Share

BAB 3

Author: Zakia
last update publish date: 2026-02-24 16:37:44

Kini Saifanny berdiri di depan kantor suaminya sambil menenteng kotak makan bertingkat berwarna biru. "Rasanya aneh kembali ke sini secara terang-terangan" Batinnya. Tujuannya kali ini adalah untuk mengajak wanita itu berkenalan, demi mewujudkan rencana berikutnya: mencari lebih banyak informasi tentangnya.

Saifanny menatap logo perusahaan yang sepertinya sudah lama tidak dibersihkan. Logo berwarna emas itu bertuliskan UG, kepanjangan dari Utama Group. Ia pernah bekerja di sini selama lebih dari tujuh tahun sebelum akhirnya memutuskan untuk menikah dan mengundurkan diri. Entah apa yang ia pikirkan saat itu, mungkin ia memang hanya ingin melarikan diri.

Setelah menyapa dua petugas keamanan di depan gerbang, seorang pegawai wanita menghampirinya.

“Kak Sai? Kamu Kak Sai, kan?” wanita itu memastikan.

Pegawai itu adalah Eli, yang dulu pernah satu tim dengan Saifanny. Saat Saifanny masih bekerja di sana, Eli masih berstatus magang, namun sekarang ia sudah menjadi pegawai tetap. "Good for her", batin Saifanny.

Eli tiba-tiba memegang tangan Saifanny. “Kak, sudah lama tidak ke sini. Kakak mau bertemu Pak Zain, ya?” goda Eli sambil menempelkan bahunya ke bahu Saifanny.

Saifanny hanya tersenyum melihat tingkah Eli yang masih sama seperti dulu. Mereka berjalan bersama menuju ruang kantor suaminya. Eli terus mengocehkan hal-hal yang tidak terlalu dimengerti Saifanny, yang hanya dibalas dengan anggukan sopan.

Sesampainya di ruangan, Eli berteriak kepada beberapa pegawai senior yang tampaknya sedang bersiap untuk makan siang. Mereka segera mengerumuni Saifanny dan melontarkan banyak pertanyaan.

Saifanny melirik sekilas ke arah meja suaminya, Zain sepertinya belum menyadari kehadirannya. Ia juga melirik ke meja wanita itu. Di tanda pengenalnya tertulis nama: RANAYA SAPUTRI.

Saifanny cepat-cepat mengalihkan pandangan karena Ranaya sempat meliriknya sekilas. Ketika Eli mengajaknya makan siang bersama tim, Saifanny menolak dengan sopan. Tanpa ia sadari, Zain sudah berdiri beberapa sentimeter di depannya. Saifanny tersenyum dan melambaikan tangan.

Satu per satu pegawai meninggalkan mereka untuk memberi ruang pribadi. “Lain kali makan bareng kita ya, Kak,” ucap Eli sebelum pergi.

Zain menatap istrinya dengan heran, tidak menyangka Saifanny akan muncul di kantor. “Aku bawakan makan siang,” ucap Saifanny sambil mengangkat dan menggoyangkan kotak makan di tangannya.

Saifanny yakin Zain pasti berencana makan di luar bersama Ranaya, karena wanita itu masih berada di dalam ruangan. Mereka kemudian duduk di sofa ruang istirahat. Saifanny meletakkan kotak makan dan membongkarnya di atas meja. Ia melirik Zain yang sedang mengeluarkan ponsel, kemungkinan sedang mengirim pesan kepada wanita itu.

Zain mulai makan dengan lahap, seperti orang kelaparan. “Tumben kamu masak? Sampai membawakan makanan ke kantor segala,” ujarnya di sela kunyahan.

“Lagi ingin saja, sekalian tanda terima kasih soal belanja kemarin. Oh ya, aku belanja daring lagi tadi pagi,” jawab Saifanny santai.

Crrrttttt! Zain menyemburkan makanannya karena terkejut. Saifanny refleks menjauh agar tidak terkena semburan. Dengan cepat Zain mengambil tisu untuk mengelap mulutnya yang belepotan. Saifanny menatap pemandangan itu dengan rasa jijik.

“Sai, istriku, kamu jangan boros-boros atuh. Pengeluaran kita masih banyak, kan?” pinta Zain dengan nada memohon.

Saifanny selalu menahan diri untuk membeli sesuatu setelah menikah, dan ini hanyalah awal. Nanti ia akan membeli sesuatu yang jauh lebih mahal. Ia tidak akan mengampuni pelaku perselingkuhan; anggap saja ini hukuman kecil untuk suaminya.

Saifanny memakan beberapa buah anggur dari kotak bekal. Selesai makan, Zain kembali mengecek ponselnya. Saifanny tidak akan membiarkan suaminya menghabiskan waktu dengan wanita itu kali ini.

