Share

BAB 2

Author: Zakia
last update publish date: 2026-02-24 14:52:36

Saifanny menjalankan sepeda motornya menuju kantor Zain. Ia ingin melihat dengan mata kepalanya sendiri wujud dari wanita itu. Dengan perasaan campur aduk, ia memarkirkan motornya. Sudah lama ia tidak menginjakkan kaki di kantor ini, mungkin sejak ia mengumumkan akan mengundurkan diri untuk menikah.

Dulu, Saifanny dan suaminya berada dalam lingkungan kantor yang sama, bahkan mereka pernah berada di satu tim. Ia ingat bagaimana dulu ia sengaja menggoda Zain karena ingin menikahinya. Setiap perlakuan Zain padanya, senyumnya, bahkan hal kecil yang pria itu lakukan, semuanya terasa indah saat itu.

Saifanny tidak menyesal menikah dengan Zain, ia hanya kesal pria itu bisa menyelingkuhinya. Sesampainya di depan pos keamanan, ia mengeluarkan tanda pengenalnya. Kantor ini cukup ketat sehingga orang luar dilarang masuk tanpa izin, namun statusnya sebagai istri manajer memungkinkannya untuk masuk ke sana.

Ia berpesan pada petugas keamanan agar merahasiakan kedatangannya dengan alasan ingin memberikan kejutan untuk suaminya. Saifanny kemudian duduk di kursi kafetaria kantor. Sebentar lagi pukul 12 siang. Masker dan kacamata hitam segera ia pasangkan di wajah; ia tidak ingin ada yang mengenalinya.

Saifanny berjalan menuju ruangan divisi tempat suaminya bekerja. Sekilas ia melihat ke arah langit-langit, menyadari posisinya tepat berada di bawah jangkauan CCTV ruangan tersebut. Ketika beberapa orang mulai keluar, ia bergegas bersembunyi di ruangan sebelah yang diisi dengan peralatan kebersihan.

Ia mengintip lewat celah pintu. Satu per satu karyawan terlihat keluar, termasuk wanita itu. Wanita tersebut berjalan keluar bersama teman-temannya. Saifanny mengikuti mereka dari belakang. Sudah ia duga, wanita itu tidak makan di kafetaria. Saifanny langsung menuju parkiran untuk mengambil motornya, untung saja targetnya belum menghilang.

Wanita itu kini berdiri di tepi jalan yang agak jauh dari perusahaan. Sebuah mobil terlihat berhenti di hadapannya. Itu mobil Zain, Saifanny sangat mengenali plat nomornya. Ia menjalankan motornya dengan malas, mengikuti mobil suaminya dari jarak aman. Mereka ternyata berhenti di sebuah restoran keluarga.

Zain sebenarnya tidak terlalu suka dengan suasana restoran keluarga. Pria itu selalu menolak makan bersama putranya jika Saifanny mengajaknya ke tempat seperti itu. Jadi, Saifanny bisa menyimpulkan bahwa wanita itulah yang memilih restoran ini.

Saifanny duduk di meja ujung yang tertutupi pilar tebal sehingga mereka tidak akan bisa melihatnya. Ia mengintip sedikit, mereka masih mengobrol. Wanita itu memiliki rambut panjang bergelombang yang diikat setengah, mata almond yang cantik, dan tubuh yang cukup tinggi, mungkin sekitar 160 sentimeter.

Saifanny sendiri memiliki rambut panjang, yang mungkin memang merupakan tipe kesukaan suaminya. Ia tidak melihat kemiripan apa pun dengan wanita itu selain rambut tersebut. Wanita itu memiliki wajah manis, berbanding terbalik dengan Saifanny yang memiliki fitur wajah tegas. "Jika rambut panjang dan wajah imut adalah tipenya, aku lebih baik mengubahnya", batin Saifanny.

Ia pun pergi dari sana dan memutar arah menuju salon langganannya. Saat tiba, sang pemilik salon, Nelly, menyambutnya dengan hangat. Saifanny sudah menjadi langganan di sana sejak masa kuliah sehingga mereka cukup akrab. Kadang ia menceritakan kisah hidupnya pada Nelly, meski hanya sebagian.

