LOGINSaat kembali ke hotel dengan menempuh jalanan memutar demi menghindari awak media yang betah bertengger di depan lobby, Rea dan Rumi syukurnya bisa masuk tanpa perlu terjadi drama lain.
“Kenapa kamu?” tanya Rumi ketika mereka memasuki ruangan kerjanya.
“Karyawan-karyawan Bapak di lantai ini seram-seram semua.”
“Bukan salah mereka. Lihat penampilan kamu seperti apa.”
Rea langsung menanggalkan masker dan topi, lalu menggeser kacamatanya naik ke atas kepala. Menahan poninya.
“Kan lagi nyamar.” Gadis itu melangkah ke sofa. Meluruskan kakinya yang kalau ditotal-total hari ini sudah jalan lima kilo mungkin. “Jadi, Bapak butuh apa manggil saya ke sini? Anak-anak sebentar lagi pulang sekolah. Saya harus cepat-cepat naik.”
“Tunggu sebentar. Saya angkat telepon ini dulu,” ucap Rumi mengangkat panggilan masuk di ponselnya. Memberi Rea waktu untuk memperhatikan ruangan itu.
Ruangan Rumi dikelilingi kaca. Selain dua sisi yang tirainya ditutup, sisanya polos. Rea bisa melihat gedung-gedung lain dan pemandangan kota di bawah sana. Membuat langkahnya tertarik untuk mendekat.
Dia seorang akrofobia. Akut. Gadis itu takut ketinggian.
Tapi, ada saat-saat tertentu, seperti saat pikirannya terlalu berisik, gadis itu justru menantang dirinya untuk berdiri di tempat-tempat yang selalu dia hindari.
Seperti memprovokasi.
Seperti memperlihatkan kepada jiwanya, kalau ada hal yang lebih menakutkan dari yang sedang dia rasakan.
Trik yang selalu berhasil, meski sesudah itu lututnya ngilu. Seperti sekarang. Untungnya, Rumi cepat-cepat menahannya sebelum ambruk ke lantai.
“Kamu tidak apa-apa?”
Rea mengangguk gugup. “Nggak apa-apa, Pak,” katanya sambil menegakkan badannya dan menjauh dari tembok kaca itu.
“Yakin?”
“Yakin.”
Walaupun Rumi terlihat tidak percaya, tapi dia memutuskan tidak bertanya lebih jauh.
“Baik. Hm.. Perihal pria yang tadi,” seru Rumi pindah topik.
Rea mendongak menatap bosnya itu. “Dia? Dia kenapa?”
“Apakah kamu butuh saya untuk meng-handle-nya?”
Gadis itu merinding seketika. Dia biasanya hanya mendengar kalimat tersebut di film-film mafia.
“Meng-handle? Maksudnya dibuat ‘ek’..?” bisik Rea sambil mengibaskan telapak tangan secara horizontal di depan leher. Mimiknya begitu syok.
TAK!
“Aw!” pekik Rea usai Rumi menjitak dahinya dengan pulpen silver.
“Kamu pikir saya ini apa? Bandit? Bos kartel?”
“Ya mungkin saja, kan?” tutur gadis itu sambil mengelus keningnya. Tidak terlalu sakit, tapi lumayan terasa.
“Belajar kontrol imajinasimu itu, Rea. Jadi, gimana?”
Rea menghela nafasnya pelan. “Nggak perlu Pak. Soal dia, diamkan saja. Saya sudah biasa.”
“Tidak bisa. Kamu pasangan saya sekarang. Tidak boleh ada yang mengganggu kamu. Belum lagi, saya khawatir media akan mendengar.”
“Hm..” Gadis itu terlihat seperti berpikir. Dia belum memperhitungkan soal kenekatan Bara. Kalau dulu pria itu bisa dengan mudah menyebarkan gosip yang tidak-tidak di kampus perihal dirinya, maka tidak menutup kemungkinan sekarang dia akan melakukan hal yang sama.
Tapi….
