Share

Bab 4

Penulis: Zoya
Elora buru-buru menyenggol gelas air di samping tempat tidur hingga jatuh.

Suara pecahan kaca itu langsung menarik perhatian Rezie. Dia bahkan tidak sempat memedulikan dokter, lalu segera melangkah cepat ke sisi tempat tidur Elora. Wajahnya dipenuhi kekhawatiran dan rasa sayang.

"Sayang, kamu sudah bangun? Ada yang sakit?"

Elora menggeleng pelan. Pandangannya melewati bahu Rezie, melihat ekspresi dokter yang tampak ragu untuk bicara.

Barulah Rezie sedikit lega, lalu menoleh ke dokter. "Dokter bilang apa tadi? Aku nggak dengar dengan jelas." Rezie merasa seperti baru saja melewatkan sesuatu yang penting.

Dokter hendak berbicara, tetapi Elora menggeleng pelan. Dokter itu mengerti. Dia hanya menghela napas dan berkata, "Pasien perlu banyak istirahat," lalu keluar dari ruang rawat.

Untuk sesaat, ruang VIP itu hanya tersisa Elora dan Rezie.

Mata Rezie penuh dengan rasa khawatir. Dia mengulurkan tangan ingin menyentuh wajah Elora, tetapi Elora memalingkan kepala untuk menghindar.

Seolah memahami sesuatu, Rezie langsung membujuk dan meminta maaf. "Maaf, Elora, ini salahku. Aku nggak sadar kamu juga jatuh dari tangga, aku pikir ...."

"Syukurlah kamu dan anak kita nggak apa-apa. Kalau nggak, seumur hidup aku nggak akan memaafkan diriku sendiri. Aku janji ke depannya nggak akan membiarkan hal seperti ini terjadi lagi. Jangan marah sama aku, ya?"

Elora menatap mata Rezie, itu adalah tatapan penuh penyesalan yang terlihat begitu tulus.

Di saat itu, Elora malah merasa semuanya sangat ironis. Setiap kata yang diucapkannya begitu indah, tapi mana yang benar, mana yang palsu?

"Aku capek."

Elora menarik tangannya kembali dan menutup mata, tidak ingin ikut memainkan sandiwara membosankan ini.

Selama dirawat di rumah sakit, Rezie selalu berada di sisinya.

Rezie sendiri yang memasakkan sup untuknya dan menyuapinya sedikit demi sedikit. Setiap hari menemaninya menjalani pemeriksaan, mencatat setiap instruksi dokter. Di malam hari, jika Elora bergerak sedikit saja, dia langsung terbangun dan menanyakan kebutuhannya.

Bahkan para perawat pun mengatakan belum pernah melihat suami yang sepeduli itu. Namun, Elora tetap diam dan jarang bicara. Sering kali, dia hanya menatap ke luar jendela sambil melamun.

Rezie mengira itu karena perubahan hormon selama kehamilan yang membuat suasana hatinya menurun, sehingga dia semakin berhati-hati merawatnya.

Di hari ketika Elora keluar dari rumah sakit, Rezie menyiapkan kejutan besar. Dia membawa Elora ke restoran paling mewah, menyewa satu lantai penuh hanya agar Elora bisa makan dengan tenang. Setelah makan, dia menemaninya berkeliling toko barang mewah, apa pun yang sedikit saja menarik perhatiannya langsung dibeli.

Saat malam tiba, di tepi sungai tiba-tiba terlihat kembang api yang indah, membentuk tulisan "Aku mencintaimu".

"Suka?" Rezie memeluknya dari belakang, dagunya bertumpu di puncak kepala Elora. "Aku sengaja siapkan ini untukmu."

Elora menatap langit yang penuh kembang api, sejenak merasa seolah kembali ke masa lalu.

Dulu, Rezie juga akan melakukan hal seperti ini demi membuatnya bahagia, membuatnya merasa dirinya adalah orang paling beruntung di dunia. Namun ketika tangan Elora tanpa sadar menyentuh perutnya yang kini rata, semua ilusi itu seketika hancur.

"Ada apa?" Rezie menyadari tubuhnya yang kaku, lalu memutar Elora agar menghadap dirinya. "Akhir-akhir ini kamu selalu kelihatan nggak bahagia, aku khawatir sekali."

