Home / Rumah Tangga / Ceraikan Aku, Tuan Anshel / Bab 11 - Jejak di Tepi Sungai

Share

Bab 11 - Jejak di Tepi Sungai

last update Last Updated: 2025-12-09 10:00:45

“Keluarlah, Fleur.”

“Aku tidak akan memaafkanmu kalau sampai mempermainkanku, Fleur…!”

Anshel menyibakkan pandangannya ke segala arah. Hening sungai begitu pekat. Beberapa detik berlalu, lalu ia menenggelamkan diri kembali.

Namun, sebelum Anshel naik mengambil napas, sebuah tangan mencengkeram pergelangannya. Fleur muncul sambil terkekeh, rambutnya basah menempel manja di pipi.

“Apa kau mencariku?” bisiknya dengan nada menggoda.

Anshel menatapnya—m
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Ceraikan Aku, Tuan Anshel   Bab 89 - Di Balik Kejayaan Ruthven Wines

    “Penampilan paman Anderson, sangat ramah, meski kami tak dekat, di pesta nanti, aku akan mencoba mengakrabkan diri,” timpal Fleur sambil memakai bedak taburnya. Mereka saling melempar senyuman namun terselubung rencana untuk melawan musuhnya. ▪️▪️▪️⚫⚫⚫▪️▪️▪️Hari Sabtunya, pesta ulang tahun Ruthven Wines digelar dengan megah. Cahaya lampu kristal memantul di gelas-gelas anggur mahal, sementara musik klasik mengalun pelan.​Begitu pintu aula terbuka, Anshel dan Fleur melangkah masuk. Kehadiran mereka seolah menghentikan napas ruangan sejenak. Anshel yang dingin dengan setelan jas berwarna berwarna abu-abu tua, Di sampingnya, Fleur tampil anggun dalam balutan gaun abu pastel polos dan lembut, namun tak kalah memikat.Mereka menyapa tamu undangan juga karyawan Ruthven Wines. Setelah semuanya berkumpul, Philippe sang CEO saat ini melangkah maju ke tengah aula yang megah. Dengan gaya santai namun berwibawa, ia mengangkat gelas kristalnya ke udara, menarik perhatian seluruh tamu undanga

  • Ceraikan Aku, Tuan Anshel   Bab 88 - Berlabuh Kembali

    “Biarkan aku menyentuhmu… dan jangan coba-coba menghentikanku.”Fleur membelalak, tubuhnya memanas seperti baru kena bara api, api asmara tentunya, dan jantungnya berdebar hebat. Fleur menunduk, entah apa lagi alasan yang akan ia buat. Anshel masih menatapnya dalam-dalam. Ia mengangkat wajahnya, “Anshel, Aku—”Anshel tiba-tiba menciumnya sekali lembut, dalam sampai ia enggan melepas sentuhannya. Ia menempelkan keningnya di kening istrinya, namun, “Hentikan aku, atau aku pergi malam ini!”Fleur menatap Anshel, pantulan cahaya di matanya bersinar. ia kemudian menelan ludahnya sendiri. Dengan ragu ia pun mengangguk. Tapi saat Anshel akan menciumnya lagi ia berbisik. “Aku mau kita pakai pengaman dulu sampai masalah perusahaanku selesai!”Ia menarik Fleur lebih erat dan mengusap pipinya dengan lembut, dan turun menyentuh bibirnya hingga membuat mata Fleur terpejam dan bulu-bulu halusnya di tubuhnya berdiri. “Sayangnya aku tidak punya itu, Fleur.” bisiknya. Fleur cemberut, ia menuru

  • Ceraikan Aku, Tuan Anshel   Bab 87 - Satu Permintaan

    Sorenya CEO perusahaan Noblecrest Group itu sedang menuju kantor Noblecrest Systems. “Fleur, sebentar lagi aku tiba di NCS.”“Baiklah, Tuan Robinson, aku akan segera turun.”Fleur tersenyum tipis setelah menutup telepon. Ia segera merapikan meja kerjanya dan mengambil tas tangannya. ​Begitu ia melangkah keluar dari lobi gedung Noblecrest Systems, Mercedes hitam milik Anshel sudah terparkir tepat di depan pintu. Barack dengan sigap membukakan pintu belakang. Sepasang suami istri itu saling melempar senyuman, ia duduk di samping suaminya, aroma parfum maskulin Anshel yang khas langsung menusuk hidungnya.Anshel mencium pipinya, Fleur juga sudah tak masalah dengan sentuhan itu. ​Anshel menoleh, sebelah alisnya terangkat. "Tuan Robinson? sejak kapan kau jadi sangat formal pada suamimu sendiri?" tanya Anshel dengan mimik wajah serius, tapi ia hanya bergurau.​Fleur terkekeh pelan sambil menyandarkan kepalanya di bahu Anshel. "Hanya ingin mengingatkan diriku sendiri kalau aku sedang dij

