/ Romansa / Chemistry Chapter / BAB 1 : BERTEMU DI KAFE GLAZE

공유

Chemistry Chapter
Chemistry Chapter
작가: Yoongina

BAB 1 : BERTEMU DI KAFE GLAZE

작가: Yoongina
last update 게시일: 2026-06-07 21:31:41

"Mana, gue lihat, Ze!" seru Manda heboh saat Zea memberi tahu bahwa malam ini ia akan bertemu dengan teman kencannya dari aplikasi jodoh di sebuah kafe.

​Zea menyodorkan ponselnya kehadapan Manda, yang seketika langsung menekuk wajah. "Apaan, nih? Ini mah cuma kelihatan bentuk badannya doang. Mukanya enggak dipajang!"

​"Justru itu, beb. Lihat dong postur tubuhnya, tinggi dan berisi. He's my type, you know," sahut Zea sambil merapikan rambut panjangnya yang beterbangan tertiup angin dari kipas di dinding kantin.

​"Dih, siapa tahu aslinya burik, makanya sengaja disembunyiin," cibir Manda sambil mengulurkan tangan, hendak meraih gelas es jeruk di hadapan Zea. Namun, pergerakannya langsung ditepis cepat oleh gadis cantik itu.

​"Pesan sendiri!" ketus Zea sambil menjauhkan minumannya dari jangkauan Manda.

​"Yee, pelit! Gue doain pas ketemuan nanti, muka tu cowok enggak sesuai ekspektasi!"

​Zea hanya menjulurkan lidah ke arah Manda. Sahabatnya itu akhirnya mendengus pasrah dan berlalu untuk memesan semangkuk mi ayam serta jus stroberi favoritnya.

​Zea kembali fokus pada layar ponsel, membuka ruang obrolannya dengan akun bernama 'Senja', laki-laki yang ia kenal melalui aplikasi SwipeMatch.

​Zea: [Apa sekarang kita sudah bisa bertemu?]

​Senja: [Tentu saja. Kapan?]

​Zea: [Benarkah?! Wah, aku surprise banget kamu akhirnya mau diajak ketemu. Sudah hampir tiga bulan kita chat-an, tapi kamu selalu menolak kalau diajak jalan.]

​Senja: [Bukan menolak, tapi kemarin-kemarin aku memang belum ada waktu bebas.]

​Zea: [Aku curiga kamu sebenarnya CEO yang lagi menyamar, deh.]

​Senja: [Hahaha... kenapa mikir begitu? Bagaimana kalau ternyata aku melamar kerja jadi dosen di kampusmu?]

​Zea: [Aku akan senang sekali kalau itu benar.]

​Senja: [Baiklah, Ze. Besok malam jam tujuh, kita ketemu di Kafe Glaze, Jakarta Utara.]

​Zea tersenyum-senyum sendiri membaca ulang deretan pesan Senja. Namun, kesenangannya langsung buyar saat Manda tiba-tiba datang dan mengagetkannya.

​"Beb! Lihat deh, ada Jenny sama Arka!" Manda yang baru kembali dengan membawa semangkuk mi ayam dan jus stroberi, tergesa-gesa meletakkan pesanannya ke meja. Ia lalu mengguncang bahu Zea dengan kencang, memaksa sahabatnya itu menoleh ke arah dua orang yang sedang berjalan memasuki kantin.

​Wajah cantik Zea seketika berubah masam. Arka, cowok paling tampan di Kampus Erlangga itu adalah mantan kekasihnya, pria yang telah berkhianat dengan sahabatnya sendiri.

​Persahabatan mereka bertiga hancur berantakan hanya karena seorang Arka. Padahal dulu, cowok dari jurusan tehnik yang jago basket itu, menjatuhkan pilihannya pada Zea, setelah mengabaikan begitu banyak mahasiswi lain yang mengantre untuk menjadi pacarnya.

​Sayang, kebahagiaan Zea hanya bertahan seumur jagung. Baru menjalani hubungan selama lima bulan, Arka sudah kepincut oleh Jenny, yang tak lain adalah sahabat dekat Zea sendiri.

​"Cabut, yuk." Zea bergegas bangkit dari kursi, lalu menarik paksa tangan Manda agar segera pergi dari sana sebelum Arka menyadari keberadaan mereka.

