LOGIN“Yuk, Mas. Kita sapa yang lain.”
Rea menarik pelan pria yang masih tertawa kecil itu, menjauh. Ke satu sudut ruangan. Sejauh mungkin dari artis sinetron kesayangan Ibu Kota tadi. “Pak, maaf banget saya kelepasan. Saya paling nggak bisa nahan diri kalau digituin,” bisik Rea terlihat panik. Dia bahkan menggigit pelan bibirnya karena gugup. Tapi dia bingung bagaimana Rumi masih belum usai dengan tawa tipisnya. “Tidak-tidak. Tidak apa-apa. Itu lucu. Ooooh… akhirnya seseorang mengatakan sesuatu tentang botox Fiona,” sanggah pria berdasi maroon tersebut. Berusaha sekuat mungkin menahan dirinya untuk tidak terbahak besar. “Bagaimanapun juga Beliau mantan istri Bapak. Saya jadi nggak enak sudah lancang menyinggung seperti tadi,” ucapnya pelan. “Tapi omongan dia keterlaluan Pak. Saya selalu gampang ikut campur kalau mendengar hal-hal seperti itu.” Rumi melihat wajah Rea benar-benar kalang kabut. “Mantan. Tidak masalah buat saya,” tegasnya meyakinkan. “Tapi saya takut kalimat saya tadi bakal bikin Bapak kesusahan kelak,” tambah Rea lagi, mengingat fakta kalau yang barusan dia cibir adalah seseorang yang punya banyak penggemar. Belum lagi, bayangan menjadi musuh figur publik jelas tidak masuk dalam rencananya. “Saya tidak peduli. Itu urusan nanti. Yang penting kamu sudah berhasil menutup mulut wanita itu. Dan terima kasih kamu sudah bela saya.” Ucapan Rumi terdengar tulus. “Gimana? Siap buat lanjutin malam ini?” Tangannya lagi-lagi terulur. Rea tidak langsung menjawab. Dia diam sebentar, menatap mata Rumi lekat, sebelum akhirnya mengangguk penuh senyuman. “Siap, Mas.” Gadis itu kembali mengimbangi Rumi yang menjabat dan menyapa tangan beberapa orang. Dari awalnya canggung, hingga ia mulai memahami ritmenya. Dia hanya perlu tersenyum dan mengangguk jika perlu. Sesekali tertawa saat Rumi atau lawan bicaranya melontarkan candaan, meski tidak begitu lucu. Kegiatan yang benar-benar menguras energi gadis itu setelah bermenit-menit lamanya. “Mas, haus. Aku ngambil minum dulu ya. Mas mau?” “Nggak Sayang. Jangan lama-lama ya,” ucap Rumi di tengah-tengah obrolan dengan seseorang yang entah siapa. Rea langsung lupa namanya setelah jabat tangan tadi. Gadis itu mengangguk dan langsung menuju ke salah satu meja buffet yang sudah dia incar sejak tadi. Ada banyak sajian di sana yang mungkin sudah dia ambil, kalau saja dia datang bukan sebagai pasangan Rumi Rajendra. Ujung-ujungnya, ia hanya mencicipi sepotong egg pie, dan langsung mengambil sesuatu untuk dia minum. Awalnya Rea hanya berniat sebentar saja. Tapi, satu teguk berubah menjadi beberapa tegukan hingga ia pun tidak sadar telah menghabiskan waktu lebih lama dari yang direncanakan. Sambil menyesap virgin mojito, matanya memantau Rumi dari jauh. Berdiri di tengah-tengah kumpulan para konglo. Pemandangan yang sudah lama tidak ia lihat. Kilasan masa lalu kembali berkelabat di kepalanya. Perihal tahun-tahun di mana kedua orang tuanya masih ada. Masa di mana ia sering diajak ke acara-acara mewah seperti ini. Keluarganya mungkin bukan kalangan oligarki. Tapi jelas, gadis itu tumbuh di tengah-tengah kaum borjuis. Jadi, suasana ini tidak asing untunya, tapi tidak juga terasa familier. Dia kembali memindai sekelilingnya. Tak hanya terpaku pada atasannya itu, Rea juga sesekali menyapukan pandangannya ke seluruh ruangan. Momen itulah membuat matanya tanpa sengaja menangkap beberapa orang di sudut ballroom. Mereka tampak seperti tamu biasa, tetapi kamera yang sesekali mereka sembunyikan di balik jas membuat Rea langsung menebak kalau orang-orang itu adalah wartawan. Sedikit rasa dongkol terbesit di hatinya. Acara semewah dan penuh aturan ini, masih saja ada oknum yang lolos masuk. Rea yakin sekali di depan tadi ia membaca batas area yang bisa diakses awak media. Hanya, dia tidak layak untuk berkomentar. Bagaimanapun juga, orang-orang itu hanya melakukan pekerjaan mereka. Mencari uang. Untuk makan, untuk hidup. Tidak berbeda dengan apa yang dia lakukan. ‘Semangat deh kalian,’ gumam gadis itu dalam hati. Tiba-tiba, sesuatu menarik perhatian gadis itu. Di sana, beberapa di antara wartawan tadi mulai bergerak ke arah yang sama. Membuat Rea mengernyit serius dan reflek mengekor dengan matanya. Siapa tahu dia bisa melihat artis-artis atau orang penting lain. Ia yakin, media akan selalu mengikuti orang berpengaruh. Tapi, belum sempat rasa penasaran itu terpuaskan, satu sosok tiba-tiba berhenti di hadapannya. "Enak?" Rea tersentak. Dia mendongak dan mendapati Rumi sudah berada begitu dekat hingga nyaris tak berjarak dari tempatnya berdiri. "Enak. Manis," jawab gadis itu sambil mengangkat gelas di tangannya. "Mas mau nyoba?” Rumi mengangguk. Rea refleks menyodorkan minuman itu. Namun, alih-alih meraih benda di tangan pasangan kontraknya tersebut, pria itu justru melangkah lebih dekat. Sangat dekat.Dan tanpa memberi gadis itu kesempatan untuk bereaksi, Rumi mengangkat dagunya.