Bukankah dia sudah mau menikah? Dia akan terlalu sibuk untuk mengurusi urusan orang lain kan?
“Sebentar lagi dia akan menikah. Saya rasa dia akan terlalu sibuk untuk mencampuri urusan kita,” tutur Rea meyakinkan, meski jauh di dalam hatinya ada sedikit keraguan.
“Oke. Tapi kalau sewaktu-waktu saya rasa dia mengusikmu hingga membahayakan kontrak kita, saya akan langsung ambil sikap,” tekan Rumi serius.
“Oke.”
“Dan…” Rumi menahan langkah Rea yang sudah mengarah kembali ke pintu. “Jangan terlalu sering berkeliaran seperti tadi tanpa izin saya. Terlalu bahaya. Setidaknya untuk sekarang.”
“Paham. Tadi saya pengen ngopi aja Pak.”
“Kamu sudah bertemu Bene, kan? Mulai sekarang, kalau ingin kopi, atau minuman apapun, kamu minta ke dia,” jelas Pria itu serius.
“Tadi ditawarin, tapi saya tolak,” ungkap Rea santai.
“Kenapa?”
“Saya nggak mau merepotkan. Mbak Bene sudah lelah menjelaskan banyak hal tadi. Kasihan kalau harus membuat kopi lagi. Lagian, kopi di kedai ini enak.”
“Oh ya?”
“Uhum…” Rea mengangguk yakin, meski hari ini pesanannya tidak sesuai selera karena diinterupsi seseorang. “Bapak mau cob…” Pertanyaan itu seketika berhenti. Dibiarkan menggantung di udara.
“Kenapa pertanyaan kamu tidak selesai?” tanya Rumi melangkah mendekat. “Hm?”
Gadis itu panik teringat sesuatu. Terakhir kali dia melemparkan pertanyaan yang sama malam kemarin, dia berakhir dicium oleh Rumi di tengah-tengah pesta resepsi orang lain, dan berujung jadi berita gosip nasional.
“Hah? Eh.. n-nggak jadi, Pak.,” gumam Rea grogi saat pria tersebut makin dekat. Gadis itu cepat-cepat mundur selangkah, lalu selangkah lagi, hingga tidak ada ruang tersisa. Punggungnya menabrak pintu.
"Kenapa tidak jadi nawarin kopinya?" desak Rumi.
"Em.. saya lagi flu, Pak. Jangan sampai Bapak tertular," jawab Rea cepat, disusul bunyi bersin buatan yang dia paksakan.
Melihat itu, senyum tipis samar terlihat di sudut bibir Rumi. "Gitu? Berarti kamu tidak boleh dekat dengan anak-anak dulu."
"Saya bisa pakai masker Pak," potong Rea.
Rumi menggeleng pelan. "Hari ini anggap saja kamu saya liburkan."
Binar lega langsung terpancar di wajah Rea. Meski sadar keputusan itu berkat kebohongan kecilnya.
"Jadi saya boleh pulang, Pak?" tanya Rea memastikan.
Rumi mengangguk. "Boleh. Tapi nanti, setelah kita dari dokter."
Mata Rea mendadak membelalak. "Dokter?!"
"Kamu flu, kan?" Rumi menaikkan sebelah alisnya.
"Ya ampun, Pak. Cuma flu biasa nggak perlu ke dokter," sahut gadis itu sambil mengibaskan tangan. "Minum air hangat juga nanti sembuh sendiri."
Rumi membalas pandangan itu dengan raut datar tanpa emosi. "Harus ke dokter. Gimana kalau itu virus?"
Rea baru saja hendak memprotes ketika gagang pintu di belakang pinggangnya diputar kasar dari luar, dan pintu itu terdorong kuat hingga tubuhnya terhentak maju, lalu mendarat dalam rangkulan Rumi.
Sedang di belakangnya, seorang karyawan pria memunculkan kepala dari balik pintu sambil terbelalak melihat pemandangan tersebut.
