LOGINIs she a fool, or she was just a victim of the people around her?All she ever wanted was to be happy and live the life she dreamed of with her fiancé. For years, they were engaged, and she envisioned a future filled with love, marriage, and family. But everything changed on the day she discovered her fiancé cheating on her—with her half-sister, Almirah. Devastated, she confronted her parents, only to learn they had known about the affair all along but kept it a secret to protect her feelings. Feeling betrayed and manipulated, she decided to run away, hiding a painful secret: she was pregnant. Her plan was simple, go abroad and raise her child alone. But fate had other plans when she met a mysterious man who was completely captivated by her. He was willing to do anything to win her heart. Now, she faces a choice, can she let go of her anger and bitterness from the betrayal? Will she dare to believe in love again after her heart has been shattered? English — Tagalog All right reserve @ 2025 @Bluetot1
View MoreKirani tidak membayangkan akan menjadi istri seorang Joniadi. Di dalam hati sama sekali tidak terbersit sedikit pun akan melepas masa lajang dengan pria lain selain Raka. Memang tidak mungkin sebab Raka sudah tidak ada di dunia ini. Hari pernikahan akhirnya tiba. Seluruh tamu undangan terlihat sangat bahagia bisa menjadi saksi pernikahan Kirani dan Joniadi. Proses akad dan resepsi berjalan lancar dan tanpa halangan.
"Aku beruntung bisa menjadi suami mu, Rani," ujar Adi menatap lekat wajah istri tercinta."Alhamdulillah, Mas." Rani melirik wajah suami lalu kembali menunduk.Perasaan hambar dirasakan seorang Rani. Sama sekali belum tumbuh perasaan cinta. Rasa sayang saja sama sekali tidak ada. Hanya permintaan dari Bapak yang membuat Rani terpaksa mau menikah dengan Joniadi."Ya Allah, aku menjalani pernikahan tanpa cinta. Aku harus bisa menumbuhkan benih-benih cinta ke Mas Adi. Dia sudah menjadi suami ku," batin Rani meremas gaun pernikahan yang bernuansa gold.Tamu masih silih berganti berdatangan untuk datang ke pernikahan. Terpancar wajah bahagia dari Bapak Rani. Menyambut tamu undangan dengan senyum sumringah dan tidak terlihat raut lelah yang menghiasi wajah Bapak.Tidak terasa waktu sudah memasuki senja dan sudah tidak terlihat lagi tamu yang datang. Bapak mengobrol dengan menantu di teras depan sambil menikmati teh hangat. Rani mengintip dari celah tirai ruang tamu."Kenapa tidak ikut bergabung dengan Bapak dan suami mu, Ran?""Oh iya, selamat ya Rani? Akhirnya kamu sekarang sudah menikah dan doakan agar aku segera menyusul." Lintang memeluk Rani dengan kecupan di pipi kanan dan kiri bergantian."Sini, Rani! Temani Adi dan Bapak duduk di sini!" Bapak melambaikan tangan menoleh ke belakang."Iya, Pak. Rani sama Lintang dulu ya, Pak." Rani berteriak dari ruang tamu lalu menunduk sangat dalam.Adi senyum sendiri sambil memainkan ponsel di tangan kiri. Bapak santai sekali mengobrol dengan Adi. Sesekali terdengar tawa Bapak yang membuat teduh hati Rani."Sampai kapan?" Terdengar pertanyaan yang sekejap membuat Rani mengernyitkan alis."Maksud kamu?""Ran, kamu sudah mempunyai suami. Aku tahu belum ada perasaan cinta untuk Mas Adi. Aku ingin kamu perlahan bisa mencintai dia. Kamu akan dosa besar jika cuek dan acuh sama Mas Adi," ujar Lintang membelai wajah Rani.Rani menghela napas panjang lalu mengembuskan perlahan. Dada terasa berat untuk bernapas. Pikiran tidak karuan