LOGINGaris rahang yang tegas itu, mata elang yang menatap tajam di balik kacamata berbingkai tipis, serta aura dinginnya masih sama seperti semalam Zea bertemu dengannya.
Pria itu... adalah Dewa. Cowok korban salah siram di kafe semalam. Dewa perlahan membuka daftar hadir mahasiswa. Sebelum mulai membaca, ia mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru kelas, hingga sepasang mata elang itu berhenti tepat pada satu titik. Tepat pada manik mata Zea yang sedang mematung karena syok di kursinya. Sudut bibir Dewa terangkat tipis, membentuk sebuah senyuman misterius, membuat bulu kuduk Zea berdiri. "Selamat pagi semuanya. Perkenalkan saya Sadewa Adiraja, atau biasa dipanggil Dewa. Saya adalah dosen pengganti yang akan memegang mata kuliah Hukum Perdata kalian hingga akhir semester ini, karena Prof. Subroto sudah memasuki masa pensiunnya," ucapnya dengan suara berat yang menggema di seluruh ruangan. "Saya harap... kita semua bisa bekerja sama dengan baik. Terutama, bagi beberapa mahasiswa yang mungkin sudah sempat 'berkenalan' lebih dulu dengan saya." Seluruh kelas mengangguk, terpana oleh pesona ketampanan sekaligus kewibawaan yang melekat pada diri Dewa. Sementara, di kursinya, Zea merasa bumi yang dipijaknya baru saja runtuh. Ketampanan Dewa yang bertambah dua kali lipat pagi ini, tidak bisa mengubah suasana hati Zea karena sudah membuat masalah besar dengan dosen barunya sebelum mereka berkenalan lebih jauh. Manda yang duduk di sebelah Zea perlahan menyenggol lengan sahabatnya itu. "Ze..." bisik Manda dengan mata berbinar-binar, pandangannya tak lepas dari sosok yang berdiri di depan kelas. "Gila, ini mah bukan sekedar dosen pengganti, tapi spek Dewa Yunani! Ganteng parah, Ze! Karismanya enggak main-main." Zea tidak bisa menjawab. Lidahnya mendadak kelu. Jangankan ikut mengagumi ketampanan sang dosen seperti Manda, bernapas saja rasanya Zea kesulitan. Ia hanya bisa meremas pulpen di tangannya, berharap ada keajaiban yang bisa membuatnya menghilang dari ruangan itu sekarang juga. Manda sama sekali tidak tahu kalau pria kemeja abu-abu yang sedang dipujinya itu adalah 'cowok galak' yang semalam menyumpahi Zea di Kafe Glaze. Dewa membuka laptopnya, menyambungkannya ke proyektor di depan kelas dengan gerakan yang sangat tenang. Di layar putih besar, sebuah salinan materi perkuliahan langsung terpampang. "Saya tipe dosen yang tidak suka membuang waktu," suara berat Dewa kembali menggema, memecah keheningan kelas. "Di kelas saya, keterlambatan toleransinya hanya lima menit. Lebih dari itu, silakan belajar di luar. Saya juga tidak suka mahasiswa yang tidak memperhatikan, atau mahasiswa yang membawa 'masalah pribadi' ke dalam lingkungan akademis." Saat mengucapkan kalimat terakhir, mata elang Dewa kembali melirik sekilas ke arah Zea. Tatapan itu dingin, namun tajamnya sanggup menguliti harga diri Zea hingga ke dasar. "Baik, mari kita mulai dari presensi," ujar Dewa, jemarinya mulai menggulir layar laptop. Satu per satu nama mahasiswa dipanggil. Jantung Zea berdegup kencang, seirama dengan detak jarum jam dinding di depan kelas. Nama-nama berawalan huruf A, B, C, telah lewat. Begitu memasuki huruf J, nama Jenny disebut. Mantan sahabatnya itu menyahut dengan suara yang dibuat semanis mungkin, khas mahasiswi yang sedang tebar pesona. Dewa hanya mengangguk tanpa