LOGINKini Saifanny berdiri di depan kantor suaminya sambil menenteng kotak makan bertingkat berwarna biru. "Rasanya aneh kembali ke sini secara terang-terangan" Batinnya. Tujuannya kali ini adalah untuk mengajak wanita itu berkenalan, demi mewujudkan rencana berikutnya: mencari lebih banyak informasi tentangnya.
Saifanny menatap logo perusahaan yang sepertinya sudah lama tidak dibersihkan. Logo berwarna emas itu bertuliskan UG, kepanjangan dari Utama Group. Ia pernah bekerja di sini selama lebih dari tujuh tahun sebelum akhirnya memutuskan untuk menikah dan mengundurkan diri. Entah apa yang ia pikirkan saat itu, mungkin ia memang hanya ingin melarikan diri. Setelah menyapa dua petugas keamanan di depan gerbang, seorang pegawai wanita menghampirinya. “Kak Sai? Kamu Kak Sai, kan?” wanita itu memastikan. Pegawai itu adalah Eli, yang dulu pernah satu tim dengan Saifanny. Saat Saifanny masih bekerja di sana, Eli masih berstatus magang, namun sekarang ia sudah menjadi pegawai tetap. "Good for her", batin Saifanny. Eli tiba-tiba memegang tangan Saifanny. “Kak, sudah lama tidak ke sini. Kakak mau bertemu Pak Zain, ya?” goda Eli sambil menempelkan bahunya ke bahu Saifanny. Saifanny hanya tersenyum melihat tingkah Eli yang masih sama seperti dulu. Mereka berjalan bersama menuju ruang kantor suaminya. Eli terus mengocehkan hal-hal yang tidak terlalu dimengerti Saifanny, yang hanya dibalas dengan anggukan sopan. Sesampainya di ruangan, Eli berteriak kepada beberapa pegawai senior yang tampaknya sedang bersiap untuk makan siang. Mereka segera mengerumuni Saifanny dan melontarkan banyak pertanyaan. Saifanny melirik sekilas ke arah meja suaminya, Zain sepertinya belum menyadari kehadirannya. Ia juga melirik ke meja wanita itu. Di tanda pengenalnya tertulis nama: RANAYA SAPUTRI. Saifanny cepat-cepat mengalihkan pandangan karena Ranaya sempat meliriknya sekilas. Ketika Eli mengajaknya makan siang bersama tim, Saifanny menolak dengan sopan. Tanpa ia sadari, Zain sudah berdiri beberapa sentimeter di depannya. Saifanny tersenyum dan melambaikan tangan. Satu per satu pegawai meninggalkan mereka untuk memberi ruang pribadi. “Lain kali makan bareng kita ya, Kak,” ucap Eli sebelum pergi. Zain menatap istrinya dengan heran, tidak menyangka Saifanny akan muncul di kantor. “Aku bawakan makan siang,” ucap Saifanny sambil mengangkat dan menggoyangkan kotak makan di tangannya. Saifanny yakin Zain pasti berencana makan di luar bersama Ranaya, karena wanita itu masih berada di dalam ruangan. Mereka kemudian duduk di sofa ruang istirahat. Saifanny meletakkan kotak makan dan membongkarnya di atas meja. Ia melirik Zain yang sedang mengeluarkan ponsel, kemungkinan sedang mengirim pesan kepada wanita itu. Zain mulai makan dengan lahap, seperti orang kelaparan. “Tumben kamu masak? Sampai membawakan makanan ke kantor segala,” ujarnya di sela kunyahan. “Lagi ingin saja, sekalian tanda terima kasih soal belanja kemarin. Oh ya, aku belanja daring lagi tadi pagi,” jawab Saifanny santai. Crrrttttt! Zain menyemburkan makanannya karena terkejut. Saifanny refleks menjauh agar tidak terkena semburan. Dengan cepat Zain mengambil tisu untuk mengelap mulutnya yang belepotan. Saifanny menatap pemandangan itu dengan rasa jijik. “Sai, istriku, kamu jangan boros-boros atuh. Pengeluaran kita masih banyak, kan?” pinta Zain dengan nada memohon. Saifanny selalu menahan diri untuk membeli sesuatu setelah menikah, dan ini hanyalah awal. Nanti ia akan membeli sesuatu yang jauh lebih mahal. Ia tidak akan mengampuni pelaku perselingkuhan; anggap saja ini hukuman kecil untuk suaminya. Saifanny memakan beberapa buah anggur dari kotak bekal. Selesai makan, Zain kembali mengecek