แชร์

Bab 7

ผู้เขียน: Zoya
Beberapa hari ini, Rezie sangat sibuk.

Elora hanya menatap Rezie dengan dingin saat dia pergi pagi dan pulang larut. Ponsel Rezie tidak pernah lepas dari tangannya, lampu di ruang kerja sering menyala sampai dini hari.

Elora tahu bahwa Rezie sedang merencanakan dengan matang aksi perebutan pengantin itu.

Pagi hari ketika masa tunggu perceraian berakhir, Elora sudah keluar lebih awal dan pergi ke pengacara untuk mengambil akta cerai. Pembagian harta sudah selesai, selain itu Elora hanya membawa barang pribadinya sendiri.

Saat kembali ke rumah, Rezie sedang berdiri di depan cermin sambil merapikan dasinya. Dia mengenakan setelan jas biru tua yang baru, kancing mansetnya berkilau dingin di bawah cahaya pagi.

Jas itu adalah model yang belum pernah dia lihat sebelumnya, jelas sekali dipersiapkan khusus untuk hari ini.

"Baru pulang jalan-jalan?" Rezie melihatnya dari pantulan cermin dan sudut bibirnya terangkat lembut. "Sayang, hari ini aku mau keluar karena ada urusan. Kamu istirahat yang baik di rumah, ingat minum obat tepat waktu."

Rezie berbalik, jari-jarinya yang panjang menyentuh perut Elora dengan lembut, lalu berkata pelan, "Hari ini nggak boleh nakal sama Mama. Kalau bikin Mama nggak nyaman, Papa bakal marah."

Elora menatap kelembutan di matanya, tiba-tiba merasa semua itu sangat ironis.

Rezie bisa mempertaruhkan segalanya untuk Elise, tapi bahkan tidak tahu bahwa anaknya sendiri sudah tidak ada. Elora menggenggam erat akta cerai di tangannya dan berkata, "Ada sesuatu yang mau aku bilang."

Rezie tertegun sejenak. "Sayang, aku harus segera pergi."

"Secepat itu?" tanyanya pelan. "Bahkan lima menit pun nggak mau kamu berikan padaku?"

Rezie melirik jam di pergelangan tangannya, pada akhirnya tetap menolak, "Apa pun itu, kita bicarakan nanti malam, ya?"

"Apa urusanmu itu benar-benar sepenting itu?"

"Sangat penting," jawab Rezie tanpa ragu, tatapannya tegas dan hampir terasa keras kepala. "Lebih penting daripada nyawaku sendiri."

Elora tersenyum.

Senyum itu sangat tipis, seperti kepingan salju terakhir di musim dingin yang hilang dalam sekejap.

"Pergilah," katanya pelan. "Jangan sampai terlambat."

Rezie seolah ingin mengatakan sesuatu, tetapi pada akhirnya hanya mencium kening Elora dengan ringan, lalu pergi dengan tergesa-gesa.

Mendengar suara mesin mobil yang semakin menjauh, Elora berjalan ke dapur dan membuka kulkas yang selama ini tak pernah diperhatikan.

Udara dingin menyambutnya. Dia mengambil kotak hadiah yang telah lama terlupakan itu, lalu meletakkannya dengan lembut di atas meja ruang tamu.

Di dalam kotak, janin berusia lima bulan itu meringkuk dalam cairan formalin, tampak seperti sedang tertidur. Elora perlahan memejamkan mata, lalu meletakkan sebuah buku kecil berisi akta cerai yang baru di sampingnya.

Saat menarik koper dan melangkah keluar dari rumah, Elora tidak menoleh.

Di terminal bandara, orang berlalu-lalang. Pesawat hampir lepas landas. Saat Elora hendak mematikan ponselnya, pesan dari Rezie tiba-tiba muncul.

[ Sayang, obatnya sudah aku hangatkan di dapur. Setelah urusannya selesai, aku akan pulang menemanimu. ]

'Rezie, orang yang akan berdiri di sisiku selama sisa hidupku nanti, bukan lagi kamu. Aku sudah benar-benar menghapusmu dari duniaku.'

