Masuk"Waktu dulu aku sakit, kamu yang memberiku jimat keselamatan, lalu membelikan gelang keberuntungan untukku. Kamu merasa laki-laki nggak cocok menggunakan gelang ini, tapi gelang ini nggak pernah kulepas. Semua barang ini rela kamu buang?"Harvey menunduk tanpa melihatku. Dia hanya memegang gelang itu dengan erat, suaranya memelas.Dulu saat membeli gelang itu, aku menatapnya dengan hati yang sangat bahagia."Laki-laki memakai gelang nanti disangka banci. Kalau kamu nggak mau memakainya, simpan saja di laci!"Meski aku bicara seperti itu, dulu Harvey tetap memakainya selama sembilan tahun."Harvey, itu sudah masa lalu. Kalau mau mengatakan sesuatu, langsung katakan saja."Harvey masih mau mengambil buku harianku, mengenang kembali masa lalu kami.Saat menatapku lagi, senyumannya membeku, dia tampak ragu.Namun, dia tetap mengangkat kepala dan memberanikan diri mengutarakan perasaannya."Ria, jangan putus, ya? Aku sudah meninggalkan rumah Keluarga Lamusu, juga nggak akan menikahi Kartika
"Ria, aku tahu kamu nggak mau ketemu aku. Kamu sampai pindah rumah, tapi banyak hal yang mau aku katakan padamu."Suara Harvey terdengar serak, dan dia menangis saat berbicara denganku.Aku memegang ponsel dengan erat, tetapi tidak menjawab apa-apa.Sudah tidak ada yang perlu dibicarakan antara kami berdua.Dia menamparku di depan umum saat acara perjamuan keluarga, lalu mendorongku dari tangga setelah aku memohon padanya.Sebelum pingsan, aku melihat dia tanpa ragu melindungi Kartika dalam pelukannya. Sambil menangis, dia berkata tidak akan menikahiku.Selama kondisiku kritis di ruang ICU, Harvey dan Kartika menetapkan tanggal pernikahan.Setelah sekian lama, aku tidak mau mengalami kejadian yang menyakitkan seperti itu lagi.Sekalipun sekarang aku sudah tinggal di luar negeri, aku masih mendengar kabar tentang Harvey dari sahabat-sahabatku.Mereka bilang Harvey masih mencintaiku. Setelah aku pergi, dia seperti orang gila.Aku juga tidak merasakan apa-apa di hatiku.Kenangan kami sela
"Sialan, pasti kamu yang menggoda dia, 'kan?"Aku tanpa sadar berdiri di depan Theo, lalu mendorong Harvey dengan sekuat tenaga.Harvey terhuyung-huyung, lalu jatuh ke tanah. Pria itu mendongak menatapku, matanya tiba-tiba memerah."Kamu mendorongku?""Kamu mendorongku demi membela pria lain! Dulu kamu nggak seperti ini, kamu sudah jatuh cinta padanya!"Harvey hampir berteriak di akhir ucapannya, tetapi aku tidak memedulikannya, aku hanya mengalihkan pandangan ke arah Theo.Bagaimanapun juga, Theo adalah pasangan yang dijodohkan oleh ibuku. Jika sampai terjadi sesuatu, aku akan sulit menjelaskan kepada ibuku.Theo menggelengkan kepala sambil tersenyum kepadaku."Aku nggak apa-apa, jangan khawatir."Harvey berdiri dengan kondisi memilukan, sepertinya tadi dia jatuh terlalu keras.Dia menatap aku dan Theo secara bergantian, tiba-tiba dia tertawa getir."Ria, kamu sudah berubah."Saat menatapku, matanya penuh keputusasaan dan kebingungan.Baru kali ini aku melihat Harvey seperti ini, hati
Seingatku, Theo orangnya introver, tetapi entah kenapa dia jadi banyak bicara setiap bertemu denganku."Jadi, sekarang kamu menetap di sini? Harvey juga ikut denganmu? Kalian akan menikah, 'kan?"Mata Theo berbinar seolah menantikan jawabanku.Gerakan tanganku seketika berhenti, lalu tersenyum."Kami sudah putus, dan juga nggak akan menikah."Mungkin hanya perasaanku saja, tetapi saat mendengar kata "putus", Theo justru tersenyum.Setelah itu, tiba-tiba terdengar suara keras dari belakangku.Aku langsung menoleh, ternyata Harvey.Harvey menghampiriku dengan ekspresi dingin, lalu mencengkeram pergelangan tanganku dengan erat tanpa mengatakan sepatah kata pun."Ria, kamu pergi ke luar negeri untuk mencari pria lain? Kelakuanmu seperti ini, masih berani bilang kamu mencintaiku?"Harvey merasa murka, hingga urat di keningnya menonjol.Aku juga tidak mengerti mengapa dia semarah itu. Yang lebih membingungkan lagi, bagaimana dia bisa berada di sini?Orang-orang di sekitar tidak mengerti baha
Suara Harvey terdengar dingin, seolah dia ingin segera menangkapku dan menyuruhku meminta maaf kepada Kartika.Aku agak linglung, dulu Harvey juga melindungiku seperti ini.Saat itu, hubunganku dengan Harvey tidak direstui.Meskipun aku diterima kerja di perusahaan karena kemampuanku, tetap ada gosip yang mengatakan bahwa aku diterima melalui jalur orang dalam, dan mendapat posisi itu dengan menjual tubuhku.Setelah mendengar fitnah dari rekan kerjaku, Harvey langsung menuntut mereka ke pengadilan.Hanya karena mereka telah merusak reputasiku.Dia mengatakan bahwa reputasiku sama pentingnya dengan perusahaan, dia tidak mau siapa pun merusak reputasiku.Namun, sekarang dia melindungi wanita lain, bukan aku lagi.Karena kejadian itu, aku menolak ikut ibuku menetap di Negara Ostari, menolak tawaran pekerjaan dari ayah tiriku.Aku dulu yakin hubunganku dengan Harvey bisa berakhir indah, sampai suatu kali tanpa sengaja aku mendengan percakapannya dengan teman-temannya.Saat itu, semua mengi
Begitu pesawat mendarat, pandanganku langsung tertuju pada ibuku.Kalau dihitung-hitung, sudah hampir sepuluh tahun tidak bertemu ibuku, tetapi ibuku masih terlihat mudah dan gembira.Aku memaksakan diri untuk tersenyum, lalu menyembunyikan telapak tangan kananku yang terluka di belakang.Sebelum sempat mengatakan sesuatu, ibuku sudah memelukku erat-erat."Kamu kurus."Mata ibuku berkaca-kaca, terus-menerus menepuk pakaianku seolah berdebu.Akhirnya, ibuku balik badan karena tidak sanggup menahan air mata, lalu menyeka air matanya sendiri.Melihat ibuku seperti ini, aku ikut terharu, dan hampir menangis.Saat ibuku menikah dengan ayah tiriku, ibuku berkali-kali menghubungiku.Ibu memintaku menetap di Negara Ostari bersama.Saat itu, aku baru pacaran dengan Harvey, berusaha membuat orang tua Harvey menerimaku, jadi aku menolak tawaran ibuku.Namun pada akhinya, aku tetap kembali.Ibuku langsung melihat telapak tangan kananku yang terluka.Dia menyentuh tanganku dengan sedih, lalu mengam







