Mag-log inAzalea menarik napas.
“Syarat pertama, ketemu dengan Bu Ratna dan minta restu dari Bu Ratna. Tanpa restu Ibu aku, aku tidak akan pernah menikah lagi sama kamu.”
Bara mengernyit.
“Syarat kedua,” lanjut Azalea cepat, tidak memberi Bara waktu menolak, “Aku harus bicara dulu sama Mas Arsen, untuk mengakhiri rencana pernikahan kami secara baik-baik. Aku tidak mau jadi perempuan yang jahat, Bara. Aku tidak mau tiba-tiba hilang dan ninggalin M
Jam 17.30. Langit Puncak sudah hampir gelap, kabut turun begitu tebal sampai jarak 5 meter pun tidak terlihat.Sekarang Arsen dan para polisi sudah ketemu petunjuk. Seorang petani kebun teh yang pulang dari ladang melihat Avanza hitam masuk ke jalur Villa Bukit Teh Asri siang tadi. Ia ingat karena mobil itu hampir menabrak gerobak tehnya.Tanpa menunggu, Arsen dan 6 anggota polisi dengan 2 mobil patroli tanpa sirine langsung menggerebek villa tempat Bara berada.Arsen yang pertama kali turun, berlari dengan napas terengah-engah, sepatunya penuh lumpur.“AZALEA! ZEL! KAMU DI DALAM?” teriaknya sambil menggedor pintu kayu villa yang pertama.DOR! DOR!Polisi mendobrak pintu.Kosong. Hanya ada kasur berdebu dan sarang laba-laba.Villa kedua, didobrak lagi. Kosong.Villa ketiga, keempat, kelima. Semua kosong.Sampai di villa keenam, villa kayu yang paling ujung, yang paling terisolir, yang pintunya digembok da
Azalea menarik napas.“Syarat pertama, ketemu dengan Bu Ratna dan minta restu dari Bu Ratna. Tanpa restu Ibu aku, aku tidak akan pernah menikah lagi sama kamu.”Bara mengernyit.“Syarat kedua,” lanjut Azalea cepat, tidak memberi Bara waktu menolak, “Aku harus bicara dulu sama Mas Arsen, untuk mengakhiri rencana pernikahan kami secara baik-baik. Aku tidak mau jadi perempuan yang jahat, Bara. Aku tidak mau tiba-tiba hilang dan ninggalin Mas Arsen tanpa penjelasan. Aku mau ketemu Mas Arsen, aku mau jelasin kalau aku memilih kamu, supaya Mas Arsen tidak menunggu aku. Itu adab, Bara. Aku mau putus baik-baik sama Mas Arsen.”Ini jebakan. Azalea tahu, kalau ia bisa bertemu Arsen, ia selamat. Tapi Bara tidak bodoh.“Syarat ketiga, Bara harus ke psikolog buat cek kesehatan jiwa. Aku takut, Bara. Cara kamu culik aku hari ini, cara kamu bius aku, itu tidak normal. Aku takut kamu sakit, Bara. Kalau kamu sayang ak
Bara semakin panik. Ia mengunci pintu villa dari dalam, mengunci jendela.“Zel, kita harus cepat nikah. Sekarang. Tidak perlu penghulu. Kita nikah di depan Allah saja. Kamu bilang iya saja, Zel.”Ia memaksa duduk di samping Azalea, mengambil tangan Azalea yang masih lemas.Azalea meronta sekuat tenaga yang tersisa, “Tidak! Tidak mau!”Di Pos Polisi Ciawi, jam 16.02.Seorang anggota polisi berlari masuk dengan napas terengah-engah, membawa laptop.“Pak! Dok! Ada petunjuk baru!”Arsen langsung melompat berdiri.“Apa? Apa?”“Pemilik warung di dekat pom bensin Ciawi ingat Avanza hitam itu, Dok! Dia bilang, pengemudinya beli rokok dan tanya jalan ke Villa Bukit Teh Asri! Itu komplek villa lama yang sudah banyak kosong, Pak! Di dalam kebun teh!”Villa Bukit Teh Asri. Arsen ingat! Azalea pernah cerita, Bara pernah bawa Azalea ke sana dulu, untuk merayakan annive
