Home / Rumah Tangga / Cerai pura pura / 6. Manis tapi ditelan pahit

Share

6. Manis tapi ditelan pahit

Author: Jana Indria
last update publish date: 2026-02-06 12:46:26

Malam harinya.

Santi sudah siuman dan berada di rumah. Tadi ia di tolong oleh ibu -ibu pemilik warung di dekat klinik yang berbaik hati mengantarnya pulang naik becak. Hesti menelepon berkali- kali, tapi Santi tidak mengangkat. Ia takut pertahanannya jebol.

Santi duduk di depan laptop tuanya. Satu- satunya pelariannya.

Ia membuka file naskah novel onlinenya yang berjudul "Lelaki yang Tak Pernah Pulang". Biasanya, ia menulis kisah romantis yang manis karena itulah yang laku di pasaran. Pembaca suka mimpi indah.

Tapi malam ini, jari-jari Santi menari di atas keyboard dengan amarah.

Ia mengubah alur ceritanya. Tokoh utama pria yang tadinya ia bangun sebagai sosok pahlawan, ia bunuh karakternya malam ini. Bukan mati fisik, tapi mati secara moral. Ia menuangkan semua dialog Angga, semua kepedihan di ruang tunggu dokter, semua rasa jijik melihat mobil Pajero itu.

Santi mengetik dengan air mata bercucuran, tapi anehnya, ia merasa lega. Setiap huruf adalah teriakan yang tak bisa ia suarakan.

*"Kamu bilang ini pengorbanan,"* ketik Santi dalam naskahnya. *"Tapi pengorbanan siapa? Kamu mengorbankan istri dan anakmu di altar keserakahan, lalu membungkusnya dengan kertas kado bernama 'kewajiban'. Dan aku? Aku adalah orang bodoh yang mengangguk setuju saat leherku di jerat."*

Ia mengunggah bab baru itu.

Biasanya, komentarnya hanya sekitar 50-an. Tapi karena emosi yang tertuang begitu *raw* dan nyata, dalam satu jam, notifikasi aplikasinya meledak.

*User123:* "Gilaaa, ini bab paling nyesek! Thor, kamu nulisnya pake hati banget ya? Kerasa banget sakitnya!"

*MamaMuda:* "Si cowoknya minta di santet online! Kesel banget bacanya!"

*ReaderSejati:* "Kok rasanya *real* banget ya? Authornya lagi ngalamin sendiri kah? Semangat Thor!"

Santi membaca komentar- komentar itu. Ada sedikit rasa hangat di dadanya. Orang asing. Justru orang asing yang mengerti rasa sakitnya, bukan suaminya.

Tiba- tiba pintu depan di ketuk pelan. Santi menoleh, dengan sikap yang berbeda, harus lebih waspada, karena ini sudah jam 10 malam. Apa itu Angga?

Ia mengintip dari jendela. Itu bukan Angga.

Di teras, berdiri seorang pria tegap dengan jaket kulit hitam, memegang helm. Wajahnya samar-samar di bawah lampu teras yang remang, tapi postur tubuhnya sangat tegap khas militer.

Itu Satrio, kakak iparnya. Dan di belakangnya, ada seorang pria lain yang lebih tinggi, berdiri dengan sikap istirahat di tempat, matanya menyapu sekeliling halaman rumah Santi dengan waspada.

Mati aku, batin Santi. *Mbak Hesti pasti kirim Mas Satrio.*

Santi membuka pintu perlahan. "Mas Satrio?"

"Dek," suara Satrio berat dan tegas. Ia tidak tersenyum. "Hesti nangis -nangis di rumah. Dia bilang perasaannya nggak enak soal kamu. Dia mimpi kamu jatoh. Aku di suruh ngecek malam ini juga."

Satrio menatap wajah Santi yang pucat, matanya yang bengkak, dan tubuhnya yang terlihat makin kurus.

"Kamu sakit beneran? Angga mana?" tanya Satrio, matanya menyelidik ke dalam rumah lewat bahu Santi. "Motornya nggak ada. Mobil juga nggak ada."

"Angga... Angga lembur, Mas," jawab Santi, suaranya kecil.

"Lembur sampai jam segini? Tiga hari lalu Hesti bilang dia dinas luar kota. Sekarang lembur? Yang bener yang mana?" Satrio mulai curiga.

Pria di belakang Satrio maju sedikit. Cahaya lampu menyinari wajahnya. Wajah yang tenang, rahang tegas, kulit sawo matang, dengan tatapan mata yang tajam namun teduh. Itu Danan. Teman satu peleton Satrio.

