LOGIN"N-A-T-H-A-L-I-E," Freya balas melafal hanya dengan memonyong-monyongkan mulutnya, tanpa suara juga. Lucas langsung menggeleng defensif. Ia mengibas-ibaskan tangannya tanda enggan menerima panggilan. "Mas Lucas kayaknya lama deh Kak ke kamar mandinya," ujar Freya berdusta, padahal Lucas ada di depannya, "tunggu sebentar lagi ya," katanya memberi opsi pada Nathalie yang sebenarnya ingin membuat gadis Wijaya itu mengakhiri obrolan karena yang dicarinya enggan mengobrol. 'Aku ganggu ya?' tanya Nathalie sungkan. Freya tak langsung menjawab. Ditatapnya Lucas yang hanya menaik-turunkan alisnya dan dengan mesranya mencium kening Freya sambil lalu. "Bilang aja suruh ketemu Nenek dulu. Biar Nenek yang ngurusin," pinta Lucas lirih. 'Pesen aja deh Frey sama Mas Lucas. Kalo jadwalnya udah rada kosong dan kalian udah balik dari liburan, kita ketemuan ya,' pesan Nathalie bijak setelah tak me
Freya tercekat. Dipeluknya lebih erat lengan Lucas. Ia tahu tidak mudah berada dalam posisi Lucas yang demikian. Lelaki tampan ini harus tampil kuat setiap saat karena tuntutan jabatan dan pekerjaan. "Boleh kalo kita yang lanjutin cita-cita itu suatu saat?" tanya Freya dengan senyum termanisnya. Lucas menoleh takjub, "Emang nggak pa-pa kamu tinggal di sini?" tanyanya. "Ya nggak pa-pa, emang kenapa? Di sini suasananya mirip sama Pangandaran, bahkan lebih tenang. Justru harusnya aku yang tanya, kamu nggak pa-pa kalo aku minta sama kamu buat temenin aku di sini sampe kita berdua dipisah maut?" tanya Freya balik. Lucas langsung memberikan gelengan sebagai tanda bahwa ia tidak keberatan. Hatinya menghangat, ia tidak salah memilih Freya sebagai istri dan ibu untuk anak-anaknya kelak. "Ah, kangen Mama jadi melow gini," desah Lucas mengembus napas kasarnya. "Kenapa? Malu ya sama aku ketauan melow
Pemandangan matahari tenggelam menyambut kedua sejoli dimabuk cinta ini. Lucas beruntung bisa menyajikan keindahan alam nan menakjubkan di depannya pada gadis tercintanya yang tak henti berdecak kagum. "Kita mau ke pulau yang mana sih Mas? Yang itu? Atau yang kayak komodo itu? Eh, apa sebelahnya?" tunjuk Freya pada gugusan-gugusan pulau yang mulai nampak dari kejauhan. "Kenapa? Udah nggak sabar ya? Kita nggak langsung transit ke Pulau Komodo Frey. Di sana susah dapet reservasi resort yang fasilitasnya sesuai standarku. Jadi nanti kita ke pulau lain," jelas Lucas yang justru makin membuat Freya penasaran. "Tapi masih bisa ke Pulau Komodo kan?" tanya Freya tak rela kecewa. "Masih lah. Kita jelajah Pulau Komodo besok pagi. Jangan panik, mari piknik," ucap Lucas dengan jargon baru yang sedang kekinian. Freya berjenggit geli, "Indah banget sunsetnya," gumamnya takjub. "Iya," balas Lucas, ia me
Penerbangan yang ditempuh cukup lama itu membawa Lucas tertidur di kursinya. Ia sengaja tidak menyusul Freya ke ranjang kecil di belakang kursinya agar tak mengganggu istirahat gadisnya. Saat mendarat di Labuan Bajo, hari sudah mulai sore. Freya benar-benar menikmati istirahatnya di pesawat. Ia sampai linglung ada di mana dirinya sekarang. "Sampe ya?" tanya Freya setelah nyawanya terkumpul sempurna. "Nikmat banget tidurnya sampe kubopong buat duduk di kursi penumpang aja kamu nggak bangun," tegur Lucas dengan senyumnya. "Saking nyamannya," balas Freya. "Makasih ya Mas," katanya terharu. "Makasih buat apa?" "Kamu bikin aku senyaman mungkin. Kamu turutin maunya aku dateng ke sini. Ini di...," Freya melihat ke luar jendela pesawat, "serius di Labuan Bajo?" tanyanya dengan mata yang membulat sempurna. "Dari sini kita musti naik speedboat dulu biar bisa sampe di pulau pribadi," kata Lucas.
