Home / Romansa / Cinta Di Balik Tanda Tangan / Rumah Tanpa Kehangatan.

Share

Rumah Tanpa Kehangatan.

Author: Pita
last update Last Updated: 2025-08-07 10:20:01

Mansion itu terlalu besar untuk dihuni dua orang.

Begitu Aluna melangkah masuk ke dalam mansion keluarga Arsenio, ia merasa seolah terjebak dalam istana es. Dinding marmer putih memantulkan cahaya dingin, dan lorong-lorong sunyi menyambutnya tanpa kehangatan.

“Ini kamar anda,” ucap pelayan wanita sambil membuka pintu kamar di sayap kanan rumah.

Aluna hanya mengangguk. Pandangannya menyapu seisi kamar luas, elegan, tapi kosong. Tak ada satu pun sentuhan yang menunjukkan ‘rumah’. Tak ada warna-warna hangat, tak ada figura keluarga. Semuanya hanya perabot mewah tanpa jiwa.

Di belakangnya, Leonard berdiri sambil menyilangkan tangan. “Atur batasmu. Jangan masuk ke area pribadiku tanpa izin.”

Aluna menoleh perlahan. “Aku tidak berniat mencampuri hidupmu.”

Mata mereka bertemu. Sekilas. Tapi cukup bagi Leonard untuk menangkap ada luka di mata wanita itu luka yang dalam, tapi tak meronta. Luka yang diam-diam sedang menyembuhkan diri.

Leonard membuang muka. “Besok pagi kita harus tampil di depan media. Persiapkan dirimu untuk berpura-pura bahagia.”

Aluna tersenyum tipis. “Aku sudah cukup mahir untuk berpura-pura.”

Kalimat itu membuat Leonard terdiam sepersekian detik. Tapi ia tak ingin terlihat goyah. Ia hanya berbalik dan pergi tanpa bicara.

---

Hari pertama sebagai istri Leonard Alvaro tidak seperti yang dibayangkan orang. Tak ada sarapan bersama, tak ada ciuman di dahi, tak ada ucapan manis. Yang ada hanya jadwal padat, sorotan kamera, dan skenario cinta palsu yang harus mereka mainkan.

Di depan media, Leonard menggenggam tangan Aluna. Mereka tampak sempurna. Pria tampan berkelas dan wanita anggun yang memesona. Kilatan kamera menangkap momen saat Leonard merangkul pinggang Aluna, membisikkan sesuatu di telinganya, yang membuat para wartawan bersorak riang.

Padahal yang dibisikkan hanya satu kalimat dingin:

“Jangan salah gerak. Aku tidak suka kegagalan.”

Aluna tersenyum manis, padahal hatinya teriris.

Ia tahu permainan ini harus dimainkan dengan sempurna. Jika tidak, ia bukan hanya akan kehilangan harga dirinya tapi juga masa depan adiknya yang sedang dirawat di rumah sakit kecil di pinggiran kota.

---

Beberapa hari berlalu.

Aluna mulai membiasakan diri dengan rutinitas di rumah Leonard. Ia tidak mengganggu Leonard. Ia menghabiskan waktu membaca, memasak sendiri makanannya karena tidak nyaman dengan makanan pelayan, dan kadang berbincang dengan pelayan tua yang ramah.

Namun, tetap saja... kesunyian itu menggigit.

Sampai suatu malam, ia mendengar suara bentakan dari ruang kerja Leonard.

“Ini bukan angka yang kusetujui! Siapa yang mengubah laporan ini?!”

Aluna yang tadinya hanya hendak mengambil teh, terdiam di depan pintu. Suara Leonard membuat jantungnya berdebar. Tapi entah mengapa, alih-alih pergi, ia justru mengetuk pintu dengan ragu.

Tok. Tok.

“Apa?!”

“Aku hanya… ingin memberikan teh.”

Pintu terbuka lebar. Leonard menatapnya tajam. “Kamu pikir aku butuh teh saat sedang marah?”

“Tidak. Tapi mungkin kamu butuh jeda untuk berpikir lebih jernih.”

Ia tahu ia sedang bermain api. Tapi entah kenapa, malam itu Aluna tak mau mundur. Mungkin karena rasa lelah, atau karena hatinya sudah terlalu sering diinjak. Tapi ia ingin Leonard tahu, ia bukan wanita lemah seperti yang dikira.

Leonard menatapnya lama. Matanya tak berkedip. Sejenak, hanya suara detik jam yang terdengar.