  • Ceraikan Aku, Tuan Anshel   Bab 86 - Fleur Bekerja Kembali

    Keesokan harinya Fleur memutuskan untuk masuk kerja, sebenarnya ia sudah tidak kesepian lagi ketika di rumah karena ada ibu mertuanya, tapi ia merasa punya tanggung jawab sebagai karyawan di perusahaan suaminya. Ibu mertuanya juga mendukungnya Fleur sepenuhnya. Nyonya rumah itu masih memakai handuk kimono, ia sedang berdandan di depan kaca rias. Anshel baru selesai mandi, rambutnya yang masih masih basah meneteskan air ke tengkuk lehernya. Ia melihat Fleur dan mendekat. “Apa kau tetap maksa masuk kerja?” sambil memegang kedua bahu Fleur dari belakang. Fleur menyapu perona pipinya, “Iya, aku tidak suka hanya berdiam diri di rumah.” Anshel tersenyum menatapnya dari pantulan kaca, diam-diam ia menyingkap rambutnya pelan kesamping dan mengecup leher Fleur membuat seluruh badan Fleur merinding. “Anshel geli,” ujarnya sambil memiringkan lehernya, “Keringkan dulu rambutmu, itu masih basah!” Padahal di kamar mandi juga ada hairdryer tapi Anshel lebih suka mengeringkannya

  • Ceraikan Aku, Tuan Anshel   Bab 85 - Bara Anshel Robinson

    Keluarga Robinson sudah mengakhiri akhir pekan mereka di River Shade. Suasana pagi itu diwarnai kesibukan kecil para pelayan yang membereskan koper ke dalam bagasi mobil. Philippe sudah bersiap berangkat lebih dulu, sementara Anshel masih duduk di ruang makan, menyesap kopi hitamnya dengan tenang.​Fleur turun dengan blazer berwarna kuning pastel dan rok putih tulang mengembang di bawah lututnya. Meskipun wajahnya masih agak pucat, ia tampak bersiap untuk kembali ke rutinitasnya di Noblecrest Systems.​"Kau mau ke mana, Fleur?" tanya Anshel tanpa menoleh, suaranya rendah namun tegas.​Fleur menghentikan langkahnya di dekat meja makan. "Tentu saja ke kantor. Ada beberapa laporan proyek di Noblecrest Systems yang harus aku selesaikan hari ini."​Anshel meletakkan cangkirnya dengan pelan. Ia mendongak, menatap istrinya dengan tatapan yang tidak bisa dibantah. "Tidak untuk hari ini. Kau tetap di rumah sampai kondisimu benar-benar pulih."​"Tapi aku sudah merasa jauh lebih baik, Anshel. Ak

  • Ceraikan Aku, Tuan Anshel   Bab 84 -  Diskusi di Teras River Shade

    Sepasang suami istri itu tengah berpelukan di kamar Fleur. “Anshel, aku merindukan pekerjaanku.”Anshel mengusap-ngusap lengannya, “Aku tidak suka melihatmu bekerja, Fleur.” “Terus kenapa kau memindahkanku ke Noblecrest Systems?” tanyanya sambil mengangkat wajahnya. Anshel menunduk, “Kau tahu alasannya,” ia mendekapnya lagi. “Tetaplah dekat seperti ini, Fleur, berhentilah membuat banyak peraturan!” Fleur mengangguk, “Kau boleh menyentuhku lagi.”Anshel melonggarkan sedikit pelukannya, ia menatap Fleur karena tak percaya. Senyumnya melebar. Fleur segera melanjutkan ucapannya, “Tapi tidak yang satu itu.” Wajah Anshel muram kembali.Fleur tertawa keras melihat ekspresi suaminya yang langsung berubah cemberut, ia gemas melihat wajah tampan suaminya yang merasa hanya karena dilarang menyentuhnya. ​"Kau kejam, Fleur," gumam Anshel, suaranya sangat pelan dan serak. Ia menyentuh pelan hidung Fleur dengan telunjuknya, namun matanya tidak bisa berbohong, kalau ia sangat mencintai wanit

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status