MasukAir es itu sukses membasahi wajah Dewa, menetes dari ujung hidung mancung dan dagunya yang tegas, lalu merembes ke jaket hitam yang ia kenakan.
Suasana di pojok kafe seketika menjadi tegang. Beberapa pengunjung di meja terdekat mulai berbisik-bisik, menatap drama yang baru saja tersaji di depan mata mereka. Dewa memejamkan mata sejenak, menggeram rendah menahan amarah yang siap meledak. Ia membuka topinya dan mengusap rambutnya yang basah ke belakang, lalu menatap Zea dengan kilat mata yang sangat mengerikan. "Lo... benar-benar cewek gila, ya?" desis Dewa, suaranya naik satu oktav. Zea yang napasnya masih memburu, tidak gentar sama sekali. Ia membanting gelas kosong itu ke atas meja hingga menimbulkan suara yang cukup keras. "Itu balasan buat mulut lancang lo! Anggap saja kita impas. Dan jangan harap gue bakal sudi chat lo lagi di SwipeMatch!" Dewa mengernyitkan dahi, tatapan marahnya mendadak berubah menjadi seperti orang yang kebingungan. "Tunggu. SwipeMatch? Lo ngomong apa, sih?" Dewa meraih ponselnya di atas meja, mengelap layarnya yang terkena cipratan air dengan kasar menggunakan tisu, lalu menyalakannya. "Gue enggak pernah main aplikasi sampah kayak gitu!" Zea, tertawa sinis. "Halah, enggak usah ngelak! Nama akun lo 'Senja', kan? Lo yang kemarin malam sepakat nemuin gue di Kafe Glaze jam tujuh malam! Mau bukti?!" Zea langsung menyambar ponselnya sendiri, berniat menunjukkan ruang obrolan mereka. Namun, tepat saat layar ponselnya menyala, sebuah notifikasi pesan baru masuk di bagian paling atas. Dari akun bernama Senja. Senja: [Zea, maaf banget ya! Aku baru saja selesai urusan kantor, sebentar lagi sampai di Kafe Glaze. Kamu udah di sana? Aku pakai jaket jeans dan topi hitam, ya. Maaf bikin kamu nunggu.] Zea mematung. Jantungnya terasa berhenti berdetak seketika. Jaket jeans? Perlahan, Zea menurunkan ponselnya. Matanya bergerak patah-patah menatap pria di hadapannya. Cowok ini tidak memakai jaket jeans. Dia memakai jaket hitam. Melihat perubahan ekspresi Zea yang mendadak pucat seperti mayat, Dewa langsung mendengus kasar. Ia membalik layar ponselnya ke depan wajah Zea. Di sana, menampilkan pesan seorang gadis bertuliskan: 'Aku tunggu di Kafe Glaze jam tujuh malam, ya! awas kalau kamu sampai tidak datang, aku akan terus mengganggumu.' "Gue ke sini buat nemuin cewek penguntit yang udah seminggu ini neror nomor gue, bukan buat ketemuan sama cewek manja korban aplikasi jodoh kayak lo!" bentak Dewa tajam, menekankan setiap kalimatnya. Dewa melemparkan sisa tisu ke atas meja, lalu berdiri dari kursinya. Postur tubuhnya yang tinggi tegap langsung menjulang di hadapan Zea yang masih syok di tempat duduknya. "Lo... salah orang," ucap Dewa dingin, menatap Zea dengan pandangan paling merendahkan yang pernah Zea terima seumur hidupnya. "Dan selamat, lo baru aja bikin masalah sama orang yang salah." Tanpa menunggu balasan, Dewa menyambar kunci mobilnya dan melangkah pergi begitu saja, meninggalkan Zea yang membeku dengan wajah merah padam karena malu yang luar biasa. Zea baru saja menyiram cowok asing yang sama sekali tidak bersalah, sementara 'Senja' yang asli baru saja mengirim pesan kalau dia hampir sampai. Enggan menunggu kedatangan Senja yang asli, Zea memilih untuk segera angkat kaki dari tempat itu. Drama siram air bersama Dewa tadi sukses membuat hampir seluruh pengunjung kafe menatap ke arahnya dengan pandangan menghakimi. Rasanya