ponselnya. Saifanny tidak akan membiarkan suaminya menghabiskan waktu dengan wanita itu kali ini. “Suamiku, aku sudah lama tidak curhat. Aku mau bahas soal Syahdan,” Saifanny terus mengajak Zain mengobrol hingga beberapa menit sebelum jam istirahat berakhir. Saat berpamitan pulang kepada semua orang, Ranaya belum juga masuk ke ruangan. Saifanny hampir lupa dengan tujuan utamanya: "berteman" dengan wanita itu. Ia memencet tombol lift, berharap bisa bertemu Ranaya di bawah. Pintu lift terbuka, namun yang ia temui bukan Ranaya, melainkan Adrian dan sekretaris berkacamatanya. Adrian adalah CEO Utama Group. Saat Saifanny masih bekerja di sana, pria itu menjabat sebagai wakil direktur. Mereka saling bertatapan selama beberapa detik. Saifanny merasa gugup dan mengalihkan pandangannya. “Fanny...” Hanya Adrian yang memanggilnya dengan nama itu di kantor ini. Adrian melangkah keluar dari lift dan memegang tangan Saifanny. Saifanny refleks menarik tangannya. Bagaimana bisa pria itu memegang tangan wanita yang sudah menikah? Saifanny harus menahan diri untuk tidak meladeninya, ia harus cepat turun ke bawah sebelum Ranaya kembali ke atas. “Maaf, saya harus pergi,” Saifanny buru-buru masuk ke lift, namun ia merasakan sesuatu menyentuh tangannya. Adrian menyelipkan sebuah kartu nama. “Kartu itu berisi nomor pribadiku. Kumohon, hubungi aku,” ucap Adrian dengan wajah memelas dan tatapan yang dulu sering Saifanny lihat. Pintu lift tertutup. Saifanny mematung menatap kartu di tangannya. Inilah salah satu alasannya enggan ke kantor: ia tidak ingin bertemu Adrian. Dulu mereka berpacaran selama dua tahun hingga akhirnya putus karena ayah Adrian tidak merestui mereka. Saifanny merasa tidak pernah cukup baik bagi ayah pria itu, sehingga ia memilih menyerah. Adrian tidak pernah tahu bahwa ayahnya sendirilah yang membuat Saifanny mundur. Namun, bagi Saifanny, hal itu sudah tidak penting lagi. Lift terbuka di lantai bawah. Dugaannya benar, Ranaya sedang duduk di kafetaria bersama teman-temannya. Saifanny duduk di kursi dekat lift, menunggu waktu yang tepat. Saat Ranaya berjalan mendekat, Saifanny mulai beraksi. Brak! Saifanny sengaja menabrakkan dirinya pada Ranaya. Kotak makan yang ia pegang diarahkan sedemikian rupa hingga sisa kuah supnya tumpah mengenai baju wanita itu. Saifanny berpura-pura panik dan segera meminta maaf. “Ah, maaf! Kuahnya kena baju kamu,” Saifanny menyodorkan tisu dengan wajah cemas. Ranaya mengambil tisu itu dan mengelap bajunya dengan kasar, wajahnya tampak memendam amarah. “Terima kasih tisunya, Kak,” ucap Ranaya sambil menunduk sedikit, bersiap untuk pergi. Saifanny tidak membiarkannya lepas begitu saja. Ia meraih tangan Ranaya. “Gimana kalau saya ganti rugi biaya cucinya? Itu kayaknya baju mahal, kan?” Baju mahal yang mungkin dibelikan suamiku, batin Saifanny pedas. Saifanny mengeluarkan ponselnya. “Gimana kalau kamu tulis nomor teleponmu? Nanti kamu bisa kirim tagihan laundry-nya ke saya.” Saifanny berharap tindakannya tidak terlihat berlebihan. Sebenarnya ia sudah punya nomor Ranaya, ini hanya basa-basi agar wanita itu yang menghubunginya. Ranaya terlihat ragu. “Kalau tidak bisa, tidak apa-apa. Nanti saya bilang ke suami saya untuk bayarinnya,” tambah Saifanny. Jika benar baju itu dari Zain, Ranaya pasti tidak ingin Zain tahu bajunya terkena kuah sup. Akhirnya, Ranaya memberikan ponselnya dan meminta Saifanny memindai kontaknya. “Sudah saya chat barusan, ya” kata Saifanny. Ranaya hanya mengangguk dan pergi meninggalkan Saifanny bersama kotak makan yang berantakan. Saifanny tersenyum dan melambaikan tangan saat Ranaya memasuki lift. Ia ingin Ranaya melihatnya sebagai orang baik yang naif, sosok istri lemah yang