Masuk
"Mana, gue lihat, Ze!" seru Manda heboh saat Zea memberi tahu bahwa malam ini ia akan bertemu dengan teman kencannya dari aplikasi jodoh di sebuah kafe.
Zea menyodorkan ponselnya kehadapan Manda, yang seketika langsung menekuk wajah. "Apaan, nih? Ini mah cuma kelihatan bentuk badannya doang. Mukanya enggak dipajang!" "Justru itu, beb. Lihat dong postur tubuhnya, tinggi dan berisi. He's my type, you know," sahut Zea sambil merapikan rambut panjangnya yang beterbangan tertiup angin dari kipas di dinding kantin. "Dih, siapa tahu aslinya burik, makanya sengaja disembunyiin," cibir Manda sambil mengulurkan tangan, hendak meraih gelas es jeruk di hadapan Zea. Namun, pergerakannya langsung ditepis cepat oleh gadis cantik itu. "Pesan sendiri!" ketus Zea sambil menjauhkan minumannya dari jangkauan Manda. "Yee, pelit! Gue doain pas ketemuan nanti, muka tu cowok enggak sesuai ekspektasi!" Zea hanya menjulurkan lidah ke arah Manda. Sahabatnya itu akhirnya mendengus pasrah dan berlalu untuk memesan semangkuk mi ayam serta jus stroberi favoritnya. Zea kembali fokus pada layar ponsel, membuka ruang obrolannya dengan akun bernama 'Senja', laki-laki yang ia kenal melalui aplikasi SwipeMatch. Zea: [Apa sekarang kita sudah bisa bertemu?] Senja: [Tentu saja. Kapan?] Zea: [Benarkah?! Wah, aku surprise banget kamu akhirnya mau diajak ketemu. Sudah hampir tiga bulan kita chat-an, tapi kamu selalu menolak kalau diajak jalan.] Senja: [Bukan menolak, tapi kemarin-kemarin aku memang belum ada waktu bebas.] Zea: [Aku curiga kamu sebenarnya CEO yang lagi menyamar, deh.] Senja: [Hahaha... kenapa mikir begitu? Bagaimana kalau ternyata aku melamar kerja jadi dosen di kampusmu?] Zea: [Aku akan senang sekali kalau itu benar.] Senja: [Baiklah, Ze. Besok malam jam tujuh, kita ketemu di Kafe Glaze, Jakarta Utara.] Zea tersenyum-senyum sendiri membaca ulang deretan pesan Senja. Namun, kesenangannya langsung buyar saat Manda tiba-tiba datang dan mengagetkannya. "Beb! Lihat deh, ada Jenny sama Arka!" Manda yang baru kembali dengan membawa semangkuk mi ayam dan jus stroberi, tergesa-gesa meletakkan pesanannya ke meja. Ia lalu mengguncang bahu Zea dengan kencang, memaksa sahabatnya itu menoleh ke arah dua orang yang sedang berjalan memasuki kantin. Wajah cantik Zea seketika berubah masam. Arka, cowok paling tampan di Kampus Erlangga itu adalah mantan kekasihnya, pria yang telah berkhianat dengan sahabatnya sendiri. Persahabatan mereka bertiga hancur berantakan hanya karena seorang Arka. Padahal dulu, cowok dari jurusan tehnik yang jago basket itu, menjatuhkan pilihannya pada Zea, setelah mengabaikan begitu banyak mahasiswi lain yang mengantre untuk menjadi pacarnya. Sayang, kebahagiaan Zea hanya bertahan seumur jagung. Baru menjalani hubungan selama lima bulan, Arka sudah kepincut oleh Jenny, yang tak lain adalah sahabat dekat Zea sendiri. "Cabut, yuk." Zea bergegas bangkit dari kursi, lalu menarik paksa tangan Manda agar segera pergi dari sana sebelum Arka menyadari keberadaan mereka. "Lah, makanan gue baru jadi, Beb!" protes Manda. Ia tidak mampu melawan tenaga Zea yang mendadak jadi super kuat karena tengah