MasukBara tidak menjawab. Ia membuang muka, menatap ke arah lain. Rahangnya mengeras.
Yang menjawab justru suara lain dari belakang rombongan. Suara yang lebih melengking, lebih tua, dan lebih menyakitkan dari apa pun.
"Ngapain kamu ke sini, Azalea? Mau bikin malu keluarga kami, ya?"
Bu Ratna. Ibu mertua Azalea. Perempuan yang selama tiga tahun tidak pernah berhenti menyebut Azalea mandul. Perempuan yang selalu membanding-bandingkan Azalea dengan menantu ideal di televisi. Kini ia muncul dari dalam masjid dengan mengenakan kebaya hijau emerald, wajah penuh riasan, dan senyum yang mengembang sempurna. Ia berjalan mendekat dan berdiri di samping Keyna, lalu dengan bangga menepuk pundak Keyna.
"Ini menantuku yang baru. Keyna. Alhamdulillah, dia sudah ngisi perut duluan. Jadi aku gak perlu nunggu bertahun-tahun kayak waktu sama kamu."
Kalimat itu. "Sudah ngisi perut duluan." "Gak perlu nunggu bertahun-tahun."
Setiap kata adalah pisau yang ditancapkan perlahan ke ulu hati Azalea. Ia merasa mual. Bukan karena hamil. Melainkan karena jijik. Jijik melihat bagaimana keluarga yang ia hormati selama ini ternyata sudah lama merencanakan pengkhianatan ini di belakangnya.
Azalea menatap Bara lagi. Ia menunggu. Menunggu satu kata. Satu pembelaan. Satu penjelasan. Bukankah Bara selalu berkata bahwa ia mencintai Azalea? Bukankah Bara selalu memeluknya ketika Bu Ratna menghina? Bukankah Bara yang selalu berkata, "Sabar, Zel. Ibu cuma kangen cucu. Nanti kalau kita udah dikasih, Ibu pasti sayang sama kamu."
Namun, Bara tetap diam. Diamnya adalah jawaban.
Akhirnya, Bara membuka suara. Bukan permintaan maaf. Bukan penjelasan. Melainkan sebuah pilihan yang ia lemparkan kepada Azalea seperti melempar tulang kepada anjing.
"Azalea, kamu udah lihat sendiri kan? Aku nikah lagi sama Keyna. Dia lagi hamil. Anakku. Anak yang udah aku tunggu-tunggu selama ini. Jadi sekarang aku kasih kamu dua pilihan." Bara menegakkan punggungnya, mencoba terlihat berwibawa. "Pilihan pertama, kamu terima Keyna. Kita jalani rumah tangga berdua. Kamu tetap istri pertama, dia istri kedua. Kamu yang atur rumah tangga. Asal kamu ikhlas. Pilihan kedua..."
Bara berhenti sejenak. Ia menatap Azalea lurus-lurus.
"...kita cerai."
Dunia Azalea runtuh untuk kedua kalinya hari itu.
Ia menatap Bara tidak percaya. Laki-laki yang ia nikahi tiga tahun lalu. Laki-laki yang ia rawat ketika sakit tifus selama dua minggu tanpa tidur. Laki-laki yang ia dukung dari nol ketika perusahaan ayahnya hampir bangkrut. Laki-laki yang ia bela mati-matian di depan Bu Ratna. Kini laki-laki itu berdiri di hadapannya, memberikan ultimatum keji di rumah Allah.
Azalea menoleh ke Keyna. Adik yang ia pungut dari panti. Adik yang ia suapi ketika demam. Adik yang ia ajari memakai pembalut pertama kali. Kini adik itu menunduk, pura-pura sedih, mengelus perutnya yang belum seberapa besar. Namun, sudut bibirnya tidak bisa menyembunyikan kemenangan.
Azalea menoleh ke Bu Ratna. Ibu mertua yang ia pijati kakinya setiap malam Minggu. Ibu mertua yang ia masakkan makanan kesukaannya, sayur lodeh, setiap Rabu. Kini perempuan tua itu menatapnya dengan sorot mata mengejek, seolah berkata, "Akhirnya kamu kalah juga."
Selama tiga tahun, Azalea diam. Selama tiga tahun, Azalea bersabar. Selama tiga tahun, Azalea menelan semua hinaan tentang "mandul" dan "tidak becus jadi istri". Ia pikir kesabarannya akan berbuah manis. Ia pikir Allah sedang mengujinya sebelum memberikan momongan. Ternyata, kesabarannya hanya membuat mereka semakin berani menginjak-injak harga dirinya.
Cukup.
Kata itu bergema di kepalanya. Cukup.