ekspresi. Hingga akhirnya, momen yang paling ditakuti Zea pun tiba. "Natasha Zealina." Suasana kelas terasa hening. Zea menelan ludah dengan susah payah. Ia mengangkat tangan kanannya sedikit, tidak setinggi biasanya saat ia ingin pamer di depan para dosen bahwa ia adalah mahasiswi tercantik di kampus ini. "Ha—hadir, Pak," jawab Zea, suaranya sedikit bergetar di ujung kalimat. Dewa berhenti membaca. Ia menurunkan sedikit kacamatanya, membiarkan mata tajamnya menatap langsung ke arah Zea selama beberapa detik yang terasa seperti satu jam. Kelas mendadak sunyi, beberapa mahasiswa mulai menyadari ada ketegangan antara dosen baru dan mahasiswi paling populer di Fakultas Hukum itu. "Natasha Zealina," ucap Dewa, mengulang nama itu dengan penuh penekanan. "Nama yang menarik. Saya melihat nilai akademik Anda adalah yang terbaik di kelas. Semoga, nilai itu tetap bisa bertahan di bawah pengawasan saya." Bisik-bisik langsung terdengar di barisan belakang. Manda langsung menyikut lengan Zea lagi, tapi kali ini dengan wajah heran. "Ze, lo udah pernah ketemu dia sebelumnya? Kok Pak Dewa kayak sengaja nyindir lo, sih?" bisik Manda penasaran. Zea hanya bisa menggeleng kaku, menahan malu yang kini bercampur dengan rasa dongkol yang luar biasa. Sialan, umpat Zea dalam hati. Pria itu sengaja membalas dendam di depan umum! "Mari kita mulai materi hari ini mengenai Hukum Perikatan," lanjut Dewa, seolah tidak pernah mengucapkan kalimat sindiran yang membuat jantung salah satu mahasiswinya copot. Selama dua jam ke depan, kelas Hukum Perdata itu berubah menjadi neraka bagi Zea. Dewa adalah tipe dosen yang gemar menggunakan metode Socratic, yaitu melempar pertanyaan secara acak ke penjuru kelas untuk menguji pemahaman mahasiswa. Dan entah mengapa, dari sekian puluh kepala di ruangan itu, nama Zea lah yang paling sering dipanggil. "Saudari Natasha, jelaskan unsur-unsur terbentuknya sebuah kesepakatan dalam pasal 1320 KUHPerdata," ucap Dewa, berdiri tegak di depan meja dengan kedua tangan bertumpu di pinggang. Zea tersentak, untung saja ia termasuk mahasiswi yang cerdas. Ia langsung menegakkan punggung, mencoba mengembalikan konsentrasinya. "Unsur-unsurnya ada empat, Pak. Kesepakatan mereka yang mengikatkan dirinya, kecakapan untuk membuat suatu perikatan, suatu pokok persoalan tertentu, dan suatu sebab yang tidak terlarang." Dewa mengangguk-angguk kecil, wajahnya masih sedatar papan tulis. "Bagus. Lalu, apa yang terjadi jika salah satu pihak merasa ada penipuan atau kekhilafan dalam kesepakatan tersebut? Apakah perikatan itu batal demi hukum, atau dapat dibatalkan?" Zea terdiam sejenak, otaknya berputar cepat. "Dapat dibatalkan, Pak. Karena syarat subjektifnya tidak terpenuhi." "Tepat sekali," sahut Dewa. Ia berjalan perlahan mendekati barisan meja Zea, lalu berhenti tepat di samping meja gadis itu. Dewa sedikit membungkuk, menatap buku catatan Zea, lalu berbisik dengan volume yang sangat rendah, hanya bisa didengar oleh Zea seorang. "Sama seperti kasus salah orang semalam. Itu termasuk kekhilafan yang merugikan pihak lain. Dan sayangnya... tindakan seperti itu tidak bisa 'dibatalkan' begitu saja." Zea langsung menoleh, menatap Dewa dengan tatapan tidak percaya. Cowok—ralat, dosen di sampingnya ini benar-benar menyimpan dendam kesumat! Sementara Manda yang duduk di samping Zea hanya menatap