MasukDarah itu menetes.
Satu tetes jatuh ke lantai kayu villa yang sudah lapuk. Tetes kedua menyusul, lebih cepat. Tetes ketiga meleleh di pergelangan tangan Azalea sendiri yang pucat dan gemetar.
Pisau lipat kecil itu - pisau yang ia curi dari dapur villa sore tadi - terasa licin di genggamannya.
Itu satu-satunya rencana yang ia punya.
Azalea mengangkat pergelangan tangannya yang berdarah itu tinggi-tinggi, menunjukkan pada satu-satunya orang lain di dalam villa terkun
Suara Arsen. Tapi bukan Arsen yang Azalea kenal. Bukan suara Dokter Arsen yang tenang, yang biasanya bilang "tarik napas, Zel, pelan-pelan" waktu Azalea panik. Bukan suara Mas Arsen yang jahil sambil nyuapin Azalea bubur karena Azalea malas makan.Ini suara yang pecah menjadi seribu keping. Serak, parau karena tiga hari tidak tidur, karena berteriak memanggil nama Azalea di setiap sudut kebun teh. Marah. Ketakutan. Putus asa. Semua jadi satu.DOR! BRAK!Pintu itu jebol untuk kedua kalinya, engselnya patah. Kayu-kayu lapuknya beterbangan.Arsen berlari masuk pertama.Polisi di belakangnya bahkan belum sempat teriak "jangan masuk dulu, Dok!"Di lantai, yang mereka lihat membuat seluruh dunia Arsen berhenti berputar.Azalea.Perempuan yang sebentar lagi akan ia nikahi dengan kebaya putih sederhana itu, tergeletak di lantai kayu yang dingin. Rambutnya berantakan, wajahnya pucat pasi seperti kertas, bibirnya pecah-pecah. Pergelangan
Darah itu menetes.Satu tetes jatuh ke lantai kayu villa yang sudah lapuk. Tetes kedua menyusul, lebih cepat. Tetes ketiga meleleh di pergelangan tangan Azalea sendiri yang pucat dan gemetar.Pisau lipat kecil itu - pisau yang ia curi dari dapur villa sore tadi - terasa licin di genggamannya.Itu satu-satunya rencana yang ia punya.Azalea mengangkat pergelangan tangannya yang berdarah itu tinggi-tinggi, menunjukkan pada satu-satunya orang lain di dalam villa terkunci ini."Bara... lihat... lihat ini! Aku beneran bakal lakuin! Buka pintunya! BUKA PINTUNYA, BARA! BIARIN AKU PERGI!"Suaranya parau. Tenggorokannya sudah kering karena berjam-jam menangis dan berteriak di tengah kebun teh yang sepi itu. Tidak ada yang mendengar. Tidak ada apa-apa selain kabut dan pohon teh sejauh mata memandang.Ia menatap Bara dengan sisa harapan paling naif. Ia pikir, Bara yang dulu - Bara yang panik kalau Azalea sakit flu, Bara yang pucat kalau Azalea mi
Jam 17.30. Langit Puncak sudah hampir gelap, kabut turun begitu tebal sampai jarak 5 meter pun tidak terlihat.Sekarang Arsen dan para polisi sudah ketemu petunjuk. Seorang petani kebun teh yang pulang dari ladang melihat Avanza hitam masuk ke jalur Villa Bukit Teh Asri siang tadi. Ia ingat karena mobil itu hampir menabrak gerobak tehnya.Tanpa menunggu, Arsen dan 6 anggota polisi dengan 2 mobil patroli tanpa sirine langsung menggerebek villa tempat Bara berada.Arsen yang pertama kali turun, berlari dengan napas terengah-engah, sepatunya penuh lumpur.“AZALEA! ZEL! KAMU DI DALAM?” teriaknya sambil menggedor pintu kayu villa yang pertama.DOR! DOR!Polisi mendobrak pintu.Kosong. Hanya ada kasur berdebu dan sarang laba-laba.Villa kedua, didobrak lagi. Kosong.Villa ketiga, keempat, kelima. Semua kosong.Sampai di villa keenam, villa kayu yang paling ujung, yang paling terisolir, yang pintunya digembok da