wajah cantik Zea malam ini benar-benar sudah tidak punya harga diri lagi. Dengan langkah tergesa-gesa dan kepala tertunduk dalam, Zea bergegas pergi menuju pintu keluar. Namun, saking paniknya, ia sampai tidak memperhatikan jalan dan langsung menabrak dada bidang seorang laki-laki yang baru saja hendak melangkah masuk ke dalam kafe. Bruk! Zea hampir terhuyung ke belakang kalau saja laki-laki itu tidak sigap menahan kedua lengannya. Begitu Zea mendongak dengan napas memburu, matanya menangkap paduan jaket jeans dan topi hitam yang melekat di tubuh pria itu. "Zea?" sapa pria itu. Sebuah senyuman ramah dan hangat langsung terukir di wajah tampannya begitu mengenali dress merah muda yang dikenakan Zea. Namun, Zea yang sudah terlanjur dilanda bad mood parah dan rasa malu yang mendidih di ubun-ubun, tidak lagi peduli pada Senja. Tanpa membalas sapaan itu, Zea menyentakkan tangannya, lalu berlari begitu saja menembus dinginnya malam. Senja hanya bisa terpaku kebingungan di depan pintu kafe, menatap punggung gadis SwipeMatch-nya yang kian menjauh dan menghilang di kegelapan jalan. *** Keesokan paginya, kantin Universitas Erlangga langsung menjadi saksi bisu kehebohan Zea. Dengan wajah frustrasi yang disembunyikan di balik kedua telapak tangan, Zea menceritakan setiap detail petaka di Kafe Glaze semalam. Manda yang sedang mengunyah siomay hampir tersedak. Matanya melotot sempurna. "Gila lo, Ze! Jadi lo salah siram orang?! Terus Senja yang asli lo tinggalin gitu aja di depan pintu?" "Gue terlanjur malu, Manda!" bisik Zea setengah merengek, meratapi kecerobohannya. "Semua orang di kafe ngeliatin gue kayak habis ketahuan melabrak pelakor. Mana cowok yang gue siram itu mulutnya ketus banget, mukanya serem, terus dia bilang gue udah bikin masalah sama orang yang salah. Sumpah, gue takut dia dendam terus cari tahu tentang gue." Manda menggeleng-gelengkan kepala, antara kasihan tapi juga ingin tertawa. "Tapi dia bukan anak kampus sini, kan?" "Enggak tahu, semoga bukan. Penampilannya rapi, auranya tegas gitu, kayaknya sih orang kantoran atau mungkin mahasiswa magister," tebak Zea, mencoba menenangkan hatinya sendiri. "Ya Tuhan, semoga gue enggak ketemu sama cowok galak itu lagi seumur hidup." "Makanya, lain kali pakai mata, Beb. Jangan main nyosor aja mentang-mentang ganteng. Udah ah, yuk masuk kelas. Sepuluh menit lagi matakuliah Hukum Perdata dimulai. Bisa gawat kita kalau sampai terlambat masuk kelasnya Prof. Subroto," ajak Manda sambil membereskan barang-barangnya. Zea menghela napas berat, berusaha membuang sial. Ia berkaca sebentar di ponselnya, memastikan penampilannya tetap sempurna hari ini. Benaknya dipenuhi oleh rasa kesal pada Dewa sekaligus kasihan dengan Senja yang ia tinggalkan begitu saja di depan pintu kafe. Tiba-tiba saja terlintas dalam pikiran Zea gurauan Senja di chat SwipeMatch dua hari lalu tentang 'melamar jadi dosen', jantung Zea mendadak berdetak sangat kencang. 