หน้าหลัก / Romansa / Chemistry Chapter / BAB 94 : SELESAIKAN SECARA LAKI-LAKI

แชร์

BAB 94 : SELESAIKAN SECARA LAKI-LAKI

ผู้เขียน: Yoongina
last update วันที่เผยแพร่: 2026-08-16 20:14:58
Zea berdiri kaku bak patung semen di tangga tribun baris ketiga. Tempat pensil dan sisa kantong keripik kentang di tangannya hampir saja merosot jatuh jika Manda tidak dengan sigap menahannya, walaupun Manda sendiri saat ini sedang memejamkan mata sambil mencengkeram ujung kemeja Zea, berdoa dalam hati agar tidak ikut terseret ke dalam pusaran pertengkaran rumah tangga.

Pria itu berdiri tepat di baris tribun ke empat. Di belakangnya, Pak Supri sopir pribadi keluarga Adiraja, berdiri menunduk p
Yoongina

Bonus up bab terakhir untuk weekend, besok up agak telat yaaa mau upacara duluu🫡 see you tomorrow, bahagia selalu💜🤗

| 3
อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป
บทที่ถูกล็อก
ความคิดเห็น (2)
goodnovel comment avatar
Yoshi Dwi Ramadani
wkwkwkwk Ze, keknya kamu mesti investigasi tentang dewa deh. banyak yg kamu belom tau, jangan sampe si Tante ngungkit masa lalu kamunya kepanasan Krn banyak gak tau. hihihi siap kakak, selamat upacara besok. hehehehe makasih banyak bonus updatenya kakak syng :) lup yu sekebon <3
goodnovel comment avatar
Nopphy_lolipop
siyaaap komandan kan sebegitu kerennya dewa. pantes tante tengil gamon. beruntung kamu zea punya suwamik paket komplit. 🩷🩷🩷
ดูความคิดเห็นทั้งหมด

บทล่าสุด

  • Chemistry Chapter   BAB 112 : KALAH SEBELUM SIDANG

    "Kalau melihat kebodohan yang dilakukan Gilang, Papa yakin kamu bisa menumbangkannya bahkan sebelum masuk ruang sidang, cukup di meja pendaftaran," ujar Baskara tajam, matanya berkilat penuh kekecewaan. "Papa benar-benar tidak habis pikir... apa yang ada di kepala Gilang? Dia pikir kita semua ini bodoh?" ​Dewa menatap cangkir kopi di tangannya dengan rahang yang mengeras rapat. ​"Bukan kita yang dia incar, Pa, tapi Oma Garnis yang sedang lemah. Aku rasa dia pun sedang ketakutan, tidak menyangka kita ada di belakang Oma Garnis dan Opa Darlan," sahut Dewa tajam. "Dia memanfaatkan situasi itu dan terburu-buru sampai lupa dengan tahun pasti kematian Opa Darlan. Pola pikirnya menjadi terlalu sempit hanya karena dibutakan oleh keserakahan harta." ​Dewa menghela napas panjang, menghirup aroma kopi hitam di tangannya sambil berbisik lirih, "Aku tidak bisa membayangkan apa yang akan terjadi pada Oma Garnis... kalau kita tidak ada di sini untuk menjaganya." ​Pria itu meletakkan cangkir ke

  • Chemistry Chapter   BAB 111 : SISA GAIRAH SEMALAM

    ​"Aww! Kamu apa-apaan, sih?!" ringis Dewa memegangi pipinya yang baru saja menjadi sasaran tembak sebuah bantal bulu angsa. ​Pria itu menyapu matanya yang menahan kantuk. Sayup-sayup suara azan subuh baru saja berkumandang dari masjid dekat pendopo, namun bukannya sambutan hangat dari sang istri yang didapatnya, Dewa justru disambut raut wajah Zea yang sudah menekuk persis lipatan serbet. ​"Aku kan lagi hamil, Kak! Kenapa nggak bisa pelan-pelan sedikit, sih?!" protes Zea dengan nada tinggi. Tanpa ampun, tangannya kembali mengangkat bantal kedua tinggi-tinggi di udara, bersiap melayangkan pukulan susulan tepat ke wajah tampan suaminya. ​Dewa tertegun seketika. Otaknya mencoba mencerna dakwaan tak terduga yang baru saja dijatuhkan sang istri di pagi yang hening ini. ​Aku salah apa? Siapa yang tidak bisa 'bermain' pelan? Bukannya semalam... BUG! ​Pukulan bantal kedua sukses mendarat di dada bidang Dewa sebelum sempat pria itu mengajukan pembelaan. Seketika kesadarannya mengula

