共有

Bab 4

作者: Mountain
Saat aku tiba di lokasi, waktu sudah menunjukkan hampir jam sebelas malam, tapi lampu-lampu di kantor masih menyala terang benderang.

Begitu masuk, aku langsung sadar kalau situasinya jauh lebih buruk dari kubayangkan.

Tujuh delapan orang duduk mengelilingi meja di ruang rapat dan wajah mereka semua seolah menyiratkan kata ‘mampus’.

Melihatku datang, mereka serentak mendongak. Sorot mata mereka seolah baru saja melihat sang juru selamat.

“Nyonya!”

Sekretarisku berlari menghampiri dengan mata berkaca-kaca, “Akhirnya kamu datang juga! Kami nggak paham soal pasal-pasal kontrak ini, pengacara pihak kerja sama keras kepala nggak mau kompromi. Besok pagi mereka sudah harus terbang dan kalau kontrak ini nggak ditandatangani, kita harus membayar ganti rugi sebesar ini….”

Dia menunjukkan angka yang sangat fantastis.

Aku melirik angka itu tanpa komentar dan langsung berjalan ke meja untuk mengambil dokumen kontrak tersebut.

Baru membalik tiga halaman, aku sudah menemukan letak masalahnya.

“Di sini.” Aku menunjuk salah satu poin, “Salah terjemahan, maksud asli pihak kerja sama adalah pembayaran bertahap, bukan pelunasan sekaligus.”

Beberapa orang mendekat, memperhatikannya lama dan akhirnya baru tersadar.

“Aku… aku akan cari penerjemah untuk perbaiki….”

“Sudah nggak sempat.” Aku meletakkan kontrak itu dan berkata, “Ambilkan penaku.”

Aku duduk dan mulai memperbaiki pasal demi pasal.

Saat baru sampai ke pasal keempat, pintu ruang rapat terbuka.

Terdengar suara ketukan sepatu hak tinggi.

Aku tak mendongak, tapi sudah tahu siapa itu.

“Wah, bukannya ini nyonya pertama dalam sejarah yang mengajukan sidang keluarga terbuka?”

Tawa Melisa terdengar racun yang dibalut gula.

Dia masuk sambil menggendong bayi, berdiri di sampingku sambil bersandar di tepi meja, menatapku dengan angkuh dari posisi yang lebih tinggi.

“Kak, bukannya menjaga kandungan di rumah, kok kamu malah lari ke sini? Jangan-jangan datang untuk minta uang tunjangan, ya?”

Sekretarisku tampak sangat marah dan ingin membantah, tapi aku menghentikannya dengan tatapan.

Aku tetap fokus memperbaiki pasal-pasal kontrak dan menganggap ucapan itu seperti tiupan angin.

Melihatku tak terpancing, senyuman di wajah Melisa sempat kaku sejenak.

Dia menunduk melihat pena di tanganku dan muncul ide licik.

“Pena ini lumayan bagus.” Tiba-tiba, dia mengulurkan tangan, “Boleh kupinjam sebentar?”

Belum sempat aku merespons, di sudah merebut pena itu dari tanganku.

Itu adalah pena merek mewah yang cukup langka, hadiah dari Rian di tahun pertama pernikahan kami.

Sebenarnya sudah tak berharga lagi, tapi sudah menemaniku selama sepuluh tahun.

“Kembalikan padaku.”

Aku mendongak dan mengerutkan kening menatapnya.

Melisa mengangkat pena itu tinggi-tinggi, sambil membolak-baliknya.

“Hanya pena busuk, kok panik sekali? Aku hanya mau lihat, bukan mau meminta, kok.”

Dia mundur selangkah dan melanjutkan, “Lanjutkan saja revisi kontrakmu, setelah selesai melihatnya akan kukembalikan.”

Aku menarik napas dalam-dalam, menekan rasa kesal di hati.

“Melisa, letakkan penanya.”

“Aduh, kakak marah, ya?” Dia membelalakkan mata dengan ekspresi berlebihan, “Hanya gara-gara satu pena, perlukah sampai sebegitunya?”

Dia berbalik seolah mau pergi.

Akhirnya aku tak tahan lagi.

Aku berdiri, mengitari meja dan berjalan ke hadapannya.

Baru saja aku mengulurkan tangan ke arahnya, tiba-tiba dia berteriak,

“Nyonya, kamu mau apain?!”

Detik berikutnya, pegangan tangannya pada si bayi tiba-tiba melonggar dan bayi itu merosot dari pelukannya.

“Huaaa….”

Tangisan yang sangat memilukan meledak di ruangan itu.

Pintu kantor langsung didobrak terbuka.

Rian melesat masuk dengan langkah cepat.

Melisa juga jatuh tersungkur. Dia duduk di lantai dengan rambut acak-acakan dan wajah penuh air mata.

“Anakku! Anakku! Tuan, cepat lihat anakku!”

Rian menerjang maju, menggendong bayi yang sedang menjerit itu di dalam pelukannya, sementara tangannya yang lain memapah Melisa berdiri.

“Apa yang terjadi?!”