Azalea menarik napas panjang. Ketika ia menghembuskannya, keluarlah seluruh kekuatan yang ia kumpulkan selama tiga tahun ditindas. Ia menatap Bara tepat di manik matanya. Tidak ada air mata. Tidak ada tangis. Hanya ada tatapan dingin yang membuat Bara tanpa sadar melangkah mundur setengah langkah.
"Mas Bara," suara Azalea tegas, jelas, dan dijamin terdengar oleh seluruh orang di teras masjid. "Sebelum aku jawab pilihan Mas, aku mau tanya satu hal."
Bara mengernyit. "Apa?"
"Mas masih ingat ijab kabul kita tiga tahun lalu di masjid ini juga? Mas janji apa ke aku di depan penghulu?"
Bara terdiam. Ia tidak menyangka Azalea akan bertanya itu.
"Mas bilang, aku terima nikahnya Azalea Maharani binti Abdullah. Mas janji akan setia, menjaga, melindungi aku, sampai mati. Apa Mas masih ingat?"
Wajah Bara memerah. Ia melirik ke kanan dan ke kiri, sadar bahwa semua orang memperhatikan. Harga dirinya sebagai laki-laki terusik.
"Itu dulu! Sekarang beda! Kamu gak bisa kasih aku keturunan! Aku laki-laki, aku butuh anak buat penerus! Keyna bisa kasih itu ke aku!"
Tepat setelah kalimat itu selesai, terdengar kumandang azan Ashar dari TOA masjid.
*Allahu Akbar, Allahu Akbar.*
Suara azan yang biasanya menenangkan, kini terdengar seperti genderang perang di telinga Azalea.
Dan di detik itulah, kesabaran Azalea habis.
"Kalau begitu," Azalea berkata, suaranya bergetar menahan amarah yang memuncak, "talak aku, Mas. Sekarang. Di sini. Di depan rumah Allah. Aku tidak rela dimadu. Aku tidak rela harga diriku diinjak demi nafsu Mas dan anak haram yang belum jelas bapaknya siapa."
Seketika suasana menjadi riuh. Bu Ratna menjerit, "Kurang ajar! Perempuan gak tau diuntung!"
Keyna pura-pura menangis dan bersembunyi di balik punggung Bara. Beberapa ibu-ibu bergosip, "Astagfirullah, berani sekali istri pertama minta cerai."
Bara maju selangkah. Wajahnya merah padam. Ia merasa dipermalukan. Egonya sebagai kepala keluarga, sebagai laki-laki, sebagai Bara Adhitama yang terhormat, diinjak-injak oleh perempuan yang selama ini ia anggap penurut.
"Berani kamu, ya? Berani kamu ngomong gitu di depan ibuku? Di depan istriku?"
"Istri Mas?" Azalea menunjuk Keyna. "Dia bukan istri Mas. Dia pengkhianat. Dan Mas, Mas bukan suamiku lagi sejak Mas ngucap ijab kabul tadi."
PLAK!
Tamparan keras mendarat di pipi kiri Azalea. Sangat keras hingga kepalanya tertoleh ke samping dan kuncir rambutnya terlepas. Rasa panas langsung menjalar di pipinya. Bara baru saja menamparnya. Di halaman masjid. Di depan puluhan pasang mata. Diiringi suara azan Ashar yang masih berkumandang.
*Asyhadu alla ilaha illallah.*
Untuk sesaat, hening. Bahkan Bu Ratna yang tadi berisik pun terdiam. Tidak ada yang menyangka Bara akan menampar Azalea.
Azalea perlahan menegakkan kepalanya. Ia tidak menangis. Ia tidak memegang pipinya yang memerah dan mulai membengkak. Ia hanya menatap Bara dengan tatapan yang tidak akan pernah Bara lupakan seumur hidupnya. Tatapan seorang perempuan yang hatinya telah mati dibunuh oleh orang yang paling ia cintai.
Di antara suara azan, Azalea berbisik. Cukup keras untuk didengar Bara, Bu Ratna, Keyna, dan Allah.
"Terima kasih tamparannya, Mas Bara. Tamparan ini lunasin semua utang budiku ke Mas selama tiga tahun. Mulai hari ini, Azalea Maharani yang Mas kenal sudah mati."
Bara tersentak. Ia baru sadar apa yang telah ia lakukan. Ia ingin meminta maaf, tetapi lidahnya kelu. Egonya terlalu tinggi untuk menarik kembali tangannya.
Azalea membalikkan badannya. Ia mengambil tasnya yang masih tergeletak di tanah lalu berjalan meninggalkan halaman masjid dengan punggung tegak, meskipun kakinya terasa lemas dan pipinya berdenyut nyeri. Azalea tetap berusaha tegar.
Di belakangnya, ia mendengar suara Bu Ratna berteriak, "Bagus! Pergi sana! Gak usah balik-balik lagi, perempuan mandul!"
Ia mendengar suara Keyna menangis palsu, "Mas, udah jangan dikejar. Kasihan aku sama bayinya."