diselimuti amarah. Namun, takdir tampaknya enggan berkompromi. Arka terlanjur menangkap basah sosok Zea yang sedang sibuk menarik Manda, yang masih berusaha mempertahankan makanannya dengan cara berpegangan pada pilar di sudut kantin. "Zea!" panggil Arka lantang. Suara beratnya terdengar menggema, suara yang selalu sukses membuat mahasiswi di kampus itu terpesona. "Arka! kenapa manggil Zea, sih?!" protes Jenny dengan wajah cemberut. "Aku sudah bilang kan? kalau aku harus bicara dengan Zea. Kamu sudah menipuku, Jen!" "Aku tidak akan melepaskan kamu, Arka! Ingat apa yang sudah kita lakukan berdua. Jangan seenaknya kamu lepas dari tanggung jawab!" "Terserah!" "Arka!" Belum sempat Jenny menahannya, Arka sudah melangkah lebar menghampiri Zea dan Manda. Zea melepas tarikan tangannya pada tubuh Manda saat melihat Arka berjalan menghampiri. "Tuh, kan! lo lama sih. Bodo ah! Gue tinggal ya..." tak menunggu reaksi Manda, Zea bergegas pergi sebelum Arka mendekat. Sedikit pun, ia tidak akan sudi mendengar kalimat yang keluar dari mulut Arka untuk membela diri. "Zea, tunggu!" Gadis itu terus berlari menjauh, sedangkan Arka hanya bisa menatapnya sampai punggung gadis itu menghilang dari balik tembok kantin. "Brengsek!" *** "Cantik bener anak Papa," goda Hasan begitu melihat putri kesayangannya keluar dari kamar dengan dress merah muda. Pakaian itu sengaja Zea pilih sebagai penanda agar Senja bisa langsung mengenalinya di kafe nanti. "Iya, dong. Kan mau ketemu calon pacar," sahut Zea riang. Ia sengaja berputar satu kali di hadapan sang ayah, membuat ujung dress-nya melayang cantik mengikuti gerakan tubuhnya. "Pacaran mulu. Sudah mau skripsi, tuh, serius belajarnya, Ze." "Serius dong, Pa! Memangnya kapan nilai-nilai Zea pernah mengecewakan Papa? Enggak pernah, kan?" tantang Zea dengan dagu terangkat bangga. Hasan terkekeh, lalu menggoda lagi, "Ya semogalah. Jangan sampai nanti nangis-nangis lagi kayak waktu ditinggal Arka." Mendengar nama mantannya disebut, Zea langsung menyipitkan mata, merengut sebal pada sang ayah. "Makanya didoain, Pa! Supaya anak satu-satunya Papa ini bisa dapat jodoh yang baik, setia, tampan, kaya raya, atletis, pintar, gajinya gede, punya rumah, punya mobil, punya jet pribadi, punya—" "Kebanyakan maunya! Pusing Papa denger doanya," potong Hasan sambil geleng-geleng kepala, membuat Zea tertawa terbahak-bahak. Zea langsung maju dan menghambur ke pelukan pria paruh baya itu. Ia mendekap sang ayah erat-erat dengan penuh kasih sayang. Sejak kecil, Zea memang hanya dibesarkan seorang diri oleh ayahnya setelah sang ibu berpulang. Bagi Zea, Hasan adalah segalanya. "Zea pergi dulu ya, Pa," bisik Zea, masih menenggelamkan wajah di bahu ayahnya. "Jangan pulang kemalaman. Nanti Papa kunciin pintu kalau jam sepuluh belum sampai rumah," ancam Hasan, meski nadanya tetap terdengar lembut dan penuh perhatian. "Iya, Papa Ganteng," balas Zea manis. Ia mengecup sekilas pipi ayahnya sebelum akhirnya melangkah keluar rumah menuju gerbang sederhana mereka, bersiap menunggu taksi online yang sudah dipesannya sejak lima menit lalu. *** Zea setengah berlari memasuki Kafe Glaze, tempat janjiannya