LOGINAluna menatap pantulan dirinya di cermin besar kamar hotel mewah itu. Gaun putih yang ia kenakan begitu indah terlalu indah untuk sebuah pernikahan yang bahkan tak ia inginkan. Wajahnya dipulas dengan riasan lembut, tapi tak mampu menyembunyikan mata sembab dan sorot ketakutan yang tersembunyi di balik lensa kontak bening.
Di luar kamar, dunia bersorak. Musik lembut terdengar dari aula pernikahan, para tamu sosialita berdatangan dengan senyum dan pujian palsu. Semua tampak sempurna di mata publik. Tapi bagi Aluna, hari ini adalah mimpi buruk yang tak pernah ia harapkan terjadi dalam hidupnya. Pernikahan ini bukan karena cinta. Bukan karena keinginan dua hati yang saling memilih. Tapi karena sebuah surat hutang, harga diri keluarga, dan permainan takdir yang kejam. Seseorang mengetuk pintu. "Nona Aluna, waktunya ke altar." Ia menarik napas panjang, mencoba menenangkan detak jantungnya yang kacau. Kakinya gemetar saat melangkah, seolah tubuhnya tahu bahwa ia sedang berjalan menuju jurang tak dikenal,jurang yang akan membawanya kedalam kesengsaraan yang tak ada ujungnya. --- Di ujung altar, Leonard berdiri tegak dengan setelan jas hitam yang sempurna. Wajahnya datar, dingin, dan tanpa ekspresi seperti patung marmer yang tak tersentuh waktu. Matanya yang tajam hanya melirik Aluna sekilas, seolah kehadirannya tak lebih dari formalitas. Aluna berjalan pelan dengan tangan digandeng oleh seorang pria tua, pengacara keluarga yang ditugaskan untuk "mengantarkannya" seolah ia adalah pengantin sejati. Saat akhirnya berdiri di samping Leonard, ia bisa merasakan hawa dingin dari pria itu. Tak ada senyum. Tak ada bisikan hangat. Bahkan tak ada lirikan rasa penasaran. Leonard seperti... membencinya. Upacara dimulai. Kata-kata pastor berlalu seperti angin di telinga Aluna. Ia hanya ingat bagian ketika cincin melingkar di jarinya, dingin seperti hatinya sendiri. Lalu suara Leonard, tenang dan tajam. "Aku bersedia." Suaranya terdengar seperti perintah, bukan janji. Aluna menelan ludah. "Aku... aku juga bersedia." Sorakan meledak di ruangan. Tapi hati Aluna tetap hening. --- Beberapa jam kemudian, mereka berada di kamar pengantin tempat yang seharusnya menjadi awal bahagia. Tapi tidak malam ini,tidak bagi mereka berdua. Leonard melepaskan jasnya tanpa bicara, lalu duduk di sofa. Aluna berdiri kikuk di depan pintu, tak tahu harus ke mana. Ke tempat tidur? Ke sofa? Atau keluar saja? "Mulai sekarang, kita suami istri di atas kertas. Jangan berharap lebih,dan jangan pernah jatuh cinta kepadaku" ucap Leonard dingin tanpa menatapnya. Aluna mengangguk perlahan. "Aku tidak mengharapkan apa-apa pun darimu." Pria itu mendengus kecil. "Bagus. Kita akan hidup di rumah yang sama, tapi jangan pernah ganggu urusanku. Dan jangan berharap aku akan memperlakukanmu seperti istri." Kalimat itu menampar batinnya. Tapi ia hanya bisa menggigit bibir, menahan air mata yang nyaris jatuh. "Aku mengerti." Leonard berdiri, mendekatinya. Matanya menatap tajam, seolah mencoba membaca isi hatinya. "Aku tidak suka wanita menangis, apalagi wanita lemah yang berpura-pura tegar." "Aku tidak berpura-pura," sahut Aluna pelan, tapi tegas. Leonard tersenyum sinis. "Kita lihat saja seberapa lama kamu bertahan." --- Malam itu Aluna tidur sendiri di sisi tempat tidur besar yang dingin. Punggungnya menghadap Leonard yang memilih tidur di sofa. Ia menatap langit-langit kamar gelap dengan mata terbuka, berpikir tentang masa depannya yang baru saja dijual dengan tanda tangan. “Apakah ini hidupku sekarang?” pikirnya. “Menjadi istri pria yang bahkan tak ingin menatapku?” Tapi jauh di lubuk hati, ia bersumpah: ia tidak akan menjadi korban. Ia akan bertahan, tidak peduli seberapa