tidak tahu apa-apa. Sekarang ia sudah mendapatkan nomor itu secara "resmi", dan langkah selanjutnya adalah menjalin kedekatan. "Lihat saja nanti, Zain dan Ranaya. Aku akan membuat kalian menyesal karena telah bermain-main di belakangku" Batin Saifanny.Pekarangan rumah orang tua Bima di sebuah desa terpencil membentang luas, dikelilingi oleh lanskap pedesaan yang asri, berbatasan langsung dengan area perkebunan sawi hijau yang membentang subur serta pabrik keluarga di kejauhan. Hari ini, tempat sederhana itu disulap menjadi sebuah lokasi pernikahan bertema garden party yang teramat elegan dan intim. Dekorasi bunga-bunga segar bernuansa putih bersih berpadu kontras dengan hijaunya dedaunan sawi dan rimbunnya pepohonan pedesaan, menciptakan suasana hangat yang jauh dari hiruk-pikuk kota. Kursi-kursi kayu ditata rapi di atas rumput hijau, menyambut kedatangan jiwa-jiwa yang telah melintasi berbagai teror dan penderitaan. Para tamu undangan yang hadir merupakan orang-orang terdekat yang memegang peranan penting dalam perjalanan hidup mereka. Di barisan kursi terdepan, tampak Adrian dan Saifanny duduk berdampingan bersama Syahdan yang tampak antusias, ditemani oleh sang nenek, Sania. Tak jauh dari mereka, duduk pula Andien b
Dua bulan telah berlalu sejak gema kemegahan konser tunggal Indra membelah malam di Stadion Arena J-City.Hari ini, di bawah naungan langit J-City yang cerah berhias semburat jingga keemasan senja, sebuah impian yang dirajut dari sisa-sisa air mata dan puing-puing trauma akhirnya berdiri nyata.Sebuah papan nama berukir kayu jati elegan dengan tulisan "Griya Teduh Lansia" terpampang kokoh di depan bangunan utama yang asri, luas, dan dikelilingi oleh taman bunga yang tertata menyejukkan mata.Suasana di halaman depan terasa begitu hangat dan dipenuhi oleh gelombang haru yang membuncah di dada setiap insan yang hadir.Seluruh keluarga besar dan kerabat terdekat berkumpul dalam satu ikatan kekeluargaan yang erat.Di barisan depan, Saifanny berdiri tegap namun anggun dengan balutan dress selutut berwarna sage green lembut yang memancarkan ketenangan jiwa.Di sampingnya, Adrian berdiri dengan setelan kasual rapi, jemari tangan mereka saling bertaut erat, seolah menyalurkan seluruh kekuat
Stadion Arena J-City malam ini berubah wujud menjadi lautan cahaya yang teramat menakjubkan.Puluhan ribu pasang mata tumpah ruah memenuhi setiap sudut tribun hingga area festival, menggemakan sorak-sorai penuh antusias yang bergemuruh membelah malam.Udara dipenuhi oleh aroma kehebohan, kilatan lampu lightsticks berwarna-warni yang berdenyut seirama, serta dentuman musik latar yang membakar adrenalin siapa saja yang mendengarnya.Ini bukan sekadar konser musik komersial biasa; ini adalah malam perayaan megah—sebuah saksi bisu yang mempertemukan berbagai jiwa dari babak kehidupan kelam yang kini telah berhasil bangkit dan berpulang dari badai penderitaan.Di barisan kursi VIP terdepan yang eksklusif, atmosfer kehangatan keluarga begitu terasa pekat menyelimuti hati mereka.Adrian duduk berdampingan erat dengan Saifanny. Jemari tangan mereka saling bertaut erat di balik kegelapan kursi, menyalurkan ketenangan batin serta rasa cinta membara yang baru saja mereka ikrarkan lewat kejujura