"Izin, Ndan," suara Danan terdengar dalam dan sopan. "Itu di teras ada bekas muntahan yang sudah kering belum disiram. Sepertinya Ibu Santi memang sedang sakit parah."

Santi terlonjak kaget. Ia lupa menyiram sisa mualnya tadi pagi di dekat pot bunga karena buru-buru masuk. Pria ini... matanya jeli sekali.

Satrio langsung menatap noda itu, lalu menatap Santi dengan pandangan horor. "Kamu muntah-muntah? Kamu hamil, San?"

Santi membeku. Rahasianya di ujung tanduk.

"Jawab, San. Kamu hamil?" desak Satrio.

Santi mengangguk lemah.

Wajah Satrio berubah cerah sesaat, lalu gelap kembali. "Kamu hamil, dan suamimu nggak ada di rumah jam segini? Dia keluyuran ke mana?"

"Dia kerja, Mas... beneran..." Santi mencoba membela, meski hatinya hancur. Ia belum siap kakak iparnya tahu soal perceraian itu. Satrio bisa mengamuk dan menghajar Angga saat itu juga, dan itu akan merusak rencana 'rujuk' yang di janjikan Angga.

Dan betapa bodohnya aku masih berharap rencana itu, batin Santi.

"Mas Satrio, tolong jangan bilang Mbak Hesti dulu ya kalau aku hamil. Aku mau kasih *surprise* nanti pas ulang tahun Mbak Hesti minggu depan," pinta Santi memelas. "Dan tolong jangan marahin Angga. Dia lagi ngejar target kantor buat biaya lahiran nanti."

Satrio menghela napas panjang, tampak tidak puas tapi mencoba mengerti. "Ya sudah kalau itu mau kamu. Tapi ini Danan bawain martabak manis sama sate kambing. Tadi kita habis patroli lewat sini. Dimakan. Kamu kurus banget."

Danan melangkah maju, menyodorkan bungkusan plastik putih. Tangan mereka bersentuhan sedikit saat Santi mengambilnya. Tangan pria itu kasar dan hangat.

"Semoga lekas membaik, Bu Santi," ucap Danan singkat. Tidak ada nada menggoda, murni sopan santun. Tapi matanya menyiratkan sesuatu. Simpati? Kasihan?

"Makasih, Mas Danan. Maaf ngerepotin malem-malem."

"Siap, tidak repot," jawab Danan.

"Kita balik dulu. Kunci pintu yang bener. Kalau si Angga macem- macem atau nggak pulang -pulang, telepon Mas. Biar Mas yang jemput dia pake truk batalyon," ancam Satrio setengah bercanda, tapi Santi tahu dia serius.

"Iya, Mas."

Kedua tentara itu pergi. Suara motor mereka menjauh.

Santi masuk kembali ke rumah, meletakkan martabak yang masih hangat itu di meja. Aroma manis cokelat kacang menguar.

Makanan yang justru di bawakan oleh orang asing, sementara suaminya sendiri bahkan tidak mau membelikan air mineral saat dia pingsan.

Santi membuka kotak martabak itu, mengambil sepotong, dan memakannya sambil menangis.

Rasanya manis, tapi ditelan dengan rasa pahit yang luar biasa.

Malam itu, Santi membuat keputusan. Ia akan menyelesaikan naskah novelnya. Ia akan mengumpulkan uang dari royalti penulisannya. Ia tidak akan menyentuh uang 5 juta dari Angga kecuali terpaksa.

Dan ia mulai meragukan janji "tiga bulan" itu. Firasatnya mengatakan, Angga tidak akan pernah kembali. Dan mungkin... mungkin seharusnya memang begitu.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Cerai pura pura   27. Mata itu

    Di kamar tengah, dengan penerangan lilin, Pak Santoso sedang menyuapi Bu Ratih bubur instan dingin. "Angga?" Pak Santoso menyipitkan mata. "Kamu pulang, Le?" Angga berlari, bersimpuh di kaki bapaknya. "Pak... Maafin Angga... Rumah ini mau disita..." Pak Santoso mengelus kepala anaknya dengan tangan gemetar. Tidak ada kemarahan di wajah tua itu. Hanya kepasrahan yang mendalam. "Bapak sudah tau, Le. Tadi orang bank datang. Kita dikasih waktu seminggu buat ngosongin rumah." "Bu Ratih..." Angga menatap ibunya yang kurus kering. Bu Ratih menatap Angga. Matanya kosong. "Santi mana?" tanya Bu Ratih pelan. "Angga... ajak Santi ke sini... Bilang sama Santi, Ibu mau minta maaf... Ibu mau numpang di rumah Santi..." Angga menangis tersedu-sedu. Menangis sampai suaranya habis. "Santi udah nggak ada, Bu... Santi udah bahagia... Kita nggak bisa ganggu dia lagi..." Malam itu, di rumah tua yang gelap dan akan segera hilang itu, Angga memeluk kedua orang tuanya. Mereka bertiga mena

  • Cerai pura pura   26. Jangan gila!!

