แชร์

Bab 5

ผู้เขียน: Zoya
Jari-jari Rezie langsung menegang dan buku-buku jarinya memutih. Namun dalam sekejap, ekspresinya kembali seperti biasa, lalu menampilkan senyum lembut padanya.

"Sudah lama aku merelakannya. Setelah putus, kami nggak pernah berhubungan lagi dan ke depannya juga nggak akan bertemu lagi."

Mulut Elora terasa pahit.

Caranya berbohong begitu terlatih, bahkan sorot matanya tidak berubah sama sekali.

Rezie mengulurkan tangan ingin menyentuh wajahnya, tetapi Elora refleks memalingkan kepala menghindar. Gerakan itu membuat alis Rezie sedikit berkerut. Entah sudah berapa kali Elora menolak sentuhannya.

"Siapa yang bilang hal-hal ini ke kamu?" Nadanya tiba-tiba menjadi serius, "Akhir-akhir ini kamu nggak bahagia karena ini?"

Elora hendak berbicara, tetapi suara dering ponsel yang nyaring tiba-tiba terdengar.

Rezie melihat layar panggilan dan terdiam beberapa detik, lalu tetap memilih untuk mengangkatnya.

Begitu tersambung, suara Elise yang bergetar karena menangis terdengar dari seberang, "Rezie! Ada beberapa preman yang terus mengikutiku, aku takut sekali ...."

Ekspresi Rezie langsung berubah drastis. "Kirim lokasimu."

Rezie meraih jaketnya dan hendak pergi, bahkan tidak sempat melirik Elora sama sekali. "Sayang, ada urusan penting di perusahaan yang harus diurus. Kamu nanti pulang sendiri naik taksi."

Elora tidak pulang. Seolah digerakkan sesuatu, dia menghentikan sebuah taksi dan mengikutinya.

Di sebuah gang yang gelap, dia melihat Rezie melindungi Elise di belakangnya, menghadapi empat sampai lima preman yang memegang tongkat sendirian.

Rezie seakan-akan berubah menjadi orang lain. Serangannya kejam dan cepat, setiap pukulannya mengenai sasaran, sama sekali tidak seperti dirinya yang biasanya tenang dan terkendali.

Seorang preman yang sudah berdarah di kepala tiba-tiba mengeluarkan pisau dan menusukkannya ke arah Elise ....

"Elise!"

Rezie menerjang ke depan tanpa ragu, menggunakan tubuhnya untuk melindungi Elise. Ujung pisau menembus dadanya, darah seketika membasahi kemeja putihnya.

"Rezie!" Elise memeluk tubuhnya yang jatuh dan menangis histeris.

"Jangan takut ...." Dia terbaring di pelukan Elise, suaranya terdengar lemah dan lembut, "Aku sudah berjanji ... akan melindungimu seumur hidup ... pasti kutepati ...."

Elora berdiri di ujung gang, hatinya seperti dicabik-cabik.

Di luar ruang operasi, Elise menangis tersedu-sedu. "Dia memang selalu begini ... dulu dia balapan sama orang lain demi aku dan hampir kehilangan nyawanya .... Waktu aku kecelakaan, dia bahkan mendonorkan darah sampai pingsan ...."

Elora bersandar di dinding, diam-diam mendengarkan semua itu.

Ternyata pria setenang dan sematang Rezie pun bisa mencintai seseorang sampai nekat mempertaruhkan nyawa. Hanya saja, orang yang dicintainya itu bukanlah Elora.

"Pisau itu tinggal selisih satu milimeter dari jantung." Seorang perawat keluar dari ruang operasi dan bertanya, "Apakah Bu Elise ada? Operasi membutuhkan tanda tangan keluarga."

Elise menggeleng sambil menangis. "Aku bukan keluarga ... istrinya ada di sana."

Perawat itu terkejut menatap Elora. "Tapi pasien terus memanggil 'Elise', bahkan waktu membuat wasiat tadi dia juga mengatakan semua hartanya akan diwariskan kepada Bu Elise ...."

Perawat itu menyadari telah salah bicara, lalu terdiam canggung.

Elora tersenyum.

Di bawah tatapan iba sang perawat, dia menandatangani dokumen itu, lalu berbalik dan pergi.

