로그인Malam kian melarut di dalam The Zenith Crystal Hall. Syahdan memeluk erat ukiran bunga mawar mewah berlapis kristal yang telah dibungkus rapi dalam wadah pelindung khusus—karya seni bernilai fantastis yang berhasil dimenangkan oleh Adrian.Lantaran beberapa kali kedapatan menguap dan menggosok matanya yang disergap kantuk, Adrian mengambil keputusan untuk undur diri lebih awal, menyisakan Jovian dan Tyas yang wajib bertahan hingga seluruh rangkaian perhelatan berakhir."Kami pamit dulu, Bu. Saya akan segera menghubungi Bu Tyas untuk kelanjutan rencana kita," tutur Adrian tegas sebelum menuntun langkah putranya masuk ke dalam mobil hitam.Syahdan menyerahkan bungkusan ukiran bernilai tinggi itu pada pangkuan Adrian, lalu menyunggingkan senyum seraya melambaikan tangannya ramah pada Aidan sebagai ucapan perpisahan.Kedua figur ayah dan anak itu pun meluncur meninggalkan galeri, menutup malam dengan perpisahan yang hangat.Rangkaian acara lelang hari itu terbilang sukses besar. Sebagian
Usai sesi pemotretan singkat bersama fotografer galeri, kerumunan tamu perlahan bergeser menuju area aula lelang utama.Suasana di sekitar pilar marmer kini mendadak lebih tenang, menyisakan pendar cahaya spotlight yang memancar lembut membungkus patung kristal mawar mekar di atasnya.Syahdan melangkah pelan mendekati pilar itu kembali. Manik matanya tak lepas menatap bias keemasan dan merah dari ukiran kristal yang begitu memikat. Di sisinya, Aidan mengekori sembari memiringkan kepala."Kau benar-benar menyukai patung bunga ini, ya?" Tanya Aidan memperhatikan pandangan kaku Syahdan.Syahdan mengangguk pelan, jemari kecilnya terangkat mengudara—hampir menyentuh permukaan kaca pelindung namun ia tahan."Mama suka sekali bunga mawar... Mama juga punya taman bunga mawar di rumah kami," jawab Syahdan pelan, memori rumah membayang di benaknya.Aidan tersenyum tipis, memahami ikatan polos itu. "Oh, begitu... Minta saja pada papamu kalau mau patung itu," ucap Aidan sambil menunjuk patung
Ketegangan di dalam ruangan privat yang menyekap mereka perlahan meluruh, menyisakan residu keheningan yang lebih teratur. Dengan pergerakan anggun, Tyas mengulurkan tangannya, meraih tangkai gelas kristal di hadapannya lalu menyesap pelan gelembung sampanye yang tersaji. Tyas memiringkan kepalanya sedikit, menatap Adrian dengan tatapan mata yang berkilat analitis. "Jadi... Anda ingin menegaskan bahwasanya adik saya memang mengalami kekerasan fisik dari pria narsis itu?" Ucap Tyas datar seraya menggoyangkan pelan cairan di dalam gelasnya. Adrian menganggukkan kepalanya perlahan, mendaratkan jemarinya di atas permukaan meja dengan ketukan konstan. "Boleh saya bertanya satu hal?" Lanjut Tyas, yang serta-merta direspons Adrian lewat isyarat telapak tangan—mempersilakan wanita itu bersuara. "Mengapa Anda begitu berambisi menghancurkan Marcus? Apa dia sudah melakukan sesuatu yang memicu amarah seorang Adrian Utama?" Cerca Tyas diiringi senyum tipis yang sarat akan provokasi. Adr
Di sebuah VIP suite tertutup yang steril di dalam galeri, ketenangan begitu mencekam. Dinding berbahan kedap suara memisahkan keriuhan lelang di luar dari dua figur penguasa yang kini duduk berhadapan.Di atas meja mahoni, dua gelas kristal berdiri tak tersentuh, mencerminkan ketegangan terukur yang meruap ke setiap sudut ruangan.Tyas menyandarkan punggungnya, menatap Adrian dengan cermat. Garis wajahnya membeku tanpa riak emosi, memamerkan kewaspadaan seorang matriark yang terbiasa memegang kendali."Sebelum kita membicarakan lebih jauh tentang Marcus, saya ingin bertanya satu hal pada Anda," buka Tyas serius, mengunci lurus manik mata lawan bicaranya.Adrian menegakkan posisi duduknya, membalas tatapan itu dengan ketenangan yang setara."Saya yakin sebelum mendekati saya, Anda sudah mencari tahu tentang saya, kan? Apa saja yang Anda ketahui tentang Astaguna dan Manggala?" Cerca Tyas tajam, menguji sejauh mana pria di hadapannya telah meretas batas kerahasiaan keluarganya.Ukiran se
