LOGINMalam itu, di kediaman Nabilla, rumah dengan nuansa monokrom itu tampak menyala terang di bawah siraman lampu malam.Nabilla terduduk anggun di kursi kamarnya, memegang sebuah dokumen kerja dengan tatapan yang sangat serius.Sebagai pemilik Holy Entertainment, sepasang matanya meneliti setiap baris kalimat pada lembaran kertas di tangannya dengan ketelitian penuh.Indra, yang baru saja selesai membersihkan diri, berjalan masuk menghampiri Nabilla.Jubah mandi kain wol putih yang longgar membungkus tubuh atletisnya yang tinggi tegap. Tanpa aba-aba, Indra menyambar dokumen dari genggaman tangan Nabilla."Noona, waktu kerja sudah habis. Sekarang waktunya untuk berolahraga denganku," bisik Indra lembut, mengembuskan napas hangat tepat di daun telinga Nabilla.Untaian kalimat bernada seksi itu seketika membuat tubuh Nabilla merinding halus. Ia dapat merasakan gairah pria muda itu mengalir deras ke arahnya.Nabilla mengalihkan pandangan, menatap lurus ke dalam manik mata biru milik Indra ya
Pagi itu, Bima melangkah tenang menuju sebuah kafe bernuansa taman yang menjadi tempat biasa ia bertemu dengan Saifanny. Setelah kejadian makan malam yang canggung sekaligus menegangkan semalam, Ririn terus-menerus menghubunginya untuk menanyakan keberadaannya tanpa henti. Namun, Bima hanya membalas singkat seperti biasanya. Bima memasuki salah satu ruang VIP kafe dengan langkah lambat. Begitu pintu digeser, ia mendapati Saifanny sudah duduk menunggu dengan secangkir cappuccino di hadapannya, lengkap dengan segelas espresso pahit yang sengaja dipesan untuknya. Bima mendudukkan diri perlahan tepat berhadapan dengan Saifanny, sembari meletakkan tas kerjanya di kursi sebelah. "Jadi, apa yang kamu curigai? Kenapa tiba-tiba kamu ingin menyelidiki Pak Marcus lagi?" tanya Bima langsung pada intinya, tanpa basa-basi. Saifanny menarik napas dalam-dalam, raut wajahnya diliputi kecurigaan. "Kemarin aku membaca laporan mingguan dari pengawas proyek. Ada dua kuli yang mendadak mengundur
Malam itu, di sebuah hotel bintang lima dengan gaya klasik nan elegan, Bima melangkah tenang menyusuri restoran utama.Tempat itu adalah lokasi yang dipilih oleh Ririn untuk makan malam bersama.Sebagai orang yang selalu mengurus akomodasi dan perjalanan dinas Adrian, Bima tahu betul restoran ini sangat eksklusif karena menu yang disajikan selalu berbeda setiap harinya."Sepertinya gaji di Manggala Tech cukup tinggi, sampai seorang asisten bisa mengajak makan malam di tempat eksklusif seperti ini," batin Bima, menakar situasi.Bima berjalan pelan saat menangkap sosok Ririn yang tengah melambaikan tangan ke arahnya.Wanita itu duduk di meja bundar paling kiri, tepat di dekat sebuah jendela besar bergaya vintage dengan bingkai berwarna krem.Ririn tampil sangat anggun malam ini; gaun malam berwarna soft pink membungkus tubuhnya, memberikan kesan feminin dan manis.Penampilan itu kontras dengan Bima yang hanya mengenakan setelan kerja sehari-harinya yang kaku.Bima mendudukkan diri di ku
Sore itu, langkah tegap Indra membelah koridor Holy Entertainment.Pria muda itu langsung bergerak cepat menuju ruangan kerja Nabilla dengan emosi yang masih tertahan di dada.Namun, baru saja kakinya melintasi lorong sunyi dekat toilet, sebuah suara bariton yang teramat dingin mendadak menghentikan langkah kakinya."Kau sepertinya selalu keluar masuk gedung ini sesuka hatimu ya," cetus seseorang dari balik pintu toilet pria.Di sana, Jovian sedang berdiri kokoh sembari mengeringkan tangannya menggunakan selembar handuk kecil.Dengan gestur yang angkuh, aktor papan atas berusia 32 tahun itu membuang kasar handuk tersebut ke dalam tempat sampah di sebelahnya.Indra membalikkan tubuhnya, melempar tatapan tajam yang mengintimidasi ke arah Jovian.Namun, Jovian sama sekali tidak merasa terancam. Sebaliknya, pria dengan visual oriental menawan itu justru melangkah maju penuh percaya diri hingga jarak di antara tubuh mereka hanya tersisa beberapa sentimeter saja.Jovian mendekatkan wajahnya
