ログインTiba saatnya mahakarya lama dari mendiang Febrian Haryanto akhirnya dilelang di atas panggung utama.Jovian dan Indra saling melirik sepersekian detik. Jovian memberikan anggukan super tipis—sebuah kode absolut agar mereka mulai mengeksekusi skenario akting, berpura-pura menjadi rival sengit yang siap saling menjatuhkan demi sebuah lukisan.Seluruh pasang mata di dalam aula megah itu kini tertuju ke arah panggung, tempat lukisan bertajuk Our Happiness berdiri dengan kokoh.Di bawah siraman lampu spotlight yang dramatis, karya terakhir sang maestro sama sekali tidak menampilkan lanskap tragis atau potret abstrak yang kelam.Sebaliknya, kanvas besar tersebut justru dipenuhi oleh figur beberapa anak kucing bermata bulat besar dan anak anjing berbulu lebat yang sedang saling bertumpuk dengan jenaka.Namun, ini jelas bukan lukisan hewan biasa. Febrian Haryanto menggoreskan gaya khasnya yang legendaris: teknik impasto tebal dengan palet warna pastel yang estetis—perpaduan antara warna sage
Malam itu, di dalam ruang ganti Holy Entertainment, Indra menatap pantulan dirinya di depan cermin besar dengan perasaan yang campur aduk. Ia memang telah berjanji untuk mengabulkan apa pun keinginan Jovian demi mendapatkan informasi rahasia.Namun, ia sama sekali tidak menduga bahwa aktor senior itu akan memintanya untuk mendampingi ke sebuah acara lelang barang mewah yang super eksklusif.Malam ini, Indra mengenakan setelan jas berbahan beludru hitam yang memancarkan kesan elegan.Potongan busana itu melekat sangat serasi dengan struktur visual wajahnya, mentransformasikan penampilannya hingga terlihat seperti seorang pangeran dari negeri dongeng.Tok! Tok!Suara ketukan pintu memecah keheningan ruangan. Jovian melangkah masuk secara perlahan ke dalam ruang ganti Indra."Indra, sudah siap?" tanya Jovian begitu sepasang matanya menangkap sosok Indra yang masih berdiri mematung di depan cermin.Indra hanya mengangguk pelan sebagai jawaban.Jovian melangkah mendekat, lalu mengulurkan t
Pagi itu, jarum jam dinding baru saja menunjuk tepat pada pukul 05.00 pagi. Saifanny sudah terduduk kaku di tepi ranjang kamarnya sejak dua jam yang lalu.Pikirannya benar-benar buntu, diliputi tanda tanya besar yang terus berputar tanpa henti sejak ia melangkah keluar dari kediaman mewah Marcus semalam.Benaknya terus menuntut jawaban: dari mana pria itu bisa mengetahui dengan sangat valid bahwa Syahdan adalah putra kandung Adrian?Saifanny meraih ponselnya dengan jemari yang sedikit gemetar. Ia menimbang situasi, menebak bahwa Bima pasti sudah terbangun dari tidurnya saat ini.Nada sambung terdengar beberapa saat di keheningan kamar, sebelum akhirnya suara berat di seberang sana menjawab."Ada apa menelepon sepagi ini?" tanya Bima, suaranya parau, menguap lebar."Marcus... dia tahu kalau Syahdan adalah putra Adrian," ucap Saifanny lirih, menahan desakan kepanikan yang mulai merayap di dadanya.Bima seketika terdiam di seberang saluran. Otak kalkulatifnya langsung bekerja cepat, meme
Lembaran kalender berbalik tanpa suara, membawa pergi hari-hari melelahkan merawat Marcus di rumah sakit hingga tak terasa satu bulan telah berlalu.J-City pagi itu dilingkupi ketenangan yang luar biasa bagi Saifanny. Tidak ada lagi aroma obat-obatan yang menyesakkan, dan tidak ada lagi rasa cemas yang memburu di dadanya.Marcus kini telah pulih dan kembali memimpin kantor cabang Manggala Tech dengan profesionalisme yang tinggi.Bagi Saifanny, berakhirnya masa perawatan itu menjadi akhir dari beban utang budi yang sempat menghimpit pundaknya selama berminggu-minggu.Sebagai bentuk ucapan terima kasih, malam ini Marcus mengundang Saifanny dan Syahdan untuk makan malam bersama di kediaman mewahnya, ditemani oleh putri kecilnya, Mabelle.Begitu Saifanny dan Syahdan melangkah masuk melewati pintu depan, Marcus langsung menyambut kedatangan mereka dengan senyum manis khasnya yang memesona."Saifanny, Syahdan, selamat datang," ucap Marcus lembut, memancarkan aura tuan rumah yang sempurna.R
