Tak ada yang berani bersuara.Seketika, suasana di aula sunyi senyap.Aku tak mengulangi ucapanku dan langsung berbalik untuk pergi. Tiba-tiba, dia memelukku dari belakang dengan sangat erat, seolah ingin meremukkan tulang rusukku.“Jangan pergi, Yossi. Ini salahku, aku akan berubah. Kasih aku kesempatan untuk perbaiki semuanya.”Anak buahnya pun ikut maju dan mengepung pintu keluar.“Nyonya Yossi, sebenarnya apa maumu? Tuan Rian sudah menemanimu bertahun-tahun, sejak sekolah, kuliah, bahkan sampai menikah. Cinta selama sepuluh tahun, bagaimana caramu membalasnya?”“Dia gila-gilaan mencintaimu dan begini caramu membalasnya? Kamu bahkan sedang mengandung darah dagingnya, kamu mau anak itu lahir tanpa ayah?”Mendengar itu, mata ibuku terbelalak.“Apa?” Ibu mencengkeram lenganku, kukunya menancap ke dalam kulitku dan melanjutkan, “Yossi, kamu hamil? Dan malah mau cerai?”“Kamu sudah gila?! Kamu pikir bisa kabur ke mana sambil membawa anak itu?!”Aku melepaskan cengkeraman jari mereka sat
続きを読む