Home / Rumah Tangga / Ceraikan Aku, Mas! / 2 - Talak Pertama

Share

2 - Talak Pertama

Author: Siez
last update publish date: 2026-06-02 13:47:51

Bara tidak menjawab. Ia membuang muka, menatap ke arah lain. Rahangnya mengeras.

Yang menjawab justru suara lain dari belakang rombongan. Suara yang lebih melengking, lebih tua, dan lebih menyakitkan dari apa pun.

"Ngapain kamu ke sini, Azalea? Mau bikin malu keluarga kami, ya?"

Bu Ratna. Ibu mertua Azalea. Perempuan yang selama tiga tahun tidak pernah berhenti menyebut Azalea mandul. Perempuan yang selalu membanding-bandingkan Azalea dengan menantu ideal di televisi. Kini ia muncul dari dalam masjid dengan mengenakan kebaya hijau emerald, wajah penuh riasan, dan senyum yang mengembang sempurna. Ia berjalan mendekat dan berdiri di samping Keyna, lalu dengan bangga menepuk pundak Keyna.

"Ini menantuku yang baru. Keyna. Alhamdulillah, dia sudah ngisi perut duluan. Jadi aku gak perlu nunggu bertahun-tahun kayak waktu sama kamu."

Kalimat itu. "Sudah ngisi perut duluan." "Gak perlu nunggu bertahun-tahun."

Setiap kata adalah pisau yang ditancapkan perlahan ke ulu hati Azalea. Ia merasa mual. Bukan karena hamil. Melainkan karena jijik. Jijik melihat bagaimana keluarga yang ia hormati selama ini ternyata sudah lama merencanakan pengkhianatan ini di belakangnya.

Azalea menatap Bara lagi. Ia menunggu. Menunggu satu kata. Satu pembelaan. Satu penjelasan. Bukankah Bara selalu berkata bahwa ia mencintai Azalea? Bukankah Bara selalu memeluknya ketika Bu Ratna menghina? Bukankah Bara yang selalu berkata, "Sabar, Zel. Ibu cuma kangen cucu. Nanti kalau kita udah dikasih, Ibu pasti sayang sama kamu."

Namun, Bara tetap diam. Diamnya adalah jawaban.

Akhirnya, Bara membuka suara. Bukan permintaan maaf. Bukan penjelasan. Melainkan sebuah pilihan yang ia lemparkan kepada Azalea seperti melempar tulang kepada anjing.

"Azalea, kamu udah lihat sendiri kan? Aku nikah lagi sama Keyna. Dia lagi hamil. Anakku. Anak yang udah aku tunggu-tunggu selama ini. Jadi sekarang aku kasih kamu dua pilihan." Bara menegakkan punggungnya, mencoba terlihat berwibawa. "Pilihan pertama, kamu terima Keyna. Kita jalani rumah tangga berdua. Kamu tetap istri pertama, dia istri kedua. Kamu yang atur rumah tangga. Asal kamu ikhlas. Pilihan kedua..."

Bara berhenti sejenak. Ia menatap Azalea lurus-lurus.

"...kita cerai."

Dunia Azalea runtuh untuk kedua kalinya hari itu.

Ia menatap Bara tidak percaya. Laki-laki yang ia nikahi tiga tahun lalu. Laki-laki yang ia rawat ketika sakit tifus selama dua minggu tanpa tidur. Laki-laki yang ia dukung dari nol ketika perusahaan ayahnya hampir bangkrut. Laki-laki yang ia bela mati-matian di depan Bu Ratna. Kini laki-laki itu berdiri di hadapannya, memberikan ultimatum keji di rumah Allah.

Azalea menoleh ke Keyna. Adik yang ia pungut dari panti. Adik yang ia suapi ketika demam. Adik yang ia ajari memakai pembalut pertama kali. Kini adik itu menunduk, pura-pura sedih, mengelus perutnya yang belum seberapa besar. Namun, sudut bibirnya tidak bisa menyembunyikan kemenangan.

Azalea menoleh ke Bu Ratna. Ibu mertua yang ia pijati kakinya setiap malam Minggu. Ibu mertua yang ia masakkan makanan kesukaannya, sayur lodeh, setiap Rabu. Kini perempuan tua itu menatapnya dengan sorot mata mengejek, seolah berkata, "Akhirnya kamu kalah juga."

