Share

Ditikam Rindu

Risa akhirnya bertemu dengan calon pembeli. Pria berambut putih di hadapannya telah menyetujui tawaran. Sebuah tanda tangan dicoretkan pada materai surat jual-beli. Cek bernominal ratusan juta juga disodorkan. Sontak tangan riang wanita berambut hitam pun meraih lalu menjabat pemilik baru dari hunian Aris.

"Berarti sudah deal?" tanya pria berjas silver. Ia memastikan tidak ada kekurangan sebelum meninggalkan tempat. 

"Tentu, Pak. Rumah itu milik Anda sekarang, tapi tolong berikan kami sedikit waktu untuk mengemasi barang."

"Tentu saja. Tidak perlu buru-buru, silakan pindah kapan pun." Ramah ia menjawab.

Senyum mengakhiri pertemuan singkat di salah satu restoran ternama yang menyajikan masakan khas negeri tirai bambu. Pria itu mengambil tas yang diletakkan pada kursi lalu beranjak, diikuti sekertaris yang sedari tadi sibuk membaca jadwal atasannya. 

Usai menunggu rekan bisnis tersebut pergi, Risa melirik sekeliling, melambai pada wanita dengan rambut yang dicepol ke belakang. Seorang pramusaji lantas mendekat untuk mencatat pesanan yang terucap. Tidak sampai lima belas menit, menu telah dibungkus dalam kardus cantik.

Risa pun membayar makanan tersebut dan bergegas melanjutkan perjalanan, rumah rentenir sekaligus pelapor Aris dikunjungi. Awalnya, si tuan rumah merasa risih, dengan malas meminta tamu untuk duduk. Tidak ada basa-basi atau tawaran minum di pertengahan hari yang panas. Justru langsung meminta Risa menuju poin percakapan. 

Mungkin pria bercincin emas berpikir jika hanya akan mendapat permohonan untuk belas kasih saja, tapi sikap dingin itu berubah di saat Risa megajak pergi. Siang itu, mereka menghampiri bank terdekat secepat mungkin dan mencairkan hasil penjualan rumah. 

Sepuluh gepok uang merah diberikan. Alhasil, senyum licik tersungging. "Ini baru hutangnya, belum bunga dua bulan terakhir."

"Tapi aku sudah menghitung dan memang jumlah ini sudah pas," bela Risa. Tidak mau mendapat tipuan, ia lantas mengeluarkan buku catatan. Dibaliknya halaman dengan kasar. "Tolong lihat ini."

Terkejut. Itulah yang dirasakan orang di samping Risa. Ketelitian wanita yang satu ini memang patut diacungi jempol, jika tidak ada benda tersebut, pasti berdebatan muncul dan tidak akan ada pilihan selain mengalah dan memberi uang tambahan. 

Setelah trik kadaluwarsa, destinasi yang disinggahi adalah kantor kepolisian. Pada hari itu juga, tuntutan penipuan dicabut karena hutang telah terlunasi. Pria berbaju garis hitam putih pun dibebaskan, dipersilakan untuk menjalani kehidupan di luar lapas. Dengan rasa lega yang tidak terdefinisi, Aris menapak, kadar kepercayaan diri kembali terisi penuh. Jadi, langsung saja ia mengganti baju yang dibawa Risa dan menghampiri adik yang menanti. 

"Kakak?" Wanita itu tersenyum. Pelukan hangat diberikan.

"Risa, terima kasih banyak. Aku sama sekali tak mengira jika bisa bebas secepat ini."

"Alhamdulillah, Kak." Tersenyum sambil menatap wajah semringah di depan. "Tapi maaf, Kak, mungkin harga yang diambil tidak sesuai harapan Kakak."

"Ah, itu tidak penting."

"Coba lihat, sepertinya kita harus ke barbershop dahulu." Ditariknya rambut lebat Aris yang telah panjang. 

"Tidak perlu. Ayo, langsung pulang saja. Aku kangen Vika."

"Justru karena itu Kakak harus terlihat rapi. Sudah, ayo!" Keras kepala memang menjadi sifat wanita tersebut. Namun, selama tidak menuju hal negatif, sang kakak akan mengikuti tanpa merasa terganggu. 

Saudara sedarah itu mengungkapkan kegelisahan masing-masing, waktu yang terlewati tidak lah singkat, banyak hal telah berubah. Akan tetapi, pria berkemeja biru tidak risau, ia yakin jika dapat melewati sisa cobaan hingga lepas dari jerat kesedihan.

Aris dan Risa sampai di tempat cukur rambut. Mereka berjalan beriringan sambil bergandengan. Tatapan pengunjung lain langsung menyambut. Andaipun dikata pasangan, tidak akan orang yang ragu pada keharmonisan keduanya. Sejenak mereka duduk hingga giliran tiba. Dengan cepat, Risa memilah foto model dan memilih gaya yang dirasa tepat. Tukang cukur pun dengan siaga mengambil peralatan. 