Jam menunjukkan pukul 15.47. Sudah hampir lima jam Azalea hilang.Di Pos Polisi Ciawi, suasana seperti medan perang.Arsen tidak lagi terlihat seperti seorang dokter yang tenang dan tampan. Rambutnya berantakan karena terus dijambak-jambak sendiri. Matanya merah, bukan karena mengantuk, tapi karena amarah, takut, dan rasa bersalah yang menggerogoti setiap detiknya.“Bagaimana, Pak? Ada titik terang?” tanya Arsen untuk kesekian kalinya, suaranya serak karena terlalu banyak berteriak di telepon.Kapolsek menggeleng, wajahnya juga tegang. Di depan mereka, peta besar jalur Jakarta-Puncak-Cianjur terbentang, penuh dengan tanda spidol merah.“Arsen dengan bantuan polisi, mencari jejak dimana Bara membawa Azalea. Tapi sulit, Dok. Sulit sekali,” kata Kapolsek jujur. “Plat nomor Avanza hitam itu palsu. Kita sudah cek 17 CCTV dari Pasar Rebo sampai Gadog. Mobil itu sempat terekam di CCTV pom bensin Ciawi jam 12.33, mengisi bensi
Jam 12.15 siang. Gang rumah produksi Azalea sudah dipenuhi polisi.Garis polisi kuning sudah dipasang seadanya. Motor matic Azalea yang jatuh masih tergeletak di aspal, helm putihnya sudah diambil sebagai barang bukti, dimasukkan ke plastik bening. Mbak Siti, Mbak Yuni, dan Lilis menangis histeris di dalam rumah produksi, dipeluk Bu Lily yang baru datang dengan napas terengah-engah.Arsen berdiri di tengah gang, masih memakai baju operasi biru yang basah oleh keringat, tidak peduli tatapan warga yang berkumpul. Wajahnya pucat, rahangnya mengeras, tangannya mengepal sampai kuku menancap ke daging.Entah Bara atau siapapun yang culik, Arsen masih belum jelas. Secara hati, ia yakin itu Bara. Secara logika, ia tidak mau menuduh tanpa bukti. Karena kalau salah orang, Azalea bisa dalam bahaya lebih lama.“Kita mulai pencarian Azalea sekarang,” kata Kapolsek yang datang langsung, seorang pria paruh baya yang kenal baik dengan keluarga Arsen. “D
“DOOOKTEER! DOKTER ARSEN! BU AZALEA HILANG, DOK! MOTORNYA JATUH DI GANG! HELMNYA DI TANAH! TADI ADA MOBIL HITAM, DOK! KATANYA TETANGGA LIHAT BU AZALEA DISERET MASUK MOBIL!”Darah Arsen langsung surut. Ponselnya hampir jatuh.“Apa? Mobil hitam? Kapan? Jam berapa?”“BARU SAJA, DOK! SEPULUH MENIT YANG LALU! KAMI TAKUT DOK! KAMI TAKUT, DOK!”Tanpa melepas baju operasinya, Arsen langsung lari keluar IGD, berteriak ke perawat,“Siapkan mobil saya! Cepat! Hubungi Polsek! Bilang ada penculikan!”Ia masuk ke mobilnya, menancap gas dengan kecepatan penuh menuju rumah produksi, sambil menelepon Bu Lily dengan suara yang belum pernah Bu Lily dengar, suara panik, marah, dan ketakutan bercampur jadi satu.“Bu, Azalea diculik! Azalea mungkin diculik sama Bara!”Pria itu benar-benar panik. Ia harus segera menemukan calon istrinya itu sebelum Bara atau siapapun berbuat sesuatu yang jahat kepada wani
Mobil Azalea berhenti di depan pagar rumah yang selama tiga tahun dia sebut sebagai “rumah tangga”. Rumah dua lantai bercat putih gading dengan taman kecil di halaman depan. Dulu, Azalea yang merawat setiap sudut rumah itu dengan tangannya sendiri. Dia yang memilih warna gorden. Dia yang menata fot
Bara tidak menjawab. Ia membuang muka, menatap ke arah lain. Rahangnya mengeras.Yang menjawab justru suara lain dari belakang rombongan. Suara yang lebih melengking, lebih tua, dan lebih menyakitkan dari apa pun."Ngapain kamu ke sini, Azalea? Mau bikin malu keluarga kami, ya?"Bu Ratna. Ibu mertu
Jam pada telepon genggam Azalea Maharani menunjukkan pukul 14.27 WIB ketika pesan itu masuk. Sebuah pesan dari nomor tidak dikenal, tanpa nama kontak, hanya deretan angka asing yang tiba-tiba mengusik ketenangannya.*Mbak Azalea, maaf mengganggu. Aku hanya ingin menyampaikan bahwa saat ini suami Mb
"Jangan memutarbalikkan kata-kata!" Bara setengah berteriak. "Intinya kamu itu tidak bersyukur! Kamu diberi suami mapan, mertua peduli, kamu malah meminta cerai! Sekarang rasakan! Hidup susah! Makan saja harus menumbuk sendiri!""Aku bersyukur, Mas." Azalea tersenyum. "Aku sangat bersyukur







