,” ujar Elang tiba-tiba, seolah baru saja menemukan keberanian untuk menjawab pertanyaan Dinara sebelumnya.Dinara terdiam, memberikan ruang bagi Elang untuk melanjutkan ceritanya.“Dikhianati oleh orang-orang yang paling aku percaya dan terjebak dalam tuntutan yang tidak masuk akal,” lanjut Elang dengan suara rendah yang sedikit berat. “Aku merasa kehilangan arah, seolah hanya bertahan hidup tanpa tujuan. Tidak ada gairah sama sekali dalam diriku.”Dinara mengubah posisi duduknya agar bisa menatap wajah suaminya secara langsung.“Bahkan aku tidak berminat untuk menyentuh Karin atau perempuan mana pun,” tambah Elang. Ia menatap Dinara dengan pandangan yang jauh lebih tenang dibandingkan malam pertama mereka di
Mobil hitam itu perlahan memasuki halaman sebuah rumah yang sangat artistik. Arsitekturnya terlihat modern namun tetap hangat dengan sentuhan kayu dan pencahayaan yang tertata apik. Dinara menatap ke luar jendela dengan dahi berkerut, merasa asing dengan lingkungan perumahan elit yang sangat tenang ini.“Kita ke rumah siapa ini, Mas?” tanya Dinara penasaran.“Ini rumah kita,” jawab Elang singkat.Dinara menoleh tak percaya ke arah suaminya. “Rumah kita? Aku pikir kita akan ke apartemen.”Elang menatap mata Dinara dalam-dalam saat mobil berhenti sempurna di depan teras. “Aku ingin kamu punya ruang yang lebih lega, tempat di mana kamu bisa merasa senang dan aman.”Bastian turun lebih dulu untuk membukakan pintu bagi mereka. Begitu Dinara melangkah keluar, ia disambut oleh tanaman bunga yang indah dengan desain taman minimalis yang menyejukkan mata.“Rumah ini sudah atas namamu,” tambah Elang sambil merangkul pinggang Dinara, membimbingnya menuju pintu utama yang besar.Dinara nyaris ter
“Jika Dinara mendapatkan mahar satu unit rumah, apakah saya juga bisa dibelikan rumah?” tanya Ibrahim tanpa basa-basi.“Abang!” Dinara menyela dengan nada tak percaya. Ia merasa kakaknya benar-benar memanfaatkan keadaan.Namun, Elang tetap tenang. Ia menatap Ibrahim dengan raut wajah yang sulit ditebak. “Abang tenang saja, saya tidak akan membiarkan keluarga Dinara dalam kesulitan.”Jawaban itu seketika membuat senyum Ibrahim mengembang lebar. Ia merasa telah mendapat jaminan yang pasti dari calon adik iparnya yang kaya raya ini.“Baiklah kalau begitu. Ayo, siap menikah sekarang?” tanya Ibrahim penuh semangat.Elang mengangguk dan mendekati Ibrahim. Saksi-saksi yang sudah menunggu segera dipersilakan masuk ke dalam ruangan yang terbatas itu. Bastian duduk dengan tegap di sisi kanan Elang sebagai saksi dari pihak pria.Prosesi akad pun dimulai. Elang hanya membutuhkan satu kali latihan singkat sebelum akhirnya dengan mantap mengucapkan kalimat ijab kabul di depan Ibrahim. Suaranya terd
Dalam perjalanan menuju rumah Ibrahim, Elang meminta sopir berhenti beberapa kali. Ia turun untuk membeli berbagai macam hantaran; mulai dari aneka makanan, parsel buah-buahan segar, hingga rangkaian bunga yang indah. Dinara berkali-kali mengingatkannya bahwa bawaan itu sudah terlalu banyak, namun Elang bersikeras. Ia ingin memberikan kesan pertama yang tak terlupakan bagi calon kakak iparnya.Setibanya di depan rumah kontrakan Ibrahim, Dinara tertegun. Suasananya tampak jauh lebih ramai dari biasanya, rupanya kakaknya telah mengundang tetangga dekat rumah untuk ikut berkumpul.Di antara kerumunan itu, sebuah mobil hitam sudah terparkir rapi di bahu jalan. Seorang pria berbadan kekar dengan penampilan serba hitam keluar dari balik pagar dan langsung menghampiri mobil yang ditumpangi Elang dan Dinara. Dengan sigap, ia membukakan pintu dan menyambut kedatangan bos besarnya.“Pak Elang,” sapa pria itu dengan nada suara yang tegas dan berwibawa.Elang turun dari mobil, menyambut uluran ta
