Share

BAB 23

Author: Ede Thaurus
last update publish date: 2025-10-28 08:42:47

"Apa ... Apa kau berkata yang sebenarnya? Lalu Bram?"

"Dia tidak tahu."

Entah apa yang merasukiku hingga mengatakan kepada Sissy, hal sudah aku tutupi bertahun-tahun dari semua orang. Mungkin karena aku sudah tidak tahan lagi, atau karena Alex membuatku muak semalam.

"Ruth, aku tidak percaya ini. Ceritakan kepadaku, ada apa sebenarnya antara kau, Alex dan Bram."

Aku menarik napas panjang, lalu berkata dengan satu tarikan napas. Tanpa emosi atau perasaan apapun.

"Di hari pertama aku berpacaran d
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Cerita Cinta Sang Janda Muda   BAB 78

    "Maafkan aku, karena membatalkan rencana ini tiba-tiba," ucap George sambil menyalakan mesin mobilnya. Aku diam saja."Tapi jangan khawatir, aku pasti akan membayarnya dua kali lipat, saat kita melakukan perjalanan lain," lanjutnya sambil melajukan mobil.Dia tampak gelisah dan aku tahu alasannya. "Tadi ... di mall. Apa kau melihat seseorang, atau sesuatu? Wajahmu tampak sangat terkejut."George diam, entah tidak mau menjawab atau sedang memikirkan jawaban dari pertanyaanku. Lalu, sebuah panggilan telepon menyelamatkannya. George segera meminggirkan mobilnya, lalu keluar untuk menerima panggilan telepon itu."Orangtuaku sudah sampai di rumah," ucap Alex begitu masuk ke dalam mobil."Kalau begitu aku akan turun di sini, agar kau bisa segera menemui mereka.""Tidak, aku akan mengantarmu pulang dulu.""Lalu mungkin besok kita tidak bisa bertemu," lanjut George membuat dadaku tiba-tiba sesak.Besok, kenapa harus besok?"George, besok bolehkah kita tetap bertemu. Besok ibuku pasti akan ke

  • Cerita Cinta Sang Janda Muda   BAB 77

    Aku memang terluka dan merindukan putraku, tapi dekapan pria ini adalah hal lain. Perasaan yang tidak pernah kurasakan muncul. Airmataku langsung berhenti berganti dengan detak jantungku yang semakin cepat dan kencang. Tidak! Aku tidak boleh membiarkan diriku melanjutkan perasaan ini.Aku segera melepaskan diri dari dekapan George dan menyeka air mataku dengan cepat."Ada apa?" tanya George bingung."Kau ... tidak harus melakukan hal sejauh ini.""Oh, aku minta maaf. Apa kau tersinggung karena aku memelukmu? Aku tidak bermaksud apa-apa, aku hanya tidak sanggup melihatmu menangis," jelas George membuatku malah menjadi malu.Dia pasti memelukku tanpa motivasi apapun. Maksudku, dia pasti sudah memeluk puluhan atau ratusan wanita. Akulah yang berlebihan dan kini malah terdengar seperti menyalahkannya."Aku tahu kau tidak bermaksud apa-apa. Hanya saja kita sedang berada di tempat umum, aku tidak nyaman bila ada yang melihatku," sahutku berbohong."Baiklah, aku mengerti.""Sekarang, ayo ki

  • Cerita Cinta Sang Janda Muda   BAB 76

    "Apa kau sudah lapar?" tanya George begitu aku masuk ke dalam mobilnya."Tentu saja aku kelaparan. Aku tidak sarapan karena kau melarangku makan.""Kalau begitu apa yang paling ingin kau makan sekarang?""Apa saja yang bisa membuatku kenyang."George tertawa mendengar jawabanku."Apa yang lucu?" tanyaku bingung."Katakan sekarang kau lebih ingin makan sesuatu yang manis atau gurih?"Aku diam sejenak."Sepertinya sepotong coklat enak juga sebelum mulai makan makanan berat," jawabku sambil tersenyum."Nah! Itu dia jawabannya," seru George sambil mengeluarkan telepon genggamnya dan mengetik sesuatu."Ayo kita beli coklat!" lanjutnya setelah memasukkan kembali telepon genggamnya.Apa yang dia lakukan? Benar-benar aneh.***"Silakan pilih. Ambil saja yang kau mau, aku akan membayarnya," ucap George begitu kami masuk ke dalam toko coklat mahal yang sangat terkenal."Aku tahu kau kaya raya, tapi ku dengar harga coklat di sini sangat mahal," bisikku setelah memeriksa sekelilingku."Tidak apa