Elora menghapus pesan itu dengan tenang. Lalu, dia menghapus semua foto bersama mereka di galeri, dan terakhir, menghapus semua kontaknya.

Saat pesawat lepas landas, Elora seolah-olah mendengar sesuatu di dalam hatinya berbunyi "klik", dan bersamaan dengan itu, semua langsung terhapus sepenuhnya.

Yang terhapus itu adalah semua perasaannya untuk Rezie.
อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป

บทล่าสุด

  • Cinta Pertama Membayangi Pernikahan   Bab 26

    "Elora, maukah kamu menikah denganku?"Candra berlutut dengan satu kaki, memegang cincin dan menatap Elora.Dikelilingi ayah dan teman-temannya, Elora menatap Candra yang penuh cinta, lalu perlahan mengangguk. Candra langsung memasangkan cincin itu ke jarinya dengan penuh haru.Elora menariknya berdiri. Di tengah sorakan dan ucapan selamat, Candra berbisik pelan, "Aku boleh cium kamu?"Elora mengangguk.Di kejauhan, Rezie berdiri di balik pohon, mengamati mereka berdua dalam diam. Setelah ragu sejenak, dia tetap berjalan mendekat saat kerumunan mulai bubar.Begitu melihatnya, Candra langsung waspada dan berdiri di depan Elora. "Untuk apa kamu datang?"Menghadapi pertanyaan dingin itu, Rezie tidak menunjukkan ekspresi lain. Dia hanya diam, lalu menyerahkan sebuah kotak kepada Elora.Elora tidak menerimanya.Rezie membuka kotak itu. Di dalamnya ada sebuah kunci."Aku meninggalkan sebagian harta untukmu di bank. Itu bagian yang seharusnya kamu dapatkan saat perceraian."Elora menatap kunc

  • Cinta Pertama Membayangi Pernikahan   Bab 25

    "Elise, ada seseorang yang ingin menemuimu."Beberapa hari berada di tahanan membuat tubuh Elise jauh lebih kurus. Wajah dan tubuhnya penuh dengan memar. Dia berdiri dengan kaku, lalu dibawa petugas ke ruang kunjungan.Begitu melihat Rezie, dia langsung jatuh terduduk dan memegang tangan petugas."Tolong ... aku nggak mau ketemu dia, aku mau kembali."Petugas itu langsung melepaskan tangannya. "Surat perdamaian sudah ditandatangani. Saya bantu urus prosedurnya, Anda bisa membawanya pergi."Rezie mengangguk.Mendengar hal itu, Elise mengira Rezie sudah berubah pikiran dan langsung meraih pakaiannya."Rezie, aku tahu kamu pasti datang menyelamatkanku. Rezie, cepat bawa aku pergi. Aku nggak tahan lagi di tempat ini."Elise adalah wanita yang dimanjakan sejak kecil, belum pernah dia mengalami penderitaan seperti ini. Selama di tahanan, dia sering diperlakukan kasar oleh petugas dan sesama tahanan karena tidak bisa beradaptasi, sehingga tubuhnya penuh luka.Tatapan Rezie dingin, tetapi suar

  • Cinta Pertama Membayangi Pernikahan   Bab 24

    Pintu ruang rawat tertutup, Elora pun pergi. Rezie duduk terpaku di atas ranjang. Tatapannya terpaku lama pada kursi yang tadi diduduki Elora. "Maaf ...."Dia perlahan melepas cincin di jarinya. Itu adalah cincin pernikahan mereka.Akhirnya, Rezie tidak mampu lagi menahan tangis. Semua ini adalah kesalahannya.Apa yang dikatakan Elise benar, apa yang dikatakan Candra benar, terlebih lagi apa yang dikatakan Elora. Hubungannya dengan Elora sampai di titik ini sepenuhnya akibat perbuatannya sendiri.Setelah lukanya sembuh, Rezie kembali ke negaranya. Dia duduk di rumah sambil menatap ruang yang kosong. Namun, setiap sudutnya dipenuhi kenangan mereka berdua, membuat hatinya terasa perih. Dia berjalan ke kamar bayi di lantai atas.Semua yang ada di dalam ruangan itu dipilih sedikit demi sedikit olehnya dan Elora."Rezie, menurutmu bayi kita nanti laki-laki atau perempuan?"Rezie memeluk Elora dari belakang. "Laki-laki atau perempuan, aku akan tetap menyukainya.""Kalau begitu kita beli baju