"E-eh... maaf, Pak! Saya tidak tahu kalau Bapak lagi…. ‘itu’, di balik pintu," cicit karyawan itu menahan senyum sambil buru-buru menarik kepalanya mundur. “Silahkan dilanjutin, Pak!”
sampai sini gimana? suka nggak? kalau suka, jangan lupa tambahin ke pustaka yaa. komen sama rate juga boleh banget Kak :')
“Mas Rumi tahu, Om.” Rea membalas tanpa kehilangan senyumnya. “Makanya, yang dia bawa ke sini saya, bukan perempuan lain.”Kalimat Rea sontak membungkam semua orang di meja makan, termasuk Rajendra.Rea tahu betul posisinya di rumah itu. Dia hanya perempuan yang dibawa Rumi tanpa pemberitahuan, seseorang yang keberadaannya bahkan belum sepenuhnya diterima oleh keluarga pria itu.Namun, setelah Pak Rajendra sengaja mengundang Maudi untuk makan siang dan menjadikannya bahan sindiran di hadapan semua orang, Rea merasa tidak punya alasan untuk terus memasang sikap sungkan.Kalau tuan rumah saja tak berniat menjaga perasaannya, mengapa dia harus repot-repot menjaga perasaan tuan rumah? Lagi pula, Rea bukan tipe perempuan yang akan mundur dan diam saja kalau ada seseorang berusaha membuatnya merasa tidak pantas berada di sana.Selain itu, kontrak Rea dan Rumi juga akan berakhir. Jika setelah makan siang tadi dia mendapat predikat sebagai perempuan kurang ajar di mata orang tua pria itu, ras
Emosi Rea yang sudah mendidih sebelumnya, sekarang ditambah lagi dengan celetukan pria itu soal menantu, maka lengkap sudah alasan Rea untuk mencekik pria itu.Namun, dia memilih menahan diri. Mengingat siapa pemilik rumah yang akan mereka masuki, membuat Rea enggan menambah satu masalah lagi.Dia hanya berharap malam ini cepat berlalu.Kediaman keluarga Rajendra tampak megah, dengan arsitektur yang kental akan nuansa Jawa. Pintu kayu berukuran besar menyambut mereka, disusul ruang utama yang dipenuhi furnitur kayu berukir rumit.Mulai dari meja konsol, lemari pajangan, hingga kursi-kursi berukuran besar yang tampak seperti barang antik. Semuanya terlihat mahal, bahkan tanpa perlu mencantumkan harga.Rea melirik salah satu lemari jati dengan ukiran yang begitu detail.‘Perasaan mereka bukan keturunan bangsawan Jawa, deh. Sekaya apa keluarga ini sampai rumahnya begini?’ Rea bertanya-tanya dalam hati.Belum sempat dia mengamati lebih jauh, Nyonya Rajendra sudah mengajak mereka melewati
Pintu lift bahkan belum tertutup sempurna ketika Rea menarik tangannya dari cengkeraman Rumi.“Mas! Bisa nggak sih kalau mau ke mana-mana itu bicara dulu? Rencanain dulu?!” protes Rea, menatap pria yang masih lengkap dengan piyamanya tersebut. “Dan, saya punya kaki sendiri. Nggak perlu ditarik-tarik seperti anak kecil begini!”Rumi tidak menjawab. Tatapannya tertuju pada angka yang terus berubah di atas pintu lift.Rea mengembuskan napas kasar. ‘Astaga!’Begitu pintu lift terbuka, Rumi kembali berjalan lebih dahulu. Rea terpaksa mengikuti langkah panjangnya sampai mereka tiba di parkiran. Pria itu bahkan membukakan pintu mobil untuknya, seolah-olah tidak sedang menyeretnya keluar dari rencana yang sudah dia susun sejak semalam bersama Dante.Rea masuk dengan kesal. Begitu Rumi duduk di balik kemudi, dia langsung menoleh.“Saya nggak bisa kayak gini, Mas. Ini hari libur saya.” Rea berusaha mempertahankan suaranya agar tidak meninggi. “Kita udah sepakat dari awal, kalau weekend tanpa kep
