MasukSisa-sisa ketegangan masih merayap tebal di udara, membelenggu setiap sudut ruang baca kediaman Manggala.Saifanny dan Mawar saling mengunci tatapan dalam keheningan yang mencekam selama beberapa detik.Tatapan teler yang tadinya menghiasi manik mata Mawar kini menguap sepenuhnya, berganti menjadi sorot mata jernih namun sarat akan kelelahan jiwa.Mawar menghembuskan napas pelan, memperbaiki posisi duduknya menjadi lebih tegak dan anggun. Sebuah senyuman tipis yang tulus—tanpa kepalsuan—terlukis di bibirnya yang pucat."Kamu orang kedua yang menyadari kalau aku hanya berakting, Saifanny," mulai Mawar dengan nada suara yang begitu lembut namun rapuh.Saifanny mengedipkan matanya perlahan. Detak jantungnya yang sempat berpacu kencang perlahan menata ritme.Ia membatin, pasti ada alasan teramat kelam yang memaksa seorang wanita anggun seperti Mawar bersandiwara menjadi pemabuk di rumah mertuanya sendiri."Kamu tahu siapa orang pertama yang tahu kalau aku hanya berpura-pura?" Lanjut M
Saifanny melangkah menyisuri interior kamar tamu kediaman Manggala, mengedarkan pandangan dengan binar mengagumi yang ia tahan sedemikian rupa. Sebagai wanita yang tumbuh dan lama berinteraksi di lingkaran elit, ia paham betul betapa keluarga Manggala mematok standar dekorasi yang tinggi—serba elegan, simetris, namun menyimpan aura dingin yang intimidatif. Di tengah kesibukan Saifanny mengamati tiap sudut ruangan, Syahdan mendadak menarik ujung lengan bajunya. Anak laki-laki itu menatap ibunya dengan sepasang mata bulat yang dipenuhi keraguan. "Ma, kita nginep di sini? Gak di hotel?" Tanya Syahdan pelan. Pertanyaan ganjil itu sebenarnya sudah mengendap di kepalanya sejak mereka meninggalkan area waterpark. Saifanny berjongkok sedikit, mengulas senyum menenangkan seraya mengusap pundak putranya. "Iya, Sayang. Sementara kita nginep di sini," jawab Saifanny singkat, mencoba menyamarkan gemuruh cemas di dalam dadanya. "Kalian bisa menginap selama mungkin di sini," potong sebuah s
Matahari siang membakar T-City tanpa ampun, memancarkan silau yang memantul tajam di atas permukaan air kolam yang jernih.Di area waterpark yang riuh oleh gelak tawa pengunjung, Syahdan dan Mabelle tampak mengapung gembira, saling melempar bola air plastik di bawah pengawasan para penjaga pantai.Sementara itu, di tepi kolam, Saifanny dan Marcus duduk berdampingan di atas kursi malas yang ternaungi payung pantai raksasa.Saifanny menarik topi pantainya agak menunduk ke bawah, menutupi keningnya dari sengatan radiasi matahari. Ia sudah menduga bahwa cuaca terik T-City akan terasa menusuk bagi kulit dan penglihatannya.Di sebelahnya, Marcus duduk santai dengan senyum cerah yang terus menyungging. Pria itu tampak menikmati pemandangan di hadapannya—sesuatu yang dalam halusinasinya terasa seperti gambaran keluarga bahagia yang utuh."Tempat ini terlihat berbeda dari terakhir kali kita kemari. Arenanya lebih banyak dan luas," ujar Saifanny membuka percakapan basa-basi, berusaha mengali
Sinar matahari pagi membias di atas deretan kendaraan yang terparkir rapi di pelataran kantor Utama Group.Usai memarkirkan mobilnya, Yudi melangkah mantap menuju pintu utama gedung pencakar langit tersebut.Langkahnya sempat tertahan sejenak saat melewati pos penjagaan depan. Dua orang rekan sesama tim keamanan melambaikan tangan dengan gestur maskulin khas mereka—sebuah teguran tanpa kata yang dibalas Yudi dengan anggukan kepala singkat.Kedatangan Yudi ke kantor Utama Group pagi ini bukanlah untuk menyampaikan rincian perkembangan perburuan Ririn kepada Rivan, sang kepala tim keamanan.Panggilan ini bersifat pribadi dan sangat mendadak, datang langsung dari Andien—adik kandung Adrian yang sekaligus merupakan salah satu atasan di struktur perusahaan.Di balik langkah kaku yang diayunkannya, batin Yudi tak terlalu banyak bertanya-tanya. Pria itu sudah memprediksi alur yang akan terjadi.Ia sangat paham bahwa Andien memanggilnya secara langsung hanya untuk satu alasan: mengorek in