bingung ke arah mereka berdua, merasa ada sesuatu yang tidak beres tapi tidak tahu apa. Sebelum Zea sempat membalas, Dewa sudah kembali menegakkan tubuhnya dan berjalan mundur ke depan kelas. "Baik, kuliah hari ini saya akhiri sampai di sini. Untuk tugas kelompok minggu depan, silakan lihat di grup chat akademis." Dewa membereskan laptop dan buku-bukunya. Namun, sebelum melangkah keluar dari pintu kelas, ia berbalik sekali lagi. "Natasha Zealina," panggil Dewa nyaring. "Ikut saya ke ruang dosen sekarang. Sebagai mahasiswi dengan nilai terbaik, ada beberapa hal tentang sikap Anda yang perlu saya evaluasi ulang sebelum saya memutuskan apakah Anda layak lulus di mata kuliah saya atau tidak."Suasana ruang sidang Pengadilan Agama Jakarta Selatan terasa mencekam saat palu hakim diketuk tiga kali, menandakan dimulainya persidangan perdana gugatan cerai Gladys terhadap Shandy. Di kursi penggugat, Gladys duduk berdampingan dengan Bima, pengacara dari Adiraja & Associates yang menggantikan Dewa untuk memegang kasusnya. Gladys mengenakan kemeja putih, berusaha keras menyembunyikan tangannya yang gemetar di atas pangkuan. Di seberang meja, Shandy duduk tegap bersama kuasa hukumnya. Pria itu melempar tatapan tajam yang membuat bulu kuduk Gladys merinding."Baik, setelah pembacaan gugatan dari pihak Penggugat selesai, apakah dari pihak Tergugat ada tanggapan yang ingin disampaikan?" tanya Ketua Hakim membetulkan letak kacamata bacanya. Bima duduk tenang, jemarinya memegang pena dengan penuh percaya diri. Menurut perhitungannya, kasus ini sangatlah mudah. Bukti kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) yang dialami Gladys sudah lengkap, disertai rekam medis Celine.Namun, dugaan Bima
"Masih sakit?" tanya Dewa lembut, suara beratnya terdengar seperti bisikan angin malam yang menenangkan. "Nggak, kok. Udah mendingan," sahut Zea yang sudah menyandarkan kepalanya di dada bidang Dewa. Malam ini, Dewa meminta untuk ikut tidur di atas ranjang rumah sakit di sisi Zea. Karena ranjang rumah sakit tidak dirancang untuk menampung dua orang dewasa—apalagi untuk tubuh Dewa yang jangkung, posisi laki-laki itu saat ini persis seperti seekor koala jantan yang menempel pada batang pohon. Tangan Zea melingkar erat di pinggang Dewa, sementara Dewa memeluk tubuh istrinya dengan mendekapnya penuh kehangatan dan satu tangan mengusap lembut perut rata Zea. Sebenarnya, Dewa sedikit demam malam ini. Tubuhnya hangat, efek dari rasa lelah, dan stres. Namun bagi Zea, tubuh hangat suaminya itu justru menjadi tempat paling nyaman di dunia. Kamar VVIP itu baru saja tenang malam ini, setelah siang menjelang sore tadi berubah menjadi arena adu vokal keluarga besar Adiraja. Hasan,
Dewa menegakkan tubuhnya. Wajahnya menatap dingin ke arah Gladys. Tubuhnya sudah cukup lelah hari ini tanpa harus ditambah masalah wanita di hadapannya yang terus-menerus membuat Zea tegang. Rasa sesak di dadanya kian menghimpit setiap kali melihat manik mata sang istri menyiratkan kecemasan yang ditahan rapat-rapat."Maaf, Gladys—""Sebentar saja, Mas. Tolong..." potong Gladys cepat dengan nada memohon, kedua tangannya tertangkup di dada."Masalah apa? Bicara saja di sini," sahut Dewa dengan suara yang sedikit meninggi, menahan kekesalan yang hampir meluap.Zea mengalihkan pandangannya dari Dewa, beralih menatap Gladys yang berdiri gemetar seperti orang yang tengah dikejar ketakutan hebat. Ada gemuruh tak nyaman di dalam dada Zea, namun ia berusaha keras mempertahankan raut tenang di wajah pucatnya."I—ini soal kasus perceraianku.""Bukankah kamu sudah punya pengacara sendiri? Silakan hubungi Bima. Dia yang menangani berkasmu dari Adiraja Associates," cetus Dewa tegas."Tapi i