Pagi itu, Saifanny terbangun dari tidurnya dengan kesadaran yang perlahan terkumpul.Sepasang matanya refleks melirik ke samping ranjang, namun area di sebelahnya sudah kosong melompong. Adrian sudah tidak ada di sana.Saifanny mengedipkan matanya cepat, lalu mengalihkan pandangan ke arah jam dinding di hadapannya.Detik itu juga, napasnya seolah tertahan. Jarum jam sudah menunjukkan pukul 09.00 pagi."Sekolah Syahdan!" teriak Saifanny panik.Ia segera melompat dari tempat tidur dan berlari kencang menuju kamar putranya. Namun, dugaannya salah; Syahdan sudah tidak ada di sana.Seragam sekolah dan tas punggungnya pun sudah lenyap dari gantungan. Dengan tangan gemetar, Saifanny segera menyambar ponselnya di atas meja. Sebuah pesan singkat dari Adrian langsung terpampang di layar:"Aku mengantar Syahdan ke sekolah. Kau istirahatlah."Saifanny mengembuskan napas lega yang teramat panjang. Ini adalah kali pertama dalam hidupnya ia terbangun selewat pukul 05.00 pagi.Kelelahan batin dan fis
Malam itu, Saifanny dan Syahdan akhirnya pulang diantar oleh Adrian. Saifanny memutuskan untuk membiarkan Marcus dan Mabelle berdua saja di ruang VIP rumah sakit, memberikan mereka ruang untuk melepaskan rasa rindu setelah sepekan tak bertemu akibat tragedi proyek.Satu jam perjalanan pulang terasa sunyi. Di kursi belakang, Syahdan sudah menguap berkali-kali karena kelelahan yang teramat sangat.Begitu mobil berhenti di depan rumah, Saifanny menoleh ke arah Adrian."Mampirlah untuk minum teh," ucap Saifanny pelan.Mereka pun melangkah masuk ke dalam rumah. Syahdan langsung berlari menuju kamarnya dengan terburu-buru; didera rasa kantuk yang berat, bocah itu hanya ingin segera merebahkan tubuhnya di atas kasur empuk.Sementara itu, Saifanny dan Adrian duduk di sofa ruang tengah. Saifanny meletakkan dua cangkir teh hangat di atas meja konsol, lalu segera meraih ponselnya.Ia mulai memeriksa laporan pekerjaan di lahan proyek panti jompo. Selama seminggu ini, ia hanya memantau laporan sec
Pikiran Saifanny tidak bisa tenang. Meskipun api amarah masih membara di dadanya akibat kelakuan lancang Indra semalam, sisi kemanusiaannya jauh lebih dominan.Ia terus terbayang wajah pasi Indra saat menerima telepon dari rumah sakit. Bagaimanapun, Indra adalah pemuda yang malang; seorang anak yan
Malam itu terasa begitu panjang bagi Saifanny. Ia menutup pintu kamarnya dengan bantingan pelan namun bertenaga, merefleksikan badai amarah yang berkecamuk di dalam dadanya.Napasnya memburu, jemarinya masih gemetar karena sisa adrenalin pasca menampar Indra.Ia tidak habis pikir, bocah yang selama
Matahari mulai condong ke arah barat saat Indra melangkah keluar dari jalur hutan yang rimbun. Langkah kakinya, meski baru saja menaklukkan kemiringan gunung yang terjal, terasa ringan namun penuh dengan muatan emosi yang tertahan. Di belakangnya, Ranaya mengikutinya dengan ritme yang sama ringa
Matahari mulai merangkak menuju titik tertingginya, memancarkan panas yang mulai menyengat di balik rimbunnya pepohonan.Indra melangkah dengan gusar menembus hutan lebat yang berbatasan langsung dengan Villa Adrian.Udara pegunungan yang kaya akan oksigen menyusup ke paru-parunya, namun kesegaran