“Soalnya, kalau kamu mau, aku nggak keberatan ngabarin kamu terus. Setiap hari kalau perlu.”Rea jelas tidak menyangka kalimat dari Dante itu juga bisa membuat pipinya merona.Padahal Dante tidak melakukan apa-apa. Tidak mendekat seperti yang kerap Rumi lakukan, seolah dia tahu batasnya.“Mas Dante!”“Kenapa?” tanyanya ringan. “Kok mukanya merah?”“Nggak merah ya!”Dante terkekeh. “Tuh merah,” seru pria itu sambil menunjuk satu pipi Rea.“Mas Dante!”Alih-alih merasa bersalah, Dante malah mengulurkan tangan dan mengacak pelan rambut Rea. “Udah, sana masuk.”Rea buru-buru merapikan rambutnya. “Hati-hati di jalan ya Mas.”Dante mengangguk, senyumnya sedikit melunak. “Siap, Tuan Putri.”Akhirnya Rea masuk, dan pria itu pulang.Setelah mandi dan bersiap tidur, Rea baru saja selesai mengoleskan pelembap ke wajahnya ketika ponselnya berdering.Tanpa melihat nama yang tertera di layar, dia buru-buru mengangkatnya.“Halo?”“Halo?”Rea langsung mengenali suara di seberang sana.“Oh! Hay Mas.”
Rea meninggalkan penthouse Rumi dengan pikiran yang entahlah. Amburadul? Dan dia menyalahkan perasaannya atas itu.Andai saja dia tidak terbawa perasaan. Andai saja tidak muncul harapan tiap Rumi menyentuhnya. Semua pasti akan baik-baik saja.Dia tidak perlu menjaga jarak pada rumi maupun Dista dan Desta.Dan,Dia tidak akan menerima teror ini.Syukurnya ada Dante. Yang entah kenapa berada di basement Rumi.“Mas Dante? Kok ada di sini? Belum balik?” tanya Rea mendapati pria itu tengah ngobrol dengan Ammar, sopir pribadi Rumi.“Belum. Nunggu kamu,” jawab pria dengan senyuman dan lesung pipinya itu.“Pak Ammar yang bakal nganter aku pulang, Mas.”“Aku udah bilang sama Pak Ammar bisa langsung istirahat aja kok Dek. Kamu, biar aku yang antar. Sekalian aku mau bahas yang tadi.”Rea terdiam sebentar. Dia mentap Pak Ammar, “Pak, yaudah Bapak langsung istirahat aja,” ucap Rea menginstruksikan agar pria itu langsung masuk saja. Beliau punya satu kamar di penthouse Rumi, seperti Bene dan asiste
Semakin keras Rea berusaha bersikap biasa saja, semakin sering pula pikirannya kembali pada sikap dan kalimat Rumi kemarin.Gadis itu bahkan sudah berjanji ingin mencabut perasaannya pada Rumi sampai ke akar-akarnya, sebelum dia makin tolol karena cinta.Sayangnya, kita semua tahu perasaan tidak bekerja sesederhana itu.Setiap hari, Rea masih harus berhadapan dengan Rumi yang dingin, tegas, namun selalu memperlakukannya manis di hadapan orang-orang, seolah-olah Rea benar-benar perempuan yang dia cintai. Termasuk di depan anak-anaknya.Namun, di tengah usahanya meredam perasaan sendiri, ada satu masalah yang justru semakin sulit dikendalikan.Teror tidak kunjung berhenti.Setiap kali mendampingi Rumi ke sebuah acara, pesan-pesan aneh itu selalu datang. Kadang berupa foto mereka berdua yang diambil dari kejauhan. Kadang hanya kalimat singkat yang cukup untuk membuat perutnya terasa melilit.Dan malam ini, hal yang sama kembali terjadi.Convention hall hotel milik Rumi dipenuhi anggota k