dengan Senja malam ini. Dia sudah terlambat lima belas menit gara-gara sopir taksi sempat salah arah dan memutar jauh. Sesuai perjanjian, malam ini Senja akan memakai jaket dan topi hitam. Zea mengerem langkahnya di dekat pintu masuk, membiarkan matanya menyisir seisi kafe yang cukup ramai. Hingga akhirnya, pandangannya terkunci pada seorang laki-laki yang sedang duduk sendirian di pojok kafe, tepat di dekat jendela. "Astaga, itu beneran Senja?" gumam Zea tertahan, senyumnya langsung merekah lebar. "Mampus lo, Manda! Pilihan gue emang enggak pernah salah. Kelihatan dari posturnya aja udah ganteng parah!" Zea buru-buru merapikan rambut panjangnya dan mengatur napas yang sempat memburu, mencoba bersikap seanggun mungkin sebelum melangkah menghampiri meja itu. "Hai! Maaf banget ya aku telat, jalanan ke sini macet parah," sapa Zea dengan senyum paling manis yang ia punya, lalu langsung duduk di hadapan pria berjaket dan bertopi hitam itu. Zea mengulurkan tangan lentiknya dengan penuh percaya diri. "Aku Zea." Zea nyaris memekik saking bahagianya. Ternyata, laki-laki yang bertukar pesan manis dengannya selama tiga bulan ini benar-benar pria yang sangat tampan. Kulitnya putih bersih, badannya tegap berisi, dan tingginya bahkan terlihat melebihi Arka, si mantan kekasih yang jago basket itu. Zea bahkan sempat salah fokus melihat urat-urat yang menonjol di tangan pria itu, yang terekspos karena lengan jaket hitamnya digulung hingga ke siku. Pria itu sempat terpaku sejenak. Matanya menatap lurus, mengabsen wajah cantik Zea yang masih terus tersenyum manis ke arahnya. Namun sedetik kemudian, ia membalas uluran tangan Zea dengan suara yang terdengar sedingin es. "Dewa." Senyum di wajah Zea langsung luntur seketika. Nada suara cowok bernama Dewa itu terdengar sangat dingin, seolah kehadiran Zea di sana adalah sebuah kesalahan besar. "Oh... jadi nama asli kamu Dewa?" Zea berdeham canggung, mencoba mencairkan suasana. "Sekali lagi maaf ya kalau aku telat. Kamu... marah, ya?" Dewa menampilkan ekspresi tidak suka. Tanpa basa-basi, ia melipat kedua tangan di depan dada lalu menatap Zea dengan tatapan tajam. "Dengar ya. Aku setuju menemui kamu malam ini hanya untuk menegaskan satu hal, kamu itu sudah sangat mengganggu hidupku. Sekarang apa maumu setelah kita ketemu? Dengan dandan semenor ini, apa kamu pikir aku bakal tertarik?" Zea mematung. Sumpah demi apa pun, sikap Dewa saat ini berbanding terbalik seratus delapan puluh derajat dengan 'Senja' yang selama ini menemaninya di SwipeMatch. Memang benar, selama ini Zea yang lebih sering merengek minta ketemuan dan Senja selalu menolak karena alasan sibuk. Tapi di chat terakhir mereka kemarin, cowok itu sendiri yang menentukan tempat dan waktu pertemuan ini! Kenapa sekarang dia jadi sekasar ini? "Maaf—" "Cuma itu? Maaf?" potong Dewa sinis, senyum meremehkan terukir di bibirnya. "Biasanya cerewet banget, tiap hari hobi kirim pesan dan maksa ketemu. Kenapa? Udah enggak ada lagi ya laki-laki yang mau sama kamu?" Kalimat terakhir Dewa menembus batas kesabaran Zea. Wajah yang semula tertunduk canggung itu seketika menegak. Tatapan Zea berubah marah, dadanya