แชร์

Cinta Pertama Membayangi Pernikahan
Cinta Pertama Membayangi Pernikahan
ผู้แต่ง: Zoya

Bab 1

ผู้เขียน: Zoya
Di usia 20 tahun, Elora menikah dengan sahabat lama ayahnya, Rezie. Pria itu delapan tahun lebih tua darinya dan dikenal sebagai sosok dingin seperti raja neraka di kalangan mereka. Di dunia bisnis, caranya menangani masalah sangat kejam dan tegas. Dia juga tidak pernah dekat dengan wanita.

Namun entah mengapa, pria itu begitu lembut terhadap dirinya sampai sulit dipercaya.

Hanya karena Elora pernah berkata "kalung itu bagus", keesokan harinya Rezie langsung menyuruh orang mengantarkan perhiasan bernilai ratusan puluhan miliar itu ke tangannya.

Saat Elora kesakitan karena datang bulan hingga meringkuk di atas ranjang, Rezie rela menunda proyek bernilai ratusan miliar, lalu memasakkan teh jahe gula merah sendiri untuk Elora dan menyuapinya sedikit demi sedikit sambil membujuknya agar minum.

Di tengak puncak kenikmatan, Rezie akan mencengkeram pinggangnya, lalu memanggilnya "sayang" dengan suara rendah yang serak. Dia juga mengatakan Elora patuh dan membuatnya ketagihan.

Bahkan, semua akun media sosialnya pun memakai nama "Für Elise".

Elora selalu mengira nama itu adalah untuk mengenang lagu yang dimainkan Elora saat pertemuan pertama mereka dulu.

Sampai suatu hari, dia menemukan sebuah album foto lama di ruang kerja pria itu.

Di belakangnya tertulis ....

Di dalam album itu, semuanya adalah foto seorang gadis yang sama. Wajah wanita itu hampir mirip dengan Elora dan dia sedang berdiri di depan piano sambil tersenyum. Di balik foto tertulis:

[ Für Elise, cinta sejatiku. ]

....

Setelah mengetahui kebenarannya, Elora hanya melakukan dua hal.

Yang pertama, pergi ke rumah sakit untuk menggugurkan kandungannya yang sudah berusia lima bulan.

Bayi berusia lima bulan itu sudah bisa menendang perutnya. Di atas meja operasi, Elora menggertakkan gigi tanpa menangis. Namun saat perawat bertanya "mau lihat bayinya?", Elora langsung menggeleng putus asa.

Yang kedua, dia menyusun sebuah perjanjian perceraian.

Lalu, dia menelepon Rezie.

Dulu, setiap kali Elora menelepon, pria itu selalu langsung mengangkat, lalu bertanya dengan suara lembut, "Sayang, ada apa?"

Namun kali ini, Elora menelepon sampai 23 kali sebelum akhirnya tersambung. Dari seberang telepon terdengar suara ramai, lalu diikuti canda teman-temannya, "Seberapa besar sih dampak cinta pertama? Begitu Elise pulang ke negara ini, Rezie langsung ninggalin gadis kecil yang lagi hamil lima bulan di rumah."

"Ya wajar lah, si gadis itu cuma pengganti. Kamu juga tahu seberapa besarnya cinta Rezie dulu ke Elise. Waktu putus, dia hampir mati karena mabuk. Selama bertahun-tahun juga nggak pernah lupa, malah bawa pulang seorang gadis kecil buat dijadiin pengganti."

"Gadis itu juga masih nggak tahu apa-apa, tiap hari nempel terus sama Rezie. Waktu itu aku pernah lihat mereka ciuman, cara si gadis nempel itu, bikin tulangku sampai lemes. Kalau aku punya gadis manja dan lembut kayak gitu di rumah, aku pasti sudah lupa sama Elise."

"Ya mau gimana lagi .... Rezie kelihatannya dingin, padahal aslinya bucin. Seumur hidup cuma cinta Elise. Tadi Elise cuma ngeluh kakinya sakit gara-gara pakai sepati hak tinggi, dia langsung gendong Elise buat beli sepatu flat ...."