    "Saya mau bilang..." Danan menelan ludah. "Saya bersedia menunggu.""Menunggu?""Menunggu sampai masa iddah Ibu selesai. Menunggu sampai hati Ibu sembuh. Menunggu sampai Ibu siap membuka pintu lagi."Danan meletakkan sebuah kotak kecil di meja. Bukan cincin. Tapi sebuah gantungan kunci berbentuk boneka beruang tentara yang lucu."Saya nggak berani kasih cincin sekarang. Nanti jadi fitnah. Ini... buat gantungan kunci motor Ibu aja dulu. Sebagai tanda.""Tanda apa?""Tanda bahwa ada satu prajurit yang sedang berjaga di pos hati Ibu, memastikan nggak ada musuh yang masuk lagi."Santi menatap gantungan kunci itu, lalu menatap Danan. Matanya berkaca-kaca.Ini bukan lamaran romantis ala drama Korea dengan bunga dan lilin. Ini lamaran ala Danan. Kaku, jujur, dan apa adanya."Mas Danan tau kan saya janda? Saya pernah hamil dan keguguran. Saya punya masa lalu yang rumit.""Saya tahu. Dan itu nggak mengurangi hormat saya sedikitpun sama Ibu. Justru menambah kagum saya. Ibu wanita kuat. Dan tent

  • Cerai pura pura   25. Kewarasan mulai retak

    25 "Dengar baik-baik. Tiga bulan lalu, wanita ini pingsan di pinggir jalan karena stres mikirin Anda. Sebulan lalu, dia berjuang sendirian di meja operasi. Di mana Anda? Anda sibuk jadi 'suami siaga' buat wanita lain. Sekarang Anda datang mau merusak hidup dia lagi? Langkahi dulu mayat saya."Danan mendorong Angga pelan—tapi bertenaga—hingga Angga terhuyung mundur beberapa langkah."Pergi. Sebelum saya panggil Provost atau Polisi militer karena mengganggu ketertiban umum."Angga memegangi tangannya yang ngilu. Ia melihat sekeliling. Murid-murid SD menonton dari jendela kelas. Guru-guru berbisik. Hesti menatapnya dengan benci. Santi menatapnya dengan dingin. Dan Danan menatapnya seperti predator menatap mangsa.Angga kalah. Total.Ia mengambil tas ranselnya yang jatuh di aspal."Oke... Oke..." Angga mundur, napasnya memburu. Ia menatap Santi untuk terakhir kali hari itu. "Kamu bakal nyesel, San. Tentara ini nggak bakal setia. Laki-laki sama aja.""Setidaknya di

  • Cerai pura pura   24. Kayak sampah

    24 Angga masih bengong. Mulutnya terbuka sedikit. "Dek... Perut kamu...""Kenapa perutku?""Kok... kok kempes?" Angga tergagap, wajahnya pucat. "Ini baru bulan kelima kan? Harusnya... harusnya udah kelihatan buncit. Mana anak kita?"Santi tersenyum miring. "Anak kita?""Iya! Anak aku! Kamu... kamu ngelahirin prematur? Atau..." Wajah Angga berubah horor. "Kamu gugurin?!""Jaga mulutmu, Mas," desis Santi tajam. "Ini lingkungan sekolah. Banyak anak kecil.""Jawab aku, Santi!" Angga maju selangkah, mencoba meraih bahu Santi. "Mana anak itu?! Kenapa badanmu kurus gini?!"Santi mundur selangkah, menghindari sentuhan Angga dengan gerakan jijik."Kamu peduli apa? Bukannya kamu sibuk ngurusin *Prince* Rayyan, pewaris tahta kerajaan Ambar?""Jangan alihkan pembicaraan!" Angga berteriak. Beberapa wali murid yang sedang menunggu jemputan mulai menoleh. "Aku jauh-jauh ke sini, kabur dari rumah, jual jam tangan cuma buat ongkos bus demi liat kamu dan calon anak kita! Aku bawa susu