kembang kempis menahan emosi yang langsung mendidih sampai kepala. Hinaan cowok itu benar-benar sudah di luar batas. Tanpa mempedulikan situasi, Zea langsung menyambar gelas berisi es teh yang ada di hadapan Dewa, lalu menyiramkan isinya tepat ke wajah pria sombong itu dengan satu sentakan kuat. Byurr!Menjadi putra sulung dari sang legenda hukum Sadewa Adiraja dan Hakim, Natasha Zealina, sekaligus mewarisi seratus persen ketampanan luar biasa dari sang ayah, terdengar seperti sebuah anugerah hidup yang sempurna. Namun, bagi Anggara Adiraja yang kini menginjak semester dua di Fakultas Hukum Universitas Erlangga, hal itu adalah sebuah kutukan yang sangat tidak ia sukai. Sejak hari pertama ospek, kehidupan kampus Angga tidak pernah tenang. Di mana pun pemuda jangkung itu melangkahkan kakinya, entah itu perpustakaan, kantin, ruang kelas, hingga sekedar berjalan di koridor, ia selalu menjadi pusat perhatian. Puluhan pasang mata memujanya, jeritan tertahan, hingga kilat kamera handphone yang memotretnya secara diam-diam sudah menjadi makanan sehari-hari. Loker Angga tidak pernah bersih dari kotak cokelat premium, post-it berisi nomor telepon, hingga surat cinta berbau parfum menyengat. Bagi laki-laki normal, semua itu mungkin akan melambungkan mereka hingga langit ketujuh. Namun ba
Liburan tengah semester ganjil akhirnya tiba, membawa angin segar bagi para siswa SMA yang penat dengan rutinitas sekolah. Bagi Zivanna Adiraja, liburan kali ini memiliki agenda khusus yang sudah ia rencanakan sejak jauh-jauh hari dan menutup telinga atas larangan Farhan, yaitu mengunjungi Kakek Hasan di Yogyakarta. Ya, sejak mendiang Oma Garnis membacakan surat wasiatnya beberapa tahun silam, seluruh kendali perusahaan keluarga Sastrowardoyo, resmi diserahkan kepada Hasan. Keputusan Oma Garnis sempat mengejutkan banyak pihak, karena mengetahui hubungan mertua dan menantu yang kurang baik itu. Namun, selain menguras air mata ketika Oma Garnis memohon maaf pada Hasan atas sikapnya semasa hidup, keputusan menyerahkan perusahaan keluarga Sastrowardoyo, sangatlah tepat. Di bawah tangan dingin pria bijaksana dan jujur itu, perusahaan Sastrowardoyo semakin berkembang pesat. Sebagai konsekuensinya, Kakek Hasan harus menetap di Yogyakarta, mengurus bisnis di pendopo Ndalem Sastrowardoy
Dapur utama Griya Zadewa yang seluas restoran bintang lima itu sudah beroperasi sejak pukul empat pagi. Aroma sedap dari perpaduan rempah-rempah premium, mentega leleh, dan panggangan daging menguar memenuhi seluruh penjuru lantai satu. Hari ini adalah hari yang spesial. Jibran Adiraja, si bungsu yang sudah genap berusia lima belas tahun dan duduk di bangku kelas sembilan SMP, tengah merayakan ulang tahunnya. Sebagai wujud rasa syukur, Zea memutuskan untuk turun gunung. Sang Nyonya Rumah itu tidak memesan catering dari hotel bintang lima seperti yang biasa dilakukan para tetangga sosialitanya, melainkan memasak sendiri hidangan tasyakuran premium untuk dibagikan ke seluruh penghuni kompleks dan yayasan yatim piatu. Sama seperti yang selalu ia lakukan di setiap perayaan ulang tahun Angga dan Ziva. Bagi Zea dan Dewa, ulang tahun adalah saatnya kita untuk lebih banyak bersyukur atas waktu satu tahun kehidupan yang telah diberikan oleh sang pencipta. "Mbak Sari, tolong Wagyu B