Elora menggenggam ponselnya sambil berderai air mata. Saat itu, tiba-tiba suasana di seberang telepon menjadi hening.

"Siapa yang angkat teleponku?" Suara Rezie tiba-tiba terdengar.

"Hah? Nggak tahu, mungkin nggak sengaja kepencet ...."

Terdengar suara langkah kaki, lalu suasana kembali tenang.

Saat Rezie berbicara lagi, suara lembut yang dulu membuatnya tenggelam kembali terdengar dari ujung telepon, "Sayang, ada apa? Kamu nggak bisa tidur karena petir?"

"Hari ini aku ada jamuan bisnis, nanti pulang agak larut untuk temani kamu dan bayi, ya?"

Elora menarik napas dalam-dalam. "Aku mau cari kamu untuk tanda tangan percer ...."

Belum sempat ucapannya selesai, suara seorang wanita terdengar, "Rezie, kakiku sakit ...."

Dia terdiam sejenak, lalu buru-buru berkata kepada Elora, "Yang patuh ya, tidur dulu. Nanti aku pulang temani kamu."

Setelah itu, telepon langsung terputus.

Elora tersenyum. Setelah menyeka semua air matanya, dia mengangkat pandangan ke atas meja.

Di sana ada dua "hadiah", semuanya untuk Rezie.

Satu lembar perjanjian perceraian dan satu kotak hadiah, di dalamnya berisi bayi mereka yang telah digugurkan.

Orang yang mengkhianati ketulusan, pantas menelan sepuluh ribu jarum. Elora memang masih muda, tapi bukan berarti bisa menanggung kebohongan seperti ini. Orang yang menipunya, tidak akan dia pertahankan.

Elora bisa mencintai sepenuh hati, tetapi juga mampu melepaskan.

Entah sudah berapa lama Elora duduk, akhirnya dia berdiri, lalu memasukkan kotak berisi bayi itu ke dalam kulkas. Namun tepat saat itu, terdengar suara dari pintu depan vila.

"Sayang, kenapa belum tidur?" Rezie melepas jasnya sambil berjalan mendekat, dasinya tergantung longgar di leher. "Lagi cari apa di kulkas? Lapar?"

Elora tidak menjawab. Dia hanya menatap Rezie dengan tenang.

Rezie agak tidak terbiasa dengan sikap dingin gadis itu. Dari belakang, dia mengeluarkan sebuah kotak makanan yang indah dan sorot matanya tampak lembut. "Aku keliling satu kota buat beliin ini. Bukannya akhir-akhir ini kamu suka makan ini?"

Rezie menata satu per satu makanan di atas meja, semuanya adalah makanan favorit Elora selama beberapa bulan terakhir saat dia mengalami mual kehamilan.

Kalau dulu, Elora pasti sudah langsung memeluk dan menciumnya. Namun sekarang, yang dia rasakan hanya ironi.

"Kenapa cuma bengong? Apa bayi di dalam perutmu lagi bikin kamu nggak nyaman?"

Sambil berkata demikian, tangan Rezie hendak menyentuh perutnya. Elora menahan tangannya, lalu menyerahkan sebuah dokumen. "Tanda tangan."

Rezie tertegun sejenak. Saat hendak membuka dan melihatnya, ponselnya tiba-tiba berdering.

Nama penelepon itu terlihat jelas olehnya, Elise.

Setelah panggilan tersambung, entah apa yang dikatakan dari seberang, raut wajah Rezie sedikit berubah. Setelah menutup telepon, dia bahkan tidak melihat isi dokumen itu dan langsung menandatanganinya dengan cepat.

Kemudian, dia mengambil kunci mobil dan bersiap untuk pergi.

"Sayang, aku ada urusan mendadak yang harus diurus. Kamu tidur dulu, ya."

Saat sampai di pintu, Rezie kembali menambahkan dengan lembut, "Mau beli apa pun langsung beli saja, nggak perlu cari aku buat tanda tangan. Kita ini suami istri, semua harta milik bersama."