Selama tiga tahun, Azalea diam. Selama tiga tahun, Azalea bersabar. Selama tiga tahun, Azalea menelan semua hinaan tentang "mandul" dan "tidak becus jadi istri". Ia pikir kesabarannya akan berbuah manis. Ia pikir Allah sedang mengujinya sebelum memberikan momongan. Ternyata, kesabarannya hanya membuat mereka semakin berani menginjak-injak harga dirinya.

Cukup.

Kata itu bergema di kepalanya. Cukup.

Azalea menarik napas panjang. Ketika ia menghembuskannya, keluarlah seluruh kekuatan yang ia kumpulkan selama tiga tahun ditindas. Ia menatap Bara tepat di manik matanya. Tidak ada air mata. Tidak ada tangis. Hanya ada tatapan dingin yang membuat Bara tanpa sadar melangkah mundur setengah langkah.

"Mas Bara," suara Azalea tegas, jelas, dan dijamin terdengar oleh seluruh orang di teras masjid. "Sebelum aku jawab pilihan Mas, aku mau tanya satu hal."

Bara mengernyit. "Apa?"

"Mas masih ingat ijab kabul kita tiga tahun lalu di masjid ini juga? Mas janji apa ke aku di depan penghulu?"

Bara terdiam. Ia tidak menyangka Azalea akan bertanya itu.

"Mas bilang, aku terima nikahnya Azalea Maharani binti Abdullah. Mas janji akan setia, menjaga, melindungi aku, sampai mati. Apa Mas masih ingat?"

Wajah Bara memerah. Ia melirik ke kanan dan ke kiri, sadar bahwa semua orang memperhatikan. Harga dirinya sebagai laki-laki terusik.

"Itu dulu! Sekarang beda! Kamu gak bisa kasih aku keturunan! Aku laki-laki, aku butuh anak buat penerus! Keyna bisa kasih itu ke aku!"

Tepat setelah kalimat itu selesai, terdengar kumandang azan Ashar dari TOA masjid.

*Allahu Akbar, Allahu Akbar.*

Suara azan yang biasanya menenangkan, kini terdengar seperti genderang perang di telinga Azalea.

Dan di detik itulah, kesabaran Azalea habis.

"Kalau begitu," Azalea berkata, suaranya bergetar menahan amarah yang memuncak, "talak aku, Mas. Sekarang. Di sini. Di depan rumah Allah. Aku tidak rela dimadu. Aku tidak rela harga diriku diinjak demi nafsu Mas dan anak haram yang belum jelas bapaknya siapa."

Seketika suasana menjadi riuh. Bu Ratna menjerit, "Kurang ajar! Perempuan gak tau diuntung!"

Keyna pura-pura menangis dan bersembunyi di balik punggung Bara. Beberapa ibu-ibu bergosip, "Astagfirullah, berani sekali istri pertama minta cerai."

Bara maju selangkah. Wajahnya merah padam. Ia merasa dipermalukan. Egonya sebagai kepala keluarga, sebagai laki-laki, sebagai Bara Adhitama yang terhormat, diinjak-injak oleh perempuan yang selama ini ia anggap penurut.

"Berani kamu, ya? Berani kamu ngomong gitu di depan ibuku? Di depan istriku?"

"Istri Mas?" Azalea menunjuk Keyna. "Dia bukan istri Mas. Dia pengkhianat. Dan Mas, Mas bukan suamiku lagi sejak Mas ngucap ijab kabul tadi."

PLAK!

Tamparan keras mendarat di pipi kiri Azalea. Sangat keras hingga kepalanya tertoleh ke samping dan kuncir rambutnya terlepas. Rasa panas langsung menjalar di pipinya. Bara baru saja menamparnya. Di halaman masjid. Di depan puluhan pasang mata. Diiringi suara azan Ashar yang masih berkumandang.

*Asyhadu alla ilaha illallah.*

Untuk sesaat, hening. Bahkan Bu Ratna yang tadi berisik pun terdiam. Tidak ada yang menyangka Bara akan menampar Azalea.