"Tunggu!" panggil Elise. "Bukannya kamu sangat mencintainya? Dia masih belum melewati masa kritis, kamu nggak mau tinggal dan merawatnya?"

Elora berhenti sejenak, tanpa menoleh.

"Dulu memang cinta." Saking tenangnya, suaranya terdengar menakutkan. "Tapi, sekarang sudah kurelakan. Karena dia nggak pernah melepaskanmu, aku akan merestui kalian."
อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป

บทล่าสุด

  • Cinta Pertama Membayangi Pernikahan   Bab 26

    "Elora, maukah kamu menikah denganku?"Candra berlutut dengan satu kaki, memegang cincin dan menatap Elora.Dikelilingi ayah dan teman-temannya, Elora menatap Candra yang penuh cinta, lalu perlahan mengangguk. Candra langsung memasangkan cincin itu ke jarinya dengan penuh haru.Elora menariknya berdiri. Di tengah sorakan dan ucapan selamat, Candra berbisik pelan, "Aku boleh cium kamu?"Elora mengangguk.Di kejauhan, Rezie berdiri di balik pohon, mengamati mereka berdua dalam diam. Setelah ragu sejenak, dia tetap berjalan mendekat saat kerumunan mulai bubar.Begitu melihatnya, Candra langsung waspada dan berdiri di depan Elora. "Untuk apa kamu datang?"Menghadapi pertanyaan dingin itu, Rezie tidak menunjukkan ekspresi lain. Dia hanya diam, lalu menyerahkan sebuah kotak kepada Elora.Elora tidak menerimanya.Rezie membuka kotak itu. Di dalamnya ada sebuah kunci."Aku meninggalkan sebagian harta untukmu di bank. Itu bagian yang seharusnya kamu dapatkan saat perceraian."Elora menatap kunc

  • Cinta Pertama Membayangi Pernikahan   Bab 25

    "Elise, ada seseorang yang ingin menemuimu."Beberapa hari berada di tahanan membuat tubuh Elise jauh lebih kurus. Wajah dan tubuhnya penuh dengan memar. Dia berdiri dengan kaku, lalu dibawa petugas ke ruang kunjungan.Begitu melihat Rezie, dia langsung jatuh terduduk dan memegang tangan petugas."Tolong ... aku nggak mau ketemu dia, aku mau kembali."Petugas itu langsung melepaskan tangannya. "Surat perdamaian sudah ditandatangani. Saya bantu urus prosedurnya, Anda bisa membawanya pergi."Rezie mengangguk.Mendengar hal itu, Elise mengira Rezie sudah berubah pikiran dan langsung meraih pakaiannya."Rezie, aku tahu kamu pasti datang menyelamatkanku. Rezie, cepat bawa aku pergi. Aku nggak tahan lagi di tempat ini."Elise adalah wanita yang dimanjakan sejak kecil, belum pernah dia mengalami penderitaan seperti ini. Selama di tahanan, dia sering diperlakukan kasar oleh petugas dan sesama tahanan karena tidak bisa beradaptasi, sehingga tubuhnya penuh luka.Tatapan Rezie dingin, tetapi suar

  • Cinta Pertama Membayangi Pernikahan   Bab 24

    Pintu ruang rawat tertutup, Elora pun pergi. Rezie duduk terpaku di atas ranjang. Tatapannya terpaku lama pada kursi yang tadi diduduki Elora. "Maaf ...."Dia perlahan melepas cincin di jarinya. Itu adalah cincin pernikahan mereka.Akhirnya, Rezie tidak mampu lagi menahan tangis. Semua ini adalah kesalahannya.Apa yang dikatakan Elise benar, apa yang dikatakan Candra benar, terlebih lagi apa yang dikatakan Elora. Hubungannya dengan Elora sampai di titik ini sepenuhnya akibat perbuatannya sendiri.Setelah lukanya sembuh, Rezie kembali ke negaranya. Dia duduk di rumah sambil menatap ruang yang kosong. Namun, setiap sudutnya dipenuhi kenangan mereka berdua, membuat hatinya terasa perih. Dia berjalan ke kamar bayi di lantai atas.Semua yang ada di dalam ruangan itu dipilih sedikit demi sedikit olehnya dan Elora."Rezie, menurutmu bayi kita nanti laki-laki atau perempuan?"Rezie memeluk Elora dari belakang. "Laki-laki atau perempuan, aku akan tetap menyukainya.""Kalau begitu kita beli baju

