Share

CHAPTER 6

Author: brokolying
last update publish date: 2026-07-28 08:58:35

Lamunan Rea buyar ketika pintu mobil di sisinya terbuka dan sebuah tangan terulur tepat di hadapannya. Rea mengangkat wajah, masih sedikit linglung.

“Ayo,” ajak Rumi singkat.

Rea menatap uluran tangan itu sesaat. Entah kenapa, jantungnya kembali berdebar aneh. Ia buru-buru menggelengkan kepalanya kecil, berusaha mengusir perasaan yang tidak perlu.

Ini cuma pekerjaan.

Rea akhirnya meraih tangan Rumi dan turun dari mobil. Namun, begitu jemarinya menyentuh telapak tangan pria itu, wajahnya kembali terasa hangat.

Sayangnya, Rea bahkan tidak sempat memikirkan perasaan aneh itu lebih jauh. Begitu kakinya menginjak karpet merah, kilatan blitz langsung menyambar dari kanan, kiri, depan, belakang. Penglihatannya terasa nyaris rusak dibuatnya. Belum lagi mentalnya yang seketika terguncang parah.

Lemparan banyak pertanyaan yang tertuju pada bosnya itu ternyata bukan main.

“Pak Rumi, dateng sama siapa Pak?”

“Pak itu kekasih barunya ya Pak?”

“Pak ini…”

“Pak itu…”

Dan banyak Pak-Pak lain yang tidak satupun terjawab.

Pria itu bahkan tidak membagikan senyumnya pada satupun lensa. Dia fokus jalan sambil menggenggam tangan Rea yang melangkah tanpa nyali di sampingnya.

Tepat saat gadis itu berpikir serbuan media adalah satu-satunya masalahnya malam itu, suasana di dalam gedung justru jauh lebih mencekam.

Orang-orang dari berbagai kalangan, perusahaan, dan hal-hal kaya raya lainnya ternyata jauh lebih mengintimidasi gadis yang makin melangkah, makin merasa kecil itu.

“Haus?” tanya Rumi sesampainya mereka di dalam ruangan berdekor mewah tersebut. Menyadari Rea di samping seperti ngos-ngosan.

Gadis itu cepat-cepat menggelengkan kepalanya. “Minder.”

“Tidak perlu. Sudah kubilang, penampilanmu cantik,” terang Rumi berusaha meyakinkan.

“Tapi Pak….”

“Mulai sekarang, selama kita di sini, stop memanggilku Pak. Aku pasanganmu. Ingat?”

Lagi-lagi Rea mengangguk cepat. Takut membuat kesalahan.

"Bagus. Sekarang, angkat dagumu," titah Rumi dengan senyuman ramah, sambil satu tangan naik merapikan rambut Rea. Lalu tanpa menggerakkan bibirnya sedikitpun, pria itu mendekat membisikkan sesuatu. "Hilangkan mindermu untuk tiga puluh lima juta itu."

Bisikan yang efeknya sangat instan.

Rea langsung menegakkan bahunya, dagunya dan apapun yang menurutnya tertekuk, kemudian menyunggingkan senyum termahal yang ia kira. Sambil menatap bosnya penuh binar, gadis itu bersuara selembut mungkin. "Yuk Mas. Acaranya udah mulai."

Mereka langsung berjalan beriringan, bergandengan. Rea kali ini mampu mengimbangi langkah bapak anak dua itu. Berbaur dengan beberapa tamu lain.

Seperti pesta-pesta resepsi pernikahan lainnya, selain modal, pesta yang ini tidak jauh berbeda. Kedua mempelai, keluarga, tamu, semua terlihat mencengangkan sesuai porsinya masing-masing. Meski ada satu dua orang yang Rea lihat seperti ingin menyaingi pengantin wanita di panggung yang anggun berbalut kebaya mewah warna hijau berkilau.

Termasuk salah satunya, wanita yang sedang berjalan lurus ke arah mereka. Dengan gaun putih.

“Rumi Rajendra….” ucap wanita itu penuh tekanan. “Hadir kamu rupanya?”

Rea yang merasa tidak asing dengan wajahnya, hanya bisa diam di samping bosnya. Menunggu Rumi merespon, sambil menebak-nebak pernah melihat wajah itu dimana.

