Share

bab 63

Author: Maey Angel
last update publish date: 2026-04-11 02:42:03

Mobil Glen tampak kembali. Lelaki itu terlihat masih memakai baju kedokterannya. Dia masuk dengan terburu buru, lalu masuk ke dalam kamarnya. Sisi pun turun dan melihat apa yang dilakukan Glen, tapi lelaki itu tak meninggalkan jejak apapun selain sikapnya yang dingin dan aneh.

Sisi menuju ke dapur. Dia membuka kulkas dan melihat banyak makanan cepat saja di sana. Dia pun berinisiatif memanaskannya dan membuat nasi goreng dengan bahan yang ada. Baginya, roti tak akan mengenyangka
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Cinta Panas Sang Penyamar    bab 64

    Glen mengamati apa yang Sisi lakukan di kediamannya. Dia yang tentunya mendapatkan perintah agar menahan Sisi tetap di sana pun merasa tidak bisa menahan diri lama lama. Sudah dia coba pancing agar Sisi melupakan keinginan pulang, tapi ternyata Sisi masih ingin menjadi orang yang dulu. “Sedang apa?” Sisi mendekat padanya, memberikan secangkir kopi.“Thanks,” jawabnya.“Kamu ini kerjanya apa sih? Serius banget.”“Pengangguran.”Sisi mendorong Glen, bahkan Glen hanya tersenyum dengan kelakuan Sisi. Berdua bersama di tempat yang tenang kadang membuat Glen harus sekuat tenaga tidak jatuh cinta. Sisi sangat lucu, bahkan selalu santai dalam segala hal. Namun, kenapa harus ada seseorang yang ingin membuatnya pulang.“Itu …. DDoS?” Sisi mulai menyadari apa yang sedang Glen lakukan. “Kamu menjalankan bisnis saham pasar gelap?”“Apa saja, asal bisa punya uang.”“Kamu masih bekerja

  • Cinta Panas Sang Penyamar    bab 65

    **Hari berlalu begitu cepat. Bahkan Sisi merasa kehidupan Glen sangat menantang.  Beberapa bulan berselang, semuanya berjalan dengan sangat menantang. Hebatnya, lelaki itu benar benar tak pernah melibatkannya ketika sedang beraksi.Malam itu, Glen pulang dalam keadaan mabuk.  Lelaki itu terlihat sangat rapuh, sampai Sisi pun tak tega melihatnya. “Kenapa kamu mabuk? Tumben sekali?” Glen menatap Sisi dengan senyum penuh arti, lalu dia mengusap pipi Sisi namun Sisi menangkisnya.“Sadarlah, aku akan bawa kamu ke kamar!” seru Sisi.“Ara … kapan kamu kembali? Aku merindukanmu.”“Ara?”Nama yang menurut Sisi tak asing, tapi dia pun penasaran. Dia membantu Glen masuk kamar, membaringkan dia di atas ranjang.“Aku tahu kamu belum mati, Ara.”Sisi menunggu sampai Glen tertidur, saat ini dia pun bingung apa yang harus dia lakukan. Hingga pada akhirnya, d

  • Cinta Panas Sang Penyamar    bab 63

    Mobil Glen tampak kembali. Lelaki itu terlihat masih memakai baju kedokterannya. Dia masuk dengan terburu buru, lalu masuk ke dalam kamarnya. Sisi pun turun dan melihat apa yang dilakukan Glen, tapi lelaki itu tak meninggalkan jejak apapun selain sikapnya yang dingin dan aneh.Sisi menuju ke dapur. Dia membuka kulkas dan melihat banyak makanan cepat saja di sana. Dia pun berinisiatif memanaskannya dan membuat nasi goreng dengan bahan yang ada. Baginya, roti tak akan mengenyangkan jika belum makan nasi.Aroma makanan menyeruak. Glen yang baru saja mandi pun penasaran dan langsung keluar kamar. Padahal, tadi niatnya dia ingin tidur karena nanti malam, dia akan menjalankan sebuah pekerjaan penting. Dia sudah menjadi orang baru dan pekerjaanya ini tentu tidak ada yang tahu.“Masak?” tanya Glen.“Tentu saja, aku lapar. Perutku ini made in Indonesia dan nasi adalah makanan pokok yang wajib ada. Maaf kalau aku mengotori dapurmu, aku t