Saifanny duduk di kursi yang disediakan. Nelly bertanya apa yang ia inginkan terhadap rambutnya. Biasanya Saifanny hanya merapikan ujungnya dan jarang memotong pendek. Nelly memainkan rambut panjang Saifanny yang bergelombang. Saifanny menatap cermin di depannya. Jika rambut panjang adalah tipe Zain, maka mulai sekarang ia akan berhenti menjadi tipe suaminya itu.

"Tolong potong pendek saja," ujar Saifanny. Ekspresi Nelly terlihat terkejut.

"Kamu yakin? Selama kamu ke sini, kamu tidak pernah mau dipotong pendek, lho."

Saifanny menatap Nelly lewat cermin. "Aku yakin, Nel. Potong segini ya," jawabnya sambil menunjuk ke arah leher.

Setelah dari salon, Saifanny kembali berpikir tentang langkah selanjutnya. Rambut sudah dipotong. Mungkin ia akan mulai melakukan hal-hal yang tidak disukai Zain, salah satunya menjadi wanita yang boros.

Ia pun pergi ke mal untuk membeli beberapa pakaian dan alat rias. Selama menjadi ibu rumah tangga, ia hanya berdandan jika ada acara keluarga. Bahkan saat mengantar Syahdan, ia hanya memakai tabir surya dan pakaian seadanya.

Saifanny menelusuri mal dan mencari pakaian yang sesuai ukurannya, meminta bantuan pramuniaga untuk menunjukkan koleksi terbaru mereka. Kali ini ia tidak akan melihat label harga, ia akan membeli semua yang ia suka. Ia menunjuk semua pakaian yang diinginkannya dan mencobanya satu per satu.

Ia memperhatikan dirinya di cermin ruang ganti, mengamati setiap lekuk tubuhnya. Badannya tidak gemuk, masih sama seperti dulu. Mungkin itu gen dari ibunya yang juga tidak pernah gemuk seumur hidup. Dengan tubuh ini, ia merasa masih bisa mendapatkan pria yang lebih baik dari Zain, namun ia hanya bisa tertawa sinis. Prioritas utamanya sekarang hanyalah sang putra, ia hanya ingin membuat Syahdan bahagia.

Tentu saja jika bercerai ia bisa mendapat suami baru, tapi apakah suami baru itu akan menyayangi putranya? Setelah mencoba semua pakaian, ia memutuskan memakai salah satunya—sebuah mini dress berwarna krem dengan outer merah muda—lalu membayarnya.

Seorang kasir menghitung semua belanjaannya. Saat pemindaian harga dilakukan pada setiap pakaian, nominalnya terus bertambah dan senyum Saifanny perlahan melebar. Ini mengingatkannya pada masa sebelum menikah; membeli apa pun tanpa melihat harga.

Setelah itu, ia membeli beberapa alat rias. Seorang pegawai menawarkan makeover gratis kepada pengunjung, dan Saifanny mengiyakan. Saat ditanya ingin riasan seperti apa, ia menjawab glam look. Beberapa menit kemudian, wajahnya telah dirias dengan sangat mulus hingga pegawai itu memujinya terlihat anggun. Saifanny mengucapkan terima kasih lalu pergi.

Ia bisa membayangkan wajah Zain saat tahu istrinya menghabiskan jutaan rupiah untuk pakaian dan alat rias. Zain pasti akan mengatainya boros. Saifanny tidak peduli; ia hanya ingin menjadi wanita yang bukan "tipe" suaminya lagi mulai sekarang. Jika suaminya marah, ia akan bersikap sok manis dan beralasan sudah lama tidak belanja. Ia menjamin setelah itu Zain justru akan lebih memperhatikannya.

Tanpa terasa waktu menunjukkan pukul 14.30 sore. Waktunya menjemput Syahdan dari tempat les. Saifanny menelepon tukang kebun di rumahnya, Pak Andi. Akan sangat merepotkan memakai motor dengan gaun pendek ini karena bagian tubuhnya bisa terekspos, jadi ia meminta Pak Andi untuk membawa pulang motornya.

Saifanny memesan taksi online dengan membawa semua tas belanjaannya yang banyak. Ia meluncur ke tempat les Syahdan dengan gaya rambut, pakaian, dan riasan yang baru. Saat sampai, beberapa orang memperhatikannya. Ia memang terlihat berbeda dari biasanya.