Lalu dalam satu gerakan cepat, bibir pria itu berhasil mendarat di bibir lembab Rea dengan selamat. Mengecap dalam sisa rasa minuman yang masih tertinggal di sana.
Rea membelalakkan matanya lebar-lebar.
"Hmpp!"
Kenapa Rumi menciumnya?!
Apa pria ini gila?!
Kamu juga senyum Kak! Ada wartawan tuh :') Gimana? Masih betah? Baca yang selanjutnya yuk Kak♡
Mereka berdua masuk ke unit Rea dengan posisi Rea menatap Rumi kesal. Kalimat pria itu di lift barusan jelas bukan sesuatu yang dia suka.“Siap melamar kapan pun Rea siap?” ucap Rea mengulangi kalimat pria yang langsung duduk di sofanya itu. “Bapak pikir lucu ngomong seperti itu?”“Terus kamu mau saya jawab apa? Kalau kita cuma kontrak? Begitu?”“Ya nggak usah dijawab sama sekali. Orang-orang ngegosip Pak. Dan bisa jadi mereka berdua juga!”“Kenapa kini kamu begitu takut soal gosip, Rea?”Betul juga. Sejak kapan dia begitu takut perihal akan mendapatkan gosip apa?Sudah pernah digosipi hamil sekali pun, dia tidak peduli. Kenapa sekarang dia begitu takut?“Karena…” Gadis itu terlihat berpikir sejenak, sebelum menggeleng. “Lupain aja. Bapak butuh apa? Ini sudah malam.”“Nah itu. Kontrak kita besok totalnya sudah berjalan tiga bulan. Kita perlu melakukan evaluasi.” Rumi menjelaskan maksudnya tanpa cela. "Jadi, apa kamu punya waktu beberapa hari ke depan?”“Untuk apa?”“Evaluasi kontrak.”
"Pacar siapa memangnya Ru? Hari ini Rea terlihat single. Dari tadi sendiri. Saya nggak lihat tuh ada cowok yang nemenin dia?" cibir Kartika tajam menatap sepupunya itu lekat.Rea tidak bereaksi apapun.Tapi Rumi, pria itu tersenyum. Dia tetap tenang.“Sendiri bukan berarti Rea jomblo. Saya rasa semua orang di sini tahu Rea pasangan saya, Mbak.”“Bahkan wanita yang di jari manisnya sudah ada cincin pernikahan sekalipun, kalau dia terbiasa terlihat sendirian, mau satu dunia tahu dia milik siapa, akan ada cowok lain yang nekat ngerebut dia,” tambah Kartika tidak kendor.Kalimat gadis itu terdengar seperti peringatan bagi Rumi, dan sebuah sanjungan dari Rea, meski dia tidak yakin akan ada pria yang mau mendekatinya jika tahu seberapa berantakan hidupnya beberapa tahun belakang. Membuatnya kehilangan apapun termasuk kepercayaan diri.“Mbak Kartika nggak usah khawatir. Saya tahu bagaimana cara menjaga pasangan saya,” ungkap Rumi penuh keyakinan.“Benarkah seperti itu, Rumi? Karena sejak tad
Sejak pertanyaan Rumi hari itu, sebulan yang lalu, hubungan mereka berdua benar-benar hanya sepasang kontrak. Tidak ada basa-basi yang tidak perlu. Terlebih sentuhan yang terlepas. Mereka benar-benar menjadi atasan dan bawahan yang tidak jauh-jauh dari pekerjaan semata.Bahkan untuk sekedar bertatap mata di luar masalah kerjaan, Rumi enggan.Tapi mereka masih begitu sangat profesional di luar sana, terlebih di media. Rea masih mendampinginya kemanapun Rumi butuh.Tapi sisanya? Nol.Pria itu benar-benar menghindari Rea.Dan hal tersebut membuat Rea makin kebingungan.Satu sisi dia berterima kasih karena dengan sikap Rumi yang demikian, perasaannya sukar tumbuh lebih dalam. Dia hanya perlu fokus menjalankan tugasnya.Tapi di sisi lain? Melihat pria itu menjadi begitu acuh ternyata bukan hal yang dia sukai.Seperti hari ini. Mereka sedang berada di salah satu pernikahan keluarga Rumi. Rea memakai kebaya manis berwarna maron, yang diimbangi dengan warna batik Rumi yang senada.“Kalian bai
