LOGINFleur menegang, napasnya sedikit terhenti.
“Jadi, kau diam-diam membawa pengawal?” suaranya terdengar campur takut dan penasaran.Anshel baru selesai menutup pintu, ia berbalik menatapnya tanpa berkedip, tenang seperti biasanya.“Tentu saja. Apa kau pikir aku membawamu ke sini tanpa perlindungan?”Fleur menoleh, campur kaget dan kesal.“Kau selalu satu langkah di depanku…” gumamnya.Malam itu tak benar-benar tenang. Lampu-lampu taman di luar vila dinyalaFlashback:Saat Fleur sudah kembali ke ruangannya, ia meminta pada Smith. “Smith, aku mau minta bantuanmu, ini soal Fleur.”Smith masih mencerna apa yang akan dikatakan oleh pemilik tiga pilar perusahaan yang sangat berpengaruh pada ekonomi di Ardenvale itu. “Soal Fleur?” tanya Smith penasaran. “Ya, aku sudah memutuskan, sebaiknya kita libatkan Fleur dalam kasus ini, biarkan dia melanjutkan tugas Philippe. Aku sudah lama membuatnya menderita, kau tahu dulu hubungan kami tidak baik, aku tidak mau dia melewatkan hari-harinya murung seperti ini.”Smith memutar kursi rodanya, kini ia saling berhadapan satu sama lain dengan Anshel. Anshel mengusap wajahnya dengan kedua tangannya. “Smith, berikan bukti-bukti itu pada Fleur, dia cerdas dia pasti bisa mudah memahaminya, apalagi dia seorang CTO.”Smith menopang dagu di atas tangan yang bertautan di bahu kursi roda. "Ya, dia bisa mengakses bukti lain dari sana. Siapa tahu ada sesuatu yang disembunyikan."“Benar, sepandai-pandainya dia me
Para wartawan mengerumuni rumah sakit Forest hingga esok hari. Siangnya Ibu Anshel datang untuk menjenguk keluarga Ruthven, ia dialihkan oleh pengawal Anshel yang menjaganya ke pintu lain, agar wartawan tak bisa mendekatinya, meski hanya untuk sekadar wawancara. Nyonya Olivia akhirnya berhasil masuk tanpa gangguan dari media. Ia memasuki ruangan Fleur tanpa kendala. Saat di dalam Ibunya langsung menubruk menantu kesayangannya. “Sayang, ibu minta maaf karena baru bisa datang,” kata ibunya sambil memeluknya. “Tidak apa-apa, bu,” jawab Fleur, wajahnya tampak bengkak karena banyak menangis. “Bagaimana kondisimu, kau tidak mengalami luka lain kan, Nak?” tanya Nyonya Olivia sambil memperhatikan seluruh tubuhnya. “Tidak Bu, ibu tahu bukan, Ayahku pernah cerita kalau waktu kecil aku sering mandi di sungai bersama Smith dan Philippe.”Nyonya Olivia menyunggingkan senyuman. Ketika menyebut nama kakaknya, ia kembali murung, linangan air matanya mengambang di sudut matanya. Ibunya menyen
Anshel kemudian berdiri dan menghampiri suster. “Iya, saya menantu keluarga Ruthven,” “Tuan, bisa ikut saya, dokter ingin bicara dengan Anda.”Anshel melirik pada istrinya sejenak. “Baik, saya akan bicara dulu dengan istri saya sebentar.”“Baik Tuan, silakan,” jawabnya seraya tersenyum ramah. Saat Anshel melangkah, wanita berusia dua puluh lima tahun itu menatap kagum. ‘Ah, jadi ini Tuan Anshel, cucu Raja Robinson,’ batinnya. Ia juga sempat melihat Fleur yang terbaring. ‘Kasihan keluarga Ruthven, untung saja Putrinya selamat,’ ucapnya dalam hati dengan rasa empati. Anshel mengelus rambut Fleur, “Fleur aku tinggal sebentar, kau tenang saja ada pengawal yang menjagamu.”Fleur mengangguk pelan, Anshel pun mencium keningnya, seolah enggan meninggalkannya, Anshel juga mencium kedua tangan istrinya, lalu meninggalkannya sendiri, tangannya pun perlah