Kain merah dipasang sebagai penutup baju, spray berisi air disemprotkan, dan gunting mulai memangkas rambut. Waswas Aris memandang pantulan diri di cermin setinggi Amora. Bagaimana jika hasilnya jelek? Bagaimana jika tampangnya semakin aneh? Pertanyaan demi pertanyaan silih berganti datang. 

Butuh waktu lima belas menit hingga semuanya selesai. Aris kembali berkaca sambil memiringkan kepala ke sisi kanan dan kiri, memastikan jika gaya rambut 121 cocok pada pria yang pernah menikah. 

"Bagaimana, Mas?" tanya tukang cukur.

"Apa perlu dirapikan lagi?"

"Ah, tidak perlu."

Mendengar jawaban sang kakak, Risa lantas mengeluarkan alat pembayaran dan memboyong Aris keluar. Seperti biasa, godaan diberikan. 

“Ganteng banget sih, Kak.”

“Diam kamu!” Ayah Vika malu dengan wajah memerah. 

“Perlu ditutup nih, kalau ada cewek kecantol sama ketampanan Kakak, gimana?”

Aris tertawa mendengar kalimat konyol dari sang adik. Harusnya ia yang berkata demikian, mengingat tante Vika belum sekali pun membawa seorang pria datang ke rumah orang tuanya.

Perjalanan melelahkan berlanjut. Akhirnya, taksi yang tumpangi memasuki gang rumah dan berhenti di halaman. Sejenak Aris memandang rumah yang bukan lagi miliknya, tapi itu bukanlah hal terpenting. Di dalam sana, ada seorang anak yang menanti. Ia pun membuka pintu mobil dan menapak pada pekarangan yang dipenuhi rumput jepang. Ingin sekali berlari menemui sang anak. Namun, Risa menarik lengannya. 

"Tunggu, bagaimana jika kita beri dia kejutan?"

"Bagaimana?" tanya pria beranak dua. 

Mereka lantas berbisik dengan kepala agak menunduk. Senyum jahat ala orang yang akan melakukan prank muncul.

***

Rencana mulai dijalankan, Risa mengetuk pintu dan meriakkan nama keponakan. Tidak lama, Vika menyahut dan keluar. Gadis itu tersenyum lalu menanyakan bagaimana hari dilalui. Dengan gembira, Risa menceritakan tentang kesepakatan yang diraih, tapi belum menyinggung soal Aris. 

"Vivi, duduk sini dulu, yuk," ajak Risa. 

Sang keponakan lantas mengiyakan, walau sebenarnya hampir tidak pernah diajak duduk di teras, biasanya hanya sekadar berbincang di ruang tamu atau ruangan lain. Vika diam, menyimak cerita yang sudah sepuluh menit tidak kunjung habis. 

"Jadi begitu, ya, Tante?"

"Iya." Masih berusaha bersikap setenang mungkin. "Makan, yuk."

"Nggak ada lauk, Tante." Muram wajahnya memberi jawaban.

"Kata siapa? Coba cek sana!"

Vika melangkah secepat mungkin menuju dapur. Biarpun belum sepenuhnya sadar, ia sudah menduga akan ada kejutan. Ayam bakar dari warung favorit mungkin atau yang lain. Namun, nyatanya kejutan lebih besar menanti di meja makan. 

Sosok paling dirindukan telah duduk dengan membawa senyum. Vika mematung beberapa detik ketika netra membulat sempurna. Suka dan haru teraduk menjadi satu. Gadis beralis tebal itu langsung berlari. Layaknya anak kecil, ia memeluk erat sang ayah lalu menangis. Aris pun mencium pundak putri yang tidak ditemui dalam waktu lama. 

"Ayah sudah boleh pulang, ya, kenapa tidak memberi tahuku? Aku bisa menjemput Ayah." Seperti anak kecil, ia duduk dipangkuan Aris. 

"Aku juga terkejut saat dibebaskan. Semuanya berkat tantemu, dia bahkan membelikanmu ini." Dibukanya tudung saji. "Lihat ini, kamu pasti lapar bukan. Ayo, kita makan."

"Ayo," jawab sang gadis. Ia masih di posisi sama di kala menyantap hidangan. 

Dengan sabar Aris menyuapi anaknya. Kebersamaan itu amat berarti, baik bagi Vika, Aris, mau pun Risa yang mengamati dari luar ruangan. Sayangnya, suasana hangat seperti itu tidak berlaku di rumah bertingkat yang ditinggali Amora. Anak bungsu tersebut hanya mendapat gelimang harta tanpa pernah merasakan cinta yang sesungguhnya dari keluarga.

Bab terkait

Bab terbaru

DMCA.com Protection Status