“Cantik. Cantik sekali.”Mendengar itu, nyaris saja Rea merona. Syukurnya pagi ini nyawanya cepat terkumpul. Jadi ketika Rumi mengatakan bahwa dia cantik, ingatan tentang semua kekesalannya pada pria ini belakangan langsung terbayang.“Good morning…” sapa Rea sambil tersenyum.“Morning, Cinderea,” sambut Dista yang langsung naik ke samping gadis itu. “Dista lapar.”Kedua alis Rea terangkat. Matanya mencari Rumi di samping seolah meminta penjelasan kenapa anak-anak itu lapar.“Anak-anak belum sarapan?”“Belum. Hari ini jadwal libur semua asistern rumah tangga. Jadi subuh-subuh tadi sudah berangkat,” jelasnya.“Chef Anton juga?” tanya Rea lagi menyebutkan nama chef yang biasa menangani makanan di penthouse itu.“.." Rumi hanya mengangguk.“Kalau Anton libur, kalian biasanya sarapan apa?”“Mama nginap.”“Kali ini kenapa nggak nginap?”“Aku bilang nggak perlu. Karena ada kamu.”Mendengar itu Rea cepat-cepat duduk. Anak-anak pun berlarian keluar kamar, meninggalkan dua orang dewasa itu sen
Dante yang sama sekali tidak merasa ada yang aneh, hanya memasukkan kedua tangannya ke saku celana.“Oh, tadi gue ketemu Rea di coffee shop dekat sini. Sekalian aja gue antar pulang. Kasihan sendirian. Katanya lu sibuk, soalnya.”Rea mengangkat wajah.“Gimana? Udah nganter Maudi?” tanya Rea to the point. Sedikit kelepasan.“Loh, lo nganter Maudi, Rum?” Dante spontan menoleh ke Rumi..Rea tersenyum tipis. Sinis.Tanpa menunggu jawaban siapa pun, dia maju ke pintu.“Ya sudah, kalian ngobrol aja,” ucapnya ringan. “Aku masuk dulu. Sudah ngantuk banget.”Sebelum masuk, Rea sempat menoleh kepada Dante. “Oh iya, Mas Dante. Makasih ya, sudah nganterin.”“Sama-sama, Dek Rea,” ucap Dante yang kemudian menepuk bahu Rumi sekali. “Gue cabut dulu.” Dia menahan tawa melihat ekspresi Rumi. “Good luck.” Lalu pergi begitu saja.Sayangnya Rumi kurang lincah hingga pintu unit di depannya lebih dulu tertutup saat Dante pamitan.TOK TOKTidak ada jawaban. Begitu pula dengan beberapa ketukannya kemudian. Di
Ruang tamu kembali sunyi. Rea melihat mereka pergi dengan pandangan yang menyesakkan. Dia tahu dia salah. Tapi Rumi berlebihan. Bahkan untuk sekedar ikut menemani anak-anak pun tidak diizinkan.Rea akhirnya membuka laptop yang dibawakan oleh Bene. yang katanya berisi file medical record anak-anak.Dia membacanya dari halaman pertama.Riwayat kesehatan. Alergi. Obat. Pola makan. Jadwal pemeriksaan. Catatan dokter. Bahkan hal-hal kecil yang sebelumnya tidak pernah terpikir olehnya.Setelah selesai dengan Dista, dia membuka milik Desta.Jam bergeser tanpa dia sadari. Bahkan saat mata Rea mulai terasa kering, dia tetap membaca.Dia mencatat beberapa poin penting di sebuah dokumen terpisah. Sesekali mengulang bagian yang tidak dia pahami.Sampai akhirnya suara pintu terdengar.Rea mengangkat wajah.Rumi masuk. Dista berada dalam gendongannya, sedang Ammar membawa Desta di dekapannya.Dan….Dan Maudi masih ada.“Tante Rea!” sapa kedua anak itu lagi-lagi serempak ketika turun dari gendongan