dihantui rasa takut. Terbayang wajah Raka lalu berganti menjadi Adi.Lintang sangat paham dan seperti ikut merasakan semua yang dirasakan Rani. Hanya mampu sebatas memberikan nasihat yang terbaik untuk sahabat baik nya itu."Berat. Ini semua terasa sangat berat, Lin. Aku belum terlalu mengenal Mas Adi. Dia dari dulu sangat menggebu sekali mengejar aku. Sangat risih sekali rasa nya, Lin," terang Rani sambil menampakkan wajah risih dan geli."Semua sudah menjadi takdir Allah SWT. Orang yang mengejar cinta mu sudah menjadi suami mu. Kamu harus bisa mencintai Mas Adi agar terhindar dari dosa seorang istri pada suami, Ran," ucap Lintang penuh penekanan."Kamu sudah menjadi anak yang berbakti sama Bapak. Kamu menuruti perintah beliau untuk segera menikah. Sekarang tinggal berbakti sama suami mu," tambah Lintang.Lintang beranjak dari sofa lalu meraih pundak Rani. Mereka berpelukan cukup lama. Tangisan Rani tumpah di pelukan Lintang. Sebisa mungkin Lintang menahan air mata yang memenuhi kelopak mata indah nya."Iya, Lintang. Semua nasihat mu akan aku lakukan. Aku akan menjalankan kewajiban ku sebagai seorang istri. Terima kasih ya, Lintang? Semoga kamu juga cepat menemukan jodoh mu kembali." Rani memeluk erat tubuh Lintang yang mungil.Lintang berpamitan dengan Bapak Rani dan Adi dengan melempar senyuman. Berjalan pelan menuju halaman rumah. Rani duduk di samping Adi dengan senyuman manis ke arah Lintang. Adi terkesima menatap wajah Rani tanpa riasan pengantin. Sangat anggun dan aura kecantikan sangat terpancar."Ran, teman mu itu yang pernah kamu ceritakan dulu?" Adi menoleh ke Lintang yang sudah menaiki sepeda."Iya, Mas. Suami Lintang meninggal setahun yang lalu. Tapi, dia wanita yang tegar dan kuat. Berbeda dengan...""Sudah, Rani! Bapak, sangat bahagia sekali hari ini! Sangat bahagia! Bapak, gak mau kalau Rani atau Adi hari ini merasa sedih! Harus bahagia!" Bapak merangkul Adi dan Rani dengan haru bahagia.Adi melirik Rani dengan tatapan tajam tanpa senyuman. Sedangkan, Rani menunduk diam dan tanpa senyuman kembali teringat Raka.Sekilas ingatan Rani kembali terlempar ke masa sebelum menikah dengan Adi. Meremas kedua tangan seakan obrolan Bapak dan Adi tidak bisa ia dengar.Saat sore hari menjelang malam hati Rani tersentak untuk menceritakan semua yang terjadi ke Bapak. Tidak ingin menunda lagi karena yang terpikir hanya satu, kesehatan Bapak."Bapak, Rani mau cerita sesuatu," ujar Rani sambil menunduk dalam.Bapak mengangkat dua alis dengan lirikan penuh rasa penasaran. Ditatapnya putri tercinta dengan senyuman teduh seorang Bapak.Perasaan Rani kala itu sangat nyaman dan terasa begitu hangat. Tanpa sadar memeluk tubuh yang renta itu dengan erat. Bapak semakin penasaran dengan perubahan sikap Rani.Seperti memendam suatu masalah tapi berat untuk diceritakan. Tapi, seorang Ayah tidak akan menyerah sampai anaknya mau bercerita. Yang dimiliki Rani hanya Ayah. Ibu sudah lama meninggalkan mereka berdua."Bapak, Rani...""Rani, cerita saja! Bapak, siap mendengar. Apa ini menyangkut Adi?" Bapak menjurus pada poin masalah.Rani mengangguk cepat seraya meremas tas di atas kedua paha. Wajah Bapak menjadi sendu dalam sekejap. Seperti paham dengan apa yang akan dikatakan Rani."Iya, Bapak paham sekali. Rani, tidak ingin menikah dengan Adi. Cinta memang tidak bisa dipaksakan dan Bapak ini juga semakin tua, Rani." Bapak beranjak berdiri perlahan sembari memegang tongkat di tangan kanan.Rani turut