​"Lah, makanan gue baru jadi, Beb!" protes Manda. Ia tidak mampu melawan tenaga Zea yang mendadak jadi super kuat karena tengah diselimuti amarah.

​Namun, takdir tampaknya enggan berkompromi. Arka terlanjur menangkap basah sosok Zea yang sedang sibuk menarik Manda, yang masih berusaha mempertahankan makanannya dengan cara berpegangan pada pilar di sudut kantin.

​"Zea!" panggil Arka lantang. Suara beratnya terdengar menggema, suara yang selalu sukses membuat mahasiswi di kampus itu terpesona.

​"Arka! kenapa manggil Zea, sih?!" protes Jenny dengan wajah cemberut.

​"Aku sudah bilang kan? kalau aku harus bicara dengan Zea. Kamu sudah menipuku, Jen!"

​"Aku tidak akan melepaskan kamu, Arka! Ingat apa yang sudah kita lakukan berdua. Jangan seenaknya kamu lepas dari tanggung jawab!"

"Terserah!"

"Arka!"

​Belum sempat Jenny menahannya, Arka sudah melangkah lebar menghampiri Zea dan Manda.

Zea melepas tarikan tangannya pada tubuh Manda saat melihat Arka berjalan menghampiri. "Tuh, kan! lo lama sih. Bodo ah! Gue tinggal ya..." tak menunggu reaksi Manda, Zea bergegas pergi sebelum Arka mendekat.

Sedikit pun, ia tidak akan sudi mendengar kalimat yang keluar dari mulut Arka untuk membela diri.

"Zea, tunggu!"

Gadis itu terus berlari menjauh, sedangkan Arka hanya bisa menatapnya sampai punggung gadis itu menghilang dari balik tembok kantin.

"Brengsek!"

***

"Cantik bener anak Papa," goda Hasan begitu melihat putri kesayangannya keluar dari kamar dengan dress merah muda. Pakaian itu sengaja Zea pilih sebagai penanda agar Senja bisa langsung mengenalinya di kafe nanti.

​"Iya, dong. Kan mau ketemu calon pacar," sahut Zea riang. Ia sengaja berputar satu kali di hadapan sang ayah, membuat ujung dress-nya melayang cantik mengikuti gerakan tubuhnya.

​"Pacaran mulu. Sudah mau skripsi, tuh, serius belajarnya, Ze."

​"Serius dong, Pa! Memangnya kapan nilai-nilai Zea pernah mengecewakan Papa? Enggak pernah, kan?" tantang Zea dengan dagu terangkat bangga.

​Hasan terkekeh, lalu menggoda lagi, "Ya semogalah. Jangan sampai nanti nangis-nangis lagi kayak waktu ditinggal Arka."

​Mendengar nama mantannya disebut, Zea langsung menyipitkan mata, merengut sebal pada sang ayah. "Makanya didoain, Pa! Supaya anak satu-satunya Papa ini bisa dapat jodoh yang baik, setia, tampan, kaya raya, atletis, pintar, gajinya gede, punya rumah, punya mobil, punya jet pribadi, punya—"

​"Kebanyakan maunya! Pusing Papa denger doanya," potong Hasan sambil geleng-geleng kepala, membuat Zea tertawa terbahak-bahak.

​Zea langsung maju dan menghambur ke pelukan pria paruh baya itu. Ia mendekap sang ayah erat-erat dengan penuh kasih sayang. Sejak kecil, Zea memang hanya dibesarkan seorang diri oleh ayahnya setelah sang ibu berpulang. Bagi Zea, Hasan adalah segalanya.

​"Zea pergi dulu ya, Pa," bisik Zea, masih menenggelamkan wajah di bahu ayahnya.

​"Jangan pulang kemalaman. Nanti Papa kunciin pintu kalau jam sepuluh belum sampai rumah," ancam Hasan, meski nadanya tetap terdengar lembut dan penuh perhatian.

​"Iya, Papa Ganteng," balas Zea manis. Ia mengecup sekilas pipi ayahnya sebelum akhirnya melangkah keluar rumah menuju gerbang sederhana mereka, bersiap menunggu taksi online yang sudah dipesannya sejak lima menit lalu.