Di sudut kanan hall yang memajang jajaran instalasi seni kontemporer, Syahdan berdiri mematung di hadapan sebuah pilar marmer. Di atas pilar kokoh tersebut, bertengger sebuah patung kristal transparansi berbentuk kuncup bunga mawar yang tengah mekar sempurna. Pendar spotlight dari langit-langit membiaskan spektrum warna merah keemasan yang teramat indah, memancar lembut membelah sudut-sudut marmer. Syahdan menatap patung itu tanpa mengedipkan mata. Benak polosnya melayang pada ingatan di rumah—bunga kesukaan ibunya, serta ingatan akan senyum hangat Saifanny tatkala hatinya sedang tenang dan diliputi kebahagiaan. "Itu karya ukir kristal buatan seniman Prancis," sebuah suara berintonasi tenang, percaya diri, dan renyah menyapa dari sisi samping. Syahdan menoleh perlahan. Di sebelahnya, telah berdiri seorang anak laki-laki yang berusia beberapa tahun lebih tua darinya. Anak itu mengenakan setelan jas biru berpotongan amat rapi, dengan helaian rambut blonde halus yang membingkai para
Sore hari menyelimuti kantor pusat Utama Group dalam keheningan yang menenangkan. Pasca-ledakan amarah dan jeritan histeris Saifanny di lorong eksekutif beberapa jam lalu, ketenangan perlahan merayap kembali di setiap sudut ruangan.Tak ada satu pun karyawan yang berani memperpanjang perbincangan atau membocorkan insiden tersebut.Di bawah kepemimpinan Adrian Utama, disiplin dan aturan kerahasiaan diterapkan secara ketat; membocorkan urusan internal perusahaan sama saja dengan mempertaruhkan karier dan menghadapi konsekuensi hukum yang amat berat.Tringgg... Tringgg...Ponsel di atas meja kerja Adrian berdering nyaring, memecah kesunyian. Layar digitalnya menampilkan identitas sang ketua tim keamanan elit."Halo..." Sapa Adrian dingin usai menggeser tombol hijau."Halo, Pak. Bu Saifanny sudah dipastikan langsung tiba dan masuk ke rumah pribadinya. Beliau tidak mendatangi kediaman atau kantor Marcus Manggala," lapor ketua tim dengan nada tegas."Bagus. Terus awasi pergerakannya sampai
Kini Saifanny berdiri di depan kantor suaminya sambil menenteng kotak makan bertingkat berwarna biru. "Rasanya aneh kembali ke sini secara terang-terangan" Batinnya. Tujuannya kali ini adalah untuk mengajak wanita itu berkenalan, demi mewujudkan rencana berikutnya: mencari lebih banyak informasi te
Saifanny menjalankan sepeda motornya menuju kantor Zain. Ia ingin melihat dengan mata kepalanya sendiri wujud dari wanita itu. Dengan perasaan campur aduk, ia memarkirkan motornya. Sudah lama ia tidak menginjakkan kaki di kantor ini, mungkin sejak ia mengumumkan akan mengundurkan diri untuk menikah
Saifanny sebenarnya tidak peduli jika Adrian tahu ia datang ke kantor secara diam-diam. Ia menyadari dirinya memang terlihat seperti pencuri saat itu, mengendap-ngendap dan mengintai suaminya sendiri. Namun bagi Saifanny, mencari kebenaran bukanlah sebuah kejahatan. Adrian mengirim pesan lagi. Pri
Lantai 3 Hotel Anggrek. Aroma pengharum ruangan khas hotel terasa menyengat di hidung Saifanny. Ia berdiri di depan kamar 308, menggenggam sebuah kunci yang didapatkannya setelah mengelabui seorang resepsionis dengan alasan telah kehilangan kuncinya. Begitu memasuki kamar, Saifanny membeku. Suamin