  • Cerita Cinta Sang Janda Muda   BAB 75

    "Turunlah, aku menjelaskannya saat kita bertemu lagi, atau lewat telepon," jawab George menggantungkan jawabannya."Tidak katakan saja sekarang!" paksaku"Kalau begitu mau berjalan-jalan lagi?""Sekarang jelaskan mengapa biru?" todongku begitu kembali duduk di dalam mobil."Karena biru selalu mendominasi dan selalu ada dalam semua lukisanmu," jawab George sambil menjalankan mobilnya perlahan."Hanya karena itu?" tanyaku meremehkan."Coba lihat semua lukisanmu ini, warna apa yang dominan?" ucap George sambil menyerahkan telepon genggamnya."Kapan kau memotret semua ini?""Saat kau tidak melihat, tapi bukan itu yang penting. Sekarang coba kau perhatikan semua lukisanmu ini, bagaimana perasaanmu ketika melihat setiap warna? Yang mana yang terasa istimewa? Warna apa yang bila kau hilangkan maka akan merubah esensi lukisanmu?"Aku mengambil telepon genggam George dan memperhatikan. Aku jadi teringat saat mulai melukis, saat itu aku memang menyukai warna biru. Waktu itu alasanku karena warn

  • Cerita Cinta Sang Janda Muda   BAB 74

    George kembali diam dan menatap ke luar jendela."George, katakan semuanya! Mengapa kau bicara sepenggal-sepenggal?""Kau hanya akan semakin sakit hati nanti," jawabnya tanpa memandangku."Katakan saja!" bentakku kesal."Alex yang membayar hutang ayahmu.""Iya benar, tapi itu dilakukan oleh manajernya tanpa diketahui oleh Alex.""Baiklah. Sekarang kemana arah rumahmu?" George benar-benar mengesalkan. "Jelaskan apa maksudmu? George!" teriakku putus asa. Airmata mulai mengalir ke pipiku karena menahan marah dan rasa penasaranku.George menatapku dan langsung panik karena melihatku menangis."Hei, jangan menangis. Baiklah, aku akan mengatakan semuanya. Tenang dulu," bujuk George sambil mengambil tisu dan menyeka pipiku."Kau benar-benar membuatku putus asa," sahutku sambil menangis lebih keras."Maafkan aku, maafkan aku. Baiklah, setelah kau tenang aku akan menceritakan semuanya," ucap George sambil menepuk bahuku pelan.Aku langsung berhenti menangis. Sebenarnya bukan karena sangat in

  • Cerita Cinta Sang Janda Muda   BAB 73

    Aku berbalik dan melihat sosok yang tentu saja sangat kukenali bahkan hanya dari suaranya."Alex, apa yang kau lakukan di sini?" tanyaku dengan tubuh menegang.George ikut berbalik dan menatap Alex sambil menyipitkan mata dan tampak tidak nyaman."Ada urusan yang harus aku selesaikan disini," jawabnya santai sambil tersenyum seakan tidak ada masalah apapun di antara kami."Tuan George, senang bisa bertemu anda lagi," sapanya sambil menjulurkan tangan ke arah George."Halo Alex," balas George menyapa, lalu menyambut uluran tangan Alex."Apa kau mau memperlihatkan lukisanmu kepada Tuan George?" Aku mengangguk dengan canggung. Alex tampak begitu tenang, seakan aku dan dia tidak pernah memiliki masa lalu apapun dan hanya dua orang yang pernah saling mengenal. Padahal belum lewat seminggu, ketika dia mendatangiku dan memohon agar aku kembali bersamanya.Apakah dia memang sudah melupakan dan mengikhlaskan segalanya, atau dia cuma aktor yang hebat? Entah mana yang lebih baik saat ini, tapi

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status