Azalea perlahan menegakkan kepalanya. Ia tidak menangis. Ia tidak memegang pipinya yang memerah dan mulai membengkak. Ia hanya menatap Bara dengan tatapan yang tidak akan pernah Bara lupakan seumur hidupnya. Tatapan seorang perempuan yang hatinya telah mati dibunuh oleh orang yang paling ia cintai.

Di antara suara azan, Azalea berbisik. Cukup keras untuk didengar Bara, Bu Ratna, Keyna, dan Allah.

"Terima kasih tamparannya, Mas Bara. Tamparan ini lunasin semua utang budiku ke Mas selama tiga tahun. Mulai hari ini, Azalea Maharani yang Mas kenal sudah mati."

Bara tersentak. Ia baru sadar apa yang telah ia lakukan. Ia ingin meminta maaf, tetapi lidahnya kelu. Egonya terlalu tinggi untuk menarik kembali tangannya.

Azalea membalikkan badannya. Ia mengambil tasnya yang masih tergeletak di tanah lalu berjalan meninggalkan halaman masjid dengan punggung tegak, meskipun kakinya terasa lemas dan pipinya berdenyut nyeri. Azalea tetap berusaha tegar.

Di belakangnya, ia mendengar suara Bu Ratna berteriak, "Bagus! Pergi sana! Gak usah balik-balik lagi, perempuan mandul!"

Ia mendengar suara Keyna menangis palsu, "Mas, udah jangan dikejar. Kasihan aku sama bayinya."

Ia mendengar suara Bara berteriak, "Azalea! Aku talak satu kamu! Dengar gak? Talak satu!"

Talak satu. Diiringi azan Ashar. Di halaman masjid. Disaksikan oleh puluhan orang. Disahkan oleh tamparan.

Azalea terus berjalan. Ia tidak menoleh ke belakang. Air mata yang ia tahan sejak tadi akhirnya luruh juga, membasahi pipinya yang panas bekas tamparan. Namun, ia menghapusnya kasar dengan punggung tangan.

Di dalam hatinya, ia bersumpah dengan nama Allah.

Bara Adhitama, Keyna Aulia, Ratna Dewi. Tiga nama yang telah menghancurkan hidupnya hari ini. Tiga nama yang akan ia pastikan menyesal seumur hidup karena telah mengkhianatinya.

"Kalian pasti akan menyesal telah bersekongkol untuk menyakiti aku!" tukas Azalea penuh kemarahan.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Ceraikan Aku, Mas!   11 - Cerai? Kamu Gugat Aku?

    Arsen maju, berdiri di samping Azalea. "Pak Junaidi, aku rasa Bapak salah tangkap. Yang harusnya Bapak segel bukan dapur kami. Tetapi mulut mereka."Pak Junaidi langsung balik badan. "Ma... maaf... ada salah paham... kami permisi...""LAPORAN KAMI CABUT!" teriak Bara panik. "INI SALAH PAHAM! ISTRIKU SEDANG HAMIL! DIA LAGI SENSITIF!"Dr. Lestari senyum tipis. "Terlambat, Pak Bara. Percakapan Bapak akan kami serahkan ke polisi. Pencemaran nama baik, dan laporan palsu. Pasal berlapis. Silakan Bapak jelaskan sendiri ke penyidik."Kaki Bara lemas. Dia kalah. Di depan Keyna. Di depan ibunya. Di depan perempuan yang dia sebut mandul.Azalea menatap Bara terakhir kali. Tidak ada senyum. Tidak ada kasihan. Hanya ada satu kalimat."Bapak Bara, selamat ya... sebentar lagi kamu akan jadi Bapak. Aku doakan anaknya sehat. Biar kamu tahu rasanya jadi orang tua. Dan biar kamu tahu... melahirkan anak itu mudah. Yang susah itu... melahirkan harga diri dan kes