beranjak berdiri menghampiri Bapak. Menatap wajah yang semakin tua itu dengan tatapan nanar dan sedih. Perlahan memegang kedua tangan Bapak."Pak, Rani dan Mas Adi sebentar lagi akan menikah." Rani tersenyum sambil sekuat tenaga menahan tetesan air mata."Apa?" Bapak terpaku tidak bergerak beberapa detik.Dalam hati sangat bahagia sekali melihat putri tercinta akan segera menikah. Rasa senang yang berlebihan membuat jantung Bapak kambuh lagi."Bapak! Sudah, istirahat saja! Rani, mau masak makanan malam dulu untuk Bapak. Ayo, masuk kamar!" Rani memapah Bapak sedikit demi sedikit menuju ke kamar."Rani! Kamu melamun? Bapak, dari tadi memanggil nama mu," kata Adi menepuk agak kencang pundak Rani."Iya? Ada apa, Mas?" Rani panik lalu menoleh ke Bapak."Rani, kamu kenapa? Aku ingin mengajak kamu ke Jakarta. Apakah kamu mau?" tanya Adi setengah ragu."Jakarta? Kenapa mendadak? Bapak tidak mungkin sendiri di sini," jawab Rani cemas.3rd Person's Point Of View Aye's mouth was wide open in disbelief as she heard what Gavin had said. Hindi niya mapigilan ang hindi mapatawa ng malakas sa sinabi nito. “Is this the reason why you want to talk to me?” she asked. Hindi nagsalita si Gavin at nakatitig lang sa kanya, na parang pinag-aaralan siya. “I can't believe you, Gavin. Sa tagal kitang nakasama noon, noong mga panahon na tayo pa, hindi ko inaakalang may pagka-assumero ka pala.”Tumigil siya sa pagtawa at saka mataray itong pinagtaasan ng kilay. “And what made you think that I came here for you?”Nag-isang linya ang kilay ni Gavin. “Isn't that the reason why you were with Jace?”Naitikom ni Aye ang kanyang labi at hinawakan iyon upang pigilan ang pagtawa. “Hindi ba pwede sumama ako sa kanya… because I want to accompany her?”Hindi nakatugon si Gavin sa sinabi niya, at hindi niya maiwasang mag-smirk sa kanya, nakikita ang reaksyon nito. Gusto niyang sumabog sa tawa pero pinigilan niya ang sarili. Baka kasi mamaya ay ma
3rd Person's Point Of View Hindi muling nagka-imikan ang dalawa, binalot ng katahimikan ang buong silid. Umiiyak si Jace na tahimik habang si Aye naman ay tahimik lang rin na pinagmamasdan ang kaibigan.Nasasaktan siya na nakikita itong umiiyak, pero wala namang mali sa sinabi niya. Sinabi niya lang ang totoo rito, gusto niya lang ma-realize nito ang lahat ng mali at magising sa katotohanan. Kahit pa alam niya na masasaktan ito.Hindi niya nakayanan na marinig ang pag iyak nito, kaya tumalikod siya at umalis ng silid upang magpahangin. Ramdam niya kasi ang panunubig ng kanyang mga mata habang tinitingnan ang kaibigan.Bahagya pa siyang natigilan ng pagkabukas niya ng pinto, ay ang mukha ni Gavin ang unang bumungad sa kanya, na ngayon ay nakatayo sa tapat ng pinto habang nakasilid ang magkabilang kamay sa bulsa ng suot nitong pants.Tumikhim siyaz hindi niya alam kung ano ang dapat na sabihin, pakiramdam niya kasi ay may bumara sa kanyang lalamunan.“How is she?”Napakurap ng mata si
3rd Person's Point Of View Si Aye, sa kabilang banda, ay na estatwa ng makita niya si Gavin. Nagtagpo ang kanilang mga mata ng bumaling ito sa direksyon niya. Walang bakas na kahit anong emosyon sa mga mata nito.Iniwas niya na lang ang tingin rito at binaling sa kaibigang si Jace na ngayon ay natulala sa kinatatayuan; bakas sa mukha nito ang gulat at pagkabigla sa sinabi ni Gavin. Makikita mo rin ang pagdaan ng sakit roon.Hindi niya tuloy alam kung lalapitan niya ba ito dahil naisip niya ang pwedeng maramdaman ni Allen, na hanggang ngayon ay galit pa rin sa kanya.She wants to make it up with her. She wants to take Luther's advice to her, but she couldn't, thinking that in this state, no one will side with Jace, lalo pa't mali ang ginawa nito.Ugh, bahala na nga! Nasabi niya sa kanyang isip at saka naglakad papalapit sa kaibigan upang ilayo ito bago pa ito umiyak, dahil mukhang konting oras na lang ay maiiyak na ito.Nilapitan niya ito at saka inalalayan upang umalis, pero bago pa