Rezie memegang wajah Elora, ibu jarinya mengusap lembut pipi Elora. "Gimana kalau kita panggil psikolog? Depresi sebelum melahirkan itu biasa terjadi. Jangan kamu tanggung sendiri, apa pun yang kamu pikirkan, kamu bisa cerita padaku."

Elora menatap matanya yang terlihat tulus, lalu tiba-tiba bertanya, "Kalau aku mau jujur padamu, apakah kamu bisa benar-benar jujur padaku seratus persen?"

Rezie tertegun sejenak, lalu tersenyum. "Tentu saja, Sayang. Kita ini suami istri, tentu harus saling jujur."

Elora menarik napas dalam-dalam. "Kalau begitu aku tanya, aku dengar kamu punya cinta pertama yang sangat kamu sukai, bahkan setelah bertahun-tahun putus pun kamu belum bisa melupakannya."

Elora menatap lurus ke matanya dan bertanya, "Sekarang, kamu sudah melepaskannya?"

Ekspresi Rezie seketika membeku.
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Cinta Pertama Membayangi Pernikahan   Bab 26

    "Elora, maukah kamu menikah denganku?"Candra berlutut dengan satu kaki, memegang cincin dan menatap Elora.Dikelilingi ayah dan teman-temannya, Elora menatap Candra yang penuh cinta, lalu perlahan mengangguk. Candra langsung memasangkan cincin itu ke jarinya dengan penuh haru.Elora menariknya berdiri. Di tengah sorakan dan ucapan selamat, Candra berbisik pelan, "Aku boleh cium kamu?"Elora mengangguk.Di kejauhan, Rezie berdiri di balik pohon, mengamati mereka berdua dalam diam. Setelah ragu sejenak, dia tetap berjalan mendekat saat kerumunan mulai bubar.Begitu melihatnya, Candra langsung waspada dan berdiri di depan Elora. "Untuk apa kamu datang?"Menghadapi pertanyaan dingin itu, Rezie tidak menunjukkan ekspresi lain. Dia hanya diam, lalu menyerahkan sebuah kotak kepada Elora.Elora tidak menerimanya.Rezie membuka kotak itu. Di dalamnya ada sebuah kunci."Aku meninggalkan sebagian harta untukmu di bank. Itu bagian yang seharusnya kamu dapatkan saat perceraian."Elora menatap kunc

  • Cinta Pertama Membayangi Pernikahan   Bab 25

    "Elise, ada seseorang yang ingin menemuimu."Beberapa hari berada di tahanan membuat tubuh Elise jauh lebih kurus. Wajah dan tubuhnya penuh dengan memar. Dia berdiri dengan kaku, lalu dibawa petugas ke ruang kunjungan.Begitu melihat Rezie, dia langsung jatuh terduduk dan memegang tangan petugas."Tolong ... aku nggak mau ketemu dia, aku mau kembali."Petugas itu langsung melepaskan tangannya. "Surat perdamaian sudah ditandatangani. Saya bantu urus prosedurnya, Anda bisa membawanya pergi."Rezie mengangguk.Mendengar hal itu, Elise mengira Rezie sudah berubah pikiran dan langsung meraih pakaiannya."Rezie, aku tahu kamu pasti datang menyelamatkanku. Rezie, cepat bawa aku pergi. Aku nggak tahan lagi di tempat ini."Elise adalah wanita yang dimanjakan sejak kecil, belum pernah dia mengalami penderitaan seperti ini. Selama di tahanan, dia sering diperlakukan kasar oleh petugas dan sesama tahanan karena tidak bisa beradaptasi, sehingga tubuhnya penuh luka.Tatapan Rezie dingin, tetapi suar

  • Cinta Pertama Membayangi Pernikahan   Bab 24

    Pintu ruang rawat tertutup, Elora pun pergi. Rezie duduk terpaku di atas ranjang. Tatapannya terpaku lama pada kursi yang tadi diduduki Elora. "Maaf ...."Dia perlahan melepas cincin di jarinya. Itu adalah cincin pernikahan mereka.Akhirnya, Rezie tidak mampu lagi menahan tangis. Semua ini adalah kesalahannya.Apa yang dikatakan Elise benar, apa yang dikatakan Candra benar, terlebih lagi apa yang dikatakan Elora. Hubungannya dengan Elora sampai di titik ini sepenuhnya akibat perbuatannya sendiri.Setelah lukanya sembuh, Rezie kembali ke negaranya. Dia duduk di rumah sambil menatap ruang yang kosong. Namun, setiap sudutnya dipenuhi kenangan mereka berdua, membuat hatinya terasa perih. Dia berjalan ke kamar bayi di lantai atas.Semua yang ada di dalam ruangan itu dipilih sedikit demi sedikit olehnya dan Elora."Rezie, menurutmu bayi kita nanti laki-laki atau perempuan?"Rezie memeluk Elora dari belakang. "Laki-laki atau perempuan, aku akan tetap menyukainya.""Kalau begitu kita beli baju