dingin dunia barunya. --- Di balik layar, Leonard diam-diam menatap punggung Aluna dari kejauhan. Wajahnya tetap datar, tapi dalam pikirannya berputar berbagai pertanyaan. “Kenapa gadis ini tak memberontak?” “Kenapa dia terlihat kuat... bahkan ketika aku mencoba menghancurkannya dengan kata-kataku sendiri?” Untuk pertama kalinya dalam waktu lama, Leonard merasa terusik. Tapi bukan oleh kebencian melainkan oleh rasa penasaran yang tumbuh pelan-pelan… seperti bunga yang mulai merekah di tengah musim dingin.Pagi datang dengan cahaya yang lembut, tidak menyilaukan. Leonard bangun lebih dulu,karena kebiasaan baru: memastikan hari dimulai tanpa tergesa. Ia menoleh. Aluna masih tidur, napasnya teratur, wajahnya damai. Leonard tersenyum kecil.Beberapa bulan terakhir berjalan seperti itu. Tidak ada lompatan besar, tidak ada perayaan yang direncanakan. Hanya hari-hari yang dipilih untuk tinggal. Hingga suatu pagi, Aluna memanggilnya dari dapur dengan suara yang berbeda.“Leonard,” katanya pelan, “kita perlu bicara.”Leonard datang dengan tenang. Di meja, ada secangkir teh yang sudah mendingin dan selembar kertas kecil. Aluna tidak menunggu lama untuk menjelaskan. Ia hanya menggeser kertas itu ke arah Leonard.Dua garis tipis,Leonard menatapnya beberapa detik,cukup lama untuk memahami, cukup singkat untuk yakin. Ia mengangkat wajahnya, mata mereka bertemu, dan di sana tidak ada ketakutan yang dulu sering muncul. Yang ada hanya rasa hadir yang utuh.
Pagi setelah itu tidak membawa pengumuman apa pun,tidak ada perubahan besar yang bisa ditunjuk dan disebut sebagai awal. Leonard bersiap seperti biasa, Aluna merapikan hal-hal kecil yang sempat tertinggal. Namun ada satu perbedaan yang tidak perlu dicari,keduanya bergerak tanpa beban yang dulu tak pernah benar-benar pergi.Leonard berangkat ke kantor dengan langkah yang sama seperti hari-hari sebelumnya. Bedanya, ia tidak lagi memeriksa ulang pikiran sendiri di sepanjang jalan,tidak ada dialog batin yang menimbang kemungkinan terburuk. Ia tiba, bekerja, berbicara seperlunya, dan menyelesaikan apa yang perlu diselesaikan.Di tengah hari, Leonard berhenti sejenak di depan jendela ruangannya. Kota bergerak seperti biasa. Orang-orang berjalan dengan tujuan masing- masing,ia tidak merasa harus mengatur semuanya agar tetap berada di jalur aman. Ia membiarkan hidup berjalan dan ikut berjalan di dalamnya.Sore datang tanpa drama. Leonard pulang tepat waktu, membaw
Pagi datang dengan cahaya yang lebih bersih. Hujan semalam menyisakan udara dingin yang menenangkan, seolah dunia baru saja dibasuh tanpa diminta. Leonard bangun lebih awal, kali ini tanpa jeda panjang,karena tubuhnya siap. Di dapur, Aluna sudah lebih dulu terjaga. Ia menata dua piring sarapan sederhana,tidak ada menu khusus,tidak ada usaha untuk membuat pagi terasa istimewa,namun justru di sanalah keistimewaannya tinggal. “Kamu kelihatan lebih ringan,” kata Aluna sambil menuang air hangat. Leonard duduk. “Karena aku tidak membawa apa pun dari kemarin.” Aluna mengangguk. Mereka makan tanpa terburu, tanpa percakapan panjang. Sendok bertemu piring, pagi berjalan apa adanya. Hari itu, Leonard tidak langsung ke kantor. Ia mengambil waktu setengah hari,keputusan yang dulu selalu ia timbang berulang kali. Kini, keputusan itu hadir tanpa debat di dalam kepala. Ia dan Aluna berjalan keluar rumah, menyu