Bagi keluarga Sadewa Adiraja dan Natasha Zealina, satu dekade yang telah berlalu tidak hanya mengokohkan cinta mereka, tetapi juga meramaikan Griya Zadewa dengan tiga remaja yang kini menjadi pusat semesta mereka. Sore itu, terik matahari Jakarta mulai melembut. Di depan gerbang sebuah sekolah swasta internasional elit di kawasan Jakarta Selatan, deretan mobil mewah berbaris rapi. Ibu-ibu sosialita dengan kacamata hitam branded dan tas Hermes tampak berdiri berkelompok, menunggu bel pulang sekolah berbunyi. Di antara kerumunan itu, Zea berdiri dengan anggun. Di usianya yang kini menginjak pertengahan tiga puluh, pesona Zea justru semakin matang. Ia baru saja menyelesaikan sidangnya di Pengadilan Tinggi, masih mengenakan kemeja sutra putih yang dibalut blazer navy elegan. TENG! TENG! TENG! Bel sekolah berbunyi. Tak lama kemudian, gerombolan siswa-siswi berseragam mulai berhamburan keluar. Namun, perhatian para ibu sosialita itu seketika tersedot pada satu sosok remaja laki-
Empat tahun adalah waktu yang cukup bagi sekuntum bunga untuk mekar sepenuhnya, namun bagi Natasha Zealina, empat tahun adalah waktu yang ia gunakan untuk menjelma menjadi penegak keadilan. Lulus dari Universitas Erlangga dengan nilai sempurna hanyalah langkah awal. Didorong oleh ambisi dan dukungan penuh dari Sadewa Adiraja, Zea mampu menyelesaikan studi Magister Hukum (S2). Kecerdasannya dalam membedah kasus Corporate Crime membawanya lulus seleksi Calon Hakim Mahkamah Agung dengan peringkat teratas. Dan kini, di usianya yang masih terbilang sangat muda, Zea telah resmi duduk di balik meja majelis Pengadilan Negeri Jakarta Pusat. Hari ini, Ruang Sidang Utama Hatta Ali dipenuhi oleh ketegangan. Kasus yang sedang disidangkan bukanlah kasus sembarangan, melainkan megaskandal Tindak Pidana Pencucian Uang lintas negara yang melibatkan direksi bank swasta terkemuka. Di kursi pengunjung paling belakang, duduk seorang pria dengan setelan jas navy tanpa dasi, menyilangkan kakinya de
Prosesi pemakaman Raden Ayu Garnis Sastrowardoyo dilangsungkan dengan kebesaran adat dan tata cara kebangsawanan keraton Yogyakarta. Ratusan pelayat dari kalangan kerabat keraton, pejabat tinggi, hingga para pengusaha kolega keluarga Sastrowardoyo dan Adiraja memadati area pemakaman keluarga besar Sastrowardoyo di Imogiri. Aroma bunga melati, mawar, dan kemenyan menguar di udara, mengiringi kepergian Oma Garnis yang selama hidupnya dikenal sebagai sosok wanita ningrat berhati baja, yang selalu memegang teguh tradisi, harkat, dan martabat keluarganya. Tujuh hari setelah kepergian Oma Garnis, suasana duka masih menyelimuti Ndalem Sastrowardoyo, sebuah rumah joglo keraton yang megah dan luas di jantung kota Yogyakarta. Malam itu, di pendopo utama yang dihiasi ukiran kayu jati dan lampu gantung kristal kuno, keluarga inti berkumpul. Dewa duduk mendampingi Zea yang masih mengenakan kebaya hitam berbalut selendang duka. Di pangkuan Zea, Ziva tertidur lelap. Sementara Angga duduk ten