“Letakkan di meja.”

Aluna mengangguk dan melangkah masuk.

“Siapa kamu sebenarnya?” tanya Leonard tiba-tiba.

Pertanyaan itu membuatnya terhenti.

“Aku istrimu. Di atas kertas,” jawab Aluna.

“Tapi kamu bukan gadis biasa,” gumam Leonard sambil menatap layar laptopnya. “Kamu tidak takut padaku. Kamu tidak berusaha menjilatku. Dan kamu tidak menangis seperti wanita lain yang kukenal.”

Aluna tersenyum kecil. “Mungkin karena aku sudah menangis habis-habisan sebelum masuk ke hidupmu.”

Mata Leonard perlahan terangkat menatapnya. Ada sesuatu di sana. Bukan kebencian. Bukan kemarahan. Tapi... rasa penasaran.

---

Malam itu, untuk pertama kalinya, mereka berbincang lebih dari dua menit. Bukan tentang media. Bukan tentang kontrak. Tapi tentang hal remeh seperti kopi yang disukai dan buku yang pernah dibaca.

Dan untuk pertama kalinya, Leonard tidak terlihat seperti patung marmer yang dingin.

Ia seperti manusia. Lelaki muda yang menyimpan banyak luka. Dan Aluna, tanpa sadar, mulai melihat celah kecil di balik tembok tinggi yang dibangun Leonard selama ini.

Mungkin… pernikahan ini bukan akhir. Tapi awal dari sesuatu yang lebih rumit. Lebih dalam. Lebih menyakitkan atau mungkin, lebih indah.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Cinta Di Balik Tanda Tangan   bab 105 Air mata Aluna.

    Aluna duduk tegak, tasnya dipeluk di dadanya, Ia mengenali hampir setiap sudut gedung itu, lantai mengilap yang dulu ia lintasi dengan langkah cepat, dinding kaca yang pernah memantulkan bayangan dirinya saat masih percaya bahwa kerja keras selalu berakhir adil.Sekarang, semua terasa asing.Seorang staf HR lewat tanpa menyapa, seorang manajer lama melirik sekilas, lalu berpaling seolah Aluna hanya bayangan masa lalu yang tidak perlu disapa.Aluna menelan ludah.Tenang, batinnya,ini hanya pemeriksaan,bukan penghakiman.Namanya dipanggil.Ia berdiri, melangkah masuk ke ruang rapat kecil dengan meja panjang dan tiga kursi di seberang. Dua orang pria dan satu perempuan duduk rapi, wajah profesional tanpa ekspresi berlebih.“Silakan duduk, Aluna,” ucap salah satu dari mereka.Aluna duduk.Pertanyaan-pertanyaan datang rapi dan terstruktur. tentang dokumen,tentang keputusan administratif. tentang komunikasi lama, tentang ke

  • Cinta Di Balik Tanda Tangan   ba 104 Perpisahan mendadak.

    Pagi datang lebih cepat dari yang Leonard harapkan.Cahaya matahari menyelinap melalui sela tirai apartemen, menyentuh meja kecil dan kursi yang semalam menjadi saksi percakapan mereka.Aluna sudah bangun lebih dulu,ia berdiri di dapur kecil, menyiapkan dua cangkir kopi.Leonard keluar dari kamar, masih dengan rambut sedikit berantakan.“Kamu tidak tidur?” tanya Leonard.“Tidur, tapi kepalaku bangun lebih dulu dari badanku.”Leonard tersenyum tipis, lalu duduk.Aluna meletakkan cangkir di hadapan Leonard. “Aku dapat kabar pagi ini."“Dari siapa?”“Dari kantor.....” Aluna berhenti, lalu membenarkan ucapannya, “dari mantan kantor kamu.”Leonard mengangguk kecil. “Dan?”“Mereka mempercepat restrukturisasi,ada audit lanjutan dan beberapa nama lama dipanggil ulang.” Aluna menatap kopi di tangannya. “Termasuk namaku.”Leonard langsung menegakkan tubuhnya. “Kapan?”“Siang ini.”

  • Cinta Di Balik Tanda Tangan   bab 103 ancaman nyata.