***

Zea setengah berlari memasuki Kafe Glaze, tempat janjiannya dengan Senja malam ini. Dia sudah terlambat lima belas menit gara-gara sopir taksi sempat salah arah dan memutar jauh.

​Sesuai perjanjian, malam ini Senja akan memakai jaket dan topi hitam. Zea mengerem langkahnya di dekat pintu masuk, membiarkan matanya menyisir seisi kafe yang cukup ramai. Hingga akhirnya, pandangannya terkunci pada seorang laki-laki yang sedang duduk sendirian di pojok kafe, tepat di dekat jendela.

​"Astaga, itu beneran Senja?" gumam Zea tertahan, senyumnya langsung merekah lebar. "Mampus lo, Manda! Pilihan gue emang enggak pernah salah. Kelihatan dari posturnya aja udah ganteng parah!"

​Zea buru-buru merapikan rambut panjangnya dan mengatur napas yang sempat memburu, mencoba bersikap seanggun mungkin sebelum melangkah menghampiri meja itu.

​"Hai! Maaf banget ya aku telat, jalanan ke sini macet parah," sapa Zea dengan senyum paling manis yang ia punya, lalu langsung duduk di hadapan pria berjaket dan bertopi hitam itu.

​Zea mengulurkan tangan lentiknya dengan penuh percaya diri. "Aku Zea."

​Zea nyaris memekik saking bahagianya. Ternyata, laki-laki yang bertukar pesan manis dengannya selama tiga bulan ini benar-benar pria yang sangat tampan.

Kulitnya putih bersih, badannya tegap berisi, dan tingginya bahkan terlihat melebihi Arka, si mantan kekasih yang jago basket itu. Zea bahkan sempat salah fokus melihat urat-urat yang menonjol di tangan pria itu, yang terekspos karena lengan jaket hitamnya digulung hingga ke siku.

​Pria itu sempat terpaku sejenak. Matanya menatap lurus, mengabsen wajah cantik Zea yang masih terus tersenyum manis ke arahnya. Namun sedetik kemudian, ia membalas uluran tangan Zea dengan suara yang terdengar sedingin es.

​"Dewa."

​Senyum di wajah Zea langsung luntur seketika. Nada suara cowok bernama Dewa itu terdengar sangat dingin, seolah kehadiran Zea di sana adalah sebuah kesalahan besar.

​"Oh... jadi nama asli kamu Dewa?" Zea berdeham canggung, mencoba mencairkan suasana. "Sekali lagi maaf ya kalau aku telat. Kamu... marah, ya?"

​Dewa menampilkan ekspresi tidak suka. Tanpa basa-basi, ia melipat kedua tangan di depan dada lalu menatap Zea dengan tatapan tajam.

​"Dengar ya. Aku setuju menemui kamu malam ini hanya untuk menegaskan satu hal, kamu itu sudah sangat mengganggu hidupku. Sekarang apa maumu setelah kita ketemu? Dengan dandan semenor ini, apa kamu pikir aku bakal tertarik?"

​Zea mematung. Sumpah demi apa pun, sikap Dewa saat ini berbanding terbalik seratus delapan puluh derajat dengan 'Senja' yang selama ini menemaninya di SwipeMatch. Memang benar, selama ini Zea yang lebih sering merengek minta ketemuan dan Senja selalu menolak karena alasan sibuk. Tapi di chat terakhir mereka kemarin, cowok itu sendiri yang menentukan tempat dan waktu pertemuan ini! Kenapa sekarang dia jadi sekasar ini?

​"Maaf—"

​"Cuma itu? Maaf?" potong Dewa sinis, senyum meremehkan terukir di bibirnya. "Biasanya cerewet banget, tiap hari hobi kirim pesan dan maksa ketemu. Kenapa? Udah enggak ada lagi ya laki-laki yang mau sama kamu?"

​Kalimat terakhir Dewa menembus batas kesabaran Zea. Wajah yang semula tertunduk canggung itu seketika menegak.

Tatapan Zea berubah marah, dadanya kembang kempis menahan emosi yang langsung mendidih sampai kepala. Hinaan cowok itu benar-benar sudah di luar batas.

​Tanpa mempedulikan situasi, Zea langsung menyambar gelas berisi es teh yang ada di hadapan Dewa, lalu menyiramkan isinya tepat ke wajah pria sombong itu dengan satu sentakan kuat.