  • Cerai pura pura   23. Hantu di Gerbang Sekolah

    "Cukup!" Angga berteriak. Suaranya pecah. "Cukup, Mbar! Kamu menghina aku boleh, tapi jangan bapakku! Aku nggak nyuri! Periksa badanku! Periksa rumah ini! Silakan!"Ambar memberi isyarat pada dua sekuriti itu. "Geledah rumah ini.""Mbar, ini rumah orang tua aku! Nggak sopan!" Angga mencoba menghalangi."Minggir!"Dua sekuriti itu masuk, mengaduk-aduk ruang tamu, masuk ke kamar Bu Ratih yang sedang sakit. Bu Ratih menjerit ketakutan melihat orang asing masuk."Jangan! Tolong! Rampok!" teriak Bu Ratih.Angga berlari memeluk ibunya. "Jangan sentuh Ibu saya!"Sepuluh menit kemudian, sekuriti keluar dengan tangan kosong."Nihil, Bu. Nggak ada barang bukti."Ambar mendengus kesal. Ia tidak minta maaf. Ia hanya menatap Angga dengan jijik."Oke, mungkin kali ini kamu lolos. Atau kamu udah jual ke penadah. Awas ya Angga, kalau ketahuan. Mulai malam ini, kamu jangan injak rumah aku dulu sampai kamu ngaku! Tidur sini aja sama ibumu yang penyakitan itu!"Ambar berbalik, masuk ke mobil mewahnya, d

  • Cerai pura pura   22. Seret dia pulang

    *"Bapakmu udah tua... encoknya kumat kalau bopong Ibu. San... kamu ke sini ya? Nduk? Ibu kangen kamu... Ibu nyesel... Sumpah Ibu nyesel nyuruh Angga nikah sama perempuan gila itu... Kamu yang terbaik, San. Kamu mantu Ibu dunia akhirat... Balik ya, Nduk? Tolong pijitin Ibu..."* Permintaan itu. *Balik ya, Nduk?* Santi menarik napas panjang, mengisi paru-parunya dengan udara kebebasan Wonosari. "Bu," potong Santi tegas. "Maaf. Saya tidak bisa." *"Kenapa, San? Kamu masih marah? Ibu minta maaf... Ibu sujud di kaki kamu nanti kalau Ibu sembuh..."* "Bukan soal marah, Bu. Tapi saya sudah bukan siapa-siapa Ibu lagi. Secara agama, saya dan Angga sudah selesai. Saya orang asing." *"Tapi kamu masih hamil cucu Ibu kan? Demi anak dalam perutmu, San..."* Santi tersenyum miris. Kartu as itu lagi. Cucu. "Anak itu..." Santi berhenti sejenak. Ingin rasanya ia berteriak bahwa cucu yang dibanggakan itu sudah mati karena keserakahan neneknya. Tapi Santi menahannya. Itu terlalu mudah. "Bu,

  • Cerai pura pura   5. Mulai ingkar

    "Astagfirullah! Mulut kamu!" Angga melotot. "Ini nafkah! Nafkah iddah! Hak kamu!""Nafkah iddah itu diberikan kalau suami menceraikan istri. Kamu menceraikan aku karena mau nikah sama wanita kaya. Ini bukan nafkah, ini uang tutup mulut.""Terserah kamu mau nyebutnya apa!" Angga membentak, kesabaran

  • Cerai pura pura   4. Firasat sang kakak

    "Wa’alaikumsalam. San, kamu lagi apa? Kok suaranya lemes gitu?" Suara Hesti, kakaknya yang protektif itu, langsung terdengar curiga. Insting seorang kakak memang mengerikan."Lagi... lagi nggak enak badan dikit, Mbak. Biasa, masuk angin," bohong Santi. Ia belum siap cerita. Hesti pasti akan mengamu

  • Cerai pura pura   3. Ok

    Santi merasa mualnya naik lagi ke kerongkongan. Bukan karena hormon, tapi karena jijik. Suaminya sedang menegosiasikan harga dirinya seharga 5 juta per bulan."Jadi harga istri dan anakmu cuma 5 juta?" tanya Santi lirih."Bukan gitu maksudnya! Itu bentuk terima kasih Ambar!" Angga berdiri lagi, mul

  • Cerai pura pura   2. Bujuk rayu

    "Santi! Jaga bicaramu sama suami dan orang tua! Udah nggak ada sopan santunnya kamu ya?!! " bentak Bu Ratih. Ia berdiri, dengan tangan kanan menunjuk tepat di depan wajah Santi."Kamu itu mikir nggak sih? Ambar itu lagi pertaruhan nyawa! Dia lagi hamil besar! Kalau dia nekat bunuh diri gimana? Apa

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status