Malam itu, di kediaman Nabilla, rumah dengan nuansa monokrom itu tampak menyala terang di bawah siraman lampu malam.Nabilla terduduk anggun di kursi kamarnya, memegang sebuah dokumen kerja dengan tatapan yang sangat serius.Sebagai pemilik Holy Entertainment, sepasang matanya meneliti setiap baris kalimat pada lembaran kertas di tangannya dengan ketelitian penuh.Indra, yang baru saja selesai membersihkan diri, berjalan masuk menghampiri Nabilla.Jubah mandi kain wol putih yang longgar membungkus tubuh atletisnya yang tinggi tegap. Tanpa aba-aba, Indra menyambar dokumen dari genggaman tangan Nabilla."Noona, waktu kerja sudah habis. Sekarang waktunya untuk berolahraga denganku," bisik Indra lembut, mengembuskan napas hangat tepat di daun telinga Nabilla.Untaian kalimat bernada seksi itu seketika membuat tubuh Nabilla merinding halus. Ia dapat merasakan gairah pria muda itu mengalir deras ke arahnya.Nabilla mengalihkan pandangan, menatap lurus ke dalam manik mata biru milik Indra ya
Pagi itu, Bima melangkah tenang menuju sebuah kafe bernuansa taman yang menjadi tempat biasa ia bertemu dengan Saifanny. Setelah kejadian makan malam yang canggung sekaligus menegangkan semalam, Ririn terus-menerus menghubunginya untuk menanyakan keberadaannya tanpa henti. Namun, Bima hanya membalas singkat seperti biasanya. Bima memasuki salah satu ruang VIP kafe dengan langkah lambat. Begitu pintu digeser, ia mendapati Saifanny sudah duduk menunggu dengan secangkir cappuccino di hadapannya, lengkap dengan segelas espresso pahit yang sengaja dipesan untuknya. Bima mendudukkan diri perlahan tepat berhadapan dengan Saifanny, sembari meletakkan tas kerjanya di kursi sebelah. "Jadi, apa yang kamu curigai? Kenapa tiba-tiba kamu ingin menyelidiki Pak Marcus lagi?" tanya Bima langsung pada intinya, tanpa basa-basi. Saifanny menarik napas dalam-dalam, raut wajahnya diliputi kecurigaan. "Kemarin aku membaca laporan mingguan dari pengawas proyek. Ada dua kuli yang mendadak mengundur
Pagi itu, di dalam kamar suite mewah hotel bintang lima, Bima bersusah payah mengguncang tubuh Andien yang sulit untuk dibangunkan dari tidurnya."Andien, bangun. Siang ini kita sudah harus checkout," ucap Bima sembari terus mengguncang pelan tubuh wanita itu.Andien hanya menggeliat malas di balik
Malam itu, kemewahan hotel bintang lima dilingkupi keheningan yang menenangkan. Di atas kasur berukuran king-size, Bima sedang fokus membaca buku elektronik melalui layar iPadnya.Keheningan itu pecah saat Andien yang baru saja melangkah keluar dari kamar mandi, langsung menjatuhkan tubuhnya untuk
Sore itu, suasana di dalam rumah Saifanny dilingkupi oleh keheningan yang menenangkan batin.Wanita itu sedang duduk bersandarkan sofa sambil memeriksa lembar demi lembar buku pelajaran milik putranya, Syahdan.Ia memantau setiap perkembangan materi pelajaran yang dipelajari buah hatinya di sekolah
Sore itu, di dalam kamar suite hotel bintang lima, Andien bersiap untuk mandi. Pintu geser berbahan kaca patri tebal itu terbuka tanpa suara, mengeksiskan kemewahan ruang basah tempat dirinya dan Bima menginap.Ruangan itu begitu luas, didominasi oleh hamparan lantai marmer hitam berurat emas yang