'Enggak mungkin, kan? Enggak mungkin Senja benar-benar... ' Zea menggelengkan kepalanya untuk menepis kemungkinan itu dan bergegas menyusul Manda yang sudah melangkah lebih dulu menuju ruang kelas di lantai dua. Ruang kelas sudah hampir penuh saat mereka masuk. Zea dan Manda mengambil posisi duduk di deretan depan. Riuh rendah obrolan mahasiswa langsung memenuhi ruangan. Suara pintu kelas yang terbuka seketika membungkam seluruh ruangan. Suasana di dalam kelas mendadak berubah menjadi sunyi senyap. Sepasang pantofel hitam yang mengkilat melangkah masuk, menciptakan ketukan yang terdengar begitu berwibawa. Di atasnya, balutan kemeja abu-abu terlihat sangat pas di tubuh tegap dan tingginya. Pria itu membawa sebuah tas kerja kulit dan meletakkannya di atas meja dosen dengan gerakan tenang, sebelum akhirnya berbalik menghadap ke arah mahasiswa. Zea yang awalnya sedang sibuk merapikan buku catatan, perlahan mengangkat kepalanya menatap ke arah dosen yang berdiri di depan kelas. Namun, begitu netranya menangkap wajah sang dosen dengan jelas, seluruh oksigen di paru-paru Zea mendadak lenyap. Jantungnya yang tadi berdegup karena teringat gurauan Senja, kini dihinggapi rasa takut yang teramat sangat. Wajah Zea seketika memutih, persis seperti orang yang baru saja melihat hantu di siang bolong. Itu bukan Prof. Subroto!Zea menyerahkan lembar disposisi bertanda tangan Tiara ke ruang Pusat data dan informasi, para staf arsiparis menyambut Zea dengan pelayanan yang luar biasa cepat. Hanya dalam waktu dua jam, Zea sudah duduk nyaman di ruang riset khusus yang tenang dan ber-AC. Di hadapannya tersaji dua bundel tebal Berkas Perkara Penyidikan Kasus Penipuan Korporasi dan Tindak Pidana Pencucian Uang yang sudah disamarkan identitas kerahasiaannya untuk studi akademis. Zea menyalakan laptopnya, jemarinya menari dengan lincah di atas Keyboard laptop. Ia mulai mengklasifikasikan data primer. Menganalisis skema Mens Rea atau niat jahat board of directors korporasi yang menjadi objek penelitiannya. Membedah konstruksi pasal yang digunakan jaksa penyidik dalam menjerat aset korporasi. Mencatat poin-poin krusial perbandingan antara teori tanggung jawab pidana korporasi yang ia pelajari di bangku kuliah dengan praktik riil di lapangan. Tak hanya akses data berkas yang terbuka lebar, proses wawancara dengan
Sinar matahari pagi menembus celah gorden kamar utama Griya Zadewa, membiaskan pendar hangat di atas ranjang. Zea terbangun dengan perasaan yang jauh lebih ringan. Rasa cemas dan kelelahan yang menggelayutinya kemarin telah berganti dengan energi baru. Di sampingnya, Dewa masih tertidur lelap dengan satu tangan melingkar di pinggang Zea, menjaga posisi tubuh istrinya agar tetap nyaman. Zea tersenyum tipis. Ia mengusap perlahan jemari Dewa yang melingkar di perut buncitnya, lalu melirik alat perekam suara mini berwarna hitam yang tergeletak di atas nakas. Baginya, benda kecil itu bukan sekedar bukti kejahatan seorang mantan kekasih yang masih sangat berharap pada suaminya, melainkan kunci yang menjamin kelancaran tahap berikutnya dalam penyusunan skripsinya di Kejaksaan Agung. Intimidasi yang sempat di lakukan Tiara kemarin, sesungguhnya membuat Zea sedikit tertekan walau ia mampu menghadapinya, Zea sempat berpikir kalau Tiara akan bertindak lebih jauh dari sekedar validasi awa
Kesedihan yang mendalam membakar dada Dewa saat ia menatap mata bening istrinya. Ia hanya tidak menyangka, Tiara, gadis yang pernah sangat ia cintai, berubah menjadi sosok yang tidak memiliki hati nurani hanya karena cemburu dan obsesinya untuk bisa kembali. Zea sedang hamil besar, dan Tiara justru menjadikan kondisi istrinya sebagai ancaman, yang bagi Dewa, itu adalah sebuah kejahatan yang tidak bisa ia toleransi. Di bawah pendar lampu gantung ruang tengah yang hangat, kejujuran terasa begitu berat untuk diutarakan, namun Dewa tahu ia tak boleh menyembunyikan apa pun dari Zea. "Aku... baru saja dari apartemen Tiara, Zea," ucap Dewa lirih. Suaranya serak, seakan ada beban berat yang menghimpit napasnya. Jantung Zea berdetak hebat. Pegangan tangannya pada kemeja Dewa melonggar seketika. Sorot matanya memancarkan rasa terkejut sekaligus kecewa yang mulai menggenang di pelupuk mata. "Kak Dewa... menemui Mbak Tiara di apartemennya? malam-malam begini?" Dewa cepat-cepat menggen
