LOGINSaifanny melihat ke sekaliling kamar dengan binar mata kagum yang tertahan. Ia tahu persis bahwa keluarga Manggala memiliki standar yang tinggi dalam mendekorasi kamar.Syahdan tiba-tiba menarik lengan baju Saifanny dengan pandangan mata penuh tanya."Ma, kita nginep disini? Gak di hotel?" Tanya Syahdan. Pertanyaan yang sebenarnya ingin ia tanyakan saat perjalanan dari waterpark.Saifanny mengangguk pelan, "iya sayang. Sementara kita menginap disini." Jawab Saifanny singkat."Kalian bisa menginap selama mungkin disini" Ucap sebuah suara dari ambang pintu yang membuat Saifanny dan Syahdan menoleh.Terlihat Marcus berjalan perlahan menghampiri mereka dengan senyum merekah di bibirnya. Pria itu lalu mengulurkan tangannya, menepuk pelan puncak kepala Syahdan. "Mabelle tinggal disini sejak lahir. Syahdan bisa minta Mabelle untuk ngajak jalan-jalan di rumah ini, ada juga kolam renang di bagian belakang rumah ini kalau Syahdan mau renang" Terang Marcus lembut.Syahdan hanya mengangguk menge
Matahari siang membakar T-City tanpa ampun, memancarkan silau yang memantul tajam di atas permukaan air kolam yang jernih.Di area waterpark yang riuh oleh gelak tawa pengunjung, Syahdan dan Mabelle tampak mengapung gembira, saling melempar bola air plastik di bawah pengawasan para penjaga pantai.Sementara itu, di tepi kolam, Saifanny dan Marcus duduk berdampingan di atas kursi malas yang ternaungi payung pantai raksasa.Saifanny menarik topi pantainya agak menunduk ke bawah, menutupi keningnya dari sengatan radiasi matahari. Ia sudah menduga bahwa cuaca terik T-City akan terasa menusuk bagi kulit dan penglihatannya.Di sebelahnya, Marcus duduk santai dengan senyum cerah yang terus menyungging. Pria itu tampak menikmati pemandangan di hadapannya—sesuatu yang dalam halusinasinya terasa seperti gambaran keluarga bahagia yang utuh."Tempat ini terlihat berbeda dari terakhir kali kita kemari. Arenanya lebih banyak dan luas," ujar Saifanny membuka percakapan basa-basi, berusaha mengali
Sinar matahari pagi membias di atas deretan kendaraan yang terparkir rapi di pelataran kantor Utama Group.Usai memarkirkan mobilnya, Yudi melangkah mantap menuju pintu utama gedung pencakar langit tersebut.Langkahnya sempat tertahan sejenak saat melewati pos penjagaan depan. Dua orang rekan sesama tim keamanan melambaikan tangan dengan gestur maskulin khas mereka—sebuah teguran tanpa kata yang dibalas Yudi dengan anggukan kepala singkat.Kedatangan Yudi ke kantor Utama Group pagi ini bukanlah untuk menyampaikan rincian perkembangan perburuan Ririn kepada Rivan, sang kepala tim keamanan.Panggilan ini bersifat pribadi dan sangat mendadak, datang langsung dari Andien—adik kandung Adrian yang sekaligus merupakan salah satu atasan di struktur perusahaan.Di balik langkah kaku yang diayunkannya, batin Yudi tak terlalu banyak bertanya-tanya. Pria itu sudah memprediksi alur yang akan terjadi.Ia sangat paham bahwa Andien memanggilnya secara langsung hanya untuk satu alasan: mengorek in
Pagi hari yang diselimuti kabut tipis membungkus kawasan pemukiman mewah itu dalam keheningan yang mencekam.Dari balik semak-semak tinggi di seberang jalan, seorang pria muda berseragam serba hitam tampak tiarap, mengamati setiap celah pergerakan rumah di hadapannya menggunakan teropong jarak jauh berpresisi tinggi.Tak!Sebuah tepukan mendarat cukup keras di bahunya, membuat anggota muda itu terperanjat kaget sebelum refleks menahan napasnya agar tak menimbulkan suara.Ia menoleh cepat, mendapati sang senior tengah menatapnya dengan raut wajah serius nan lelah."Sekarang sudah jam lima lewat, mending kamu shalat dulu sana. Aku yang akan mengawasi pergerakan orang-orang di rumah itu," perintah sang senior dengan bisikan bernada rendah.Petugas junior itu mengangguk patuh. Ia memundurkan tubuhnya secara perlahan seraya menyerahkan teropong jarak jauh tersebut ke tangan seniornya.Sudah tiga hari penuh ia dan empat anggota tim keamanan lainnya bergan