Saifanny duduk di salah satu bangku tunggu. Seorang wanita yang mungkin salah satu orang tua murid menghampirinya sambil tersenyum. "Halo, selamat sore. Saya sepertinya baru lihat Anda di sini. Anda orang tua murid yang les di sini?"

Saifanny mengangguk. Saat itulah sebuah ide muncul; ia akan menjadikan wanita ini sekutunya. Wanita ini mungkin akan berguna bagi rencananya menangani perselingkuhan Zain. Saifanny tersenyum pada wanita di sampingnya. "Saya orang tua Syahdan, dia ada di kelas Bahasa Inggris 1."

Wanita itu mengulurkan tangan. "Saya Dinda, anak saya juga ada di kelas Bahasa Inggris 1. Mungkin mereka berteman, ya." Mereka kemudian tertawa bersama.

Ketika kelas selesai, semua murid berhamburan keluar. Syahdan memiringkan kepalanya saat melihat sang ibu. "Mama? Ini mamaku, kan?"

Saifanny tersenyum lalu membuka kacamata hitamnya. "Iya dong, ini Mama. Bagaimana, cantik kan?" Syahdan langsung memeluknya dengan semangat.

"Cantik! Paling cantik di seluruh dunia!" jawabnya ceria.

Dinda yang berada di sebelah mereka ikut tersenyum. Saifanny menepuk bahu putranya. "Syahdan, ini Bu Dinda, mamanya Ridwan. Coba salim, Nak." Putranya yang imut segera mengulurkan tangan. Dinda juga meminta Ridwan untuk menyalami Saifanny. Mereka mengobrol sebentar sampai taksi online datang menjemput.

Dinda memberikan nomor teleponnya dan memberi tahu bahwa para ibu di tempat les sering mengadakan makan bersama, jadi ia berharap Saifanny bisa hadir. Saifanny sebenarnya tidak berniat berteman dengan banyak orang, satu teman saja menurutnya sudah cukup untuk menjalankan rencananya. Menambahkan terlalu banyak orang hanya akan membuatnya kewalahan.

Sesampainya di rumah, Saifanny memesan beberapa makanan. Ia terlalu malas untuk memasak; hari ini ia akan menghabiskan uang dari kartu milik Zain.

Tanpa diduga, Zain pulang lebih awal. Saifanny melihat wajah suaminya begitu merah; mungkin pria itu sudah mengetahui pengeluaran belanja yang besar tadi. Saifanny menatap Zain dengan tatapan polos dan senyum tipis. Wajah marah itu seketika berubah menjadi terkejut.

Saifanny tahu suaminya ingin marah, tetapi teralihkan oleh penampilan barunya. "Ada apa, Mas? Ada masalah?"

Zain menarik napas panjang dan menghembuskannya. Ia menyentuh rambut istrinya dengan wajah kecewa. Zain sepertinya sangat tidak suka Saifanny memotong rambut menjadi pendek. Saifanny mengambil jaket suaminya dan menawarinya makanan. Zain duduk, namun matanya masih tertuju pada Saifanny. Zain tidak berani memarahinya, jadi Saifanny memancing pembicaraan.

"Mas, tadi aku belanja banyak. Aku sudah lama tidak belanja soalnya."

Ia sengaja berbicara dengan nada manja. Dengan cara ini, ia selalu lolos dari kemarahan Zain. Suaminya hanya mengangguk, lalu Saifanny memancing lagi, "Kamu tidak suka ya aku potong rambut pendek?" Ia menatap langsung ke mata Zain. Suaminya memalingkan wajah.

"Bagus kok, imut," jawab Zain lalu mengalihkan pandangannya ke arah makanan di meja.

Mendengar kata "imut" dari mulut suaminya membuat dada Saifanny mendidih. Ia tidak mau terlihat imut; ia ingin menjadi wanita yang bukan tipe Zain. Saat suaminya lengah, Saifanny menambahkan beberapa sendok sambal ke makanan Zain. "Rasakan, kau akan kepedasan", batinnya dengan senyum puas. Benar saja, Zain menyendok makanan dan wajahnya langsung memerah. Dengan panik, pria itu mencari air minum.

Keesokan harinya, Saifanny berdandan lagi seperti kemarin. Ia harus terlihat cantik karena hari ini ia berencana ke kantor suaminya. Bukan sembunyi-sembunyi seperti kemarin, melainkan secara terang-terangan. Tujuannya hanya satu: untuk mengajak wanita itu berkenalan.