Napas Zea tercekat seketika. Manik matanya yang masih dibasahi sisa air mata bergetar hebat saat bertatapan langsung dengan Gladys. Seluruh kesadarannya yang sempat melayang akibat efek obat penenang kini telah kembali sepenuhnya. "Zea...?" panggil Dewa dengan suara serak yang bergetar. Jemari tangannya makin erat menggenggam tangan Zea yang terasa dingin bagai es. Dewa bisa merasakan bagaimana tubuh istrinya seketika menegang. "Kak... Dewa..." bisik Zea. Matanya perlahan beralih dari Gladys, menatap lurus pada garis rahang Dewa yang mengeras. "Kenapa, sayang? ada yang sakit?" tanya Dewa cemas. "Ini anak yang Kak Dewa tolong kemarin?" Dewa membeku. Ia tidak menyangka, pertanyaan yang keluar dari mulut Zea saat pertama kali ia membuka mata adalah Celine. Tepat saat Dewa akan menjawab pertanyaan itu, pintu kamar terbuka. Kedatangan Hasan menghentikan ketegangan dalam kamar. "Assalamualaikum, Zea! Ya ampun, kamu kenapa, Nak? Baik-baik aja kan?" Seru Hasan menyerbu masuk d
"Om Dewa!" seru Celine lagi dengan suara anak-anak yang polos dan nyaring, sama sekali tidak memahami suasana tegang yang merayap di sekitarnya. Balita itu melangkah mendekat sambil memegangi boneka kelinci kesayangannya. Dewa refleks membungkuk dan membopong Celine dengan hati-hati ke dalam gendongannya. "Celine," ucap Dewa lembut. Namun, ia sengaja memutar tubuhnya agar tidak berhadapan langsung dengan Gladys yang ikut melangkah mendekat demi menjaga selang infus putrinya. "Kenapa keluar dari kamar, Sayang?" "Celine mau ain sama Om Dewa..." sahutnya manja, menyandarkan kepala mungilnya di dada tegap Dewa. Dewa tersenyum tipis, mengecup lembut puncak kepala Celine. "Om belum bisa main dulu sekarang, Sayang. Celine istirahat dulu di kamar, ya?" "Mas Dewa," panggil Gladys pelan. Wanita itu melangkah menghadap Dewa dengan raut wajah serba salah. "Maaf kalau Celine mengganggumu. Biar aku gendong dia kembali ke kamar." Dewa terdiam. Ia hanya menatap sekilas wajah Gladys
Mobil SUV hitam itu melesat membelah jalanan utama kota yang kian padat. Dewa memutar kemudi dengan gerakan cepat di sebuah persimpangan, memotong arus lalu lintas tanpa mempedulikan klakson kendaraan lain yang tidak terima jalan mereka di potong begitu saja. Kepalanya berat karena panas demam, namun rasa cemasnya membuat Dewa mengabaikan rasa sakit di tubuhnya. Setiap kali mendengar jeritan Zea yang menahan sakit, pijakan kakinya pada pedal gas semakin dalam. "Sabar, Sayang... sebentar lagi sampai! Tahan ya!" seru Dewa dengan napas memburu. Kemejanya sampai lecek tak berbentuk, lebam kemerahan di lengan kirinya berdenyut perih, namun tatapannya terkunci lurus pada gedung tinggi Rumah Sakit di ujung jalan. "Manda, hubungi ruang gawat darurat! Bilang kita bawa pasien hamil muda korban kecelakaan!" perintah Dewa tegas, suara baritonnya bergetar hebat. "I-iya, Pak! Ini saya lagi nyari nomornya!" Manda di kursi belakang sibuk menekan-nekan layar ponselnya dengan tangan gemetar