Ia mendengar suara Bara berteriak, "Azalea! Aku talak satu kamu! Dengar gak? Talak satu!"
Talak satu. Diiringi azan Ashar. Di halaman masjid. Disaksikan oleh puluhan orang. Disahkan oleh tamparan.
Azalea terus berjalan. Ia tidak menoleh ke belakang. Air mata yang ia tahan sejak tadi akhirnya luruh juga, membasahi pipinya yang panas bekas tamparan. Namun, ia menghapusnya kasar dengan punggung tangan.
Di dalam hatinya, ia bersumpah dengan nama Allah.
Bara Adhitama, Keyna Aulia, Ratna Dewi. Tiga nama yang telah menghancurkan hidupnya hari ini. Tiga nama yang akan ia pastikan menyesal seumur hidup karena telah mengkhianatinya.
"Kalian pasti akan menyesal telah bersekongkol untuk menyakiti aku!" tukas Azalea penuh kemarahan.
Azalea ragu untuk menekan tombol post pada media sosialnya. Ia butuh pendapat Arsen sebelum memviralkan videonya yang berbicara dengan Vanessa. Ia tidak mau salah langkah lagi seperti di pemakaman.Ia mengetikkan pesan di ponselnya untuk Arsen.Azalea : Mas, aku mau viralkan video Vanessa ngaku. Boleh ya? Aku sudah tidak tahan kita dihujat...Baru mau ia kirim pesan itu, tiba-tiba ponselnya berdering. Arsen yang menghubunginya terlebih dahulu. Suaranya tegang tapi cepat.“Zel! Kamu di mana?”“Di rumah produksi, Mas.”“Dengerin aku, Zel. Kamu harus bertemu dengan aku sekarang. Kalau bisa, kamu ke kantor polisi sekarang. Bawa HP kamu yang ada rekaman Vanessa itu. Jangan viralkan dulu! Bawa aja ke sini!”Azalea langsung menyiapkan barang-barangnya dan pergi ke kantor polisi.Sesampainya di Polres, di ruang penyidik lantai 2, ternyata di sana ada Arsen, polisi, dan yang lainnya yang tidak Azalea
Tangannya berhenti di atas tombol Ya.“Mas?” tanya Azalea pelan.Arsen tersenyum pahit.“Kita simpan dulu, Zel. Jangan kita hapus. Bukan untuk dipenjara. Tapi untuk jaga diri kita. Kalau besok mereka fitnah kita lagi, bilang kita yang bunuh Pak Hasan, kita punya bukti siapa yang sebenarnya mulai semua ini.”Azalea mengangguk.Mobil melaju pelan meninggalkan TPU Tanah Kusir yang hujan, meninggalkan makam Pak Hasan, dan meninggalkan Bu Lidya serta Vanessa yang masih duduk berduaan di tanah becek, berpelukan di depan kuburan, tanpa suami, tanpa papa.*Rumah produksi.Ponsel Arsen yang tadi ia silent selama pemakaman, ia nyalakan lagi sesampainya di rumah produksi Azalea.TING! TING! TING! TING! TING! TING!Notifikasi meledak seperti bom. 387 notifikasi WhatsApp. 124 DM Instagram. 56 missed call.Arsen mengernyit. Ia buka Instagram.Di explore, di akun gosip @lambe_ped*sss, @info
Hujan deras di TPU Tanah Kusir belum berhenti saat pemakaman selesai. Tanah makam Pak Hasan masih merah, masih basah, bunga masih segar.Arsen dan Azalea masih berdiri di barisan paling belakang, di bawah satu payung hitam yang sama. Mereka tidak maju, tidak mau mengganggu keluarga.Vanessa yang tadi merangkak di tanah, sekarang sudah dipapah kembali ke kursi roda oleh perawat, mukanya penuh tanah dan air mata. Bu Lidya yang tadi pingsan, sudah siuman, tapi matanya kosong, menatap nisan kayu bertuliskanH. Hasan Bin H. Wijaya -Ustadz sudah selesai doa. Pelayat satu per satu mulai pulang.Arsen berbisik ke Azalea. “Kita samperin Tante Lidya ya, ucapin belasungkawa terakhir, terus kita pulang.”Azalea mengangguk. “Iya, Mas.”Mereka berjalan pelan melewati becek, mendekati Bu Lidya dan Vanessa yang masih di samping makam.Bu Lidya melihat kedatangan mereka. Awalnya wajahnya datar. Lalu begitu meliha
