MasukGila. Freya benar-benar gila karena terlena oleh kakak iparnya. Ini tidak benar. Seharusnya dia bisa tetap mempertahankan kewarasannya, tapi yang terjadi justru di luar prediksi. Napas Freya terdengar berat dan penuh rasa bersalah.Menenggelamkan tubuhnya di dalam bathup sambil memejamkan mata. Sampai tidak sadar ada yang masuk dalam kamarnya.Maverick membuka kamar Freya dengan kartu akses cadangan, khawatir karena wanita itu tidak turun ke restoran untuk makan malam bersama rekannya yang lain. Panggilan tidak dijawab, begitu juga dengan bel yang sudah ditekan berulang kali.Tidak ada tanda-tanda Freya di dalam kamar. Ranjang masih terlihat rapi dan bersih. Lalu melihat pintu kamar mandi yang tertutup rapat, Maverick coba mengetuk dan memanggil beberapa kali. Namun, tak ada sahutan.“Sialan, ke mana dia?”Maverick berbalik, tapi langkahnya kembali lagi. Dia buka pintu kamar mandi dengan keras, suara pintu yang menabrak dinding membuat Freya tersentak kaget dengan mata melotot.Suara
“Waktu kalian terbatas, jadi saya tidak akan bertele-tele.” Suara baritonnya langsung menguasai ruangan.Beberapa dokter duduk dengan ekspresi serius, sementara di depan, Maverick berdiri dengan tenang—tatapannya tajam menyapu ruangan.“Alat yang akan kalian gunakan adalah sistem navigasi bedah saraf berbasis AI. Teknologi ini mampu memetakan area otak secara real-time dengan akurasi tinggi—bahkan hingga milimeter terkecil.” Dia menekan remote. Tampilan otak 3D muncul, berputar perlahan di layar. “Kesalahan kecil dalam bedah saraf bisa berakibat fatal. Sistem ini dirancang untuk meminimalisir risiko itu. Ia membaca pergerakan tangan kalian, memprediksi lintasan, dan memberi peringatan sebelum kalian membuat kesalahan.”Beberapa dokter terlihat terkesima. Namun, Freya justru langsung bertanya, “Seberapa besar margin error-nya?”Beberapa dokter saling pandang mendengar pertanyaannya.Maverick menoleh, tatapannya mengunci Freya yang juga melihatnya.“Kurang dari satu milimeter.”Freya me
Freya berdiri di depan cermin, merapikan penampilannya. Wajahnya terlihat sedikit pucat, tapi sorot matanya kembali tajam. Dia tidak akan membiarkan siapa pun mengacaukan hidupnya.Freya menghela napas pelan. “Fokus,” gumamnya pada diri sendiri.Namun, semua rencana itu hancur dalam sekejap begitu salah seorang perawat menghampirinya. “Dok, Anda dipanggil ke ruang direktur.”Freya mengernyit. “Sekarang?”Perawat itu mengangguk cepat. “Iya, sepertinya penting.”Freya tidak banyak bertanya. Dia langsung melangkah menuju ruang direktur.“Ini, Dokter Freya!”“Masuk.”Freya membuka pintu. Namun, langkahnya langsung terhenti di ambang pintu dengan mata melebar. Jantungnya seperti berhenti berdetak. Di dalam ruangan itu—bukan hanya direktur rumah sakit yang duduk di sana. Ada seseorang lagi. Duduk santai di kursi tamu, dengan kaki menyilang, seolah tempat itu miliknya.Pria itu.Senyum tipis terukir di bibirnya saat mata mereka bertemu.“Selamat pagi, Dokter Freya.”Suasana ruangan terasa me
Clara yang sejak tadi duduk di samping Freya akhirnya menoleh, mengamati pria yang berdiri begitu dekat dengan sahabatnya. Tatapannya menyipit, penuh curiga.Clara memandang keduanya bergantian. Atmosfer di antara mereka terlalu tegang untuk disebut biasa. Terlalu dalam untuk sekadar dikenalkan sebagai kenalan.“Okay… aku rasa aku butuh udara sebentar,” gumam Clara, berdiri pelan. “Kalian sepertinya punya urusan.”Freya tidak mencegah. Tidak juga menahan. Karena dia tahu apa pun yang terjadi setelah ini, bukan sesuatu yang bisa dibagikan dengan orang lain.Begitu Clara menjauh, Maverick langsung mengambil alih ruang itu. Duduk di kursi yang baru saja ditinggalkan Clara tanpa permisi. “Cuti masih cukup lama, kenapa mendadak kembali?”“Tidak apa, hanya bosan saja,” sahut Freya singkat. Dia menyandarkan punggungnya, menatap lurus ke depan. Tidak pada Maverick atau siapa pun. “Kenapa pula kau juga ada di sini? Seharusnya kau masih menikmati waktu bersama istrimu.”Maverick tersenyum. Sen
Langit siang tampak cerah, terlalu cerah untuk suasana hati Alula yang kusut. Dia turun dari mobil dengan langkah cepat, seolah ada sesuatu yang ingin segera dicapai.“Non Alula,” sapa salah satu pelayan dengan sopan saat pintu dibukakan.Alula hanya mengangguk singkat. “Rora di mana?”Pelayan itu terlihat ragu sejenak. “Kurang tahu, Non.”Alula mendecak pelan. Tanpa banyak bicara, dia langsung melangkah masuk ke dalam rumah. Sepatu haknya beradu dengan lantai marmer, menciptakan bunyi berulang—cepat, tajam, gelisah.Ruang keluarga kosong. Ruang makan sepi. Tak ada tanda-tanda Freya di dalam rumah. Begitu pun di paviliun. Kamarnya terkunci dan saat Alula mengetuk berulang kali, tak ada sahutan sama sekali.“Apa Rora keluar, ya.”Biasanya Freya akan duduk di salah satu sudut rumah dengan buku atau laptopnya. Diam dan tenang seolah dunia di sekitarnya tidak pernah cukup menarik untuk diikuti.Langkah Alula berbelok menuju kamar orang tuanya.Tok! Tok! Tok!“Masuk,” suara Nadya terdengar
Lorong rumah utama tampak sepi. Lampu-lampu dinding menyala temaram, memantulkan bayangan panjang di lantai marmer yang dingin.Freya berjalan pelan. Langkahnya ringan, tapi pikirannya berat. Dia hanya ingin mengambil ponselnya yang tertinggal di meja makan, lalu kembali ke paviliun.Namun, langkahnya terhenti saat mendengar suara nada tinggi, tertahan dan penuh emosi. Suara familiar yang berhari-hari ini didengar ketika kembali ke rumah.Freya tidak berniat menguping, tapi ketika namanya disebut dalam perdebatan, dia berhenti untuk mendengarkan lebih jauh.“Rora bukan anak kecil yang bisa Ibu atur sesuka hati.”“Hanya karena kau bukan ibu kandungnya, bukan berarti kau tidak bisa ikut mengambil keputusan dalam hidupnya.”“Aku memang bukan ibu kandungnya dan tidak punya hak mengatur hidupnya, Bu. Dia sudah sangat dewasa dan matang untuk menentukan pilihan.”“Kau terlalu membelanya,” potong Areta cepat. “Itulah kenapa dia jadi seperti sekarang. Keras kepala dan sulit diatur.”Freya ters