"Aku perlu pamit ke Ayah sama Mamah nggak Mas?" tanya Freya setelah mereka tiba di penginapan dan memberesi barang bawaan. "Nggak usah. Semalem aku udah pamitin kamu," gumam Lucas tanpa mengalihkan pandangan dari ponselnya. "Kamu ketemu Ayah lagi semalem?" tanya Freya kaget. Lucas mendongak, "Iya. Kamu nggak perlu kepikiran lagi soal mereka," ucapnya lantas berdiri dan menenteng satu tas kecil tempat ia menyimpan gadget dan peralatan elektroniknya. "Ayo, jalan!" ajaknya. Freya sudah tidak membantah lagi. Ia mengambil tasnya sementara kopernya dibawakan oleh Lucas. Bimo sudah menunggu di Nusawiru, ia ikut bertolak ke Pulau Komodo secara terpaksa karena Lucas yang seenak jidatnya merubah koordinat tujuan pergi di saat-saat terakhir. "Kok beda?" tanya Freya melongo melihat kondisi isi jet pribadi milik Lucas. Pasalnya, isi dalam pesawat sudah disulap lebih mirip kamar pribadi ketimbang al
"Hari ini aku udah mandi dua kali, jadi aku ogah basah air laut lagi," gumam Freya seraya menyandarkan kepalanya di pundak Lucas. Keduanya duduk di pasir pantai yang cukup kering. Mereka asik memandangi debur ombak yang dibawa menepi oleh angin dari lautan. Beberapa monyet ekor panjang nampak bergelantungan di cabang pohon. Ada pula seekor induk yang tengah menggendong anaknya protektif. "Ya udah nikmatin suasananya aja. Sebagai hadiah buat diri sendiri karena udah rela jalan kaki cukup jauh lewat Cagar Alam biar bisa sampe sini," kata Lucas sambil mengacak rambut Freya. "Sebenernya bisa sih Mas naik kapal kecil dari Pantai Barat sana," Freya menunjuk pantai yang terlihat di seberang, "tapi aku mau kamu nikmatin suasana alam yang nggak bakalan bisa kamu nikmatin di Jakarta nanti. Syukur-syukur bisa sesekali ke Ragunan, meski aku tahu susah biar kamu bisa ajak aku ke sana sekadar buat refreshing," ucap Freya. Lucas manggu
Freya yang semula menatap langit-langit menoleh Lucas. Ada nyeri di hatinya saat mulut Lucas menyebut kata seseorang. Adakah Lucas memiliki orang spesial di hatinya? Kenapa Freya merasa tak rela saat mendengar Lucas membicarakan orang lain?"Makanya, mau ya diobatin," bujuk Freya berusaha menyembun
Gerimis turun lagi, hanya bunyi wiper yang memecah sunyi. Freya memilih untuk menikmati pemandangan di luar mobil, jalanan cukup lengang karena turunnya hujan. "Belokan ke asrama masih satu perempatan lagi, Pak," ujar Freya merasa sopirnya salah arah. "Kita ke warnet dulu. Saya pengin ngecek cctv
"Iyaaa!" jerit Dena gemas, "Gantengnya bikin jantung gue terjun bebas ke perut!" katanya tak berhenti tertawa. Di lain sisi, Lucas yang sudah terbiasa menjadi pusat perhatian nampak lebih sibuk memainkan ponselnya dengan tenang. Ia mengabaikan beberapa gadis di sampingnya yang sengaja mengajak bic
Perkuliahan semester baru dimulai. Setelah merenungi hidupnya seharian penuh kemarin, Freya kembali dengan semangat baru. Rega bukanlah apa-apa dan ia tidak boleh terpengaruh karenanya. Meski pada akhirnya ia pasti akan bertemu dengan Keisya nantinya, Freya merasa bahwa Keisya yang seharusnya malu,