Melisa bersandar di pelukannya, tubuhnya gemetar hebat sambil menangis tersedu-sedu.

Jarinya menunjuk ke arahku dengan gemetar.

“Aku hanya merasa pena nyonya bagus dan mau melihatnya saja, tapi nggak menyangka nyonya malah… malah sengaja membanting anakku ke lantai!”

Bayi itu masih menangis. Suara tangisannya tajam dan memekakkan telinga, seperti pisau yang menyayat hati semua orang.

Rian mendongak dan menatapku.

Tatapannya membuatku merinding.

“Yossi, anak ini baru enam bulan.” Suaranya terdengar sangat serak, “Kalau benci aku dan ibunya, serang kami saja. Kok tega sekali kamu menyerang seorang bayi?”

“Aku tak menyentuhnya.”

“Lalu kok dia bisa jatuh?”

“Melisa yang menjatuhkannya.”

“Melisa menjatuhkannya?” Rian tertawa, tawa yang sangat mematikan, “Yossi, coba dengar apa yang kamu katakan. Melisa menggendong anaknya, berdiri di depanku, lalu sengaja menjatuhkannya? Dia sengaja? Dia sengaja menjatuhkan anaknya sendiri?”

Aku tak bicara.

Apalagi yang bisa kukatakan?

Gerakanku saat hendak mengambil pena tadi, memang tidak ada bedanya dengan mendorongnya di mata orang lain.

Rian menyerahkan bayi itu pada orang di sampingnya, lalu berjalan menuju pena yang tergeletak di lantai.

Suara patahan yang nyaring terdengar.

Pena itu hancur.

Tinta menyembur keluar dari bagian yang patah, mengotori bagian bawah sepatu kulitnya.

Waktu sepuluh tahun….

Diinjak begitu saja dibawah kakinya hingga hancur berkeping-keping.

Suaranya terdengar sangat dingin,

“Yossi, karena kamu bersikeras mau mengadakan sidang keluarga, aku akan mengabulkan keinginanmu.”
この本を無料で読み続ける
コードをスキャンしてアプリをダウンロード

最新チャプター

  • Cinta Buta Sang Mafia   Bab 12

    Tak lama kemudian, karma Melisa pun datang.Begitu suami Melisa tahu bahwa istrinya tak hanya gagal menghancurkan Keluarga Liam, tapi juga dengan bodohnya membongkar identitas penyamarannya, pria yang memang sifatnya kejam itu tanpa ragu mengeluarkan perintah pengejaran.Di dunia mafia, bidak yang sudah tak berguna dan tahu terlalu banyak rahasia hanya punya satu jalan, yaitu mati. Kedua tangan Melisa dipatahkan oleh suaminya sendiri, lidahnya dipotong, lalu dia dibuang begitu saja ke kawasan prostitusi paling kacau di dunia mafia.Bayi yang berusia enam bulan itu juga dikirim ke panti asuhan.Seumur hidupnya, Melisa hanya akan berkubang dalam lumpur kehinaan dan ketakutan, tanpa pernah bisa bangkit lagi.Sementara itu, kedua orang tuaku yang dulu merasa sangat berkuasa, bahkan sempat berhalusinasi ingin mengontrol hidupku, akhirnya menemui akhir mereka juga.Melihat posisiku yang semakin bersinar dan memegang kendali atas urusan inti keluarga, bukannya bertobat, mereka malah berusaha

  • Cinta Buta Sang Mafia   Bab 11

    Akhirnya, Rian menyadari bahwa dirinya telah benar-benar kehilangan seluruh harapannya.Dia menyeret kaki kanannya yang cacat, mencoba bertahan hidup di jalanan dengan keadaan yang menyedihkan.Aku sama sekali tak merasa kasihan pada nasibnya. Semua ini murni akibat perbuatannya sendiri.Setelah kehilangan perlindungan keluarga, dia harus bersembunyi dari kejaran musuh-musuhnya setiap hari hingga mentalnya berada di ambang kehancuran.Di saat yang sama, aku mulai melebarkan sayap bisnis keluarga di Wilayah Barat.Aku mengintegrasikan jaringan transaksi gelap dan mendapatkan dukungan dana yang sangat besar dari keluarga besar.Aku pun resmi menjadi penasihat baru di keluarga.Mendengar kabar kenaikanku, Rian datang mencariku dengan tubuhnya yang cacat.Wajahnya tampak pucat dan tubuhnya membungkuk lesu.Dia mencoba mencari simpati dariku, meratap dengan suara keras, “Yossi, ini salahku. Izinkan aku pulang.”“Dulu aku buta karena dimanfaatkan oleh Melisa. Itu semua salahku. Aku nggak bis