​Byurr!

이 작품을 무료로 읽으실 수 있습니다
QR 코드를 스캔하여 앱을 다운로드하세요

최신 챕터

  • Chemistry Chapter   BAB 10 : PERINGATAN KERAS

    Tubuh Zea seketika kaku. Ia mengedarkan pandangan ke seluruh penjuru ruang dosen yang untungnya sedang sepi, lalu melangkah ragu untuk memastikan pintu itu tertutup rapat. Setelah kembali menghadap meja Dewa, Zea melipat tangannya di atas meja, menatap Dewa dengan serius. ​"Mau bicara soal perjanjian semalam, Kak—eh, Pak?" tanya Zea setengah berbisik, memastikan tidak ada orang yang mendengar padahal mereka hanya berdua di dalam ruangan. ​Dewa mengetuk-ngetukkan pulpennya ke meja, ekspresinya berubah serius. "Orang tuaku membahas tentang kita saat sarapan tadi pagi. Dan tampaknya, Oma ku dan Oma Garnis sudah mulai menyusun rencana pertemuan keluarga berikutnya minggu depan." ​Zea membelalak kaget. "Minggu depan?! Cepet banget? Pak, kita kan udah sepakat buat jalanin ini pelan-pelan sampai kamu cari alasan buat batalin!" ​"Aku tahu," jawab Dewa datar, tidak terpengaruh oleh kepanikan Zea. "Makanya aku memperingatkanmu sekarang. Jangan tunjukkan gelagat mencurigakan di depan mer

  • Chemistry Chapter   BAB 9 : SEPAKAT

    Angin malam di sky lounge terasa semakin dingin, namun kening Zea justru berkeringat tipis. Kalimat terakhir Dewa yang menggantung di udara terasa seperti sebuah jebakan yang siap mengikatnya hidup-hidup. ​"Perjanjian...?" ulang Zea, suaranya sedikit bergetar namun ia berusaha tetap terdengar menantang. "Perjanjian apa?" ​Dewa menyunggingkan senyum miring. Senyuman yang selalu membuat tensi darah Zea melonjak naik. Pria itu menegakkan tubuhnya, melangkah satu kali lagi hingga bayangan tubuh tegapnya seolah mengurung Zea di sudut balkon pembatas. ​"Kita ikuti skenario para orang tua ini untuk sementara waktu. Di depan mereka, kita pura-pura patuh demi menjaga ketenangan Ayahmu dari tekanan Oma Garnis. Tapi di belakang, kita tidak punya urusan apa-apa," ujar Dewa dengan nada kaku. ​Zea menimbang-nimbang opsi itu dalam otaknya yang mulai lelah. "Oke, kedengarannya adil. Tapi apa keuntungan yang saya dapat? Kamu tahu sendiri saya tersiksa di kampus karena kamu!" ​"Keuntungannya,

  • Chemistry Chapter   BAB 8 : BUAT PERJANJIAN

    Mata elang pria itu yang biasanya menatap dingin, mendadak melebar sempurna begitu menangkap sosok gadis bergaun hitam yang duduk di samping Hasan. Cengkeraman tangannya pada ponsel yang ia pegang mengerat seketika. Untuk pertama kalinya, wajah tenang dan berwibawa seorang Sadewa Adiraja runtuh total di depan umum. ​Dewa mematung dengan rahang yang mengeras, isi kepalanya mendadak kosong. Gadis kasar yang menyiramnya di kafe, mahasiswi keras kepala yang baru sore tadi ia marahi habis-habisan di ruang dosen, kini duduk di hadapannya sebagai calon istri yang dipilih neneknya. ​Suasana di ruangan VIP mendadak hening dan tegang. Kedua anak manusia itu saling melempar tatapan syok, tak sanggup menyembunyikan rasa tidak percaya bahwa takdir baru saja mempermainkan mereka dengan cara yang paling tidak masuk akal. ​"Dewa, ayo duduk. Kenapa malah berdiri melamun di situ?" tegur Dyah heran, memecah keheningan. ​Suara sang nenek seolah menarik Dewa kembali pada kenyataan. Ia berdehem pen