“Tentu. Aku selalu menghadiri pernikahan rekan bisnisku,” jawab pria itu dingin.

“Dan kau datang tidak sendiri kali ini,” sambung wanita itu lagi sambil menatap Rea. Matanya langsung terpaku pada gaun yang gadis itu kenakan. Satu senyum sinis langsung terpajang di wajahnya. “Siapa gadis yang memakai baju bekasku ini?”

“Kau salah ingat. Ini jelas bukan bekasmu.”

“Ya, kau membelinya khusus untukku dulu,”

“Itu berarti aku bisa membeli gaun yang sama untuk wanita lain.”

“Tapi…”

“Mana suamimu, Fiona? Apakah dia tahu kau berkeliaran di sini mengurusi urusan mantanmu?”

Mata Rea melotot mendengar nama itu. Fiona. Artis papan atas yang sukses membintangi beberapa sinetron. Mantan istri bosnya.

Pantas dia merasa familiar sejak tadi, namun susah mengenalinya. Mungkin karena Rea tidak memiliki TV dan jarang menonton infotainment, atau karena perubahan wajah artis itu yang terlihat berbeda dengan yang ada di ingatannya.

“Suamiku ada. Sedang berbincang dengan pemilik Russo Group yang akan membuka satu franchise hotel mereka di Jakarta,” jelas Fiona sombong. Menyebutkan satu nama grup yang membuat kening Rumi terangkat sebentar. “The Blue Hill akhirnya akan dapat saingan seimbang,” lanjutnya berusaha menakut-nakuti.

“Baguslah. Semoga akhirnya suamimu mendapatkan tender apapun untuk membiayai semua botox-botoxmu yang mulai kendur itu,” sindir Rumi pedas, sambil melingkarkan tangannya di pinggang Rea. “Ayo, Sayang.”

Rea kembali mengatupkan mulutnya rapat-rapat, membiarkan dirinya diseret lembut oleh Rumi menjauh.

Dia bukan orang yang mengeluarkan hinaan itu, tapi entah kenapa, kalimat bosnya tadi membuatnya yakin akan sedikit menyusahkan kontrak ini kelak.

‘Inikah tujuan kontrak itu Rumi tawarkan? Agar dia bisa menghina mantan istrinya?’ batin Rea merinding.

Ini mulai melenceng sedikit dari apa yang gadis itu bayangkan. Dia bahkan mulai berpikir tiga puluh jutaan terlalu sedikit kalau dia harus turut menjadi musuh salah seorang artis kesayangan ibu kota tadi.

Tapi dia sadar dia tidak mungkin menego gaji sekarang.

Kontrak sudah tertandatangani.

Nego dan mundur jelas bukan pilihan.

Dengan angka sebesar itu, dia harusnya melakukan tugasnya saja. Persetan kalau harus jadi musuh siapapun. Yang penting gajinya cair, itu sudah cukup.

Rea kembali mengimbangi Rumi yang menjabat dan menyapa tangan beberapa orang. Dari awalnya canggung, hingga gadis itu mulai memahami ritmenya.

Dia hanya perlu tersenyum dan mengangguk jika perlu. Sesekali tertawa saat Rumi atau lawan bicaranya melontarkan candaan.

Beberapa orang yang lewat bahkan mengatakan bahwa mereka berdua terlihat serasi. Membuat pria itu tersenyum, lalu mengucapkan terima kasih dengan singkat, sambil kemudian menatap Rea di sampingnya.

Saat itulah dia melihat ada sedikit remahan coklat di ujung bibir gadis itu, bekas dari cake yang tadi mereka berdua cicipi.

Rea yang tidak tahu, terkejut ketika Rumi tiba-tiba berpindah untuk berdiri di hadapannya. Tangan pria itu terangkat perlahan ke atas, ke arah wajahnya, hingga jari pria itu berhenti di sudut bibirnya.

“Sebentar. Ada coklat,” bisiknya pelan, mengusap lembut bibir gadis itu dengan ibu jarinya, sambil mencondongkan tubuh bagian atasnya sedikit miring dan agak dekat, agar tidak menghalangi arah cahaya.

Semua terasa normal bagi keduanya.

Hanya, tanpa mereka sadari, dari sudut tertentu, keduanya terlihat tak berjarak. Seolah berciuman, dan….

