FAZER LOGINSiang menjelang sore yang cerah menyelimuti pelataran panti jompo milik Saifanny. Cahaya matahari menerobos celah-celah rindang pepohonan, membiaskan pendar keemasan di atas kap mobil Bima tatkala pria itu perlahan memarkirkan kendaraannya.Bima melangkah keluar dari kabin, berdiri sejenak menghirup udara luar seraya menghembuskan napas panjang yang sarat akan beban mental.Setelah menata kembali benteng pertahanan emosinya yang melelahkan, ia mengayunkan langkah mantap menuju pintu depan bangunan tersebut.Kini, Bima duduk berhadapan dengan Saifanny di ruang kerja wanita itu. Di antara mereka, kepulan asap tipis membumbung dari dua cangkir teh hangat, mengudara lambat di tengah keheningan yang serasa menghimpit."Aku ke sini hanya ingin menanyakan beberapa hal soal Ririn," Mulai Bima, memaksakan nada suaranya terdengar setenang mungkin meski gejolak penasaran membakar dadanya.Saifanny menegakkan posisi duduknya di balik kursi kebesarannya. Sorot matanya berubah serius, menyiratk
Siang yang menyengat menyelimuti lanskap pencakar langit J-City. Namun, di dalam ruang rapat utama gedung Utama Group, atmosfer terasa begitu dingin dan membeku.Bima dan Adrian duduk berseberangan di meja kayu jati yang luas, dikurung hening yang menekan jiwa."Jadi... Ririn benar-benar amnesia?" Tanya Adrian begitu Bima selesai menceritakan secara terperinci seluruh kejadian medis yang disaksikannya pagi tadi.Bima mengangguk pelan. Dengan perasaan tegang dan berat yang menggelayuti dadanya, jemarinya meraih cangkir kopi hitam yang mengepul tipis di hadapannya, lalu menyesap cairan pahit itu perlahan demi menutupi kecemasan yang bergejolak."Awalnya aku memang tidak percaya, tapi dokter itu menjelaskan semuanya dengan sangat rinci. Dan... Ririn memang terlihat teramat berbeda dari dirinya yang biasanya," Kata Bima parau.Hati kecilnya menolak mentah-mentah mengakui realita bahwasanya buronan yang ia buru dengan pertaruhan nyawa itu kini melupakan seluruh rekam jejak kejahatan ya
Satu jam berlalu sejak Dokter meminta untuk berbicara berdua dengan Ririn. Di luar kamar perawatan VIP, koridor rumah sakit terasa kian temaram dan dingin. Lampu-lampu neon memantulkan pendar pucat di atas lantai granit.Bima berdiri bersedekap di dekat jendela kaca besar, menghela nafasnya, lalu melirik sekilas ke arah dua petugas polisi yang bersiap mendengarkan penjelasan resmi dari tim medis.Di samping Bima, Bara bersandar kaku, masih belum sepenuhnya mencerna kejanggalan reaksi Ririn di dalam ruangan tadi.Ckrek!Pintu kamar terbuka kembali. Dokter spesialis bedah saraf yang menangani Ririn melangkah keluar.Pria paruh baya berjas putih itu menghela napas berat, membenarkan letak kacamata minusnya sebelum menyapu pandangan ke arah Bima, Bara, dan kedua petugas kepolisian."Bagaimana, Dokter? Apa kami sudah bisa meminta keterangan awal dari tersangka?" tanya salah seorang penyidik kepolisian, memecah keheningan dengan intonasi lugas.Dokter menggelengkan kepala secara perlaha
Sebelum benar-benar mengayunkan langkah masuk ke dalam ruangan itu, Bima menarik napasnya dalam-dalam.Paru-parunya dipenuhi udara dingin disinfektan rumah sakit yang menusuk. Jauh di dalam lubuk hatinya, Bima sebenarnya enggan berada dalam radius berdekatan dengan wanita itu lagi.Pengalaman kelam di masa lalu mengajarkannya satu hal pahit: setiap kali ada orang yang berada dekat dengan Ririn, wanita itu tidak akan ragu melukai siapa pun di sekitarnya tanpa rasa bersalah.Begitu pintu berderit terbuka dan mereka melangkah masuk, Bima secara refleks mendorong pelan bahu Bara agar berjalan lebih dulu mendekati ranjang perawatan.Sementara itu, Bima memilih bersandar di dekat daun pintu—mengambil jarak aman yang cukup jauh dari ranjang pasien, seolah-olah ruangan itu dipenuhi racun tak kasat mata."Bu Ririn..." panggil dokter spesialis bedah saraf itu dengan intonasi pelan dan lembut.Di atas ranjang, Ririn terlihat duduk meringkuk rapat di atas kasur berseprai putih. Kedua lengannya
