LOGINBukan karena radar Lucas sedang tidak aktif dan tak menyadari bahaya yang dihadapi gadisnya, tapi ia tengah terjebak dalam situasi yang sangat tidak enak. Wajah Lucas terlihat sangat tidak senang, dengan tuxedo hitam menawannya, ia duduk diam tanpa suara di kursinya. Di seberangnya ada Tuan Burhan Bhaskara dan Nyonya Sarah Bhaskara, kakek dan neneknya. Di sebelah kirinya, pasangan Tuan dan Nyonya pemilik Wijaya Group Ardian Wijaya dan Ranti Wijaya. Sementara di sebelah kanan Lucas, duduk dengan sangat anggun dan cantik, Nathalie Wijaya, putri tunggal dan pewaris satu-satunya Wijaya Group. Bisa terbayang situasi klise macam apa yang tengah dihadapi Lucas saat ini. Karena para konglomerat ini sibuk bekerja di siang hari, mereka sengaja menyewa sebuah privat klub hanya untuk bisa makan bersama di waktu yang sangat larut. Lucas tak pernah bisa menolak kemauan kakeknya, apalagi jika sudah menyangkut tentang perusahaan. Ia berhutang hidup pada kakek-neneknya itu karena telah membesarkannya
Freya masih mendekap erat lututnya di sudut kamar, air matanya terus mengalir, tak bisa ditahan. Ia ketakutan, terpinggirkan, merasa tak memilki siapa pun dan itu terasa menyiksa batin dan jiwanya. Ia membutuhkan Lucas ada di sisinya, memeluknya, menenangkannya. Namun semua itu seperti hanya mimpi semata karena sampai polisi datang, Lucas masih belum membaca pesan dari Freya. Setelah memastikan bahwa yang datang dan mengetuk pintu rumahnya dengan lembut adalah rombongan polisi, Freya baru berani beranjak. Berjalannya tertatih, gontai. Kedua kakinya lunglai, seperti tak bertulang. Beruntung, dalam tim tanggap cepat yang dikirim, seorang polwan ikut serta. Freya langsung berlari menubruknya, menangis sesenggukan sambil memeluk. "Ada bekas jejak sepatu!" tunjuk Briptu Reza menunjuk lantai teras.Semua orang mengikuti arah tunjukan Briptu Reza dan mengangguk membenarkan. "Di pintu juga ada bekas dibuka paksa. Semacam dicongkel Ndan!" lapor Bripda Eka pada seniornya, Iptu Karin yang ten
Seusai memberi obat pada Dena, Freya memutuskan untuk kembali ke rumahnya. Pikirannya kacau, raganya remuk redam. Ia langsung merebahkan dirinya di ranjang, terlelap hingga malam menjelang. Apalagi, ia harus menahan diri untuk menghindari pernyataan perasaan Arya padanya di rumah sakit tadi, Freya kehabisan energi. Ya, Arya mengungkap perasaan, merasa Freya pun memiliki cinta yang sama. Saat bangun, malam sudah larut. Freya sengaja tetap berbaring di tempat tidur, mengulang kejadian di rumah sakit tadi. Dalam hati, Freya tak lagi memiliki perasaan pada Arya. Wajah Lucas sudah mengambil alih pandangannya, hatinya tertuju pada lelaki itu, tak mau berubah haluan. "Gue ketiduran sampe segini malemnya sampe lupa kalo mau ke rumah Kulkas," lirih Freya mengambil ponselnya dan menekan nama Paus Beluga untuk menghubunginya. Sekali dua kali, Lucas masih tidak mengangkat teleponnya. Pesan yang Freya kirim pun tak dibaca meski sudah tertulis 'send' pada laporannya. Pikiran Freya pun menjadi ma
Demi membantu Dena memenuhi tuntutan biaya operasi sang mama, terpaksa, Freya menggunakan kartu ATM yang pernah dipinjami Arya saat mereka bertemu di kampus tempo hari. Nanti jika sudah gajian, ia akan menggantinya. Toh, Arya juga tidak akan tahu uang itu ia gunakan untuk apa. Namun, sepertinya Freya sedang kurang beruntung. Ia tidak bisa melakukan transaksi tunai. Mau tidak mau, Freya harus kembali ke IGD dan mengajak Dena membayar langsung secara transfer. Freya lupa bahwa segala macam transaksi yang ia lakukan menggunakan ATM Arya pasti akan secara otomatis memberi laporannya via sms dan email ke pemiliknya. Hal itu sama sekali tidak terpikirkan oleh Freya yang diburu waktu dan ikut khawatir dengan kondisi ibunda Dena. Dan benar saja, Arya yang mendapat pemberitahuan adanya transaksi dana di rekeningnya segera menelepon Freya. "Iya A," sapa Freya ragu, ia yakin Arya sudah menerima laporan berkurangnya saldo ATM-nya. 'Ada tagihan masuk dari Queen Elizabeth, kamu di mana sekarang?
"Makan nggak?" tawar Freya. Lucas menggeleng cepat, "Masih kenyang.""Emang kenyang makan apaan?" omel Freya sudah berani menegur. "Makan itu," kekeh Lucas menunjuk bibir tipis Freya. "Serius ya Mas!""Sayang, panggil yang mesra, nanti aku makan," goda Lucas. "In your dream!"Dan keduanya tertawa bersama. Lucas mengacak rambut Freya begitu sayang, kedekatan mereka tersulam dengan baik, diiringi dengan cinta yang tumbuh perlahan, semakin kuat waktu demi waktu. "Istirahat ya," pinta Freya. "Stay with me Frey," pinta Lucas balik, "udah malem, aku nggak bisa nganter," lanjutnya. "Aku bisa naik ojol, Mas," kata Freya. "Please!" Freya tersenyum dan akhirnya mengangguk. Diikutinya Lucas yang beranjak dan kembali berbaring di ranjang. Dengan telaten, Freya menyiapkan obat yang harus diminum Lucas tengah malam nanti untuk asam lambungnya. "Frey," Lucas menahan pergelangan tangan Freya saat gadisnya menarik selimut, "aku harus mastiin kamu nggak pulang dan tetep di sini," katanya sera
Freya menatap Lucas yang mematung di tempatnya dengan pandangan bingung. Wajahnya pias, merasa terlukai bahkan hanya dengan sikap penolakan Lucas yang spontan itu. "Ini nggak kayak yang ada di dalam pikiran lo!" ucap Lucas setelah beberapa saat terdiam. "Gue menjaga diri biar nggak nyakitin lo, Frey. Gue takut kebablasan. Lagipula, lo bisa aja ketularan sakit gue," jelasnya berusaha menjawab sorot terhina di wajah Freya. "Asam lambung nular?" lirih Freya setengah tertawa.Lucas sadar, Freya pasti marah karena perlakuannya. Ia yang membawa Freya masuk terlalu jauh dan ia juga yang menahannya. Bukan karena apa-apa, Lucas takut ia tidak bisa menahan diri dan justru melukai Freya. Bukankah niatnya adalah selalu menjaga dan melindungi Freya, bukan merusaknya?"Gue takut nggak bisa ngendaliin diri dan bikin lo nyesel," ucap Lucas kembali meraih pinggang Freya dan menariknya ke pelukan, "bukan karena gue jijik atau apalah itu."Freya meronta, "Lo nggak perlu ngejelasin apa-apa ke gue. Waja