“Suamiku, aku sudah lama tidak curhat. Aku mau bahas soal Syahdan,” Saifanny terus mengajak Zain mengobrol hingga beberapa menit sebelum jam istirahat berakhir.

Saat berpamitan pulang kepada semua orang, Ranaya belum juga masuk ke ruangan. Saifanny hampir lupa dengan tujuan utamanya: "berteman" dengan wanita itu. Ia memencet tombol lift, berharap bisa bertemu Ranaya di bawah.

Pintu lift terbuka, namun yang ia temui bukan Ranaya, melainkan Adrian dan sekretaris berkacamatanya. Adrian adalah CEO Utama Group. Saat Saifanny masih bekerja di sana, pria itu menjabat sebagai wakil direktur.

Mereka saling bertatapan selama beberapa detik. Saifanny merasa gugup dan mengalihkan pandangannya.

“Fanny...” Hanya Adrian yang memanggilnya dengan nama itu di kantor ini. Adrian melangkah keluar dari lift dan memegang tangan Saifanny.

Saifanny refleks menarik tangannya. Bagaimana bisa pria itu memegang tangan wanita yang sudah menikah? Saifanny harus menahan diri untuk tidak meladeninya, ia harus cepat turun ke bawah sebelum Ranaya kembali ke atas.

“Maaf, saya harus pergi,” Saifanny buru-buru masuk ke lift, namun ia merasakan sesuatu menyentuh tangannya.

Adrian menyelipkan sebuah kartu nama. “Kartu itu berisi nomor pribadiku. Kumohon, hubungi aku,” ucap Adrian dengan wajah memelas dan tatapan yang dulu sering Saifanny lihat.

Pintu lift tertutup. Saifanny mematung menatap kartu di tangannya. Inilah salah satu alasannya enggan ke kantor: ia tidak ingin bertemu Adrian. Dulu mereka berpacaran selama dua tahun hingga akhirnya putus karena ayah Adrian tidak merestui mereka. Saifanny merasa tidak pernah cukup baik bagi ayah pria itu, sehingga ia memilih menyerah. Adrian tidak pernah tahu bahwa ayahnya sendirilah yang membuat Saifanny mundur. Namun, bagi Saifanny, hal itu sudah tidak penting lagi.

Lift terbuka di lantai bawah. Dugaannya benar, Ranaya sedang duduk di kafetaria bersama teman-temannya. Saifanny duduk di kursi dekat lift, menunggu waktu yang tepat. Saat Ranaya berjalan mendekat, Saifanny mulai beraksi.

Brak!

Saifanny sengaja menabrakkan dirinya pada Ranaya. Kotak makan yang ia pegang diarahkan sedemikian rupa hingga sisa kuah supnya tumpah mengenai baju wanita itu. Saifanny berpura-pura panik dan segera meminta maaf.

“Ah, maaf! Kuahnya kena baju kamu,” Saifanny menyodorkan tisu dengan wajah cemas. Ranaya mengambil tisu itu dan mengelap bajunya dengan kasar, wajahnya tampak memendam amarah.

“Terima kasih tisunya, Kak,” ucap Ranaya sambil menunduk sedikit, bersiap untuk pergi.

Saifanny tidak membiarkannya lepas begitu saja. Ia meraih tangan Ranaya. “Gimana kalau saya ganti rugi biaya cucinya? Itu kayaknya baju mahal, kan?” Baju mahal yang mungkin dibelikan suamiku, batin Saifanny pedas.

Saifanny mengeluarkan ponselnya. “Gimana kalau kamu tulis nomor teleponmu? Nanti kamu bisa kirim tagihan laundry-nya ke saya.” Saifanny berharap tindakannya tidak terlihat berlebihan. Sebenarnya ia sudah punya nomor Ranaya, ini hanya basa-basi agar wanita itu yang menghubunginya.

Ranaya terlihat ragu.

“Kalau tidak bisa, tidak apa-apa. Nanti saya bilang ke suami saya untuk bayarinnya,” tambah Saifanny. Jika benar baju itu dari Zain, Ranaya pasti tidak ingin Zain tahu bajunya terkena kuah sup.

Akhirnya, Ranaya memberikan ponselnya dan meminta Saifanny memindai kontaknya. “Sudah saya chat barusan, ya” kata Saifanny. Ranaya hanya mengangguk dan pergi meninggalkan Saifanny bersama kotak makan yang berantakan.

Saifanny tersenyum dan melambaikan tangan saat Ranaya memasuki lift. Ia ingin Ranaya melihatnya sebagai orang baik yang naif, sosok istri lemah yang tidak tahu apa-apa. Sekarang ia sudah mendapatkan nomor itu secara "resmi", dan langkah selanjutnya adalah menjalin kedekatan.