Mobil Anshel sedang menuju ke kediaman Ruthven, untuk menjemput istrinya, ponselnya bergetar. Ia sempat menautkan alisnya saat melihat nomor yang memanggilnya. “Selamat siang, apakah anda Tuan Anshel Robinson Noble?”Anshel menjawab dengan santai, “Iya saya sendiri, maaf ini dengan siapa?”Polisi itu bicara dengan tegas dan sopan, “Saya Peter, petugas keamanan lalu lintas.”“Baik, apakah ada yang bisa saya bantu?”“Tuan, apakah anda berada di tempat yang aman, atau sekarang anda sedang menyetir?”Perasaan Anshel mulai tidak enak, ia semakin penasaran. “Tidak, saya bersama sopir saya.” “Syukurlah,” timpal polisi itu, ia mencoba berkomunikasi setenang mungkin, “Tuan jangan panik, istri anda…”Mendengar kata “Istri” Anshel langsung memotong pembicaraan polisi tersebut. “Istri saya, apa yang terjadi pada istri saya, Tuan Peter? “Tua
“Ayah… maafkan aku. Aku tak bisa menepati janjiku,” batin Philippe.Mobil keluarga Ruthven terjun bebas ke dalam danau. Benturan keras membuat tubuh Philippe menghantam setir. Airbag mengembang di hadapannya, namun benda itu pun akhirnya mengempis seketika sepertinya ada gangguan pada sistem inflator karena guncangan, kepalanya juga terbentur sisi jendela hingga pandangannya seketika mengabur. Dari kejauhan, seorang pengendara mobil yang melintas melambatkan kecepatannya, ketika melihat serpihan kaca dan body mobil berserakan di tepi jalan pembatas yang rusak. Ia langsung menepikan kendaraan dan turun, lalu menghubungi polisi.▫️▫️▫️‘Ayah… Ibu… sepertinya kami akan menyusul kalian,’ pikir Fleur panik.Di kursi samping, tubuh Clement terhempas ke dashboard dan kaca mobil. Darah mengalir dari pelipis pria tua itu sebelum akhirnya ia tak bergerak sama sekali.Philippe sempat mencoba me
Philippe menggebrak meja makan hingga membuat Fleur dan Smith terperanjat. “Aku akan membuktikan di pengadilan kalau ini semua ulah Tuan Anderson, dan Ayah sudah dijadikan kambing hitam demi kepentingannya,” geramnya dengan tatapan yang tajam. Smith dan Fleur masih terdiam. Philippe melanjutkan ucapannya, sambil mengepalkan tangan dan meninju pelan di atas meja. “Kalau dia sampai mangkir memberi kesaksian, aku akan menyeretnya.”Smith menghela napas, kemudian berdiri, “Aku setuju denganmu,” ucapnya sambil menepuk bahu Philippe.Pengacara itu melirik secara bergantian ke arah putra dan putri mendiang Tuan Ruthven itu, “Kalau kalian sudah siap, sebaiknya kita berangkat sekarang,” ajaknya. Fleur mengangguk dengan pelan, ia segera meraih tasnya dan sempat merapikan rambutnya. Ketiganya pun mulai beranjak dari posisi masing-masing dan segera menuju mobil. Di sepanjang perjalanan mereka tidak banyak mengobrol, justru Smith menelepon tunangannya, sementara Fleur dan Philippe melamun.
Selesai makan malam keduanya kini berada di kamar tamu. Fleur dengan duduk selonjoran di atas kasur. Sementara Anshel sedang memeriksa kaki Fleur, dan mengoleskan obat luar. “Bagaimana, sekarang sudah sudah lebih tidak terlalu sakit?”Fleur mengangguk.
Anshel menoleh, keterkejutannya hanya sesaat sebelum berganti dengan senyum tipis yang santai. Ia menggeser sedikit pintu kaca shower yang beruap."Fleur? Kau sudah bangun?" tanya Anshel tenang, seolah tidak terganggu sama sekali dengan keberadaan istrinya di sana.Fleur langs
Fleur Philippe menyelipkan rambutnya di ke telinga belakang. “Sekarang pulanglah, kau sudah tahu semuanya biarkan aku dan tim kuasa mengatasi masalah ini, apalagi kita juga di bantu Anshel, jaga diri baik-baik dan menurutlah pada suamimu, kami melakukan ini demi kebaikan kita.”“Jadi itu alasanmu,
Seorang pria muda berusia 25 tahunan itu baru saja menguping pembicaraan Philippe dan Smith di kantor.Ia mundur perlahan dan segera meninggalkan tempat itu.Saat memasuki lift, ia menelpon seseorang. "Anda harus berhati-hati, mereka sudah mengendus semua gerak-gerik Anda, Tuan."Seseorang sambil