  • Ceraikan Aku, Mas!   10 - Bukti CCTV

    Bu Ratna segera berdiri, sudah tidak meringis. "Siapa bilang aku berbohong?! Aku yang sakit! Tapi aku tidak mau ke RS ini! RS ini kan sekongkol sama dia! Dokter ini kan pacar barunya Azalea!"Permainan sudah terbaca. Mana mungkin juga Bu Ratna dan Keyna mau diperiksa. Makan sambal buatan Azalea saja tidak."Kalau begitu ke RS lain, Bu," tantang Azalea. "RS mana saja. Aku bayarin. Asal hasilnya dibuka di depan wartawan ini. Biar adil."Keyna semakin pucat. Dia remas lengan Bara. "Mas... aku... aku takut jarum... aku tidak mau diambil darah... nanti bayiku...""Lihat kan, Pak?" Bara pasang badan. "Istrku trauma! Kalian mau paksa ibu hamil? Kalian tidak punya hati! Sudah jelas mereka korban! Mandul itu memang penyakit hati, Pak! Hatinya busuk, makanya mau bunuh orang!""PAK BARA!" Arsen sudah tidak tahan. "CUKUP MENGHINA DIA MANDUL! KAMU TIDAK TAHU APA-APA!""AKU TAHU!" Bara berteriak, lalu merangkul Keyna lagi. "Yang aku tahu, dia gagal!

  • Ceraikan Aku, Mas!   9 - Bara, Jaga Mulut Kamu!

    Tiba-tiba saja Bu Ratna semakin menjadi. Dia duduk di lantai, meratap. "Aduh... perutku... panas... kayak dibakar... Ya Allah... anakku... cucuku... tolong panggil ambulans... aku mau mati diracun perempuan mandul!"Pak Junaidi yang dari tadi diam, sekarang mencatat cepat. "Begitu ya. Ada korban. Ada ibu hamil. Ini sudah masuk pidana berat. Pasal 204 KUHP. Penjara lima belas tahun."Arsen tidak tahan. "Pak, ini fitnah! Mereka tidak ada bukti medis! Mana hasil laboratorium? Mana bukti mereka makan sambal Bu Azalea? Bisa saja mereka sakit perut karena makan yang lain!""DIAM KAMU, DOKTER PANTI!" Bara membentak Arsen dan kemudian, matanya mengarah ke Azalea. "Kamu itu sudah gagal jadi istri! Gagal kasih aku anak! Sekarang kamu mau gagalkan aku jadi bapak?! Kamu iri ya sama Keyna?! Iri karena dia subur?! Iri karena dia bisa hamil anakku?! Makanya kamu mau racunin dia?!"Azalea menggigit bibir hingga berdarah. Dia ingin berteriak bahwa dia tidak mandul. Bahwa

  • Ceraikan Aku, Mas!   8 - Kamu Tega Racuni Istriku?

    Pukul 09.47 pagi. Dapur Gizi RS Kasih Bunda sedang berada pada puncak kesibukan. Azalea dan dua pegawai kantin bekerja cepat mengemas 300 botol *Sambal Bawang Bunda*. Pesanan dari tiga katering besar dan satu supermarket lokal. Total omzet hari ini: sembilan juta lima ratus ribu rupiah.Entah bagaimana caranya Arsen membuat pesanan sambal ini begitu banyak. Ya, mungkin karena koneksi dari rumah sakitnya juga. Azalea sangat berterima kasih atas bantuan Arsen. Ia malah jadi lebih semangat bekerja untuk mencapai impiannya. 'Hidup Mandiri'"Zel, kamu istirahat dahulu. Wajahmu pucat," ujar Arsen sambil menyodorkan teh hangat. Dia baru saja mau mulai praktek jam 10 pagi dan bergegas ke dapur Azalea.Azalea menggeleng. Dia mengusap peluh di dahi dengan lengan baju. "Tidak bisa, Mas. Kalau aku berhenti, Bara menang. Aku tidak mau dia menang."Nama Bara membuat rahang Arsen mengeras. Tadi malam, setelah insiden di dapur, Bara mengancam akan menutup semua jalan Aza

  • Ceraikan Aku, Mas!   7 - Aku Tahu Semuanya!