"Lihat saja nanti, Zain dan Ranaya. Aku akan membuat kalian menyesal karena telah bermain-main di belakangku" Batin Saifanny.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Cara Menangani Perselingkuhan   BAB 375 : Jejak Dingin dan Senyum Palsu

    Pagi hari yang diselimuti kabut tipis membungkus kawasan pemukiman mewah itu dalam keheningan yang mencekam.Dari balik semak-semak tinggi di seberang jalan, seorang pria muda berseragam serba hitam tampak tiarap, mengamati setiap celah pergerakan rumah di hadapannya menggunakan teropong jarak jauh berpresisi tinggi.​Tak!​Sebuah tepukan mendarat cukup keras di bahunya, membuat anggota muda itu terperanjat kaget sebelum refleks menahan napasnya agar tak menimbulkan suara.​Ia menoleh cepat, mendapati sang senior tengah menatapnya dengan raut wajah serius nan lelah.​"Sekarang sudah jam lima lewat, mending kamu shalat dulu sana. Aku yang akan mengawasi pergerakan orang-orang di rumah itu," perintah sang senior dengan bisikan bernada rendah.​Petugas junior itu mengangguk patuh. Ia memundurkan tubuhnya secara perlahan seraya menyerahkan teropong jarak jauh tersebut ke tangan seniornya.​Sudah tiga hari penuh ia dan empat anggota tim keamanan lainnya bergan

  • Cara Menangani Perselingkuhan   BAB 374 : Rencana Nekat dan Bayang Trauma

    ​Suasana di dalam ruang kerja panti jompo yang semula kaku mendadak berubah manis di mata Marcus. Senyuman lebar tak henti-hentinya tersungging di bibir pria itu, memancarkan binar kebahagiaan narsistik saat menatap sosok Saifanny yang duduk di hadapannya. ​"Jadi... Kapan kita akan berangkat?" Tanya Marcus dengan tatapan mata hangat yang sarat akan binar optimisme. ​Saifanny terdiam sejenak, mengunci jemarinya di bawah meja untuk menyembunyikan getaran taktis di tangannya, sebelum kembali menatap Marcus. ​"Ayo kita berangkat besok pagi saja," jawab Saifanny seraya mengangguk pelan. ​Marcus sedikit terkejut dengan keputusan mendadak itu. Keningnya berkerut rapat. "Secepat itu?" Tanyanya kebingungan. ​Saifanny mengangguk mantap. "Iya, lebih cepat, lebih baik, kan?" Sahut Saifanny seraya memiringkan kepalanya, memasang raut wajah polos tanpa dosa yang sempurna. ​Marcus mengangguk cepat. Sepasang matanya memancarkan binar penuh semangat yang sulit dibendung. Pria itu tiba-tiba ber

  • Cara Menangani Perselingkuhan   BAB 373 : Di Balik Ajakan Liburan

    ​Layar ponsel di genggaman Saifanny memancarkan cahaya redup yang memantulkan raut wajahnya yang tegang. Jemarinya terus mengusap layar, menelusuri lembar demi lembar berkas digital yang baru saja dikirimkan oleh Bima. ​Ruang kerja panti jompo yang hening menjadi saksi bisu bagaimana napas Saifanny perlahan tertahan. Di dalam berkas itu, tertera rekam jejak Mawar Sudrajat di Utama Group puluhan tahun silam. Laporan audit lama menunjukkan adanya kebocoran data rahasia pada sistem otomatisasi pengolahan makanan sehat milik Utama Group—sebuah insiden sabotase teknis yang fatal, yang pada masa itu hampir menghancurkan reputasi perusahaan dan membuat posisi Adnan Utama di ambang pemecatan oleh Kakek Arkana. ​Namun, saat Saifanny mencoba menggali lebih dalam mengenai keterkaitan langsung antara sabotase tersebut dengan pengalihan paten food-tech ke tangan Manggala Tech, lembaran dokumen itu mendadak terputus. ​Halaman berikutnya hanya beri

  • Cara Menangani Perselingkuhan   BAB 372 : Aksi Penyelamatan Palsu

    Cahaya matahari pagi yang cerah menerobos masuk melalui celah-celah jendela ruang utama proyek pembangunan panti jompo.Suasana di dalam ruangan berukuran luas yang sudah memasuki tahap penyelesaian akhir itu terasa begitu tenang.Saifanny berdiri tegak bersebelahan dengan Bara tepat di tengah ruangan yang dinding-dindingnya mulai terpoles rapi.Tidak jauh dari mereka, dua orang anak buah Bara tampak duduk bersimpuh di lantai dengan beragam peralatan pemindai frekuensi di tangan mereka.​Setelah sibuk mengotak-atik beberapa komponen elektronik, kedua pria itu mendongak lalu menganggukkan kepala kepada Bara—sebuah sinyal tak bersuara bahwa tugas teknis mereka telah selesai.​"Semua penyadap di dalam panti jompo ini sudah dikeluarkan, Bu. Apa ada yang Ibu butuhkan lagi?" Tanya Bara seraya mengalihkan lirikan matanya ke arah Saifanny.​Saifanny menggelengkan kepala pelan. Untuk saat ini, pikiran dan langkah selanjutnya masih terasa agak samar di kepalanya.​"Bu Saifanny sebelumnya sudah