Suasana di VIP 302 pecah. Tangisan Bu Lidya melengking, Vanessa masih merangkak di lantai memeluk kaki Pak Hasan yang sudah diselimuti kain putih. Perawat mencoba menenangkan, tapi tidak ada yang bisa menenangkan seorang anak yang baru saja melihat papanya meninggal di depan matanya karena amarahnya sendiri.Arsen dan Azalea tidak mau banyak bicara dengan Vanessa yang masih berduka. Bukan waktunya. Bukan tempatnya untuk bicara. Apalagi dengan semua ancaman dari Vanessa tadi. Kematian menghapus semua perdebatan sesaat.Arsen memberi isyarat ke Azalea dengan anggukan kepala. “Kita keluar dulu, Zel.”Azalea mengangguk, matanya sembab. Mereka menyingkir dan pergi ke taman belakang rumah sakit, taman kecil yang sepi di belakang IGD, tempat keluarga pasien biasanya merokok dan menunggu.Taman itu ada bangku kayu di bawah pohon ketapang. Jam 2 siang, panas, tapi sepi. Tidak ada orang.Begitu duduk di bangku itu, tangan Azalea bergetar hebat. S
“PAPAAA!!! PAPA BANGUN, PA!!!”Teriakan Bu Lidya dan Vanessa memecah seluruh lantai 3 VIP. Perawat jaga yang sejak tadi hanya berani mengintip dari luar langsung lari masuk, menekan tombol emergency biru di dinding.TING NONG! TING NONG!“CODE BLUE! VIP 302! CODE BLUE!”Dalam 30 detik, ruangan itu penuh. Dua perawat, satu dokter jaga IGD, dan satu troli resusitasi didorong cepat.Pak Hasan tergeletak di lantai, posisi miring. Wajahnya pucat abu-abu, bibirnya sudah membiru. Keringat dingin membasahi kemeja batiknya. Mata terpejam.Bu Lidya dipeluk perawat dan ditarik mundur. “Ibu, minggir dulu, Ibu! Kasih kami ruang!”Vanessa di ranjang hanya bisa menangis histeris, tidak bisa turun. “Papa! Papa jangan tinggalin Vanessa, Pa! Pa!”Dokter jaga, dr. Rian, langsung jongkok, ia mengecek nadi karotis.“Nadi tidak teraba! Tidak ada napas! Mulai RJP!”Perawat lang
Vanessa berteriak-teriak dan marah-marah di dalam ruangan VIP No 302 itu sendirian. Setelah Azalea pergi dengan senyum puasnya, ia melempar semua yang bisa ia jangkau. Gelas plastik, tisu, remote AC.“Perempuan sialan! Janda sialan! Mandul! Mandul! Pantasnya kamu itu mati! Pantas! Dasar penjual sambal murahan! Kamu pikir kamu menang, hah? Kamu pikir kamu menang?!”Semua sumpah serapah ia katakan walaupun tak ada Azalea yang akan mendengarkan semua teriakannya itu. Suaranya sampai terdengar sampai ke pos perawat. Beberapa perawat hanya saling pandang, tidak berani masuk karena tahu keluarga ini temperamental.“Arsen itu milik aku! Milik aku! Bukan milik kamu! Aku yang pertama! Aku!”Ia memukul-mukul ranjang, sampai infusnya hampir lepas dan perban di bokongnya terasa nyeri menyengat. Tapi rasa sakit fisik kalah dengan rasa malu karena dijebak.Tak lama kemudian, pintu terbuka dengan keras. Bu Lidya dan Pak Hasan datang. Merek
Azalea menghentikan gerakannya. Dia menoleh pelan. "Buat apa aku mencuri, Bu? Emas kawin sudah Ibu ambil. Rumah ini atas nama Mas Bara. Aku tahu diri. Ini ... Atm mu." Wanita itu melemparkannya ke lantai. Keyna tiba-tiba bersuara dengan nada dibuat-buat lemah sambil mengelus perutnya. "Udah, Tante
Mobil Azalea berhenti di depan pagar rumah yang selama tiga tahun dia sebut sebagai “rumah tangga”. Rumah dua lantai bercat putih gading dengan taman kecil di halaman depan. Dulu, Azalea yang merawat setiap sudut rumah itu dengan tangannya sendiri. Dia yang memilih warna gorden. Dia yang menata fot
Jam pada telepon genggam Azalea Maharani menunjukkan pukul 14.27 WIB ketika pesan itu masuk. Sebuah pesan dari nomor tidak dikenal, tanpa nama kontak, hanya deretan angka asing yang tiba-tiba mengusik ketenangannya.*Mbak Azalea, maaf mengganggu. Aku hanya ingin menyampaikan bahwa saat ini suami Mb
"Jangan memutarbalikkan kata-kata!" Bara setengah berteriak. "Intinya kamu itu tidak bersyukur! Kamu diberi suami mapan, mertua peduli, kamu malah meminta cerai! Sekarang rasakan! Hidup susah! Makan saja harus menumbuk sendiri!""Aku bersyukur, Mas." Azalea tersenyum. "Aku sangat bersyukur







