LOGIN“Aku baru saja keluar dari area operasi.”“Aku melihat wanita yang pakaiannya mirip denganmu bersama Maverick.”“Hah?” tanyanya setenang mungkin.Freya refleks menunduk melihat pakaian yang dikenakannya. Kemeja putih tulang dan blazer krem sederhana. Sangat normal. Sangat umum. Namun, kalimat Alula tetap membuat dadanya menegang sepersekian detik.Apakah Alula memergokinya saat tengah berpelukan dengan Maverick tadi? Tidak, tidak mungkin.Alula melipat tangan di dada sambil terus memperhatikan ekspresi adiknya. Mencari kebohongan yang mungkin saja terlihat.Freya mendengus pelan. “Jadi sekarang semua wanita berblazer krem adalah selingkuhan suamimu?”“Aku serius, Rora.”“Kau seperti melempar tuduhan tanpa bukti padaku. Jika kau tak percaya padaku, silakan tanyakan pada asistenku apa saja jadwalku hari ini.”Freya bersandar di dinding sambil mengamati Alula yang terlihat frustrasi. Wanita yang kemarin memuji suaminya dan mengagungkan hidup sempurna, kini harus menelan ucapannya lagi. N
“Anda terlalu cepat mengambil keputusan, Tuan Winston.”“Sejak awal saya mengagumi Anda.” Julian Winston menatap Freya dalam. Ada keseriusan di balik ucapannya.“Terima kasih untuk kejujuran Anda, tapi saat ini saya sedang tidak ingin menjalin sesuatu yang lebih dari sekadar kenal. Maaf,” jawab Freya apa adanya.“Saya tidak memaksa, hanya bicara apa adanya saja. Mohon pembicaraan ini tidak membuat Anda menjauhi saya lain kali.”Mereka tidak jadi makan di mall dan memutuskan pergi ke restoran tepat di samping mall. Mereka kembali berjalan ketika Jolie selesai meletakkan barang belanjaannya ke mobil.Suasana restoran cukup ramai karena mereka datang tepat di waktu jam istirahat perkantoran.Selesai memesan, mereka kembali mengobrol. Ketika makanan datang, mereka makan dengan tenang lalu kembali mengobrol setelah selesai menandaskan makanan terakhir.Lalu saat matanya menoleh ke arah rombongan para pria berjas yang baru saja keluar dari lorong menuju private room, Freya terkejut saat mat
Meski semua dokter dan para perawat bergantian menjenguk Jane, tak sedikitpun Freya ingin ikut melihat keadaannya.Dalam beberapa hari berita tentang skandal memalukan itu telah lenyap. Tidak ada yang membicarakannya lagi. Keluarga Whitmore memberikan peringatan di ruang publik bagi siapa pun yang masih membagikan, menyimpan atau dengan sengaja membahasnya di media sosial, mereka akan menempuh jalur hukum.Peringatan itu didukung langsung oleh keluarga Archer. Tidak ada yang berani bertanya tentang keaslian video tersebut karena keluarga Archer berhasil membuat publik berspekulasi jika itu hanya rekayasa. Karena di mata publik, hubungan mereka masih terlihat baik-baik saja sampai saat ini.Namun, itu hanya citra. Yang sebenarnya terjadi, Morice bahkan enggan bicara dengan Jane. Wanita paruh baya itu menyesal karena mendukung Anthony putus dengan Freya dan membiarkannya bersama Jane. Seandainya saja tak ada pengkhianatan, semuanya tidak akan menjadi seperti ini.Tidak ada gunanya menye
Freya refleks menyentuh pipinya sebentar sebelum tersenyum kecil. “Tadi tidak sengaja terkena hair dryer saat mengeringkan rambut, Oma.”Alula langsung menahan napas. Berbohong di depan Isabella bukan hal mudah. Wanita tua itu terlalu jeli untuk dibohongi sembarangan. Namun, Freya justru terlihat santai. Sangat santai sampai Alula semakin tidak nyaman sendiri.“Benarkah?” ulang Isabella pelan sambil menyipitkan mata.“Iya, Oma. Aku ceroboh.” Freya membuka pintu lebih lebar. “Masuk dulu?”Isabella akhirnya masuk perlahan ke dalam kamar. Tatapannya kembali menyapu wajah kedua wanita muda itu bergantian. Atmosfer di ruangan itu terlalu aneh untuk disebut normal. Alula berdiri kaku di dekat ranjang. Sementara Freya justru terlihat tenang sambil mengambil segelas air minum.“Kalian ini sudah dewasa,” ucap Isabella akhirnya. “Jangan bertengkar hanya karena hal sepele. Jika ada masalah selesaikan dengan kepala dingin.”“Kami tidak bertengkar, Oma. Hanya sedikit salah paham saja. Benar ‘kan,