Sore hari menyelimuti langit J-City dengan pendar warna jingga keemasan yang redup dan melankolis.Di koridor lantai VIP sebuah rumah sakit rujukan yang dijaga ketat, langkah kaki Bima bergema tenang namun sarat akan ketegangan yang pekat.Pria itu menarik napas panjang, menghembuskannya secara perlahan demi menenangkan batin dan gejolak emosi yang berkecamuk di dalam dadanya.Dua orang personel keamanan bentukan Bara yang bersiaga tepat di depan pintu kamar perawatan Ririn seketika menganggukkan kepala memberi hormat tatkala Bima melangkah mendekat.Bima menghentikan langkahnya, menatap lurus ke arah Bara yang berdiri bersandar pada dinding koridor tak jauh dari ambang pintu. Figur Bara tampak teramat lelah usai mengawal seluruh dinamika penangkapan dan operasi medis darurat sejak pagi hari tadi."Bagaimana keadaannya, Bara?" Tanya Bima dengan nada suara yang dipaksakan setenang mungkin, menutupi kecemasan yang membakar.Bara mengangguk singkat, lalu mengayunkan langkahnya mende
Pagi hari yang tenang menyelimuti lantai teratas gedung utama Utama Group. Di ruang kerjanya yang megah, Adrian mendudukkan dirinya secara perlahan di atas kursi kebesarannya yang terbuat dari kulit hitam kualitas tinggi.Ia menghembuskan napas panjang, bersiap menyambut kembali rutinitas harian yang menuntut ketajaman mental dan fisik tanpa kompromi.Adrian lantas merogoh saku jasnya, menarik keluar ponsel pintar yang belum sempat ia periksa sejak semalam. Begitu layar ponsel itu menyala, deretan notifikasi pesan singkat dari Bima langsung muncul di bilah pemberitahuan.Adrian membenarkan posisi duduknya, merapatkan punggungnya ke sandaran kursi, lalu menekan ruang obrolan pribadinya dengan Bima.Klik!Layar menampilkan beberapa pesan terbaru. Seketika itu pula, manik mata Adrian membelalak kaget, menatap rentetan kalimat laporan yang terpampang nyata."Ririn dan Doni sudah ditemukan. Doni sudah di tangan polisi, sementara Ririn ada di rumah sakit," tulis Bima dalam pesan ringka
Hari telah berlalu dan Saifanny terus memandangi ponselnya. Belum ada pesan masuk dari wanita itu. Ia sempat berpikir, apa mungkin Ranaya melapor kepada suaminya? Namun, jika wanita itu melapor, ia tidak mungkin memberikan nomor teleponnya sejak awal. Saifanny mencoba mengalihkan perhatiannya pada
Kini Saifanny berdiri di depan kantor suaminya sambil menenteng kotak makan bertingkat berwarna biru. "Rasanya aneh kembali ke sini secara terang-terangan" Batinnya. Tujuannya kali ini adalah untuk mengajak wanita itu berkenalan, demi mewujudkan rencana berikutnya: mencari lebih banyak informasi te
Saifanny menjalankan sepeda motornya menuju kantor Zain. Ia ingin melihat dengan mata kepalanya sendiri wujud dari wanita itu. Dengan perasaan campur aduk, ia memarkirkan motornya. Sudah lama ia tidak menginjakkan kaki di kantor ini, mungkin sejak ia mengumumkan akan mengundurkan diri untuk menikah
Saifanny sebenarnya tidak peduli jika Adrian tahu ia datang ke kantor secara diam-diam. Ia menyadari dirinya memang terlihat seperti pencuri saat itu, mengendap-ngendap dan mengintai suaminya sendiri. Namun bagi Saifanny, mencari kebenaran bukanlah sebuah kejahatan. Adrian mengirim pesan lagi. Pri