    Leonard masih berdiri di balkon, matanya menelusuri lampu-lampu kota yang berkelip, sedangkan Aluna ia tetap di sisi Leonard.Ponsel Leonard bergetar pelan di saku jaketnya.Sekali.Berhenti.Lalu bergetar lagi.Leonard menatap layar tanpa segera mengangkatnya,nama yang muncul membuat rahangnya mengeras.Andrew.“Ada apa?” tanya Aluna, langsung menangkap perubahan di wajah Leonard.Leonard mengangkat panggilan itu. “Ya.”Suara Andrew terdengar lebih rendah dari biasanya.“Bos, Ini bukan kabar baik.”Leonard menutup mata sesaat. “Bicaralah."“Raka mulai bergerak,dia tidak datang langsung ke anda,tapi dia masuk lewat jaringan lama,mantan rekan proyek, vendor lama, bahkan beberapa orang yang dulu anda lindungi,dan dia menawarkan kesempatan kedua,dan modal besar,akses cepat, tapi dengan satu narasi, anda pemimpin hebat yang tersingkir secara tidak adil dan butuh panggung baru.”Leonard terta

  • Cinta Di Balik Tanda Tangan   bba 102 luka dalam persaingan.

    Mobil melaju pelan meninggalkan kedai, Leonard memandang jalanan di depan, tapi pikirannya jauh melampaui persimpangan yang mereka lewati.“Raka bukan tipe yang menyerang langsung,dia menunggu,mengamati,lalu menekan di titik paling lemah.”Aluna menoleh. “Dan titik lemahnya di mana?”Leonard terdiam cukup lama sebelum menjawab.“Di masa lalu yang belum sepenuhnya sembuh.”Aluna mengernyit. “Maksudmu…?”“Orang seperti dia akan menggali semua, keputusan lama, orang-orang yang pernah aku singkirkan, luka yang belum selesai,dia tidak perlu menjatuhkanku secara terbuka,cukup membuatku meragukan diriku sendiri.”Mobil berhenti di lampu merah. Leonard menghela napas panjang.“Persaingan yang paling menyakitkan bukan soal siapa lebih kuat, tapi siapa yang lebih paham luka lawannya.”Aluna menyentuh lengan Leonard. “Dan lukamu bukan rahasia bagiku.”Leonard menoleh, menatap Aluna sejenak.“Itu yang membuatku takut

  • Cinta Di Balik Tanda Tangan   bab 101 musuh baru.

    Pintu kedai terbuka ,seorang pria masuk, mengenakan setelan rapi yang terasa terlalu formal untuk tempat sekecil itu, langkahnya tenang, matanya tajam.Leonard menegakkan punggungnya sedikit,ada sesuatu yang familiar dari aura itu.Pria itu memesan kopi, lalu tanpa bertanya duduk di kursi kosong tak jauh dari mereka.“Leonard." ucapnya pria itu santai,seolah menyebut nama yang sudah lama dikenalnya.Aluna refleks menggenggam tangan Leonard. Leonard menoleh dan menatap pria itu lurus. “Saya rasa kita belum berkenalan.”Pria itu tersenyum tipis. “Memang belum,tapi saya cukup lama mengikuti langkah Anda.”pria itu mengulurkan tangan. “Raka Pradipta.”Nama itu membuat alis Leonard bergerak, Raka Pradipta investor bayangan, konsultan krisis, orang yang muncul di balik banyak restrukturisasi perusahaan besar dan tidak pernah muncul di depan kamera.“Tenang,” lanjut Raka, seolah membaca kewaspadaan mereka. “Saya tidak datang seb

  • Cinta Di Balik Tanda Tangan   bab 100 awal baru.

    Pagi harinya...Cahaya matahari masuk pelan melalui sela tirai. Leonard membuka mata dengan perasaan asing.Di sampingnya, Aluna masih terlelap,napasnya teratur, wajahnya damai.Leonard bangkit perlahan, tidak ingin membangunkan Aluna, Ia berdiri di dekat jendela, menatap kota.Aluna bergerak kecil, lalu membuka mata.“Kamu sudah bangun?” suaranya masih serak.Leonard menoleh dan tersenyum. “Iya.”“Kamu lagi mikirin apa?” tanya Aluna sambil duduk.Leonard berpikir sejenak sebelum menjawab. “Ke masa depan, dan kali ini aku merasa tidak panik.”Aluna tersenyum kecil. “Itu terdengar seperti awal baru.”Leonard mendekat, duduk di tepi ranjang. “Aku tidak tahu harus mulai dari mana, aku tidak punya jabatan, tidak punya panggung, dan mungkin untuk sementara tidak punya arah.”Aluna mengulurkan tangan, menggenggam tangan Leonard. “Awal tidak selalu butuh peta,kadang cukup langkah pertama.”“Da

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status