  • Cinta Panas Sang Penyamar    bab ,62

    “Ada di ruang jenazah dan sudah kami periksa, hampir 70 persen tidak bisa dikenali.”Mr Giant yakin, ada hal yang bisa dia lihat di jenazah Sisi. Dia pun berjalan menuju ke ruang jenazah dan di sana dia melihat jenazah yang sudah gosong dan siap untuk dikremasi.“Tunggu!”Mr Giant pun mencegah petugas kremasi melanjutkan membawa Sisi. Dia mendekat dan melihat dengan teliti, apakah di Sisi yang asli atau bukan.  Mr Giant mengawasi, melihat dengan detail bentuk tubuh dan juga jari jari. Jika ada logam emas yang tersisa di kalung Sisi, artinya dia memang Sisi dan saat dia memeriksanya sendiri, ternyata ada kalung itu.Petugas di sana tidak merasa takut sama sekali karena memang mereka hanya tahunya akan mengkremasi jenazah. Mereka tidak tahu siapa Giant dan siapa mayat itu sebenarnya.“Kalian yakin ini Aisy. wanitaku?” tanya Mr Giant.“Saya yakin dia adalah korban yang sama dengan korban di kamar Melbou

  • Cinta Panas Sang Penyamar    bab 61

    Sisi menatap pria bersenjata itu dengan napas memburu. Dalam sepersekian detik, otaknya bekerja cepat mencari jalan keluar. Jika dia mencoba menyerang, kemungkinan besar dia akan tertembak sebelum bisa mendekat. Jika dia tetap diam, dia akan ditangkap dan itu lebih buruk daripada kematian.Lalu, tiba-tiba suara ledakan terdengar dari arah kanan.BOOM!Asap tebal membumbung di udara, diikuti suara alarm berbunyi di seluruh kompleks. Suara itu cukup untuk membuat perhatian pria bersenjata itu teralihkan sejenak—dan itu adalah celah yang Sisi butuhkan.Dalam satu gerakan cepat, dia menunduk dan melemparkan segenggam pasir ke wajah pria itu. Pria itu tersentak, mengangkat tangan untuk melindungi matanya. Kesempatan emas!“Shit!” Sisi langsung bergerak, menghantam ulu hati pria itu dengan siku, membuatnya terhuyung. Senapan laras panjang di tangannya nyaris jatuh, tetapi pria itu masih cukup sadar untuk

  • Cinta Panas Sang Penyamar    bab 60

    Sisi mengernyit. "Dia tampak seperti tahanan, bukan istri.""Tidak masalah bagiku selama target tetap target," ujar Glen.Sisi menatap rumah mewah di depannya dengan sorot mata tajam. Ini bukan pertama kalinya dia harus menyelesaikan target dalam kondisi penuh resiko, tapi kali ini berbeda. Istri Hideku bukan sekadar seorang wanita biasa. Dia curiga wanita itu kunci dari banyak rahasia yang bisa menghancurkan organisasi Mr. Giant jika dibiarkan hidup terlalu lama.Sisi memeriksa perlengkapannya sekali lagi—senjata peredam, pisau kecil, dan racun yang sudah dicampur dalam kapsul transparan. Semua sudah siap. Dia sengaja meracik obat itu sendiri dan ilmu obat khusus itu dia pelajari dari Hazel. Dia menekan tombol kecil di pergelangan tangannya."Glen, aku masuk sekarang."Dari alat komunikasi kecil di telinganya, suara Glen terdengar. "Hati-hati. Keamanan di sana lebih ketat dari yang kita duga.

  • Cinta Panas Sang Penyamar    bab 18

    “Jadi gimana, Kapten?”Hening membuat Ash dan Sisi saling tengok, menunggu perintah penyerangan. “AKu akan minta tim Garuda yang akan bereskan. Kalian kembali ke posisi masing masing. Sepertinya ini tidak ada sangkut pautnya dengan Andini.”“Ah!” Sisi mendesah sedangkan Ash terkekeh melihat Sisi k

  • Cinta Panas Sang Penyamar    bab 17

    “Rahasia,” jawab Ashi.“Pelit amat, kayak nggak biasanya gue tahu semua misi kalian.”Ashi diam, tapi gas di tangannya dia tarik kencang sampai kecepatan tidak bisa membuat Sisi lagi bertanya. Matanya fokus pada jalanan yang lengang karena ini sudah hampir siang. Motor berbelok ke arah tempat renta

  • Cinta Panas Sang Penyamar    Bab 16

    “Cuacanya sangat panas siang tadi, jadi sore pun bangkunya masih panas,” ucap Daffi saat mereka baru sampai dan hendak duduk lebih dulu.“Iya, nggak usah duduk deh. Langsung lari aja. Kejar aku, A’...”Andini langsung berlari lari kecil, Daffi tersenyum mengejarnya. Sisi yang juga sudah sampai lang

  • Cinta Panas Sang Penyamar    bab 15

    “Jangan ribut ribut terus. Malu sama santri, Mas. Kalau memang Daffi gak mau dipublikasikan, ya sudah. Anakmu masih banyak yang belum nikah. Nanti kita resepsikkan mereka yang mau sja. Toh, Daffi juga enjoy saja tanpa resepsi,” sahut Kyai Husnan–suami Umi Rodiah.Ibnu berdiri, meninggalkan diskusi

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status