3rd Person's Point Of View Tulog na si Jace nang pumasok si Aye sa silid. Matagal rin bago siya nakatulog dahil sa pag-iisip sa sinabi ni Luther sa kanya. Sandali lang ang naging pag-uusap nila, but she felt like she had known him for a long time. Pumasok rin sa isip niya si Uno kung kumusta na ito at kung anong ginagawa nito ngayon, lalo na si Marcus na kanyang anak; ilang linggo na rin kasi siyang hindi kumokontak roon.Nang tuluyan siyang dalawin ng antok, agad siyang napapikit ng mata at lihim na nagdasal na sana ay maging maayos ang lahat.Nagising na lang si Aye mula sa kanyang mahimbing na pagkakatulog ng marinig ang matinis na ingay na para bang nagtatalo mula sa labas ng kubo.Kusot-kusot ang kanyang mga mata na nagmulat siya ng mata bago lumabas upang silipin ang nangyayari.“Ipokreta na illusyanada kang babae ka! Bakit ba pinagpipilitan mo ang sarili mo sa kanya? Hindi na obvious sayo na kaya ka niya pinag-tutulakan palayo kasi ayaw niya sayo!”“Hoy babae! Hindi ako illusy
Nang matapos ako kumain ay agad akong umuwi sa condo para makapag pahinga. Ngunit bago makapasok may inabot sakin ang security guard na agad ko rin tinanggap.Tiningnan ko ito and it's a rose. A juliet rose.I look around. Wala na doon ang security guard, hindi ko man lang na tanong kung kanino gal
It's been 3 years since we got married through arranged marriage. We married to fulfill his grandfather's wish. And that is to see him getting married to someone. Akala ko pa noon ay after ng kasal mag papa annul agad kami. But I was wrong, because his grandfather wanted us to live on the same roo
Sunday today kaya walang pasok at kanina pa ako nandito saking kwarto, hindi ako lumabas mula kanina. Apat na araw narin simula ng hindi na kami nag uusap ni papa dahil sa sagutan namin. Hanggang ngayon ay nagtatampo pa rin ako sa kanya. Hindi naman natuloy ‘yon, pero nagtatampo parin ako. Kinausa
So, how’s life treating you, Aye?” It was Camille.Pagka balik ko palang mula sa kina-uupoan namin kanina ay yan agad ang bungad na tanong niya sakin.Umupo ako sa tabi ni Glaiza.“It’s been pretty good, actually!” I smiled at her.“Really? Like, for real?” Si Madisson naman ngayon ang nagtanong.


















Maligayang pagdating sa aming mundo ng katha - Goodnovel. Kung gusto mo ang nobelang ito o ikaw ay isang idealista,nais tuklasin ang isang perpektong mundo, at gusto mo ring maging isang manunulat ng nobela online upang kumita, maaari kang sumali sa aming pamilya upang magbasa o lumikha ng iba't ibang uri ng mga libro, tulad ng romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel at iba pa. Kung ikaw ay isang mambabasa, ang mga magandang nobela ay maaaring mapili dito. Kung ikaw ay isang may-akda, maaari kang makakuha ng higit na inspirasyon mula sa iba para makalikha ng mas makikinang na mga gawa, at higit pa, ang iyong mga gawa sa aming platform ay mas maraming pansin at makakakuha ng higit na paghanga mula sa mga mambabasa.