  • Chemistry Chapter   BAB 110 : RAYUAN ISTRI

    Iring-iringan dua mobil Alphard tiba di halaman pendopo Kotagede saat matahari telah sepenuhnya berpulang di ufuk barat. Lampu-lampu gantung kuno bernuansa kekuningan yang terpasang di langit-langit pendopo kayu jati menyala megah, memancarkan kehangatan arsitektur Jawa klasik yang sangat bernilai tinggi. ​Suasana mencekam saat kedatangan Gilang siang tadi, kini berubah menjadi hangat dan penuh penjagaan ketat. Di sudut-sudut gerbang luar, para pemuda desa yang berhasil dikumpulkan Adi, terlihat berjaga dan menyatu dengan rindangnya pohon beringin dan sawo kecik di halaman. ​Zea melangkah turun dari mobil disambut oleh Adi, Dika dan Mbok Nah, abdi dalem senior yang telah mengabdi puluhan tahun di keluarga Sastrowardoyo. Air mata haru menetes di pipi Mbok Nah saat memeluk Zea, cucu kesayangan almarhum Darlan dan Oma Garnis yang telah lama tidak pulang. Terakhir kepulangan Zea adalah saat acara pertunangannya dengan Dewa yang digelar megah di Yogyakarta beberapa bulan lalu. ​"Nd

  • Chemistry Chapter   BAB 109 : MENGINAP DI PENDOPO

    Dewa mengalihkan tatapannya pada Adi yang tampak sangat panik. ​"Biarkan saja. Dia cuma menggali kuburannya sendiri lebih dalam," jawab Dewa datar, suaranya sedingin es. "Tugasmu sekarang, jaga pendopo ini baik-baik." ​Dewa berbalik hendak melangkah pergi, namun Adi buru-buru menahan lengannya. "Mas Dewa, bagaimana kalau... bagaimana kalau Mas Dewa dan Mbak Zea menginap di sini saja malam ini?" pinta Adi dengan tatapan memohon. "Aku benar-benar khawatir orang-orang itu akan kembali lagi kalau Mas tidak ada di sini." Dewa menghentikan langkahnya tepat sebelum membuka pintu mobil. Tangannya masih berada di gagang pintu, sementara kepalanya menoleh pelan menatap Adi. Sorot matanya yang tajam mengamati raut kecemasan yang terpancar jelas di wajah asisten pribadi Oma Garnis itu. Di belakang Adi, Dika mengangguk pelan, sebuah kode tanpa suara dari sang asisten bahwa kekhawatiran Adi sangat masuk akal setelah melihat kejadian yang baru saja terjadi. ​"Mas Dewa," lanjut Adi dengan nad

  • Chemistry Chapter   BAB 108 : KONFLIK JANGKA PANJANG

    Dewa mengakhiri sambungan telepon dengan satu gerakan cepat. Suasana hatinya yang semula dipenuhi kehangatan saat memandangi Zea seketika menguap. Rahang kokohnya mengeras, menahan gejolak amarah yang membakar dada. ​Pria itu berbalik dari balkon, melangkah tenang memasuki kamar suite. Ia menghampiri sang ayah yang sedang terkekeh melihat Zea kepayahan menghabiskan mangkuk kedua sup ayam buatan Oma Dyah. ​"Pa," bisik Dewa pelan, memotong gelak tawa di meja makan. "Dika dan Adi memanggilku. Gilang dan tim hukumnya baru saja menerobos masuk ke pendopo Opa Darlan dan Oma Garnis." ​Baskara Adiraja seketika menegakkan punggungnya, alisnya bertaut rapat. "Berani sekali dia menerobos saat Oma Garnis sedang koma." ​"Aku yang akan turun tangan, Pa," ucap Dewa lugas. Ia melirik sebentar ke arah Zea yang masih asyik disuapi, bersyukur istrinya tidak mendengar bisikan itu. "Tolong jaga Zea di sini. Jangan biarkan dia tahu atau menyusul. Kondisinya masih terlalu rawan." ​"Pergi dan seles

  • Chemistry Chapter   BAB 107 : KEHEBOHAN KELUARGA ADIRAJA

    Sebuah mobil Alphard hitam berpelat nomor B meluncur tenang menembus kabut tipis pagi sebelum akhirnya berhenti tepat di depan lobby utama hotel bintang lima di kawasan Malioboro, Yogyakarta. Belum juga mesin mobil mati sempurna, pintu sliding door sudah bergeser terbuka. ​Sesosok wanita paruh baya dengan gaya anggun namun heboh, Oma Dyah, muncul paling awal. Wanita itu melangkah turun dengan tergesa-gesa, mengabaikan sopir yang baru saja hendak menyambutnya. ​"Ayo, Lenny! Cepat sedikit!" seru Oma Dyah setengah memekik penuh antusias, menoleh ke dalam mobil. "Cucu mantuku yang cantik itu pasti lagi mual-mualnya sekarang. Kasihan Zea, di awal kehamilan begini dia butuh makanan sehat buatan kita, bukan cuma makanan masakan hotel!" ​"Iya, Ma... Sabar sebentar," sahut Lenny, ibunya Dewa, yang keluar dari pintu sebelah dengan helaan napas pasrah. Lenny sibuk menata tumpukan tas, kemasan tupperware jumbo, hingga rantang tiga susun bernuansa emas ke atas troli yang dibawakan oleh petug

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status