Freya menginap di mansion atas desakan Isabella. Alula sebenarnya tak setuju, tapi dia bisa apa jika sang tetua sudah memberi perintah. Mau tak mau walau sebenarnya tak rela Alula bersikap sebagai saudara yang baik.Seperti pertama kali saat Freya menginap di sana, tanpa diminta Alula menyerahkan satu set piyama miliknya.Alula masuk ke kamar tamu, duduk di ujung ranjang sambil menatap Freya kesal. Sejak kedatangan adiknya itu, Isabella tak berhenti memuji. Selalu saja seperti itu. Freya selalu mengambil perhatian orang lain dan itu membuatnya muak.“Ada yang mau kau katakan?” tanya Freya santai. Dia benar-benar menikmati kekesalan Alula.“Pergi bersama suamiku, sikapmu itu sungguh tidak pantas, Rora.”Freya yang tengah menyisir rambut di depan meja rias, menatap pantulan Alula di depan cermin. “Dari segi mana yang tidak pantas? Aku dan kakak ipar hanya kebetulan berada di tempat yang sama, lalu dia mengajakku makan malam bersama. Kami tidak hanya berdua, ada asistennya.”“Tapi tetap
Anthony tersenyum pahit mendengar ucapan itu. Tidak ada bantahan. Karena jauh di dalam dirinya, pria itu tahu Freya benar.Dulu dia memilih Jane dengan penuh keyakinan. Mengabaikan Freya yang selalu ada untuknya. Menganggap cinta wanita itu terlalu tenang dan membosankan dibanding gairah yang diberikan Jane. Dan sekarang semua orang menertawakannya.“Aku pantas mendapatkannya, ya?” tanya Anthony lirih.Freya menghela napas kecil. “Aku bukan Tuhan yang berhak menghukummu, Anthony. Jadi jangan mencariku hanya untuk mengeluh.” Pria itu tertawa hambar. “Kau berubah.”“Semua orang berubah.”Tatapan Anthony turun pada wajah Freya beberapa detik terlalu lama. Wanita itu tampak jauh lebih hidup sekarang. Cantik. Dingin. Sulit disentuh. Dan itu membuat penyesalan di dadanya semakin menyesakkan.“Apakah ada pria lain?” tanya Anthony tiba-tiba.Freya langsung menatapnya datar. “Pertanyaanmu tidak penting.”“Itu berarti ada.”Freya tersenyum tipis, tapi tidak menjawab. Dia justru melirik jam tan
“Kau mau ke mana, Mave?”“Pulang.”“Tapi acaranya belum selesai.”“Kalau kau masih mau di sini silakan. Aku akan mengajak Oma pulang.”Alula menahan tangan Maverick, kepalanya mendongak untuk bisa melihat mata pria itu. “Aku tahu kau tak sabar pergi ke suatu tempat, tapi tunggulah sebentar. Ini aca
“Rick!”Freya memekik tertahan ketika dia yang tengah sibuk di dapur mendapatkan pelukan tiba-tiba dari Maverick yang kedatangannya sama-sama sekali tidak terdengar.“Sedang apa?”“Aku memasak. Perutku lapar, Rick.”Waktu sudah menunjukkan pukul sepuluh. Belum
“Dok, Anda tidak terima undangan dari Nona Jane?”“Tidak, mungkin juga tidak diundang.”Freya masih terus berjalan meski Sarah terus berbicara di belakangnya. masih sangat pagi untuk bergosip, lagipula membicarakan pria itu justru membawa energi negatif saja.Senyum dia berikan saat sedang visit ke
Sore menjelang malam ketika Alula tiba di mansion setelah bertemu Jane. Wajahnya masih tampak pucat meski makeup berusaha menyamarkan bekas tangis dan emosinya tadi siang.Isabella yang ada di ruang santai, tersenyum melihat cucu menantunya baru saja tiba. Wanita tua itu senang dengan Alula yang ta