KLIK!

Kilatan blitz kamera menangkap momen itu, begitu pun puluhan pasang mata lainnya.

Ada yang tersenyum gemas, ada yang langsung berbisik-bisik.

Tapi jauh di sudut ruangan, ada satu lagi pasang mata yang menatap mereka keras, dengan jemari yang mengepal.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • CindeREA:Pak Duda, Saya Jatuh Cinta!   CHAPTER 6

    Lamunan Rea buyar ketika pintu mobil di sisinya terbuka dan sebuah tangan terulur tepat di hadapannya. Rea mengangkat wajah, masih sedikit linglung.“Ayo,” ajak Rumi singkat.Rea menatap uluran tangan itu sesaat. Entah kenapa, jantungnya kembali berdebar aneh. Ia buru-buru menggelengkan kepalanya kecil, berusaha mengusir perasaan yang tidak perlu.Ini cuma pekerjaan.Rea akhirnya meraih tangan Rumi dan turun dari mobil. Namun, begitu jemarinya menyentuh telapak tangan pria itu, wajahnya kembali terasa hangat.Sayangnya, Rea bahkan tidak sempat memikirkan perasaan aneh itu lebih jauh. Begitu kakinya menginjak karpet merah, kilatan blitz langsung menyambar dari kanan, kiri, depan, belakang. Penglihatannya terasa nyaris rusak dibuatnya. Belum lagi mentalnya yang seketika terguncang parah.Lemparan banyak pertanyaan yang tertuju pada bosnya itu ternyata bukan main.“Pak Rumi, dateng sama siapa Pak?”“Pak itu kekasih barunya ya Pak?”“Pak ini…”“Pak itu…”Dan banyak Pak-Pak lain yang tidak

  • CindeREA:Pak Duda, Saya Jatuh Cinta!   CHAPTER 5

    Setelah reflek memekik keras, jantung Rea berdentum habis-habisan. Kepalanya langsung dipenuhi berbagai tuduhan. Apa pria itu sengaja? Apa pria itu punya niat yang nggak-nggak? Dan kemungkinan-kemungkinan lainnya.Terlebih pria itu butuh beberapa detik sebelum ia tersadar dan memalingkan badannya.“Maaf.” Suaranya terdengar bersalah dan hendak menutup pintu kembali. “Saya pikir kamu….”Di samping rasa kesalnya, otak gadis itu tiba-tiba berpacu. Sambil menggigit bibirnya, sesuatu terlintas.Mustahil baginya menggunakan baju itu tanpa bantuan orang lain. Tangannya sudah pegal mencoba menaikkan resleting sejak tadi, tapi gagal berulang kali.“Tunggu!” seru Rea menghentikan langkah bosnya itu, dengan wajah memerah menahan malu. “B-boleh minta tolong nggak Pak?”Rumi tidak bergerak. Dia fokus mendengar.“Dari tadi aku susah menggapai resletingnya. Boleh to….”“Kamu yakin saya boleh menoleh?” tanya pria itu memotong kalimat Rea.Gadis itu mengangguk kecil yang kemudian sadar kalau Rumi bah

  • CindeREA:Pak Duda, Saya Jatuh Cinta!   CHAPTER 4

    “Mulai hari ini banget ya Pak kontraknya? Eh emang Bapak butuh pasangan apa jam segini?” tanya Rea was-was, mengingat ini sudah nyaris senja, ditambah informasi baru bahwa kemungkinan besar bosnya tidak gay karena memiliki anak.Lagi-lagi Rumi menghela napasnya kasar. “Malam ini ada undangan pernikahan rekan bisnis yang perlu saya hadiri. Kamu harus dampingin saya.”Entah sudah berapa kali hari ini Rea tersentak. Tidak cukup dia kaget karena mendapat tugas secepat itu, tapi fakta kalau dia harus menghadiri sebuah pesta langsung membuatnya syok.‘Mau pakai baju apa aku?’ tanyanya pada diri sendiri, sambil menunduk cepat melihat sepatu bututnya. Converse yang entah sudah berumur berapa tahun itu.“Pak….” kalimat Rea tertahan. Dia memilih menatap pria itu terlebih dahulu sebelum melanjutkan kalimat bingungnya. “Pakai baju seperti ini?”Pria itu sontak menatap Rea dari atas sampai bawah sambil berpikir sejenak.“Ikut aku.” Rumi melepaskan genggamannya lalu mulai berjalan ke arah pintu.“K