  • Cinta Pertama Membayangi Pernikahan   Bab 23

    Saat Candra tiba di rumah keluarga Elora, Elora sedang duduk di sofa menonton televisi."Kamu sudah pulang?"Ayahnya juga menoleh. "Candra sudah kembali?"Candra menyerahkan kue di tangannya kepada Elora. "Iya, tadi lewat toko yang kamu suka, jadi sekalian aku belikan."Elora ragu sejenak sebelum bertanya, "Dia ... gimana?"Gerakan Candra sedikit terhenti. "Dia baik-baik saja, tapi terus bilang ingin ketemu kamu."Mendengar ucapannya, ayah Elora mendengus. "Dia berani mau ketemu Elora? Menyelamatkan Elora itu sudah kewajibannya."Ucapan itu membuat Elora dan Candra sama-sama tertawa.Meski dalam hati khawatir Elora akan luluh karena Rezie menahannya dari pisau, Candra tetap bertanya dengan menghormati keputusannya, "Kamu mau menjenguknya?"Elora ragu sebentar, lalu mengangguk. Sekilas kesedihan melintas di mata Candra. Bernard juga mengira Elora masih belum bisa melupakan Rezie, sehingga dia kembali mendengus."Kenapa kamu masih memikirkannya? Bukankah dia sudah cukup menyakitimu?" Sua

  • Cinta Pertama Membayangi Pernikahan   Bab 22

    Pantulan cahaya dari pisau di tangan Elise jatuh ke mata Elora yang penuh ketakutan."Elora, mati kamu!"Melihat Elise menusuk ke arahnya, Candra dan Rezie hampir bersamaan maju melindunginya.Candra menarik Elora ke dalam pelukannya, sementara Rezie berdiri di depannya, menahan tusukan itu dengan tubuhnya. Elora begitu terkejut hingga saat dipeluk Candra pun dia belum sepenuhnya sadar.Semua orang di restoran ikut terkejut.Serangan Elise gagal. Dia mencoba menarik kembali pisaunya untuk menyerang lagi, tetapi langsung ditendang oleh petugas keamanan yang datang."Cepat panggil ambulans!""Ada pembunuhan!"Restoran langsung kacau.Para pelayan mengeluarkan ponsel dengan panik dan segera menghubungi ambulans."Elora, kamu nggak apa-apa?" Candra menatap Elora yang masih gemetar di pelukannya dengan khawatir. Baru saat itu Elora tersadar, buru-buru memeriksa apakah Candra terluka."Aku nggak apa-apa." Candra memeluknya dan menenangkan dengan lembut.Melihat Elora selamat tetapi Rezie ter

  • Cinta Pertama Membayangi Pernikahan   Bab 21

    Rezie benar-benar seperti orang gila. Di satu sisi dia mengurung Elise, di sisi lain dia menekan Keluarga Rangkuti.Keluarga Rangkuti sendiri memang sudah mengalami masalah besar pada arus dana karena kondisi industri. Terakhir kali mereka sempat bernapas sejenak karena berhasil memanfaatkan hubungan dengan Rezie.Pihak lain yang sebelumnya ingin menyerang Keluarga Rangkuti juga menahan diri karena melihat pengaruh Keluarga Ferdian.Namun kali ini, justru Keluarga Ferdian yang lebih dulu menarik investasinya. Melihat arah situasi berubah, pihak lain pun ikut berbalik menyerang Keluarga Rangkuti. Tak butuh waktu lama, Keluarga Rangkuti langsung jatuh ke dalam krisis.Ayah Elise terus mencoba meneleponnya, tetapi tidak pernah mendapat jawaban. Dengan marah, dia melempar ponselnya ke dinding.Elise terbangun karena rasa sakit di sekujur tubuhnya. Dia menatap sekeliling dengan ketakutan, lalu baru sedikit lega saat tidak melihat Rezie di sana.Rezie mengurungnya di tempat ini, memaksanya m

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status