Setelah mengantar Syahdan ke sekolah, ia kembali ke rumah dan menyiapkan beberapa menu untuk makan siang suaminya. Alibinya hari ini adalah ingin membawakan bekal makan siang. Ia memakai salah satu pakaian yang kemarin ia beli, kali ini sebuah mini dress berwarna biru dengan blazer berwarna hitam. Ia harus terlihat anggun dan cantik agar suaminya tidak malu saat melihatnya. Saifanny pun berangkat dengan taksi daring yang sudah dipesan.

Ia merasa sedikit gugup karena bukan hanya wanita itu yang akan ditemuinya di sana.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Cara Menangani Perselingkuhan   BAB 61 : Pahitnya Anggur Penyesalan

    Matahari mulai condong ke arah barat saat Indra melangkah keluar dari jalur hutan yang rimbun.Langkah kakinya, meski baru saja menaklukkan kemiringan gunung yang terjal, terasa ringan namun penuh dengan muatan emosi yang tertahan.Di belakangnya, Ranaya mengikutinya dengan ritme yang sama ringannya, seolah pendakian tadi hanyalah jalan-jalan sore di taman kota, meski peluh masih membasahi keningnya."Indra, kamu sepertinya dekat banget ya dengan Pak Adrian," ucap Ranaya memecah keheningan, suaranya terdengar ringan namun mengandung nada menyelidik. "Tadinya aku sempat miki kalian punya hubungan khusus, selain dianggap sebagai adik olehnya."Indra hanya melirik sekilas melalui sudut matanya. Ia tetap fokus pada jalan di depan, tak membiarkan emosinya terbaca."Kenapa kamu mikir aku memiliki hubungan khusus dengannya?" sahut Indra dengan nada acuh tak acuh.Ranaya terkekeh pelan, seolah sedang membagikan rahasia besar."Itu karena Pak Adrian udah lama gak keliatan punya pacar. Orang-or

  • Cara Menangani Perselingkuhan   BAB 60 : Puncak Pelampiasan dan Rahasia

    Matahari mulai merangkak menuju titik tertingginya, memancarkan panas yang mulai menyengat di balik rimbunnya pepohonan.Indra melangkah dengan gusar menembus hutan lebat yang berbatasan langsung dengan Villa Adrian.Udara pegunungan yang kaya akan oksigen menyusup ke paru-parunya, namun kesegaran itu gagal membasuh rasa perih di hatinya.Bayang-bayang penolakan Saifanny masih menghantuinya, berdenyut seperti luka basah yang menolak mengering.Di belakangnya, Ranaya berusaha keras mengimbangi langkah lebar pria itu. Dengan gerakan manja yang biasa ia gunakan untuk menaklukkan para pria, Ranaya mencoba menggandeng lengan Indra.Namun, dengan gerakan kasar dan penuh kejengkelan, Indra menepis tangan itu hingga Ranaya nyaris terhuyung."Jalan sendiri! Jangan terus-terusan bergelayut, badanmu itu berat," desis Indra ketus tanpa menoleh sedikit pun.Ranaya mengerucutkan bibirnya, memendam rasa kesal. Ia terpaksa mengambil langkah-langkah besar untuk mengejar Indra yang berjalan sangat cepa

  • Cara Menangani Perselingkuhan   BAB 59 : Muslihat di Balik Luka

    Matahari baru saja menyentuh puncak-puncak pinus ketika Ranaya tiba di sebuah villa mewah di daerah pegunungan yang asri.Perjalanan dua jam dari hiruk-pikuk kota yang melelahkan membuat badannya terasa pegal dan kaku karena terlalu lama duduk di dalam mobil.Begitu kakinya menyentuh tanah, ia langsung merentangkan tangan sembari menggeliat manja, memamerkan lekuk tubuhnya di hadapan pria yang membawanya kemari.Om Arif segera memanggil penjaga villa untuk menurunkan barang-barang bawaan mereka. Bangunan itu berdiri megah dengan dua lantai, mengusung gaya tradisional yang didominasi oleh unsur kayu hangat dan kaca-kaca besar di setiap sisinya.Atapnya yang lebar menaungi teras luas yang menghadap langsung ke kolam renang di bagian belakang."Gimana? Kamu suka?" tanya Om Arif sembari mengaitkan tangannya di bahu Ranaya secara posesif."Suka sekali, Om. Rasanya benar-benar menyatu dengan alam," jawab Ranaya dengan senyum yang dipaksakan.Matanya mulai mengamati sekeliling dengan cermat.