  • Cara Menangani Perselingkuhan   BAB 371 : Luka dan Pengakuan dari sebuah Surat

    Keheningan yang pekat merayap cepat, menyelimuti setiap sudut ruang tengah apartemen itu. Indra masih membisu di atas sofa dengan raut wajah kaku dan keras. Di sampingnya, Andien terus memperhatikannya, memancarkan sorot mata lembut yang sarat akan bujukan hangat. ​Andien mengulurkan kedua tangannya perlahan, mendaratkannya di atas bahu Indra yang tegang untuk mengurai gelombang amarah pemuda itu. ​"Kalau kau tidak mau membacanya, biarkan aku membacakannya untukmu," bisik Andien lembut. ​Mendengar tawaran tersebut, Indra seketika menoleh. Sepasang matanya menatap Andien dengan kilatan emosi yang sulit diterjemahkan—antara rasa gengsi dan kebencian yang masih membara. ​Andien tersenyum tipis. Jemarinya terulur lambat ke atas meja, hendak meraih amplop putih yang tergeletak pasrah. Namun, sebelum ujung jarinya sempat menyentuh kertas itu... ​Grep! ​Dengan gerakan refleks secepat kilat, Indra menyambar amplop itu leb

  • Cara Menangani Perselingkuhan   BAB 370 : Sisa-Sisa Dendam

    Adrian mengulurkan tangan, meraih gelas kopi yang mulai mendingin dari atas meja perlahan. Pria itu menyeruputnya sedikit demi sedikit, merasakan kepahitan cairannya yang seolah mencerminkan kekeruhan pikirannya, lalu meletakkannya kembali secara hati-hati.​"Kita kesampingkan dulu soal Mawar Sudrajat. Bagaimana perkembangan kasus penyelidikan Ririn?" Tanya Adrian, mencoba mengalihkan arah pembicaraan ke lini penyelidikan lain yang tak kalah krusial.​Bima mendesah pendek, mengusap wajahnya yang menyiratkan kepenatan psikologis.​"Aku sudah menghubungi petugas kepolisian yang dulu membantu penangkapan ayahmu soal kasus klub malamnya. Tapi dia berkata, kepolisian tidak bisa mengeluarkan surat perintah penggeledahan hanya berdasarkan kata-kata dari Saifanny," ujar Bima seraya menggelengkan kepalanya pasrah.​"Polisi butuh bukti fisik untuk mengeluarkan surat penggeledahan. Selain itu, aku dan Ghina sudah mencari di setiap rekaman CCTV di sekitar rumah Marcus, tapi hasilnya nihil. Tidak

  • Cara Menangani Perselingkuhan   BAB 1 : Terungkapnya Perselingkuhan

    Lantai 3 Hotel Anggrek. Aroma pengharum ruangan khas hotel terasa menyengat di hidung Saifanny. Ia berdiri di depan kamar 308, menggenggam sebuah kunci yang didapatkannya setelah mengelabui seorang resepsionis dengan alasan telah kehilangan kuncinya. Begitu memasuki kamar, Saifanny membeku. Suamin

  • Cara Menangani Perselingkuhan   Bab 5

    Saifanny sebenarnya tidak peduli jika Adrian tahu ia datang ke kantor secara diam-diam. Ia menyadari dirinya memang terlihat seperti pencuri saat itu, mengendap-ngendap dan mengintai suaminya sendiri. Namun bagi Saifanny, mencari kebenaran bukanlah sebuah kejahatan. Adrian mengirim pesan lagi. Pri

  • Cara Menangani Perselingkuhan   BAB 4

    Hari telah berlalu dan Saifanny terus memandangi ponselnya. Belum ada pesan masuk dari wanita itu. Ia sempat berpikir, apa mungkin Ranaya melapor kepada suaminya? Namun, jika wanita itu melapor, ia tidak mungkin memberikan nomor teleponnya sejak awal. Saifanny mencoba mengalihkan perhatiannya pada

  • Cara Menangani Perselingkuhan   BAB 2

    Saifanny menjalankan sepeda motornya menuju kantor Zain. Ia ingin melihat dengan mata kepalanya sendiri wujud dari wanita itu. Dengan perasaan campur aduk, ia memarkirkan motornya. Sudah lama ia tidak menginjakkan kaki di kantor ini, mungkin sejak ia mengumumkan akan mengundurkan diri untuk menikah

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status