Elora menggenggam erat lembar perjanjian perceraian yang sudah dia tanda tangani, lalu sedikit tersenyum tipis. "Rezie, sebentar lagi, kita bukan suami istri lagi."
อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป

บทล่าสุด

  • Cinta Pertama Membayangi Pernikahan   Bab 26

    "Elora, maukah kamu menikah denganku?"Candra berlutut dengan satu kaki, memegang cincin dan menatap Elora.Dikelilingi ayah dan teman-temannya, Elora menatap Candra yang penuh cinta, lalu perlahan mengangguk. Candra langsung memasangkan cincin itu ke jarinya dengan penuh haru.Elora menariknya berdiri. Di tengah sorakan dan ucapan selamat, Candra berbisik pelan, "Aku boleh cium kamu?"Elora mengangguk.Di kejauhan, Rezie berdiri di balik pohon, mengamati mereka berdua dalam diam. Setelah ragu sejenak, dia tetap berjalan mendekat saat kerumunan mulai bubar.Begitu melihatnya, Candra langsung waspada dan berdiri di depan Elora. "Untuk apa kamu datang?"Menghadapi pertanyaan dingin itu, Rezie tidak menunjukkan ekspresi lain. Dia hanya diam, lalu menyerahkan sebuah kotak kepada Elora.Elora tidak menerimanya.Rezie membuka kotak itu. Di dalamnya ada sebuah kunci."Aku meninggalkan sebagian harta untukmu di bank. Itu bagian yang seharusnya kamu dapatkan saat perceraian."Elora menatap kunc

  • Cinta Pertama Membayangi Pernikahan   Bab 25

    "Elise, ada seseorang yang ingin menemuimu."Beberapa hari berada di tahanan membuat tubuh Elise jauh lebih kurus. Wajah dan tubuhnya penuh dengan memar. Dia berdiri dengan kaku, lalu dibawa petugas ke ruang kunjungan.Begitu melihat Rezie, dia langsung jatuh terduduk dan memegang tangan petugas."Tolong ... aku nggak mau ketemu dia, aku mau kembali."Petugas itu langsung melepaskan tangannya. "Surat perdamaian sudah ditandatangani. Saya bantu urus prosedurnya, Anda bisa membawanya pergi."Rezie mengangguk.Mendengar hal itu, Elise mengira Rezie sudah berubah pikiran dan langsung meraih pakaiannya."Rezie, aku tahu kamu pasti datang menyelamatkanku. Rezie, cepat bawa aku pergi. Aku nggak tahan lagi di tempat ini."Elise adalah wanita yang dimanjakan sejak kecil, belum pernah dia mengalami penderitaan seperti ini. Selama di tahanan, dia sering diperlakukan kasar oleh petugas dan sesama tahanan karena tidak bisa beradaptasi, sehingga tubuhnya penuh luka.Tatapan Rezie dingin, tetapi suar

  • Cinta Pertama Membayangi Pernikahan   Bab 24

    Pintu ruang rawat tertutup, Elora pun pergi. Rezie duduk terpaku di atas ranjang. Tatapannya terpaku lama pada kursi yang tadi diduduki Elora. "Maaf ...."Dia perlahan melepas cincin di jarinya. Itu adalah cincin pernikahan mereka.Akhirnya, Rezie tidak mampu lagi menahan tangis. Semua ini adalah kesalahannya.Apa yang dikatakan Elise benar, apa yang dikatakan Candra benar, terlebih lagi apa yang dikatakan Elora. Hubungannya dengan Elora sampai di titik ini sepenuhnya akibat perbuatannya sendiri.Setelah lukanya sembuh, Rezie kembali ke negaranya. Dia duduk di rumah sambil menatap ruang yang kosong. Namun, setiap sudutnya dipenuhi kenangan mereka berdua, membuat hatinya terasa perih. Dia berjalan ke kamar bayi di lantai atas.Semua yang ada di dalam ruangan itu dipilih sedikit demi sedikit olehnya dan Elora."Rezie, menurutmu bayi kita nanti laki-laki atau perempuan?"Rezie memeluk Elora dari belakang. "Laki-laki atau perempuan, aku akan tetap menyukainya.""Kalau begitu kita beli baju