Hari-hari berikutnya tidak membawa perubahan yang bisa ditunjuk dengan jelas, namun ada sesuatu yang mulai mengendap,seperti tanah yang perlahan memadat setelah lama diguyur hujan. Leonard merasakannya saat ia bangun pagi tanpa dorongan untuk segera berdiri. Aluna merasakannya ketika ia menata hari tanpa perlu memastikan apa pun pada siapa pun.Pagi itu, Aluna menyiapkan sarapan dengan menu yang sama seperti kemarin,tidak ada niat untuk variasi, dan tidak ada rasa bosan. Leonard memperhatikannya dari kursi makan, menyadari bahwa pengulangan kini terasa aman, bukan menjemukan.“Kita sudah beberapa hari begini,” kata Leonard, lebih seperti pengamatan.Aluna mengangguk. “Dan tidak ada yang terasa tertinggal.”Leonard tersenyum kecil. Ia berangkat kerja dengan pikiran yang tidak lagi memantul ke banyak arah. Di kantor, satu proyek lama akhirnya memasuki fase akhir,tanpa drama, tanpa perayaan besar. Ia menandatangani berkas terakhir dan menyerahkannya
Pagi berikutnya terasa sama, namun tidak pernah benar-benar serupa. Leonard membuka mata dengan kesadaran yang pelan: hari tidak berulang, ia hanya bergerak dengan cara yang lebih lembut. Aluna sudah bangun lebih dulu, duduk di dekat jendela dengan selimut tipis di bahunya, menatap halaman yang masih basah oleh sisa embun.Leonard mendekat tanpa suara. Ia berdiri di belakang Aluna beberapa detik, lalu duduk di lantai, menyandarkan punggung pada sisi kursi. Tidak ada sapaan. Tidak ada kebutuhan menandai momen.“Ada hari-hari,” ucap Aluna akhirnya, “yang dulu akan membuatku gelisah.”Leonard mengangkat kepala. “Sekarang?”“Sekarang justru membuatku ingin diam lebih lama.”Leonard tersenyum kecil. Ia memahami pergeseran itu,dari ingin memastikan, menjadi ingin merasakan.Di kantor, Leonard menjalani hari tanpa agenda yang penuh. Beberapa hal diserahkan sepenuhnya pada tim. Ia hadir jika diminta, mundur jika tidak diperlukan. Tidak a
Pagi itu datang dengan suara biasa,air mengalir di kamar mandi, langkah pelan di lantai, bunyi cangkir bertemu meja, Leonard dan Aluna bergerak seperti kemarin, dan entah bagaimana, itu terasa cukup.Leonard berangkat sedikit lebih siang, karena tidak ada alasan untuk berangkat lebih awal. Di perjalanan, lampu lalu lintas memaksanya berhenti lebih lama dari biasanya. Ia tidak mengeluh. Ia memandang keluar, melihat orang-orang menyeberang dengan langkah masing-masing. Tidak ada satu pun yang tampak salah.Di kantor, sebuah diskusi kecil berlangsung di ruang terbuka. Leonard ikut duduk, mendengar tanpa memotong. Ketika pendapatnya diminta, ia menjawab singkat, tidak menutup kemungkinan lain. Diskusi itu berakhir tanpa kesimpulan final dan tidak ada yang gelisah karenanya.“Besok kita lanjut,” kata salah satu dari mereka.Leonard mengangguk. “Baik.”Menjelang siang, Brayen mengirim pesan singkat: Makan bareng?Leonard membalas: Nant
Sore itu, langit Jakarta masih menyisakan guratan jingga saat Aluna keluar dari ruang perawatan Dafa. Ia membawa kotak makan kosong dan dua botol obat yang diberikan perawat. Hari itu cukup melelahkan, tapi hatinya tidak seburuk kemarin. Ada ketenangan tipis yang menempel di dadanya.Di luar rumah
Di sebuah kamar kecil, Aluna terbangun bukan karena alarm, bukan karena mimpi buruk melainkan karena ia merasa dalam beberapa hari, dadanya terasa lebih ringan.Bukan bahagia.Bukan juga sedih.Hanya tidak seberat kemarin.Ia duduk perlahan, menarik napas dalam-dalam. Rambutnya kusut, matanya sedik
Hujan masih turun tipis ketika malam semakin larut di Jakarta. Di kamar sempit yang lampunya redup, Aluna duduk sambil memeluk lutut di atas kasur. Ponselnya tergeletak di samping bantal layarnya gelap, seolah menegaskan betapa sunyinya dunia tanpa satu pesan pun dari Leonard. Ia menatap langit-l
Aluna berdiri di balkon kamarnya memandangi langit malam Jakarta yang dipenuhi cahaya kota. Angin berembus lembut, tetapi sesak di dadanya tak juga hilang. Sejak tadi ponselnya berkedip karena pesan dari Leonard, namun ia belum berani membukanya.Bukan karena ia ingin menjauh.Tetapi karena ia taku