  • Cara Menangani Perselingkuhan   BAB 58 : Luka di Balik Mawar

    Dua jam perjalanan menuju Villa Adrian yang megah terasa berlalu sekejap mata bagi Indra. Fokusnya tidak tertuju pada jalanan yang berkelok, melainkan pada buket mawar merah mewah yang tergeletak di kursi penumpang di sampingnya.Wangi bunga itu memenuhi kabin mobil, seolah memberikan keberanian tambahan bagi hatinya yang sedang berbunga.Begitu sampai, Indra turun dengan langkah ringan. Ia menyampirkan tas hitam berisi "harta rampasan" dari rumah Zain di satu bahu, sementara tangan lainnya mendekap buket mawar itu dengan protektif.Pandangannya langsung terangkat tajam ke arah balkon lantai dua. Di sana, ia melihat pemandangan yang seketika membuat dadanya terasa sesak: Saifanny dan Adrian tengah mengobrol akrab sembari menggenggam cangkir di tangan masing-masing.Indra menarik napas panjang, mencoba mengembuskan rasa cemburu yang mulai merayap.Ia mengabaikan kehadiran Adrian yang berdiri begitu dekat dengan Saifanny. Dengan suara yang sengaja diceriakan, ia berteriak."Kak Fanny...

  • Cara Menangani Perselingkuhan   BAB 57 : Dokumen, Brangkas dan Fantasi yang Membakar

    Matahari baru saja beranjak naik ketika Indra menghentikan mobilnya di depan sebuah rumah sederhana yang asri.Alamat yang dikirimkan Saifanny membawanya ke sebuah hunian bernuansa hijau, di mana halaman depannya tidak dipenuhi bunga hias mahal, melainkan hamparan sayuran hijau dan berbagai tanaman rempah yang terawat rapi.Suasana di sana begitu tenang, kontras dengan hiruk-pikuk konspirasi yang tengah ia jalani bersama Saifanny.Indra melangkah turun, membuka pagar besi rendah yang sedikit berdecit, lalu mengetuk pintu kayu di hadapannya.Tok! Tok!Tak butuh waktu lama bagi pintu itu untuk terbuka. Seorang wanita paruh baya mengenakan daster batik motif bunga menyambutnya dengan tatapan bertanya-tanya."Cari siapa ya, Mas?" tanya wanita itu sopan.Indra, yang memiliki pesona alami untuk meluluhkan hati wanita dari segala usia, langsung menyunggingkan senyum manisnya yang paling menawan."Saya cari Pak Andi, Bu. Benar ini rumah beliau?"Senyuman Indra menular; wanita itu ikut terseny

  • Cara Menangani Perselingkuhan   BAB 56 : Retakan di Hati Kecil

    Pagi yang cerah kembali menyapa Villa Adrian yang megah. Udara pegunungan yang sejuk menyusup melalui celah jendela, namun suasana hati para penghuninya tidak secerah langit di luar.Saifanny duduk di kursi rotan balkon, jemarinya menggenggam cangkir teh yang masih mengepul, sementara tangan satunya sibuk menggeser layar ponsel, mencari kontak Pak Andi.Pak Andi adalah tukang kebun setia yang setiap minggu datang ke rumah kediaman Rahady untuk memotong rumput dan merawat taman mawar kesayangan Saifanny.Pria tua itu adalah sosok yang jujur, tipe orang yang terlalu mudah percaya pada kata-kata majikannya. Saifanny meletakkan tehnya, lalu dengan gerakan cepat mengetikkan sebuah pesan."Pak Andi, ini Saifanny. Saya mau bertanya, apa sebelumnya Pak Zain meminta berkas identitas Bapak?"Hanya butuh beberapa detik hingga balasan masuk. "Iya, Bu. Dulu Pak Zain bilang mau buatkan saya rekening untuk gaji mingguan saya. Dia bilang itu lebih efisien agar tidak perlu ambil tunai."Saifanny mend

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status