Malam menjelang, membentangkan selimut gelap bertabur bintang di atas langit J-City. Di dalam ruang tengah kediaman Saifanny, wanita itu terduduk kaku di balik sofa ruang keluarga.Matanya yang kosong menatap hampa ke arah layar televisi yang tengah menayangkan sinetron malam, sementara pikirannya melayang jauh menembus batas ruang dan waktu, meresapi keheningan yang menyelimuti seisi ruangan.Ting! Nong!Suara bel pintu yang ditekan secara tiba-tiba memecah kesunyian malam. Saifanny perlahan mengerjap, bangkit dari sofa dengan langkah gontai, lalu berjalan pelan menuju pintu depan untuk membukanya.Begitu daun pintu terkuak, sosok Adrian berdiri di ambang pintu dengan senyuman cerah yang menghiasi wajahnya.Di tangan pria itu terselip sebuket bunga mawar merah segar serta paper bag berukuran besar yang mengepulkan aroma lezat pizza dari kedai langganan mereka di masa lalu.Saifanny tersenyum tipis, mempersilakan Adrian masuk untuk duduk, sementara ia sendiri berputar arah menuju
Siang menjelang sore, mobil Bima merayap pelan memasuki area parkir basement gedung Utama Group.Begitu mesin dimatikan, Bima terdiam kaku di balik kemudi. Selama beberapa detik, ia hanya duduk mematung dengan pikiran yang berkecamuk hebat.Ririn sama sekali tidak menderita amnesia; wanita itu telah memperdayanya dengan akting busuk yang rapi. Seharusnya ia menyadari sejak awal bahwa Ririn adalah orang bermuka dua yang teramat pintar bersandiwara.Sementara itu di kursi penumpang depan, Ghina melirik ke arah Bima dengan raut wajah yang diselimuti kekhawatiran.Ia terlalu takut untuk sekadar menegur, bahkan tak berani melayangkan sentuhan lembut di bahu pria itu seperti yang ia lakukan di rumah sakit sebelumnya."Aku mau bertemu Adrian sebentar. Kamu mau nunggu di mana? Di kantin?" Ucap Bima tiba-tiba, memecah keheningan kabin.Ghina langsung mengerjap, lalu tersenyum tipis. "Aku mau ikut ke kantor, Pak. Udah lama gak ketemu temen-temen," Kata Ghina riang,
Siang itu, koridor rumah sakit terasa begitu membekukan, diliputi oleh bau cairan antiseptik yang tajam. Bima dan Ghina berdiri mematung tepat di depan daun pintu ruang rawat Ririn. Dari balik celah pintu yang tertutup rapat, terdengar gelak tawa Ririn dan Nisa yang meledak riang, menghantam kesadaran Ghina dengan rasa ironi yang amat menyengat. Bima menoleh perlahan, menatap Ghina yang berdiri menegang di sampingnya. "Kamu yakin pengen ketemu sama dia? Bagaimanapun, dia itu orang yang pernah nyayat leher kamu," Tanya Bima dengan suara pelan yang dibalut kecemasan mendalam. Ghina mengangguk pelan, jemari tangannya terulur menyentuh bekas luka jahitan yang menimbul di leher kirinya—sebuah jejak trauma fisik yang tak pernah benar-benar sirna. "Dia mungkin masih amnesia, Pak. Tapi aku cuma pengen melampiaskan semua amarahku," Ucap Ghina dengan nada suara yang bergetar menahan gejolak benci di dadanya. Melihat penderitaan batin wanita di hadapannya, Bima mengulurkan tangann
Saifanny sebenarnya tidak peduli jika Adrian tahu ia datang ke kantor secara diam-diam. Ia menyadari dirinya memang terlihat seperti pencuri saat itu, mengendap-ngendap dan mengintai suaminya sendiri. Namun bagi Saifanny, mencari kebenaran bukanlah sebuah kejahatan. Adrian mengirim pesan lagi. Pri
Hari telah berlalu dan Saifanny terus memandangi ponselnya. Belum ada pesan masuk dari wanita itu. Ia sempat berpikir, apa mungkin Ranaya melapor kepada suaminya? Namun, jika wanita itu melapor, ia tidak mungkin memberikan nomor teleponnya sejak awal. Saifanny mencoba mengalihkan perhatiannya pada
Saifanny menjalankan sepeda motornya menuju kantor Zain. Ia ingin melihat dengan mata kepalanya sendiri wujud dari wanita itu. Dengan perasaan campur aduk, ia memarkirkan motornya. Sudah lama ia tidak menginjakkan kaki di kantor ini, mungkin sejak ia mengumumkan akan mengundurkan diri untuk menikah
Lantai 3 Hotel Anggrek. Aroma pengharum ruangan khas hotel terasa menyengat di hidung Saifanny. Ia berdiri di depan kamar 308, menggenggam sebuah kunci yang didapatkannya setelah mengelabui seorang resepsionis dengan alasan telah kehilangan kuncinya. Begitu memasuki kamar, Saifanny membeku. Suamin