Pagi hari yang diselimuti kabut tipis membungkus kawasan pemukiman mewah itu dalam keheningan yang mencekam.Dari balik semak-semak tinggi di seberang jalan, seorang pria muda berseragam serba hitam tampak tiarap, mengamati setiap celah pergerakan rumah di hadapannya menggunakan teropong jarak jauh berpresisi tinggi.Tak!Sebuah tepukan mendarat cukup keras di bahunya, membuat anggota muda itu terperanjat kaget sebelum refleks menahan napasnya agar tak menimbulkan suara.Ia menoleh cepat, mendapati sang senior tengah menatapnya dengan raut wajah serius nan lelah."Sekarang sudah jam lima lewat, mending kamu shalat dulu sana. Aku yang akan mengawasi pergerakan orang-orang di rumah itu," perintah sang senior dengan bisikan bernada rendah.Petugas junior itu mengangguk patuh. Ia memundurkan tubuhnya secara perlahan seraya menyerahkan teropong jarak jauh tersebut ke tangan seniornya.Sudah tiga hari penuh ia dan empat anggota tim keamanan lainnya bergan
Suasana di dalam ruang kerja panti jompo yang semula kaku mendadak berubah manis di mata Marcus. Senyuman lebar tak henti-hentinya tersungging di bibir pria itu, memancarkan binar kebahagiaan narsistik saat menatap sosok Saifanny yang duduk di hadapannya. "Jadi... Kapan kita akan berangkat?" Tanya Marcus dengan tatapan mata hangat yang sarat akan binar optimisme. Saifanny terdiam sejenak, mengunci jemarinya di bawah meja untuk menyembunyikan getaran taktis di tangannya, sebelum kembali menatap Marcus. "Ayo kita berangkat besok pagi saja," jawab Saifanny seraya mengangguk pelan. Marcus sedikit terkejut dengan keputusan mendadak itu. Keningnya berkerut rapat. "Secepat itu?" Tanyanya kebingungan. Saifanny mengangguk mantap. "Iya, lebih cepat, lebih baik, kan?" Sahut Saifanny seraya memiringkan kepalanya, memasang raut wajah polos tanpa dosa yang sempurna. Marcus mengangguk cepat. Sepasang matanya memancarkan binar penuh semangat yang sulit dibendung. Pria itu tiba-tiba ber
Saifanny menjalankan sepeda motornya menuju kantor Zain. Ia ingin melihat dengan mata kepalanya sendiri wujud dari wanita itu. Dengan perasaan campur aduk, ia memarkirkan motornya. Sudah lama ia tidak menginjakkan kaki di kantor ini, mungkin sejak ia mengumumkan akan mengundurkan diri untuk menikah
Lantai 3 Hotel Anggrek. Aroma pengharum ruangan khas hotel terasa menyengat di hidung Saifanny. Ia berdiri di depan kamar 308, menggenggam sebuah kunci yang didapatkannya setelah mengelabui seorang resepsionis dengan alasan telah kehilangan kuncinya. Begitu memasuki kamar, Saifanny membeku. Suamin
Saifanny sebenarnya tidak peduli jika Adrian tahu ia datang ke kantor secara diam-diam. Ia menyadari dirinya memang terlihat seperti pencuri saat itu, mengendap-ngendap dan mengintai suaminya sendiri. Namun bagi Saifanny, mencari kebenaran bukanlah sebuah kejahatan. Adrian mengirim pesan lagi. Pri
Hari telah berlalu dan Saifanny terus memandangi ponselnya. Belum ada pesan masuk dari wanita itu. Ia sempat berpikir, apa mungkin Ranaya melapor kepada suaminya? Namun, jika wanita itu melapor, ia tidak mungkin memberikan nomor teleponnya sejak awal. Saifanny mencoba mengalihkan perhatiannya pada