FLASBACK DUA JAM SEBELUMNYA. Matahari baru saja terbenam di ufuk barat ketika mobil yang dikendarai Dewa berbelok memasuki area parkir bawah tanah sebuah kompleks apartemen mewah di kawasan Jakarta Selatan. Jarum jam digital di dasbor menunjukkan pukul 18.45 WIB. Dewa mematikan mesin. Ia menyandarkan kepalanya pada sandaran jok, memejamkan mata sejenak sambil menghela napas panjang yang begitu berat. Pikirannya terbagi antara bayangan wajah tulus Zea yang sedang hamil tua di rumah, dan ancaman dingin Tiara yang siap menghancurkan masa depan akademis istrinya besok pagi. Dewa meraih ponselnya, melihat pesan singkat dari Tiara yang berisi foto meja makan yang sudah ditata romantis dan menunggu kedatangannya. Dengan rahang mengeras dan cengkeraman kuat pada ponselnya, Dewa membuka pintu mobil lalu melangkah menuju lift. Ia tahu betul risiko keputusan ini. Namun, membiarkan Tiara bertindak sewenang-wenang tanpa batas di Kejaksaan Agung adalah hal yang tidak bisa ia toleransi. A
Suara dering telepon mengagetkan Dewa yang baru saja tiba di parkir pengadilan negeri Jakarta Selatan. Ia melirik layar ponsel yang tergeletak di dasbord. Kerutan halus langsung tercipta di dahinya saat melihat nomor kantor tidak dikenal dari area Kejaksaan Agung berkedip di layar. Mengira itu adalah panggilan dari klien yang akan ia dampingi di ruang sidang pagi ini, Dewa menggeser tombol hijau dan menempelkan ponsel itu di telinganya. "Selamat pagi," sapa Dewa tegas dan formal. Keheningan menggantung selama dua detik, hanya terdengar helaan napas halus di ujung telepon yang sangat ia kenali. Hawa dingin seketika menyelimuti dada Dewa saat suara wanita itu akhirnya terdengar di telinganya. "Selamat pagi, Dewa..." panggil Tiara pelan, dengan nada manja sekaligus penuh kemenangan yang dibuat-buat. "Atau harus kupanggil sayang, seperti biasanya?" Dewa memejamkan mata sejenak, mengepalkan tangan kirinya di atas kemudi. Tensi di kepalanya langsung naik. "Tiara. Mau apa kam
Lift berdenting halus saat pintunya terbuka di lantai dua Gedung Bundar. Koridor bagian Jaksa Agung Muda Bidang Tindak Pidana Khusus tampak begitu lengang dan berwibawa. Karpet tebal meredam suara langkah kaki, sementara jajaran foto mantan Jampidsus dan plakat penghargaan yang terpajang di dinding kayu mahoni seolah menegaskan bahwa tempat ini bukan area bermain. Zea melangkah keluar dari lift. Perut buncitnya terasa sedikit menegang, reaksi alami tubuhnya menghadapi tensi yang mulai naik. Ia meraba ponsel di saku blazernya, memastikan benda pipih itu tetap berada dalam jangkauannya sebelum menyusuri koridor sesuai petunjuk arah menuju Ruang Subdirektorat Riset dan Pembinaan Penyidikan. Tiba di depan pintu kayu tebal berkaca buram dengan papan nama bertuliskan JPU Mutiara Cahaya, S.H., LL.M. Zea berhenti sejenak. Ia menarik napas dalam-dalam, mengusap perutnya lembut. Bismillah, ini demi skripsi dan masa depan kita, Biji Wijen, batinnya menenangkan diri. Ketukan tiga kali di







