Home / Romansa / Cinta Di Balik Tanda Tangan / bab 38 Percikan Pertama.

Share

bab 38 Percikan Pertama.

Author: Pita
last update Huling Na-update: 2025-10-29 10:19:09

Pagi itu, suasana rumah terasa berbeda. Entah karena malam di balkon itu masih meninggalkan jejak hangat yang tidak kentara, atau karena Aluna bangun dengan hati yang sedikit lebih tenang dari biasanya.

Saat ini Aluna sedang berdiri di dapur ia membuat secangkir kopi hitam tanpa gula, seperti yang biasa diminum Leonard. Ini bukan pertama kalinya ia melakukannya, tapi entah kenapa pagi ini tangannya tidak segetar biasanya.

Aluna menoleh saat ia mendengar Langkah kaki berat yang terdengar dari arah tangga.

Leonard muncul, masih dengan kemeja rumah yang berwarna gelap, rambutnya sedikit acak-acakan. Biasanya, wajah dinginnya langsung aktif sejak ia menginjak lantai bawah. Tapi pagi ini… ada jeda. Seolah pikirannya masih tertinggal di balkon semalam. Leonard tak jauh berbeda dari Aluna, entah perasaan apa yang sedang menjalar ke hati mereka.mereka sendiri belum tau akan hal tersebut.

“Pagi,” ucap Aluna hati-hati karena ia ragu apa ia akan dibalas atau tidak.

Leonard menoleh sebentar. Tata
Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App
Locked Chapter

Pinakabagong kabanata

  • Cinta Di Balik Tanda Tangan   bab 108 luka dan kebencian.

    Leonard terbangun sebelum alarm berbunyi, tubuhnya terasa ringan namun pikirannya waspada,Ia berdiri di depan cermin kamar mandi, menatap bayangannya.“Tenang,” ucapnya pada bayangan itu. “Ini bukan soal menang.”Sementara itu, di sisi kota yang lain, Aluna duduk di tepi ranjang dengan ponsel di tangannya,berita pagi menyala di televisi kecil di sudut kamar judul- judul cepat, suara presenter yang netral namun dingin.Ia tidak benar-benar mendengarkan, tapi dadanya menegang setiap kali nama Leonard hampir disebut, meski tidak pernah benar-benar muncul.Aluna menutup televisi,Ia berdiri, menyeduh teh hangat, lalu duduk kembali,tangannya gemetar sedikit saat mengangkat cangkir.Bukan karena takut pada apa yang akan terjadi, tapi karena ia tahu kadang luka tidak datang dari pukulan, melainkan dari kata-kata yang disusun rapi.“Kalau kamu terluka hari ini,” bisiknya lirih, “jangan biarkan kebencian yang menyembuhkannya.”Di

  • Cinta Di Balik Tanda Tangan   bab 107 musuh leonard muncul.

    Ponsel Leonard masih berada di genggamannya saat notifikasi lain masuk.Bukan dari Aluna,tapi dari nomor yang tidak tersimpan.Leonard menatap layar beberapa detik sebelum membuka pesan itu.>Kau berubah, Leonard,dan perubahan itu menarik perhatian orang-orang yang dulu menunggumu jatuh,kita perlu bicara.>Raka.Leonard meletakkan ponsel perlahan di atas meja. “Jadi akhirnya kau muncul,” ucapnya lirih.Leonard membuka buku catatannya lagi dan menambahkan satu baris tanpa ragu.Musuh sejati tidak menyerang dari depan, tapi dari tempat yang membuat kita ingin melangkah sendiri.Leonard menyadari sesuatu yang lebih mengganggu daripada pesan itu sendiri,Raka tidak menargetkan Aluna secara langsung,dan itu artinya, Aluna bukan senjata,tapi Ia adalah umpan yang sengaja tidak disentuh.Leonard menutup buku itu dengan rahang mengeras.“Kalau kau pikir aku akan berlari ke arahmu karena egoku,kau salah membaca ver

  • Cinta Di Balik Tanda Tangan   bab 106 ketakutan kehilangan.