  • Cinta Pertama Membayangi Pernikahan   Bab 23

    Saat Candra tiba di rumah keluarga Elora, Elora sedang duduk di sofa menonton televisi."Kamu sudah pulang?"Ayahnya juga menoleh. "Candra sudah kembali?"Candra menyerahkan kue di tangannya kepada Elora. "Iya, tadi lewat toko yang kamu suka, jadi sekalian aku belikan."Elora ragu sejenak sebelum bertanya, "Dia ... gimana?"Gerakan Candra sedikit terhenti. "Dia baik-baik saja, tapi terus bilang ingin ketemu kamu."Mendengar ucapannya, ayah Elora mendengus. "Dia berani mau ketemu Elora? Menyelamatkan Elora itu sudah kewajibannya."Ucapan itu membuat Elora dan Candra sama-sama tertawa.Meski dalam hati khawatir Elora akan luluh karena Rezie menahannya dari pisau, Candra tetap bertanya dengan menghormati keputusannya, "Kamu mau menjenguknya?"Elora ragu sebentar, lalu mengangguk. Sekilas kesedihan melintas di mata Candra. Bernard juga mengira Elora masih belum bisa melupakan Rezie, sehingga dia kembali mendengus."Kenapa kamu masih memikirkannya? Bukankah dia sudah cukup menyakitimu?" Sua

  • Cinta Pertama Membayangi Pernikahan   Bab 22

    Pantulan cahaya dari pisau di tangan Elise jatuh ke mata Elora yang penuh ketakutan."Elora, mati kamu!"Melihat Elise menusuk ke arahnya, Candra dan Rezie hampir bersamaan maju melindunginya.Candra menarik Elora ke dalam pelukannya, sementara Rezie berdiri di depannya, menahan tusukan itu dengan tubuhnya. Elora begitu terkejut hingga saat dipeluk Candra pun dia belum sepenuhnya sadar.Semua orang di restoran ikut terkejut.Serangan Elise gagal. Dia mencoba menarik kembali pisaunya untuk menyerang lagi, tetapi langsung ditendang oleh petugas keamanan yang datang."Cepat panggil ambulans!""Ada pembunuhan!"Restoran langsung kacau.Para pelayan mengeluarkan ponsel dengan panik dan segera menghubungi ambulans."Elora, kamu nggak apa-apa?" Candra menatap Elora yang masih gemetar di pelukannya dengan khawatir. Baru saat itu Elora tersadar, buru-buru memeriksa apakah Candra terluka."Aku nggak apa-apa." Candra memeluknya dan menenangkan dengan lembut.Melihat Elora selamat tetapi Rezie ter

  • Cinta Pertama Membayangi Pernikahan   Bab 21

    Rezie benar-benar seperti orang gila. Di satu sisi dia mengurung Elise, di sisi lain dia menekan Keluarga Rangkuti.Keluarga Rangkuti sendiri memang sudah mengalami masalah besar pada arus dana karena kondisi industri. Terakhir kali mereka sempat bernapas sejenak karena berhasil memanfaatkan hubungan dengan Rezie.Pihak lain yang sebelumnya ingin menyerang Keluarga Rangkuti juga menahan diri karena melihat pengaruh Keluarga Ferdian.Namun kali ini, justru Keluarga Ferdian yang lebih dulu menarik investasinya. Melihat arah situasi berubah, pihak lain pun ikut berbalik menyerang Keluarga Rangkuti. Tak butuh waktu lama, Keluarga Rangkuti langsung jatuh ke dalam krisis.Ayah Elise terus mencoba meneleponnya, tetapi tidak pernah mendapat jawaban. Dengan marah, dia melempar ponselnya ke dinding.Elise terbangun karena rasa sakit di sekujur tubuhnya. Dia menatap sekeliling dengan ketakutan, lalu baru sedikit lega saat tidak melihat Rezie di sana.Rezie mengurungnya di tempat ini, memaksanya m

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status