  • Cinta Pertama Membayangi Pernikahan   Bab 23

    Saat Candra tiba di rumah keluarga Elora, Elora sedang duduk di sofa menonton televisi."Kamu sudah pulang?"Ayahnya juga menoleh. "Candra sudah kembali?"Candra menyerahkan kue di tangannya kepada Elora. "Iya, tadi lewat toko yang kamu suka, jadi sekalian aku belikan."Elora ragu sejenak sebelum bertanya, "Dia ... gimana?"Gerakan Candra sedikit terhenti. "Dia baik-baik saja, tapi terus bilang ingin ketemu kamu."Mendengar ucapannya, ayah Elora mendengus. "Dia berani mau ketemu Elora? Menyelamatkan Elora itu sudah kewajibannya."Ucapan itu membuat Elora dan Candra sama-sama tertawa.Meski dalam hati khawatir Elora akan luluh karena Rezie menahannya dari pisau, Candra tetap bertanya dengan menghormati keputusannya, "Kamu mau menjenguknya?"Elora ragu sebentar, lalu mengangguk. Sekilas kesedihan melintas di mata Candra. Bernard juga mengira Elora masih belum bisa melupakan Rezie, sehingga dia kembali mendengus."Kenapa kamu masih memikirkannya? Bukankah dia sudah cukup menyakitimu?" Sua

  • Cinta Pertama Membayangi Pernikahan   Bab 22

    Pantulan cahaya dari pisau di tangan Elise jatuh ke mata Elora yang penuh ketakutan."Elora, mati kamu!"Melihat Elise menusuk ke arahnya, Candra dan Rezie hampir bersamaan maju melindunginya.Candra menarik Elora ke dalam pelukannya, sementara Rezie berdiri di depannya, menahan tusukan itu dengan tubuhnya. Elora begitu terkejut hingga saat dipeluk Candra pun dia belum sepenuhnya sadar.Semua orang di restoran ikut terkejut.Serangan Elise gagal. Dia mencoba menarik kembali pisaunya untuk menyerang lagi, tetapi langsung ditendang oleh petugas keamanan yang datang."Cepat panggil ambulans!""Ada pembunuhan!"Restoran langsung kacau.Para pelayan mengeluarkan ponsel dengan panik dan segera menghubungi ambulans."Elora, kamu nggak apa-apa?" Candra menatap Elora yang masih gemetar di pelukannya dengan khawatir. Baru saat itu Elora tersadar, buru-buru memeriksa apakah Candra terluka."Aku nggak apa-apa." Candra memeluknya dan menenangkan dengan lembut.Melihat Elora selamat tetapi Rezie ter

  • Cinta Pertama Membayangi Pernikahan   Bab 21

    Rezie benar-benar seperti orang gila. Di satu sisi dia mengurung Elise, di sisi lain dia menekan Keluarga Rangkuti.Keluarga Rangkuti sendiri memang sudah mengalami masalah besar pada arus dana karena kondisi industri. Terakhir kali mereka sempat bernapas sejenak karena berhasil memanfaatkan hubungan dengan Rezie.Pihak lain yang sebelumnya ingin menyerang Keluarga Rangkuti juga menahan diri karena melihat pengaruh Keluarga Ferdian.Namun kali ini, justru Keluarga Ferdian yang lebih dulu menarik investasinya. Melihat arah situasi berubah, pihak lain pun ikut berbalik menyerang Keluarga Rangkuti. Tak butuh waktu lama, Keluarga Rangkuti langsung jatuh ke dalam krisis.Ayah Elise terus mencoba meneleponnya, tetapi tidak pernah mendapat jawaban. Dengan marah, dia melempar ponselnya ke dinding.Elise terbangun karena rasa sakit di sekujur tubuhnya. Dia menatap sekeliling dengan ketakutan, lalu baru sedikit lega saat tidak melihat Rezie di sana.Rezie mengurungnya di tempat ini, memaksanya m

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status