    "Bersyukurlah karena ada yang bisa melayanimu di ranjang sampai puas. Bagiku kepuasanmu sudah tak penting!" Azalea melanjutkan."Kamu!" Bara menunjuk wajah Azalea dengan telunjuknya. Terlihat wajahnya sangat kesal dengan semua ucapan Azalea yang menjatuhkan harga dirinya yang setinggi langit itu."Memangnya kamu pikir aku tak tahu bagaimana kelakuanmu di luar? Aku sering mendengar kalau kamu bermain bersama LC di karoke. Tubuhmu tak suci untukku. Kamu pikir aku dingin? Tidak, Mas. Aku hanya jijik. Jijik setiap kamu menyentuhku setelah dari tubuh para pelac*r itu. Jijik setiap kamu mendengkur, padahal aku sedang menangis di sampingmu. Aku sudah sering memaafkan kelakuanmu dan menganggapnya tak ada. Tapi aku salah. Malah kamu lebih gila di luar!"Wajah Bara pucat. Kalimat itu menghantam ulu hatinya. Telak. Rahasianya terbongkar. Selama ini ia mengira Azalea tidak mengetahui bahwa ia telah lama berselingkuh dengan para LC dan berakhir dengan Keyna yang hamil.

  • Ceraikan Aku, Mas!   6 - Fitnah Bu Ratna

    "Jangan memutarbalikkan kata-kata!" Bara setengah berteriak. "Intinya kamu itu tidak bersyukur! Kamu diberi suami mapan, mertua peduli, kamu malah meminta cerai! Sekarang rasakan! Hidup susah! Makan saja harus menumbuk sendiri!""Aku bersyukur, Mas." Azalea tersenyum. "Aku sangat bersyukur Mas menalakku. Jika tidak, aku tidak akan mengetahui rasanya merdeka. Rasanya dihargai. Rasanya dipuji orang karena pekerjaanku, bukan karena aku adalah 'istri Bara'.""Alah, dipuji!" Bu Ratna menyela. "Pujian dari siapa? Dokter panti ini? Paling ia memuji karena mau memanfaatkan janda. Iya kan? Kalian sudah tidur bersama, kan? Mengaku saja! Tidak usah munafik! Kalian sudah berzinah kan?"Fitnah Bu Ratna semakin menjadi-jadi saja."IBU!" Azalea dan Arsen membentak bersamaan.Bara bertepuk tangan pelan. "Nah, itu dia. Akhirnya terbongkar juga. Kamu pikir aku tidak tahu, Zel? Selama tiga tahun menikah, kamu dingin seperti lemari es. Di ranjang seperti m

  • Ceraikan Aku, Mas!   5 - Balas Menghina Pezin*h

    Azalea telah genap sepekan menempati kamar berukuran 2x3 di Kost Putri Mawar. Kasur busanya tipis, kipas anginnya berderit, dan kamar mandinya selalu antre pada pukul 05.00 pagi. Namun, setiap malam ia dapat terlelap tanpa memimpikan tamparan dari Bara. Tanpa mendengar ucapan Bu Ratna dari balik pi

  • Ceraikan Aku, Mas!   4 - Digeledah Ibu Mertua

    Azalea menghentikan gerakannya. Dia menoleh pelan. "Buat apa aku mencuri, Bu? Emas kawin sudah Ibu ambil. Rumah ini atas nama Mas Bara. Aku tahu diri. Ini ... Atm mu." Wanita itu melemparkannya ke lantai. Keyna tiba-tiba bersuara dengan nada dibuat-buat lemah sambil mengelus perutnya. "Udah, Tante

  • Ceraikan Aku, Mas!   3 - Bukan Rumahku Lagi

    Mobil Azalea berhenti di depan pagar rumah yang selama tiga tahun dia sebut sebagai “rumah tangga”. Rumah dua lantai bercat putih gading dengan taman kecil di halaman depan. Dulu, Azalea yang merawat setiap sudut rumah itu dengan tangannya sendiri. Dia yang memilih warna gorden. Dia yang menata fot

  • Ceraikan Aku, Mas!   1 - Ijab Kabul

    Jam pada telepon genggam Azalea Maharani menunjukkan pukul 14.27 WIB ketika pesan itu masuk. Sebuah pesan dari nomor tidak dikenal, tanpa nama kontak, hanya deretan angka asing yang tiba-tiba mengusik ketenangannya.*Mbak Azalea, maaf mengganggu. Aku hanya ingin menyampaikan bahwa saat ini suami Mb

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status