Azalea menarik napas.“Syarat pertama, ketemu dengan Bu Ratna dan minta restu dari Bu Ratna. Tanpa restu Ibu aku, aku tidak akan pernah menikah lagi sama kamu.”Bara mengernyit.“Syarat kedua,” lanjut Azalea cepat, tidak memberi Bara waktu menolak, “Aku harus bicara dulu sama Mas Arsen, untuk mengakhiri rencana pernikahan kami secara baik-baik. Aku tidak mau jadi perempuan yang jahat, Bara. Aku tidak mau tiba-tiba hilang dan ninggalin Mas Arsen tanpa penjelasan. Aku mau ketemu Mas Arsen, aku mau jelasin kalau aku memilih kamu, supaya Mas Arsen tidak menunggu aku. Itu adab, Bara. Aku mau putus baik-baik sama Mas Arsen.”Ini jebakan. Azalea tahu, kalau ia bisa bertemu Arsen, ia selamat. Tapi Bara tidak bodoh.“Syarat ketiga, Bara harus ke psikolog buat cek kesehatan jiwa. Aku takut, Bara. Cara kamu culik aku hari ini, cara kamu bius aku, itu tidak normal. Aku takut kamu sakit, Bara. Kalau kamu sayang ak
Bara semakin panik. Ia mengunci pintu villa dari dalam, mengunci jendela.“Zel, kita harus cepat nikah. Sekarang. Tidak perlu penghulu. Kita nikah di depan Allah saja. Kamu bilang iya saja, Zel.”Ia memaksa duduk di samping Azalea, mengambil tangan Azalea yang masih lemas.Azalea meronta sekuat tenaga yang tersisa, “Tidak! Tidak mau!”Di Pos Polisi Ciawi, jam 16.02.Seorang anggota polisi berlari masuk dengan napas terengah-engah, membawa laptop.“Pak! Dok! Ada petunjuk baru!”Arsen langsung melompat berdiri.“Apa? Apa?”“Pemilik warung di dekat pom bensin Ciawi ingat Avanza hitam itu, Dok! Dia bilang, pengemudinya beli rokok dan tanya jalan ke Villa Bukit Teh Asri! Itu komplek villa lama yang sudah banyak kosong, Pak! Di dalam kebun teh!”Villa Bukit Teh Asri. Arsen ingat! Azalea pernah cerita, Bara pernah bawa Azalea ke sana dulu, untuk merayakan annive
Jam menunjukkan pukul 15.47. Sudah hampir lima jam Azalea hilang.Di Pos Polisi Ciawi, suasana seperti medan perang.Arsen tidak lagi terlihat seperti seorang dokter yang tenang dan tampan. Rambutnya berantakan karena terus dijambak-jambak sendiri. Matanya merah, bukan karena mengantuk, tapi karena amarah, takut, dan rasa bersalah yang menggerogoti setiap detiknya.“Bagaimana, Pak? Ada titik terang?” tanya Arsen untuk kesekian kalinya, suaranya serak karena terlalu banyak berteriak di telepon.Kapolsek menggeleng, wajahnya juga tegang. Di depan mereka, peta besar jalur Jakarta-Puncak-Cianjur terbentang, penuh dengan tanda spidol merah.“Arsen dengan bantuan polisi, mencari jejak dimana Bara membawa Azalea. Tapi sulit, Dok. Sulit sekali,” kata Kapolsek jujur. “Plat nomor Avanza hitam itu palsu. Kita sudah cek 17 CCTV dari Pasar Rebo sampai Gadog. Mobil itu sempat terekam di CCTV pom bensin Ciawi jam 12.33, mengisi bensi
"Jangan memutarbalikkan kata-kata!" Bara setengah berteriak. "Intinya kamu itu tidak bersyukur! Kamu diberi suami mapan, mertua peduli, kamu malah meminta cerai! Sekarang rasakan! Hidup susah! Makan saja harus menumbuk sendiri!""Aku bersyukur, Mas." Azalea tersenyum. "Aku sangat bersyukur
Azalea telah genap sepekan menempati kamar berukuran 2x3 di Kost Putri Mawar. Kasur busanya tipis, kipas anginnya berderit, dan kamar mandinya selalu antre pada pukul 05.00 pagi. Namun, setiap malam ia dapat terlelap tanpa memimpikan tamparan dari Bara. Tanpa mendengar ucapan Bu Ratna dari balik pi
Bara tidak menjawab. Ia membuang muka, menatap ke arah lain. Rahangnya mengeras.Yang menjawab justru suara lain dari belakang rombongan. Suara yang lebih melengking, lebih tua, dan lebih menyakitkan dari apa pun."Ngapain kamu ke sini, Azalea? Mau bikin malu keluarga kami, ya?"Bu Ratna. Ibu mertu
Jam pada telepon genggam Azalea Maharani menunjukkan pukul 14.27 WIB ketika pesan itu masuk. Sebuah pesan dari nomor tidak dikenal, tanpa nama kontak, hanya deretan angka asing yang tiba-tiba mengusik ketenangannya.*Mbak Azalea, maaf mengganggu. Aku hanya ingin menyampaikan bahwa saat ini suami Mb