Untung saja, letak kursi Pak Baskoro berada di barisan yang sangat jauh dari jangkauan pandangan mereka, sehingga Elang merasa memiliki ruang privasi kembali. Begitu pesawat mulai bergerak, Elang langsung meraih tangan Dinara di bantalan lengan.Dinara sempat terperanjat. Ia mencoba menarik tangannya perlahan begitu pesawat sudah mengudara, merasa waswas jika ada kenalan yang menyadari kedekatan mereka. Namun, Elang tidak membiarkannya lepas. Dengan gerakan sigap namun tenang, ia kembali meraih jemari Dinara, menautkannya dengan kuat dan menguncinya di atas bantalan lengan.“Mas, nanti ada yang lihat...” bisik Dinara pelan, matanya melirik ke arah penumpang lain.“Tidak ada, kita jauh dari jangkauan pandangan Baskoro,” jawab Elang santai. Ia bahkan tidak menoleh, matanya tetap menatap lurus ke arah layar monitor di depannya, namun genggamannya bicara lebih banyak dari kata-kata.Setiap kali Dinara mencoba menarik tangannya karena merasa canggung, Elang justru semakin mempererat kuncia
Pagi harinya, suasana kamar hotel yang sempat hangat oleh kemesraan semalam berubah menjadi sedikit tegang. Elang sudah berdiri di depan cermin, merapikan setelan kemejanya dengan raut wajah yang kembali kaku dan profesional. Sosok CEO yang tidak tersentuh kembali muncul. Sementara itu, Dinara sedang mengemasi pakaiannya ke dalam ransel. Gaun semalam tidak muat di ranselnya, ia memasukkannya ke koper Elang. Sambil sesekali melirik cincin emas putih di jarinya yang berkilau terkena sinar matahari pagi.“Sudah siap?” tanya Elang tanpa menoleh, namun matanya tetap mengawasi gerak-gerik Dinara dari pantulan cermin.“Sudah, Mas,” jawab Dinara pelan. Ia masih merasa sedikit kikuk menggunakan panggilan itu, meski hatinya merasa jauh lebih tenang setelah komitmen semalam.Elang menghampirinya, meraih dagu Dinara dan mengecup bibirnya singkat. “Ingat, panggil aku Mas saat kita berdua saja,” Elang memastikan aturan baru itu melekat di benak Dinara, “Dan setelah mendarat nanti, kita langsung me
Dinara tak menyangka Elang berani melakukan ini di kantor, di ruangannya. Baru saja Paman serta istrinya keluar ruangan ini. Bagaimana jika mereka kembali.Dinara berusaha mendorongnya tubuh Elang, tapi tubuh itu begitu kokoh. Tenaganya tak sebanding dengan tenaga bosnya itu.Elang menghisap bibir
Setengah jam kemudian, Dinara dan Julia sampai di gedung SHG. Mereka sama-sama ke atas, setelah parkir motor. Mereka sedikit berlari karena jam masuk kantor sudah habis. Julia lebih dulu keluar lift di lantai tiga, Dinara masih lanjut hingga lantai paling atas.Sebelum kembali ke ruangannya, Dinara
Di dalam sebuah mobil, Karin duduk dipangkuan pria yang bersamanya tadi. Mereka saling berhadapan. Bibir mereka bertautan. Si pria berusaha melepaskan kemeja Karin, tapi Karin menahannya agar tidak terlepas. Hanya kancing-kancingnya saja yang sudah terbuka.Pria itu juga menyesap bagian leher Karin
Pagi ini, Elang mengganti perban luka Dinara dengan yang anti air. Jadi Dinara tak perlu dimandikan lagi. Ada rasa lega, tapi sedikit kehilangan juga karena dimandikan Elang itu sensasi berbeda. Kebiasaan selama tiga hari ini membuat Dinara makin kecanduan sentuhan bosnya sendiri.‘Tidak, tidak! Ak