Suasana di dalam ruang kerja panti jompo yang semula kaku mendadak berubah manis di mata Marcus. Senyuman lebar tak henti-hentinya tersungging di bibir pria itu, memancarkan binar kebahagiaan narsistik saat menatap sosok Saifanny yang duduk di hadapannya. "Jadi... Kapan kita akan berangkat?" Tanya Marcus dengan tatapan mata hangat yang sarat akan binar optimisme. Saifanny terdiam sejenak, mengunci jemarinya di bawah meja untuk menyembunyikan getaran taktis di tangannya, sebelum kembali menatap Marcus. "Ayo kita berangkat besok pagi saja," jawab Saifanny seraya mengangguk pelan. Marcus sedikit terkejut dengan keputusan mendadak itu. Keningnya berkerut rapat. "Secepat itu?" Tanyanya kebingungan. Saifanny mengangguk mantap. "Iya, lebih cepat, lebih baik, kan?" Sahut Saifanny seraya memiringkan kepalanya, memasang raut wajah polos tanpa dosa yang sempurna. Marcus mengangguk cepat. Sepasang matanya memancarkan binar penuh semangat yang sulit dibendung. Pria itu tiba-tiba ber
Layar ponsel di genggaman Saifanny memancarkan cahaya redup yang memantulkan raut wajahnya yang tegang. Jemarinya terus mengusap layar, menelusuri lembar demi lembar berkas digital yang baru saja dikirimkan oleh Bima. Ruang kerja panti jompo yang hening menjadi saksi bisu bagaimana napas Saifanny perlahan tertahan. Di dalam berkas itu, tertera rekam jejak Mawar Sudrajat di Utama Group puluhan tahun silam. Laporan audit lama menunjukkan adanya kebocoran data rahasia pada sistem otomatisasi pengolahan makanan sehat milik Utama Group—sebuah insiden sabotase teknis yang fatal, yang pada masa itu hampir menghancurkan reputasi perusahaan dan membuat posisi Adnan Utama di ambang pemecatan oleh Kakek Arkana. Namun, saat Saifanny mencoba menggali lebih dalam mengenai keterkaitan langsung antara sabotase tersebut dengan pengalihan paten food-tech ke tangan Manggala Tech, lembaran dokumen itu mendadak terputus. Halaman berikutnya hanya beri
Saifanny sebenarnya tidak peduli jika Adrian tahu ia datang ke kantor secara diam-diam. Ia menyadari dirinya memang terlihat seperti pencuri saat itu, mengendap-ngendap dan mengintai suaminya sendiri. Namun bagi Saifanny, mencari kebenaran bukanlah sebuah kejahatan. Adrian mengirim pesan lagi. Pri
Hari telah berlalu dan Saifanny terus memandangi ponselnya. Belum ada pesan masuk dari wanita itu. Ia sempat berpikir, apa mungkin Ranaya melapor kepada suaminya? Namun, jika wanita itu melapor, ia tidak mungkin memberikan nomor teleponnya sejak awal. Saifanny mencoba mengalihkan perhatiannya pada
Kini Saifanny berdiri di depan kantor suaminya sambil menenteng kotak makan bertingkat berwarna biru. "Rasanya aneh kembali ke sini secara terang-terangan" Batinnya. Tujuannya kali ini adalah untuk mengajak wanita itu berkenalan, demi mewujudkan rencana berikutnya: mencari lebih banyak informasi te
Saifanny menjalankan sepeda motornya menuju kantor Zain. Ia ingin melihat dengan mata kepalanya sendiri wujud dari wanita itu. Dengan perasaan campur aduk, ia memarkirkan motornya. Sudah lama ia tidak menginjakkan kaki di kantor ini, mungkin sejak ia mengumumkan akan mengundurkan diri untuk menikah