  • Cinta Buta Sang Mafia   Bab 10

    Melisa mengirim pesan, dia mengajakku bertemu.Aku membalasnya, syaratnya dia harus pergi ke rumah sakit dan mengakui semuanya pada Rian.Dia harus membeberkan sendiri identitas aslinya sebagai mata-mata keluarga musuh, serta tujuan sebenarnya mendekati Rian.Aku datang dan berdiri di luar kamar rawat Rian, ingin melihat bagaimana reaksi bos mafia yang dulu sangat angkuh itu saat mengetahui kebenarannya.Sesuai kesepakatan, Melisa melangkah masuk ke dalam kamar.Begitu melihatnya, mata Rian yang tadinya sayu langsung memancarkan binar kegembiraan.Sambil menyeret kakinya yang digips, dia berusaha keras menjangkau dari ranjang untuk menggenggam tangan Melisa.“Melisa, aku tahu kamu nggak akan meninggalkanku!”“Tenang saja, begitu sembuh dan keluar dari rumah sakit, aku akan cari cara untuk merebut kembali posisi bos mafia! Saat itu tiba, kita bertiga bisa….”Bahkan biaya rumah sakit saja dia masih kesulitan untuk membayar, bisa-bisanya masih bermimpi bisa kembali ke puncak kekuasaan.Me

  • Cinta Buta Sang Mafia   Bab 9

    Ternyata suara di balik telepon adalah suara dokter.Dokter memberitahu bahwa Rian mengalami serangan hebat.Pihak rumah sakit tak bisa menghubungi keluarga terdekatnya, jadi mereka terpaksa menghubungi nomor kontrak daruratnya.Aku menyetir ke rumah sakit. Dari balik kaca ruang ICU, aku melihat Rian yang berlumuran darah. Ternyata setelah kami cerai, dia langsung menjadi sasaran balas dendam yang kejam.Dengan cap sebagai pengkhianat keluarga, dia tak hanya kehilangan perlindungan keluarga besar, tapi dia juga menjadi target buruan di seluruh dunia mafia.Dia terbaring kaku di ranjang rumah sakit. Menatap mantan bos mafia yang dulu tak terkalahkan, kini dalam kondisi sekarat, batinku tak merasakan gejolak emosi apapun. Aku pun berbalik pergi.Setibanya di apartemen pribadiku, saat baru saja duduk di meja makan, ponselku berdering lagi.Kali ini panggilan dari ibu Rian.Dia sudah bertahun-tahun dirawat di rumah sakit karena tubuh yang lemah dan tidak tahu apa-apa tentang kekacauan ya

  • Cinta Buta Sang Mafia   Bab 8

    Setelah memeriksa semua berkas dan rekaman, hakim mengetuk palu dengan keras dan membacakan putusan di tempat.Rian dinyatakan sebagai pihak yang bersalah dalam pernikahan dan telah melanggar hukum keluarga dengan sangat berat. Dia bukan hanya tak mendapat sepeser pun harta, tapi gelarnya sebagai bos mafia pun dicabut saat itu juga! Seluruh aset, wilayah kekuasaan dan wewenang di bawah namanya ditarik kembali!Rian terduduk lemas di kursi terdakwa, wajahnya pucat bagaikan secarik kertas.Setelah kejadian ini, dia tak hanya kehilangan dukungan dari semua orang, tapi juga menjadi pengkhianat yang diburu oleh seluruh dunia mafia.Sang bos mafia yang dulu bisa mengatur segalanya, kini kehilangan segalanya dalam sekejap.Aku merapikan dokumen dan bersiap pergi bersama pengacara.Tiba-tiba, Rian menerjang maju dan menghalangi jalanku.Tangannya gemetar hebat saat mencengkeram bahuku. Matanya memerah, tidak ada lagi ketenangan dan keangkuhan seorang bos mafia di wajah tampannya.“Yossi, aku

  • Cinta Buta Sang Mafia   Bab 7

    Rian berdiri tiba-tiba dan menunjuk ke arah layar besar.“Ini palsu! Teknologi sekarang bisa merekayasa gambar apapun.”Dia berusaha mempertahankan sisa wibawa terakhirnya sebagai bos mafia, berusaha keras untuk tetap tenang.Hakim tak peduli dengan gertakannya dan langsung memberi kode kepada ahli teknologi pengadilan untuk maju menguji keaslian video tersebut.Beberapa menit kemudian, pakar itu mendongak dan melaporkan kepada hakim dengan nada penuh keyakinan, “Video ini nggak melalui modifikasi apapun, sepenuhnya asli dan valid.”Melihat itu, tim pengacara Rian segera mengubah taktik, mencoba mengalihkan isu utama.“Yang mulia, meskipun rekaman itu asli, sebagai bos mafia, Rian sibuk mengurus urusan keluarga sepanjang hari dan menanggung tekanan yang sangat besar.”“Sementara Yossi nggak peduli padanya dan sudah lama mengabaikan kewajibannya sebagai istri.”Rian memanfaatkan kesempatan itu dengan menundukkan kepala, memasang ekspresi sedih.“Yossi, kalau saja kamu mau meluangkan se

続きを読む
無料で面白い小説を探して読んでみましょう
GoodNovel アプリで人気小説に無料で!お好きな本をダウンロードして、いつでもどこでも読みましょう!
アプリで無料で本を読む
コードをスキャンしてアプリで読む
DMCA.com Protection Status