INICIAR SESIÓN"Apa? Menikah?" pekik ibuku sama kagetnya dengan aku."Bibi tidak perlu khawatir. Aku akan menjamin tidak ada seorangpun yang akan menyakiti Ruth. Aku akan-""Berhenti!" potong ibuku sambil melambaikan tangannya dengan keras."Apa maksudmu dengan menikah? Apa kau hamil lagi?" tanya ibuku sambil menatapku dengan kemarahan yang tidak bisa aku bayangkan."Tidak! Tidak! Aku tidak hamil! Aku sendiri bingung, kenapa harus menikah?" jawabku panik lalu menatap Alex penuh tanda tanya."Kenapa harus menikah?" ulang ibuku sambil ikut menatap Alex."Maksudku ... kalau ... aku mengatakan bahwa kau istriku, maka orang-orang tidak akan salah paham dan menjelek-jelekkan Ruth," jelas Alex sambil menatapku dengan terbata-bata."Kalian berdua benar-benar tidak berubah!" bentak ibuku kesal."Menikah sama sekali bukan jalan keluar. Kau memberikan ide itu hanya karena emosi dan romantisme yang ada di kepalamu kan?" "Tidak bibi, ini sama sekali tidak seperti itu," ujar Alex sambil berdiri mencoba menjelas
"Aku rasa itu tidak mungkin. Meski dia membencimu tapi dia tidak punya cukup nyali dan kemampuan untuk melakukan hal seperti itu," jawab Sissy yakin."Apa mungkin George atau Bram?" Berbagai dugaan muncul di kepalaku."George? Bram? Untuk alasan apa mereka repot-repot melakukan semua ini?"Sissy kembali membuatku ragu. Aku benar-benar tidak bisa menduga siapa yang melakukannya."Sekarang sebaiknya kau menghindari keramaian dulu, karena wajahmu benar-benar jelas. Mereka memunculkan wajahmu, jadi sepertinya tidak aman kalau kau keluar. Selain itu, jangan membuka media sosial apapun, apalagi membaca komentarnya!""Kenapa?" tanyaku lemas."Untuk jaga-jaga saja, takutnya ada yang menyerangmu di jalan dan di media sosial.""Baiklah," jawabku patuh.Aku menarik napas dalam lalu segera keluar dari kamarku menuju ke dapur. Aku melihat ibuku yang sedang duduk sambil menatap layar telepon genggamnya dengan wajah marah dan tegang.Aku mendekatinya lalu duduk di hadapannya."Ma, jangan terlalu pe
"Terima kasih untuk pujiannya," bisik Alex dengan suara sedikit mendesah dan senyum yang membuat tubuhku semakin menegang.Seharusnya sekarang aku berpaling, dan kembali menatap layar. Tapi aku malah terus menatap Alex yang entah mengapa semakin mendekatiku.Aku menelan ludah karena gugup, tenggorokkanku tiba-tiba terasa sangat kering.Wajah Alex semakin dekat, lalu dengan bodohnya aku menutup mata, seakan-akan pasrah menerima tindakan apapun yang akan dilakukan Alex."Bagian ini yang paling seru," ucap Alex sambil memegang kepalaku dan memutarnya ke arah layar.Sial! Aku malu. Kenapa aku harus menutup mata dan mempermalukan diriku sendiri. Aku mencoba mengatur napasku sambil menatap layar. Kali ini, aku tidak akan bicara sepatah katapun kepada Alex.Tiba-tiba Alex mendekat dan berbisik ke telingaku."Aku tidak ingin memulai sesuatu yang aku tahu tidak akan bisa kuhentikan. Kalau aku menciummu sekarang, maka yakinlah aku pasti akan membawamu ke ranjang."Mataku tetap di layar. Jadi sa
"Ruth, apa kau sudah melunasi semua pinjaman papa?" teriak ibuku bersemangat sambil membuka pintu kamarku dengan tergesa-gesa.Aku masih berbaring di tempat tidur dan belum sepenuhnya sadar, karena semalam bicara di telepon sampai lewat tengah malam dengan Alex."Iya, aku sudah bayar sebagian, jadi jatuh temponya bisa ditunda sedikit," jawabku sambil meluruskan tubuhku perlahan."Tapi ini sudah lunas," jawab ibuku sambil menyodorkan selembar kertas."Lunas?" tanyaku terkejut dan langsung bangun. Apa aku melunasinya? Seingatku bayaran dari George tidak sama dengan jumlah hutang ayahku, apa ada yang salah? Aku segera mengambil kertas itu dari tangan ibuku dan membacanya dengan hati-hati.Benar! Jumlahnya pas dan seluruh hutang ayahku sudah lunas. Tapi bagaimana mungkin? Siapa yang melunasinya?"Dari mana mama dapat surat ini?" tanyaku bingung."Tadi kurir mengantarnya," jawab ibuku terlihat senang.Aneh, siapa yang melunasinya? Apa Sissy? Seingatku hanya dia yang mengetahui persoalanku,
"Aku malu. Orang-orang pasti memperhatikan kita tadi," ucapku setelah tenang dan duduk di sebuah restoran di dalam taman bermain."Tidak usah pedulikan orang-orang. Aku malah lega karena kau menangis. Membayangkan akan menaiki semua wahana ekstrem di sini karena kau menahan emosimu, terasa lebih menakutkan."Aku tertawa sambil memukul lengan Alex pelan."Makanlah. Selagi kita di sini, kita harus makan ini, churros yang hanya ada di taman bermain ini," ucap Alex sambil menyuapiku dengan camilan tepung goreng panjang dengan gula, yang dicelupkan ke saus coklat."Mmh, enak sekali. Gerald pasti akan sangat menyukai ini," ucapku dengan santai."Tadinya aku pikir seleranya sama denganku karena sangat menyukai coklat. Sekarang akhirnya aku tahu, kalau itu turun dari kedua belah pihak," sahut Alex juga santai, seakan-akan Gerald ada di tengah-tengah kami. Aku mengangguk sambil tersenyum. Senang rasanya bisa membicarakan Gerald dengan orang yang paling dekat dan paling mengenalnya, tanpa rasa
Bulu kudukku berdiri menatap punggung George yang tiba-tiba tampak menakutkan. Ada apa dengan mulutku ini? Kenapa aku terpancing dan mengatakan hal-hal tadi. Bagaimana kalau George mempersulit Alex hanya karena kata-kataku? Tiba-tiba aku merasa bodoh.Aku segera menghubungi Alex, begitu keluar dari restoran mewah itu."Tidak apa-apa. Jangan khawatir," jawab Alex setelah aku menceritakan semua yang aku katakan kepada George."Tapi bagaimana kalau dia mempersulitmu?" "Aku akan menanganinya, tidak usah terlalu memikirkan hal itu. Lebih baik sekarang kau memikirkan kemana sebaiknya kita berkencan besok," jawab Alex sambil tertawa kecil."Kau benar-benar tidak takut dengan pria itu? Aku sempat gemetar melihatnya.""Ruth, tidak usah pedulikan dia. Itu bukan masalah besar. Aku malah senang kau mengatakan semuanya kepadanya, karena dengan begitu, dia akan tahu tempatnya."Kata-kata Alex entah bagaimana membuatku tersenyum bahagia. Dia benar-benar tahu bagaimana membuatku tenang dan senang."