  • Cinta Pertama Membayangi Pernikahan   Bab 23

    Saat Candra tiba di rumah keluarga Elora, Elora sedang duduk di sofa menonton televisi."Kamu sudah pulang?"Ayahnya juga menoleh. "Candra sudah kembali?"Candra menyerahkan kue di tangannya kepada Elora. "Iya, tadi lewat toko yang kamu suka, jadi sekalian aku belikan."Elora ragu sejenak sebelum bertanya, "Dia ... gimana?"Gerakan Candra sedikit terhenti. "Dia baik-baik saja, tapi terus bilang ingin ketemu kamu."Mendengar ucapannya, ayah Elora mendengus. "Dia berani mau ketemu Elora? Menyelamatkan Elora itu sudah kewajibannya."Ucapan itu membuat Elora dan Candra sama-sama tertawa.Meski dalam hati khawatir Elora akan luluh karena Rezie menahannya dari pisau, Candra tetap bertanya dengan menghormati keputusannya, "Kamu mau menjenguknya?"Elora ragu sebentar, lalu mengangguk. Sekilas kesedihan melintas di mata Candra. Bernard juga mengira Elora masih belum bisa melupakan Rezie, sehingga dia kembali mendengus."Kenapa kamu masih memikirkannya? Bukankah dia sudah cukup menyakitimu?" Sua

  • Cinta Pertama Membayangi Pernikahan   Bab 22

    Pantulan cahaya dari pisau di tangan Elise jatuh ke mata Elora yang penuh ketakutan."Elora, mati kamu!"Melihat Elise menusuk ke arahnya, Candra dan Rezie hampir bersamaan maju melindunginya.Candra menarik Elora ke dalam pelukannya, sementara Rezie berdiri di depannya, menahan tusukan itu dengan tubuhnya. Elora begitu terkejut hingga saat dipeluk Candra pun dia belum sepenuhnya sadar.Semua orang di restoran ikut terkejut.Serangan Elise gagal. Dia mencoba menarik kembali pisaunya untuk menyerang lagi, tetapi langsung ditendang oleh petugas keamanan yang datang."Cepat panggil ambulans!""Ada pembunuhan!"Restoran langsung kacau.Para pelayan mengeluarkan ponsel dengan panik dan segera menghubungi ambulans."Elora, kamu nggak apa-apa?" Candra menatap Elora yang masih gemetar di pelukannya dengan khawatir. Baru saat itu Elora tersadar, buru-buru memeriksa apakah Candra terluka."Aku nggak apa-apa." Candra memeluknya dan menenangkan dengan lembut.Melihat Elora selamat tetapi Rezie ter

  • Cinta Pertama Membayangi Pernikahan   Bab 21

    Rezie benar-benar seperti orang gila. Di satu sisi dia mengurung Elise, di sisi lain dia menekan Keluarga Rangkuti.Keluarga Rangkuti sendiri memang sudah mengalami masalah besar pada arus dana karena kondisi industri. Terakhir kali mereka sempat bernapas sejenak karena berhasil memanfaatkan hubungan dengan Rezie.Pihak lain yang sebelumnya ingin menyerang Keluarga Rangkuti juga menahan diri karena melihat pengaruh Keluarga Ferdian.Namun kali ini, justru Keluarga Ferdian yang lebih dulu menarik investasinya. Melihat arah situasi berubah, pihak lain pun ikut berbalik menyerang Keluarga Rangkuti. Tak butuh waktu lama, Keluarga Rangkuti langsung jatuh ke dalam krisis.Ayah Elise terus mencoba meneleponnya, tetapi tidak pernah mendapat jawaban. Dengan marah, dia melempar ponselnya ke dinding.Elise terbangun karena rasa sakit di sekujur tubuhnya. Dia menatap sekeliling dengan ketakutan, lalu baru sedikit lega saat tidak melihat Rezie di sana.Rezie mengurungnya di tempat ini, memaksanya m

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status