  • Chemistry Chapter   BAB 7 : MAKAN MALAM

    Tepat pukul 07.45 WIB, Zea sudah berdiri di depan pintu ruang dosen dengan lingkaran hitam samar di bawah matanya. Di pelukannya, sebuah map merah tercengkeram erat. Ia menarik napas dalam-dalam, mengumpulkan energi dan keberanian sebelum mengetuk pintu. ​Tok! Tok! Tok! ​"Masuk." Suara berat dan dingin itu menyahut dari dalam. ​Zea memutar kenop pintu, melangkah masuk ke dalam ruangan yang terlihat masih sepi. Namun, Dewa sudah duduk rapi di balik mejanya, kemeja hitam yang ia kenakan hari ini membuat garis wajahnya terlihat semakin tegas dan berwibawa. ​"Selamat pagi, Pak Dewa. Ini tugas ringkasan yang Bapak minta kemarin," ucap Zea seformal mungkin, meletakkan map merah itu tepat di hadapan Dewa. ​Dewa tidak langsung menjawab. Ia melirik jam tangan peraknya sekilas, lalu menatap Zea dari balik kacamata berbingkai tipisnya. "Kurang lima belas menit dari waktu yang saya tentukan. Bagus, setidaknya kamu bisa menghargai waktu." ​Dewa membuka map itu, jemarinya membalik lemba

  • Chemistry Chapter   BAB 6 : PERJODOHAN

    Rumah kediaman Hasan malam itu terasa lebih sunyi dari biasanya. Di ruang tengah, Hasan sedang duduk di kursi kayu sambil membaca beberapa berkas kantor, sementara Zea berkutat dengan laptopnya di meja makan, berperang dengan tugas ringkasan putusan pengadilan dari Dewa yang menumpuk sekaligus memikirkan hubungan antara Dewa dan Sagara yang terus menghantuinya. ​Tok! Tok! Tok! ​Suara ketukan pintu dari arah depan memecah keheningan. Hasan mengerutkan dahi, melirik jam dinding yang sudah menunjukkan pukul delapan malam. Ia berdiri, melangkah menuju pintu depan dan memutar kunci pintu. ​Begitu pintu terbuka, sosok wanita paruh baya dengan setelan blazer mahal dan perhiasan mutiara yang melingkari lehernya berdiri di sana. Di belakangnya, seorang asisten pribadi tampak mengikuti dari belakang. ​Hasan terpaku. Genggamannya pada gagang pintu mengerat, dan suasana di sekitar teras mendadak berubah menjadi sedingin es. ​"Ibu..." desis Hasan, suaranya tercekat di tenggorokan. ​Gar

  • Chemistry Chapter   BAB 5. KEDATANGAN SENJA

    Zea menatap layar ponselnya tanpa berkedip. Jemarinya mendadak kaku untuk mengetik balasan. Otaknya yang baru saja diperas habis-habisan oleh ancaman nilai dari Dewa, kini harus dipaksa mencerna kenyataan bahwa 'Senja'—pria yang selama tiga bulan ini menjadi teman mengobrolnya yang menyenangkan, hanya berada beberapa ratus meter darinya. ​Zea: [Kamu di kampusku? Kok bisa?] ​Balasan dari Senja masuk dalam hitungan detik. ​Senja: [Haha, iya. Kantor hukum tempatku bekerja kebetulan ditunjuk jadi konsultan untuk proyek pembangunan laboratorium baru di Universitas Erlangga. Hari ini aku ada jadwal rapat dengan pihak rektorat. Begitu lewat papan nama Fakultas Hukum, aku langsung ingat kamu kuliah di sini. Kita bisa ketemu sebentar?] ​Zea menggigit bibir bawahnya. Rasa tidak enak hati karena salah orang di Kafe semalam masih membekas, ditambah lagi saat ini wajahnya pasti masih terlihat berantakan karena menahan amarah dari ruang dosen tadi. Namun, rasa penasaran yang teramat besa

더보기
좋은 소설을 무료로 찾아 읽어보세요
GoodNovel 앱에서 수많은 인기 소설을 무료로 즐기세요! 마음에 드는 작품을 다운로드하고, 언제 어디서나 편하게 읽을 수 있습니다
앱에서 작품을 무료로 읽어보세요
앱에서 읽으려면 QR 코드를 스캔하세요.
DMCA.com Protection Status