    Langkah Aluna terasa lebih berat dari biasanya, meski punggungnya tetap tegak,setiap langkah menjauh dari gedung itu seperti menarik benang tipis di dadanya,tidak sampai putus, tapi cukup untuk mengingatkan bahwa ia sedang berjalan sendirian di medan yang tidak ia pilih.Ia naik ke dalam mobil sewaan, menutup pintu perlahan,mesin belum dinyalakan,dan tangannya masih menggenggam setir, jari-jarinya sedikit bergetar.“Ini cuma sementara,” ucap Aluna pelan, seolah meyakinkan dirinya sendiri,Ia menyalakan mesin dan melaju, meninggalkan gedung itu tanpa menoleh kembali.Di apartemen, Leonard masih berdiri bersandar di dinding,waktu berjalan, tapi tubuhnya seakan tertinggal di momen ketika pesan itu masuk.Ketakutan itu akhirnya muncul dengan jujur bukan takut kalah, bukan takut kehilangan nama, tapi takut kehilangan seseorang tanpa sempat melindunginya.Leonard duduk di lantai, punggungnya menyandar pada sofa,tangannya meremas ponselnya.

  • Cinta Di Balik Tanda Tangan   bab 105 Air mata Aluna.

    Aluna duduk tegak, tasnya dipeluk di dadanya, Ia mengenali hampir setiap sudut gedung itu, lantai mengilap yang dulu ia lintasi dengan langkah cepat, dinding kaca yang pernah memantulkan bayangan dirinya saat masih percaya bahwa kerja keras selalu berakhir adil.Sekarang, semua terasa asing.Seorang staf HR lewat tanpa menyapa, seorang manajer lama melirik sekilas, lalu berpaling seolah Aluna hanya bayangan masa lalu yang tidak perlu disapa.Aluna menelan ludah.Tenang, batinnya,ini hanya pemeriksaan,bukan penghakiman.Namanya dipanggil.Ia berdiri, melangkah masuk ke ruang rapat kecil dengan meja panjang dan tiga kursi di seberang. Dua orang pria dan satu perempuan duduk rapi, wajah profesional tanpa ekspresi berlebih.“Silakan duduk, Aluna,” ucap salah satu dari mereka.Aluna duduk.Pertanyaan-pertanyaan datang rapi dan terstruktur. tentang dokumen,tentang keputusan administratif. tentang komunikasi lama, tentang ke

  • Cinta Di Balik Tanda Tangan   ba 104 Perpisahan mendadak.

    Pagi datang lebih cepat dari yang Leonard harapkan.Cahaya matahari menyelinap melalui sela tirai apartemen, menyentuh meja kecil dan kursi yang semalam menjadi saksi percakapan mereka.Aluna sudah bangun lebih dulu,ia berdiri di dapur kecil, menyiapkan dua cangkir kopi.Leonard keluar dari kamar, masih dengan rambut sedikit berantakan.“Kamu tidak tidur?” tanya Leonard.“Tidur, tapi kepalaku bangun lebih dulu dari badanku.”Leonard tersenyum tipis, lalu duduk.Aluna meletakkan cangkir di hadapan Leonard. “Aku dapat kabar pagi ini."“Dari siapa?”“Dari kantor.....” Aluna berhenti, lalu membenarkan ucapannya, “dari mantan kantor kamu.”Leonard mengangguk kecil. “Dan?”“Mereka mempercepat restrukturisasi,ada audit lanjutan dan beberapa nama lama dipanggil ulang.” Aluna menatap kopi di tangannya. “Termasuk namaku.”Leonard langsung menegakkan tubuhnya. “Kapan?”“Siang ini.”

  • Cinta Di Balik Tanda Tangan   bab 103 ancaman nyata.

    Leonard masih berdiri di balkon, matanya menelusuri lampu-lampu kota yang berkelip, sedangkan Aluna ia tetap di sisi Leonard.Ponsel Leonard bergetar pelan di saku jaketnya.Sekali.Berhenti.Lalu bergetar lagi.Leonard menatap layar tanpa segera mengangkatnya,nama yang muncul membuat rahangnya mengeras.Andrew.“Ada apa?” tanya Aluna, langsung menangkap perubahan di wajah Leonard.Leonard mengangkat panggilan itu. “Ya.”Suara Andrew terdengar lebih rendah dari biasanya.“Bos, Ini bukan kabar baik.”Leonard menutup mata sesaat. “Bicaralah."“Raka mulai bergerak,dia tidak datang langsung ke anda,tapi dia masuk lewat jaringan lama,mantan rekan proyek, vendor lama, bahkan beberapa orang yang dulu anda lindungi,dan dia menawarkan kesempatan kedua,dan modal besar,akses cepat, tapi dengan satu narasi, anda pemimpin hebat yang tersingkir secara tidak adil dan butuh panggung baru.”Leonard terta

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status