  • CindeREA:Pak Duda, Saya Jatuh Cinta!   CHAPTER 3

    Sontak, Rea terdiam. Air matanya juga berhenti mendadak mendengar kalimat yang barusan. Dengan mata yang masih sembab, dia sekali lagi memberanikan diri untuk mendongak. Menatap mata atasannya.“M-maksud Bapak?”“Jadi pasangan saya,” ulang Rumi sekali lagi dengan senang hati.Rea mengerjap. Tangannya naik menyentuh kedua kupingnya. Memastikan dua organ itu masih menempel di sana, dan dia tidak salah dengar.“Maaf. Maksud Bapak pasangan itu…. seperti bos dan karyawan?”Rumi menggeleng kecil. “Pasangan. Laki-laki dan perempuan.”Sebuah rumor lama tentang Rumi langsung melintas di kepala Rea. Ia terkekeh pelan. Dia memang lemah dalam hal menahan tawa saat ada hal-hal yang menurutnya lucu.Dulu, pernah beredar kabar bahwa pria itu menyukai sesama jenis. Tentu saja Rea tidak tahu apakah rumor itu benar atau hanya gosip karyawan. Namun, kalau dipikir-pikir….Jangan-jangan tawaran ini ada hubungannya dengan rumor tersebut?Mungkin Rumi ingin menutupinya dengan memiliki seorang pasangan perem

  • CindeREA:Pak Duda, Saya Jatuh Cinta!   CHAPTER 2

    Rea hampir memekik kalau saja Bara tidak sedang berdiri di depannya. Dia reflek menoleh ke samping, menatap pria yang entah siapa, tapi berdiri begitu dekat, dengan sebelah lengannya melingkar santai di bahu gadis itu.Rea mengerjap. Matanya membulat. Kata-kata sanggahan sudah nyaris terlontar, tapi telapak tangan pria itu lebih dulu turun mengusap pelan punggungnya. Sapuan yang panjang dan tenang, membuat Rea menegang mendadak. Pria itu bahkan membalas tatapan Rea dengan alis terangkat diikuti sebuah anggukan kecil.Saat itulah Rea menangkap maksudnya. Kalau dia hanya perlu mengikuti sandiwara apapun ini.“O-oh aku hampir lupa, M-mas. Tadi tim cleaning kurang personil. Jadi aku bantuin aja sekalian,” ucap Rea sedikit terbata. Tidak lupa menarik sedikit senyum pada siapapun orang yang tengah menyentuhnya itu.Sedang di hadapan mereka, raut Bara ikut berubah. Tatapannya berpindah antara Rea dan pria baru yang merangkul gadis itu. Kerutan di dahinya muncul, menyiratkan rasa tidak perca

  • CindeREA:Pak Duda, Saya Jatuh Cinta!   CHAPTER 1

    “Nah, kalau ini ballroom utama kami. Lebih besar dari yang tadi, dengan gaya European classic. Bapak Ibu perlu melakukan reservasi kurang lebih dua tahun sebelumnya kalau memilih yang ini.”Rea reflek menganga sedikit sambil berbalik mencari arah suara itu. Tidak jauh dari tempatnya berdiri, tiga orang masuk beriringan ke dalam ballroom. Dari pakaian dan papan nama di blazernya, ia tebak salah satu dari mereka adalah seorang banquet manager. Seseorang yang bertanggung jawab mengelola acara-acara yang akan diadakan di hotel tersebut.Tidak berhenti hanya mengecek asal suara, Rea bahkan ikut mendengarkan penjelasan wanita itu dari jarak yang tidak terlalu jauh. Kebetulan dia sedang berdiri tepat di samping pintu masuk, dengan plastik sampah hitam besar di genggamannya.Matanya naik menatap chandelier megah di tengah ruangan yang sedang menjadi objek penjelasan. Dia tidak berkedip melihat betapa indahnya lampu itu.“Woooow.…” bisiknya pelan. Spontan.Rea bertanya-tanya mengapa dia baru m

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status